
Sarah masih berbaring dengan perut yang terasa sakit bahkan tidak biasanya dia merasa sesakit ini,,
Tangannya mencoba meraih benda pipih yang tergeletak di meja samping tempat tidurnya.
Aw,,
lagi lagi Sarah merintih, bahkan dia merasakan sesuatu yang keluar di sana membuatnya khawatir hingga dia berusaha bangun, matanya menatap cairan merah mengalir.
" Bibi,, "
Sarah terus berteriak Asisten di Rumah nya, karena Jangan tanya dimana Yogi, sudah pasti dia tidak berada di rumah.
" Astaga Non Sarah "
" Bi,, Perut aku Bi "
Wajah Sarah sudah sangat pucat, bahkan darah segar terus mengalir membuat Semua panik dan langsung membawanya ke Rumah Sakit.
Sementara di tempat lain,,
Reyhan tengah sibuk dengan banyak berkas di mejanya, kontrak kerja sama dengan beberapa Perusahaan lain membuat nya fokus dengan laptop di depannya.
Berbeda dengan suasana di luar yang terlihat berbeda dengan datang nya wanita cantik yang membuat semua merasa iri namun juga kagum karena kecantikan dan keanggunan Mel yang sangat tidak sombong dan terus tersenyum saat berpapasan dengan siapa saja.
" Nyonya " Sapa Andre dan Mel tersenyum.
" Pak Andre,, Mas Rey ada kan ?"
" Tuan ada di ruangan Nyonya, Mari saya antar "
Mel mengangguk dan mereka berjalan menuju ruang CEO dengan pintu besar dan megah.
" Silahkan masuk saja Nyonya, Tuan ada di dalam."
" Ya Terima Kasih Pak Andre,, Oya Tadi saya membeli beberapa cemilan tolong bantu Abas untuk di bagi ke team ya "
" Baik Nyonya terima kasih."
Mel tersenyum dan tangannya memegang handle pintu untuk membukanya,,
Ceklek,,
Terlihat dari samping suaminya yang sangat serius bahkan tidak mendengar suara pintu terbuka.
dengan langkah pelan Mel berjalan masuk tanpa Rey tau,,
" Ehem,, Maaf Pak Reyhan Ini sudah waktunya makan siang."
" Kamu,-
" Astaga Sayang,, " Kaget Reyhan saat melihat istri Cantiknya lah yang berdiri tersenyum menatapnya.
Dengan langsung Rey meninggalkan semuanya dan beranjak mendekati Mel.
" Kenapa tidak memberitahu jika mau ke sini Hem?" Ucap Rey menarik pinggang ramping Mel Untuk lebih dekat dengannya.
" Tidak Boleh ?"
" Bukan Sayang,, Maksud Mas jika tau kamu akan ke sini Mas bisa menjemput kamu "
Mel tersenyum dan menggeleng,,
" Mana ada surprise yang di ngomong Mas "
Rey terkekeh dan mengecup singkat bibir Mel,,
Tok,,
tok,,
__ADS_1
" Masuk "
" Maaf Nyonya, Ini makanan nya." Ucap Abas membawa sesuatu.
" Oya,, Letakan di sana saja.."
" Baik Nyonya."
" Makasih Pak Abas."
" Sama sama Nyonya "
Rey menatap apa yang Istrinya bawa, bahkan Mel sama sekali tidak memberitahu dirinya jika akan ke sana.
" Sayang ini, "
" Mas belum makan bukan? Sekarang kita makan "
Mel menarik tangan Rey menuju sofa,,
Rey terus menatap Mel yang sedang menyiapkan makan untuk mereka, senyuman terukir di wajahnya.
Bahagia nya dia memiliki istri seperti Mel, walau pernikahan mereka karena suatu perjodohan namun mereka kini tinggal dan hidup bahagia.
" Bee,, jadi kamu beli semua ini ?"
" Eum,, Tadi aku bosan jadi pulang kuliah langsung ke sini, Gapapa kan Mas?"
Rey mengangguk dengan tangan yang mengusap lembut wajah Mel.
Namun raut wajah Mel berubah saat mencium bau makanan di depannya, rasanya sangat aneh hingga membuat Perutnya mual.
" Uwek"
Mel langsung menutup mulutnya,,
dia menggeleng hingga wajahnya terlihat sedikit pusat.
Mel menggeleng namun dia kembali merasa mual dan segera berlari menuju Kamar mandi.
