
Kenzie tersipu malu sampai wajahnya merah, dari balik bahu Reyhan ia melihat perawat itu membawa piring besi, menatap Reyhan dan berkata: “Tuan, saatnya kamu menukar infus.”
Setelah berbicara, matanya itu masih melirik ke arah Reyhan yang memeluk Kenzie.
Kenzie benar-benar tak tahu bagaimana harus menutupi rasa malunya itu.
Reyhan dengan tatapan seperti ingin memakan orang menatap perawat itu, membentak: “Aku tidak butuh!”
Kenzie dengan cepat menarik lengan baju Reyhan: “Cepat kembali ke kasur, agar bisa diinfus! Kalau tidak, lukamu mau kapan sembuhnya? Ken pasti merindukan Ayahnya, kamu tidak ingin cepat pulang untuk melihatnya?”
Kenzie baru menyadari, Ken adalah titik kelemahan Reyhan, hanya tinggal menyebutkan hal-hal tentang Ken, Reyhan pasti akan menurut padanya.
Setelah mendengar Kenzie menyebut putranya itu, Reyhan baru mau kembali merebahkan dirinya di atas kasur, meminta perawat mengganti infusnya.
Kenzie menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Tangan Kenzie tiba-tiba dipegang erat oleh Reyhan. Kenzie dengan penuh keraguan menatapnya, Reyhan tertawa sedikit, dan mengarahkan tangan itu ke tulang selangkanya.
Untuk apa mengarah ke arah tulang selangka? Yang patah kan bukan tulang selangka….
Kenzie berpikir dalam hatinya, tetapi ia terlalu malas memikirkan hal itu lebih jauh lagi.
Perawat di sebelah itu juga melirik ke arah tulang selangka Reyhan, mukanya memerah, dan ia segera meninggalkan ruangan itu.
Kenzie melihat Reyhan dengan penuh kebingungan.
Sesaat kemudian, perawat yang tadi kembali lagi sambil membawa perban untuk Reyhan.
Dalam hati Kenzie berpikir, perawat ini sangat cekatan, luka kecil di bawah lengan Reyhan pun bisa terlihat olehnya.
Ia mulai menarik lengan baju Reyhan untuk menempelkan perban luka itu.
Akhirnya Reyhan tak tahan ketawa: “Kenzie, ini untukmu.”
Kenzie tidak mengerti: “Hah? Untukku?”
Reyhan menunjuk arah payudara Kenzie, tertawa dan berkata: “Kamu….liat sendiri sana…. hahahaha!”
Kenzie buru-buru ke dalam kamar kecil dan mengaca, di tulang selangkanya ada bekas ciuman!
Pantas saja perawat barusan malu-malu, dan tidak heran Reyha tertawa begitu bahagia!
Ini semua karena pria yang harusnya mati ini! Terserah apa maunya!
Karena beberapa hari ini tidak istirahat dengan cukup, Kenzie langsung tertidur pulas sesaat setelah merebahkan dirinya di atas kasur.
Dia bermimpi panjang. Dalam mimpinya, ia kembali ke masa-masa di ketika ia masih seorang mahasiswi, ketika ia duduk bersama dengan Steven di bawah pohon cherry, membaca buku bersama.Ssaat itu, mereka masih sangat muda. Steven saat itu masih belum dewasa.
Dalam mimpi itu, sinar matahari bersinar cerah, pria yang lembut itu seperti air, menenangkan jiwanya…….
Saat ia terbangun, waktu sudah menunjukan pukul 9 lebih, ia langsung mencuci muka dan pergi ke ruang rawat Reyhan.
Suasana di ruangan itu sangatlah menegangkan.
Paman Lee berdiri ketakutan di sudut kasur, para perawat juga berbaris di depan kasur Reyhan. Kelihatannya Reyhan sedang meluapkan emosinya.
Melihat Kenzie masuk, Paman Lee pun langsung menghela nafas dan meminta tolong Kenzie: “Nyonya Kenzie, mohon tolong nasehati tuan muda, ia tidak mau minum obat.”
Kenzie kaget sampai mengangkat alisnya.
Tidak mau minum obat…… bukannya hanya anak kecil yang melakukan hal seperti ini? Dalam pandangannya, hanya anak-anak di bawah 10 tahun yang menolak untuk minum obat.
Melihat wajah Kenzie yang meledek, Reyhan pun berkata: “Paman Lee! Apa yang kamu lakukan?!”
Paman Lee segera menundukkan kepalanya, ia tak berani berkata apapun lagi.
Para perawat di sebelah kasur pun ikut menundukkan kepala mereka, melihat ke lantai, karena takut menjadi sasaran kemarahan Reyhan.
__ADS_1
Di lantai bertebaran berbagai obat-obatan, sepertinya tadi Reyhan marah besar.
Kenzie tertawa dalam hatinya, tetapi melihat ekspresi kesal Reyhan, ia lebih memilih menahan tawanya lalu berjalan ke sebelah Reyhan berkata: “Kamu sedang sakit mana bisa tidak minum obat? Kalo minum akan lebih cepat sembuh! Obat ini tidak pahit sama sekali, kalau tidak percaya coba minum.”
