
Reyhan memberikan urusan pekerjaannya kepada wakilnya. Dan dengan sepenuh hati merawat dan menjaga Kenzie.
“Kenzie, makanlah sedikit!” Bibi Dewi menyapi Kenzie yang masih berada di atas kasur, padahal Bibi Dewi sudah tahu dia tidak bisa mendengar lagi, tapi masih saja menasihati dia.
Kenzie berlinang air mata, hanya terdiam menatap bibi Dewi, tidak memiliki respon apapun.
Kenzie terlihat semakin kurus, seperti sebuah papan kayu.
Hati Reyhan sangat khawatir, namun ia tidak tahu bagaimana menebus kesalahannya.
Kalau dia mati, Kenzie mungkin akan sedikit lebih bahagia, dia lebih rela kalau dia mati.
“Kenzie, makanlah! Tunggu kondisi kesehatanmu membaik, aku akan membiarkanmu pergi. Aku berjanji aku tidak akan menganggu kamu lagi, oke?” Reyhan memohon dengan nada putus asa. Hanya sayang, Kenzie tidak bisa mendengar apapun.
Kenzie masih terus menolak untuk makan, bibirnya tertutup rapat, dan bahkan tidak minum air sedikitpun. Kalau bukan dokter yang memberikan asupan makanan melalui suntikan, dia mungkin sudah mati kelaparan dan kehausan!
Reyhan kahwatir hingga berlutut di hadapan Kenzie. Dengan menungkan segelas air, Ia meminum air dari gelas itu, dan langsung mencium bibir Kenzie.
Kenzie awalnya ingin mengelak, namun kepalanya malah dipegang erat oleh Reyhan, sehingga Ia tidak bisa mengelak.
Melihat dengan cara ini Kenzie baru minum, Reyhan pun sedikit lega!
Sejak saat itu, makanan Kenzie dibuat menjadi cairan. Kedelai, susu, jus sayuran, bubur, semua yang mengandung gizi dan protein dibuat menjadi cairan.
Reyhan memasukkan makanannya itu ke dalam mulutnya dan kemudian mencium Kenzie memberi dia makanan. Kenzie awalnya ingin mengelak, tidak ingin menerima asupan makanan apapun dari mulut Reyhan. Namun Ia merasa mengelak juga percuma, dia hanya bisa membiarkan Reyhan melakukan apapun kepadanya.
Dia benar-benar rapuh. Pria seperti Reyhan, membuat hatinya hancur menjadi berkeping-keping. Dia sama sekali tidak akan memberikan kesempatan lagi kepada Reyhan.
Cuaca mulai berubah menjadi lebih hangat. Musim semi telah datang.
Kakek Reyhan menelepon dari Amerika, mendesak Reyhan untuk segera masuk kantor. Jika tidak, kakek Reyhan tidak akan menganggap Reyhan sebagai cucunya lagi.
Reyhan tidak bisa berbuat banyak dan akhirnya terpaksa masuk kerja, dan menyerahkan Kenzie kepada bibi Dewi, “Bibi Dewi, kamu harus menjaga Kenzie baik-baik. Kalausesuatu terjadi padanya, kamu yang akan aku cari.”
Telepon Reyhan berbunyi. Telepon dari nomor asing. Hanya teman-teman terdekat yang mengetahui nomor ponselnnya yang ini, Reyhan mencoba mengangkat telepon itu.
“Reyhan! Kamu sebenarnya apa yang telah kamu perbuat kepada Kenzie-ku! Kenapa ponselnya tidak bisa dihubungi? Kenapa dia tidak mengangkat teleponku? Kalau aku tidak menggunakan nomor orang lain menelepon kamu, apakah kamu akan mengangkat telepon?!”
Perkataan Nindi seakan menampar wajahnya, dan suaranya terdengar sangat emosi.
Reyhan ingin mengatakan sesuatu kepadanya, namun tidak tahu harus bagaimana menjelaskan semuanya. Penyakit Kenzie ini, benar-benar membuat kearogannya runtuh.
“Reyhan! Kenapa diam saja?! Aku tahu ini kamu! Apa yang kamu lakukan pada Kenzie?!” Melihat Reyhan yang tidak berbicara, Nindi merasa semakin khawatir.
__ADS_1
Sebenarnya dia merasa Reyhan tidak cocok dengan Kenzie, tapi karena Kenzie pernah berkata ingin memberi Reyhan kesempatan kedua, Nindi memutuskan untuk mendukung keputusan Kenzie.