" Uwek,, Uwek,, "
" Astaga Bee,, "
Rey menghampiri dan memijat tengkuk Mel,, tidak ada yang keluar namun wajah Mel terlihat begitu pucat membuat Rey semakin khawatir.
Mel bersandar pada dada Rey, lemas dan pusing rasanya saat ini.
Rey membopong tubuh Mel kembali,,
" Mas,, Buang makanan itu aku mual " lirih Mel membuat Rey mengangguk.
Rey menurunkan Mel di kursinya, dia pun segera menghubungi Andre.
" Ke ruangan saya sekarang"
Tidak lama pintu terbuka dan terlihat Andre yang berjalan masuk..
" Maaf Tuan,, Anda memanggil saya ?" Ucap Andre.
" Bawa semua makanan itu sekarang "
Andre menoleh, dia menautkan alisnya bahkan dia melihat bagaimana Istri Bosnya yang terlihat lemas dan pucat.
" Andre.."
" Baik Tuan "
Andre segera mengambil dan membawanya keluar.
__ADS_1
Rey menatap Mel yang masih memejamkan matanya, wajahnya masih pucat membuat nya berjongkok dan mengusap wajahnya.
" kita ke Rumah Sakit ya " Ucapannya dan Mel menggeleng seraya membuka matanya.
" Gak usah Mas,, Aku Gapapa Kok "
" Tapi Bee,, "
" Aku gapapa Mas Rey,, "
Rey mengangguk dengan masih menggenggam tangan Mel,,
Mel tersenyum dan kembali bersandar.
*******
Di Rumah Sakit,,
Sarah terus merasakan sakit luar biasa dengan perutnya,, bahkan Dokter pun segera memeriksa nya.
" Dokter,, Perut saya " Ucap Sarah.
" Baik Nona,, Kami akan segera memeriksa nya"
Dokter bersama beberapa suster tengah bersiap, Bahkan selang infus sudah terpasang di tangan Sarah.
Karena merasakan sangat sakit, Sarah pun tidak sadarkan diri.
Di tempat lain,,
Yogi bersama beberapa temannya asik mengobrol, beberapa ponselnya berdering namun sama sekali tidak dia hiraukan bahkan dia menonaktifkan ponselnya.
" Siapa sih telpon terus istri Lo ya "
" Gak penting biarin aja."
Yogi kembali meneguk minuman di gelas nya, dia tau jika orang rumah yang menghubungi nya dan sudah pasti karena Sarah.
Dia tau jika Sarah sedang tidak enak badan namun dia sama sekali tidak peduli dan lebih memilih keluar bersama teman temannya.
" Tapi mending Lo Telp balik deh, siapa tau penting "
" Udah lah,, paling dia cuma tanya gue dimana"
" Hahaha,, Lagian Lo sih kenapa coba mau nikah aja, jadi gak bebas kan Lo."
Yogi tidak menjawabnya,,
Dia semakin kesal dengan sikap Sarah, bahkan semua teman temannya sampai menertawainya.
Sialan Sarah,,
Dia membuat gue malu di depan teman teman gue,,
gue pasti akan menceraikan dia setelah anak itu lahir.
Yogi kembali meneguk minumannya tanpa memperdulikan semua panggilan atau bahkan chat masuk di ponselnya.
Baginya Sarah tidak berarti sama sekali bahkan dengan kandungannya sama sekali tidak membuatnya menerima sebagai istri dari anak anaknya.
" Pesen lagi kalian, biar gue yang bakal traktir Semuanya" Ucap Yogi membuat semua bersorak.
" Lo memang top Yogi.. " Ucap mereka dengan memanggil pelayan di sana dan memesan begitu banyak makanan juga minuman.
Yogi membiarkannya, karena dengan seperti ini dia bisa melupakan semua yang telah terjadi dengan dirinya.
Sementara di Rumah Sakit,,
Sarah masih belum tersadar setelah Dokter melakukan operasi dengan kandungan nya, Sarah harus kehilangan bayi dalam perutnya.
__ADS_1
Sedangkan Pelayan yang menemani Sarah terus berusaha menghubungi Yogi sebagai suami dari Sarah namun tetap saja tidak ada jawaban bahkan malah ponselnya tidak bisa di hubungi.
Untuk saat seperti ini seharusnya Yogi berada di samping Sarah menemani juga memberikan support untuk istrinya.