
Ayu lebih banyak diam saat berada di dalam mobil mewah milik Agus. Sungguh Ayu sadar diri. Mana mungkin Agus mau menjadi pasangan hidupnya, sedangkan secara ekonomi mereka jomplang.
Namun apa yang dipikirkan Ayu sangat berbeda dengan apa yang pikirkan Agus.
Agus justru ingin meminta gadis di sampingnya ini untuk menjadi kekasihnya. Tapi takut Ayu akan menolaknya. Terpaksa Agus hanya berani menjadi pengagum rahasia Ayu.
Untuk menghilangkan kesunyian, Agus memutuskan mengajak gadis di sampingnya ini bercengkrama.
"Kamu cuma tinggal berdua doang sama Jasmine ya, Yu?" tanya Agus.
"Iya." Ayu tersenyum lalu membuang pasangannya ke samping.
"Orang tua kamu tinggal di mana?" tanya Agus lagi.
"Kami yatim piatu, ibu sama ayah kami udah meninggal kan," jawab Ayu.
"Oiya, maaf aku lupa." Agus melirik sekilas pada Ayu. Namun Ayu masih bertahan menjaga sikap. Kadang-kadang juga merapikan hijabnya. Mungkin karena belum terbiasa.
"Kamu cantik pakek hijab, Yu. Istiqomah, ya. Biar suami mu nanti nggak banyak-banyak dosanya," ucap Agus.
"Insya Allah. Semoga aku bisa istiqamah." Ayu tersenyum. Masih bersikap kaku. Seakan tidak nyaman dengan keadaannya saat ini. Membuat Agus ikut tak nyaman.
"Yuk, mau nemenin aku kesuatu tempat nggak?" tanya Agus.
"Ke mana?"
"Ke tempat yang aku suka kalo lagi sendirian!"
"Boleh, tapi ini sudah sangat malam. Apa nggak bahaya cewek sama cowok berduaan?"
"Ya nggak lah, emang aku mau ngapain kamu? Aku kan cuma minta di temenin!"
Ayu menatap Agus sekilas. Seperti masih ragu. Namun tidak enak juga jika menolak.
"Oke lah, aku pun ingin tahu tempat seperti apa yang di sukai pria tampan sepertimu kalo lagi gabut!" canda Ayu.
Agus tersenyum karena dibilang tampan oleh gadis yang sebenarnya sedang ia incar.
__ADS_1
"Apa aku tampan?" tanya Agus.
"Tentu saja. Semua wanita di kantor juga mengakui itu. Mengakui kalo asisten owner adalah pria terkeren di kantor. Moodboster buat kami semua!" jawab Ayu dengan senyuman manisnya.
"Dasar gila! Mana ada begitu?" Agus tersipu.
"Dibilangin nggak percaya! Aku mana pernah bohong!"
"Oke, aku percaya. Mereka memang wanita-wanita aneh. Aku tidak suka diperlakukan seperti itu!"
"Hahaha, tentu saja kamu tidak suka. Kalo suka mana mungkin kamu jadi sekertaris bos. Bukankah lebih baik kamu jadi aktor saja," jawab Ayu dengan senyum khasnya.
"Sebenarnya aku ingin jadi istimewa untuk seseorang, tapi aku nggak tahu, orang itu mau nggak mengistimewakan aku?" pancing Agus.
"Ha?" Ayu menatap sekilas pada Agus. Ingin menjawab sesuatu. Namun Ayu ragu.
"Ha, kok ha doang?" tanya Agus.
"Lalu menurutmu aku harus bagaimana?" balas Ayu.
"Ya kasih pendapat dong, kira-kira cewek itu bisa mengistimewakan aku tidak?" pancing Agus lagi.
"Benarkah?" tanya Agus memastikan.
"Tentu saja."
"Apa aku boleh menjadi imammu?" tanya Agus spontan.
Ayu membelalakan mata. Merasa sangat aneh dengan permintaan itu. Namun Ayu tidak bohong, jika ucapan itu sukses membuatnya melayang.
"Kenapa? kenapa hanya senyum. Boleh tidak?" tanya Agus lagi.
"Anda nggak usah ngarang lah, Pak! Dari segi apapun kita beda. Sebaiknya anda jangan bikin saya baper!" jawab Ayu, malu.
"Menikah itu pasnya ya sama orang yang beda, Yu. Jadi bisa saling melengkapi. Kalo nikahnya sama orang yang sama, gimana mau saling melengkapi!" sanggah Agus.
"Bapak sebaiknya jangan bikin saya galfok, Pak. Sudahlah, mari kita berteman saja. Kita nggak akan pernah bisa. Perbedaan kita seperti bumi dan langit, Pak. Saya yatim piatu, miskin pula. Sedangkan Bapak?"
__ADS_1
"Sedangkan aku apa? aku tampan, keren, kaya, terus apa lagi?"
"Perfect!"
"Salah!"
"Terus!"
"Aku pun yatim piatu sepertimu. Masih punya adik yang harus aku perjuangkan. Tapi aku pengen nikah, biar ada yang nungguin aku. Aku pengen ditungguin dan aku maunya kamu yang nungguin. Aku merasa sangat nyaman denganmu. Jujur baru kali ini aku merasakan kenyamanan saat bersama seorang wanita. Kamu tahu aku kan? Aku sangat kaku dan pendiam. Aku tak mudah jatuh cinta Yu. Dan aku merasa, aku telah jatuh cinta samamu," jawab Agus jujur.
Ayu diam sesaat. Bingung harus jawab apa!
"Jadi gimana? kamu mau terima cinta aku tidak?" tanya Agus.
"Entahlah.Bukan aku ragu, hanya saja aku masih tidak menyangka."
"Tidak menyangka apa?"
Ayu menatap Agus. Lalu tersenyum. Sebab ia mengingat betapa dia sangat mengidolakan seorang Yoga. Rasanya ini seperti mimpi. Namun mimpi itu malah menjadi kenyataan. bukankah ini sesuatu yang tidak bisa ia sangka?
"Bagaimana?" tanya Agus.
"Bagaimana apa?" balas Ayu
"Kamu mau nggak jadi istriku?" tanya Agus lagi.
"Apakah wajib aku jawab?"
"Tentu saja, Sayang. Kan ini untuk masa depan kita berdua."
"Baiklah. Tapi apa kamu yakin?"
"Insya Allah!"
"Oke kalo kamu yakin, aku mau."
"Oke, kalo gitu besok kita menikah!" jawab Agus tanpa menunda waktu lagi.
__ADS_1
Seakan menyesal dan tidak Ayu memberikan jawaban itu. Nyatanya saat ini ia hanya melongo gugup. Bingung dengan jawaban pria aneh di sampingnya ini.
Bersambung...