Akhirnya, begitu tinggal bersama Reyhan, tidak lama Kenzie menghilang! Ditelepon juga tidak bisa, membuat Nindi benar-benar binggung.
Setelah diam agak lama, dengan nada yang berat, dan dengan sedih Reyhan berkata, “Nindi, kamu datanglah kemari. Kenzie, dia… dia sudah tuli.”
Kata-kata yang susah diucapkan ini, membuat Reyhan memutuskan telepon.
Dia begitu tidak bisa menerima, wanita yang begitu kuat, sekarang berubah menjadi seorang tunarungu yang kurus dan pucat, setiap hari berbaring di atas tempat tidur, benar-benar kehilangan harapan hidup.
Dia begitu tidak bisa menerima, ini semua adalah dosa yang dia perbuat.
Melihat teman baiknya Nindi, Kenzie terlihat lebih berwarna.
“Kenzie! Kamu kenapa bisa menjadi seperti ini!” begitu melihat Kenzie, Nindi langsung meneteskan air mata.
Kenzie meneteskan air mata yang sudah lama ia bendung, dan akhirnya semuanya dilampiaskan saat itu. Kedua orang itu berpelukan dan menangis sedih.
“Kenzie, ayo, aku bawa kamu keluar dari sini!” Nindi menarik selimut Kenzie, dan ingin menggendong Kenzie.
“Nona Nindi, kamu tidak boleh begitu! Kalau kamu membawa nona Kenzie pergi, bagaimana aku mempertangugngjawabkannya ke Presdir Reyhan!” bibi Dewi menghentikan langkah Nindi. Tuan ingin merawat Kenzie baik-baik, kalau Nindi membawanya Kenzie pergi, dia tidak bisa mempertanggungjawabkannya pada Reyhan!
“Aku akan menelepon Reyhan!” Nindi langsung mengambil telepon menelepon Reyhan.
Sunyi, tidak ada suara yang terdengar dari telepon itu.
Saat Nindi hendak menutup telepon itu, Reyhan akhirnya berkata, dengan ringan berkata, “Baiklah, Nindi, gantikan aku merawat Kenzie. Ini salahku, aku benar-benar bersalah padanya…”
“Bagus kalau kamu tahu itu! Reyhan, kamu benar-benar gila!”
“Nindi, di dalam laci sebelah jendela, ada sebuah kartu, bantu aku menyimpannya. Uang itu cukup untuk memenuhi kebutuhan Kenzie seumur hidupnya. Aku mohon,rawatlah dia!” Suara Reyhan terdengar tercekat, dan seperti agak gemetar.
“Jangan kira aku akan menerimanya! Kamu berhutang banyak pada Kenzie! Sebuah kartu, bahkan sepuluh kartu sekalipun tidak akan cukup untuk membayar apa yang telah kamu perbuat!” Nindi membuka laci itu dan mengambil kartu berwarna emas itu dan memasukknya ke dalam tasnya. Ia langsung meminta bibi Dewi memanggilkan taksi, dan memapah Kenzie keluar.
Tubuh Kenzie terlihat begitu rapuh, Nindi pun membantu Kenzie untuk mandi, dan memberikan dia makanan yang mudah dicerna, barulah Ia beres-beres dan mandi. Tak lama, teleponnya berbunyi…
Nindi langsung terkejut. Ternyata, telepon dari Ethan.
“Nindi, aku di bawah rumahmu. Apakah aku bisa bertemu denganmu?”
Setelah perjalanan ke pemandian air panas , Ethan pergi berdinas, setiap hari ia sangat sibuk dan tidak punya waktu untuk menghubungi Nindi.
Waktu dia sedang berada di pesawat menuju ke kota C, dia baru menyadari, dirinya begitu merindukan Nindi. Begitu turun dari pesawat, ia meminta ke supir untuk mengantarkan dirinya menemui Nindi.
__ADS_1
Nindi sedikit ragu… Namun akhirnya ia mengganti bajunya dan turun ke bawah.
“Nindi…” Ethan tiba-tiba tidak tahu harus berbicara apa, wajah Nindi begitu dingin, membuat dia kebingungan.
“Tuan Ethan, kamu sengaja mau memanfaatkan aku lagi untuk kesenanganmu? Wanita di luar sana sudah tidak bisa menyenangkanmu lagi? Sehingga kamu harus mencariku lagi?” Perkataan Nindi memang begitu pedas, dan menyakitkan.
“Nindi, jangan marah.” Ethan sama sekali tidak tahu mengapa Nindi marah. Sudah lama Ethan tidak menghubunginya, jadi Nindi merasa Ethan hanya main-main saja.
“Tidak, aku sebenarnya juga tidak berhak marah kepadammu. Kita sama sekali tidak memiliki hubungan apapun. Hanya cinta satu malam saja, sekarang kita jalan sendiri-sendiri, ini adalah hal yang wajar.”
“Cinta satu malam?” Ethan mengerutkan keningnya, kenapa wanita ini bisa mengira hubungan mereka hanyalah hubungan seperti itu?
“Memangnya bukan? Memangnya kamu berharap lebih dari itu? Maaf… aku tidak punya waktu.” Setelah Nindi selesai berbicara, ia membalikkan tubuhnya, bersiap naik ke atas, Ia merasa amarah dan kedengkiannya begitu terlampiaskan.
Lengan tangannya tiba-tiba ditarik oleh Ethan.
“Nindi, jelaskan padaku.” Raut wajah Ethan terlihat bingung, tapi dia tahu dari nada bicara Nindi bahwa perasaannya sedang tidak baik.
“Mau menjelaskan apa lagi? Aku sudah menjelaskan semunya. Malam itu, hanya sekedar cinta satu malam saja. Kamu hanya mainanku saja, aku juga hanya ingin main-main saja. Hubungan kita sudah berakhir pada malam itu. Anggap saja aku mabuk waktu itu, jangan anggap semuanya serius!”
“Mainan? Nindi, kamu hanya main-main saja?” Raut wajah Ethan seketika terlihat pucat dan terdiam.
“Ya.. Hanya main-main saja, kamu ingin aku memberimu uang sekarang? Maaf. Aku tidak bawa dompet, kamu potong saja dari gajiku .” Nindi malas meladeni Ethan.
“Nindi, bagaimana kalau aku katakan padamu bahwa aku serius padamu, tidak hanya menganggap itu hanya hubungan semalam?”
“Bukan hanya hubungan semalam? Lalu apa maksudmu bersikap begitu dingin padaku di pagi itu? Kamu menemukan kalungku, tapi kamu tidak langsung memberikannya padaku, kamu malah minta pelayan untuk memberikannya padaku, apa maksudmu semua ini? Beritahu aku apa maumu!”
“Nindi, kamu salah paham. Pagi itu ada masalah di perusahaan. Waktu kamu masuk, para direktur itu sedang menjelaskan masalah pekerjaan, kamu juga lihat kan? Aku memang melihat kalungmu dan meminta pelayan memberikan padamu, karena aku mengira perasaanmu sedang tidak baik tidak ingin melihatku.” Ethan menjawab dengan jujur.
Nindi sedikitpun tidak percaya, “Ethan, tidak usah bicara lagi. Meskipun apa yang kamu bilang itu benar, ini sudah terlambat. Aku sudah tidak lagi memiliki perasaan apapun padamu.”
“Tidak memiliki perasaan apapun padaku?” Ethan mengulangi lagi perkataan Nindi.
Saat Nindi hendak menundukkan kepala, tubuhnya langsung dipeluk Reyhan. Dekapan yang begitu hangat membuat Nindi terdiam.
Baru ingin mendorong Ethan, bibir Ethan mendekati telinga Nindi, dan dengan suara yang ringan berbisik ke telinganya, “Nindi, jangan marah, aku tahu kamu menyukaiku. Ini semua salahku, aku terlalu sibuk dan tidak menghiraukan kamu. Jangan marah lagi, ya?”
Pelukan itu seakan membuat sekujur tubuh Nindi menjadi hangat, aroma parfum Ethan itu menyelimuti Nindi. Nindi ingin mendorongnya, tapi tangannya tak bisa bergerak, “Aku marah, aku benar-benar marah! Kenapa ada orang seperti kamu ini? Setelah menghabiskan malam bersama, hari berikutnya memasang wajah dingin! Aku membencimu! Aku membencimu!
Nindi kesal hingga air matanya turun. Suaranya menjadi tidak begitu jelas.
Dengan erat Ethan memeluk Nindi, dan mengusap air matanya, “Nindi, jangan menangis lagi, aku sayang padamu. Ini semua salahku, aku tidak akan mengulanginya lagi.”
__ADS_1
Ciuman itu akhirnya jatuh ke bibir Nindi, dan mereka bermesraan…