Kenzie merasa dirinya seperti guru TK, dan Reyhan seperti murid TK!
Reyhan menatap Kenzie: “aku bilang tidak mau minum ya tidak mau!”
Kenzie tak bisa menjawab apa-apa.
Bahkan murid-murid TK pun mau menuruti apa kata gurunya kan?
Reyhan pun bahkan lebih kekanak-kanankan dari murid TK……
Wajah Reyhan sangat tidak enak dilihat, di wajahnya tersirat keras kepalanya yang benar-benar menunjukkan kalau ia tidak mau minum obat.
Kenzie pun mengangkat bahunya, sudah ingin menyerah, tetapi melihat tatapan Paman Lee yang memohon pertolongannya, hatinya berubah, dengan penuh tantangan, ia mengatakan kepada Reyhan: “Jadi apa yang kamu inginkan agar bersedia minum obat?”
Reyhan tanpa basa basi berkata sambil menunjuk para perawat yang berbaris itu.: “Sudah tidak usah dibicarakan lagi, suruh mereka keluar!”
……
Sudahlah, Kenzie juga tidak bisa membujuknya, lebih baik menyerah saja.
Kenzie menatap Paman Lee dengan ekspresi menyerah. Tiba-tiba ia mulai lapar.
Setelah bangun, ia langsung kemari dan menghabiskan tenaga, berperan menjadi guru TK, jadi kini ia benar-benar kelaparan.
“Paman Lee, aku ingin pergi ke restoran untuk makan, apakah kamu tahu badimana restorannya?”
Makan? Reyhan menengok ke arah Kenzie, apa wanita ini tidak melihat kalau Reyhan masih terbaring di ranjang rumah sakit?! Ia juga belum sarapan!
Sudah tidak ada merasa kasihan kepadanya, masih ingin meninggalkannya untuk pergi sarapan?
“Kenzie!”, Reyhan menatapnya tajam sambil menggertakan giginya.
“Ya?” Kenzie berhenti melangkah, menengok ke arah Reyhan, berpikir mungkin ada urusan atau hal yang ingin disampaikannya.
“Coba saja jika kamu berani melangkah keluar selangkah saja darisini!”, nada suara Reyhan meninggi, dan wajahnya mulai suram.
Paman Lee dan para perawat yang melihat ini, langsung menyadari sesuatu yang tidak beres dan satu per satu dari mereka keluar dari situ.
Kenzie mengerutkan keningnya, kenapa ia selalu agresif seperti ini?
Kenzie hanya ingin pergi makan. Apakah ini menyakitinya?
Ia bertanya: “Maksudmu apa? Aku tidak boleh pergi makan?”
Reyhan dengan dingin menjawab sambil menatap Kenzie: “Suruh Paman Lee saja yang pergi membeli sarapan, kamu dan aku akan makan bersama!”
Setelah itu ia melotot ke Kenzie sambil membenarkan kasurnya agar lebih nyaman untuk bersandar.
Sungguh kekanak-kanakan! Benar-benar melewati sifat kekanakan murid TK!
Kenzie menggeleng-gelengkan kepalanya, ia pun memilih menyuruh Paman Lee membelikannya sarapan.
Bertemu dengan pria egois ini benar-benar membuatnya sial!
Tak lama, Paman Lee membawa keranjang makanan yang berisi bermacam-macam makanan ke dalam ruangan.
Makanan di keranjang itu terlihat menggugah selera, baru melihat saja sudah membuat orang merasa lapar
Kenzie duduk di kursi sebelah kasur, menundukkan kepalanya, tidak mengucapkan satu patah katapun. Bahkan sama sekali tidak melirik ke makanan-makanan itu.
“Kenzie makan!”, Reyhan mengangkat kepalanya dan berkata ke Kenzie. “Tadi bukannya kamu ingin buru-buru pergi makan?”
Makan ya tinggal makan! Kenzie benar-benar lapar.
__ADS_1
Pertama ia meminum segelas jus buah, jus buah yang segar dan manis memasukin tenggorokannya, membuatnya merasa segar.
Luar biasa! Segelas jus buah ditambah roti gandum bakar yang ada di keranjang itu pun habis dilahapnya.
Lalu ia juga makan salad sayur, Kenzie makan dengan asik tanpa menghiraukan pria yang terbaring di kasur dengan wajah ditekuk.
“Kenzie!”, Reyhan kembali memanggilnya dengan keras.
Kenzie mengerutkan alisnya, kenapa lagi, ia sedang makan, kenapa diganggu, ini benar-benar menganggu selera makannya!
“Ada apa tuan muda?”
“Kemari dan suapi aku!”, Reyhan berkata dengan rasa tidakpuas.
Kenzie menggelengkan kepalanya, benar-benar, yang luka itu dadanya bukan tangannya, memangnya ia tidak punya tangan? Sudah besar seperti ini masih menyuruh orang untuk menyuapinya!
Melihat Reyhan dengan wajah egoisnya, Kenzie merasa ingin melempar piring salad sayur itu ke wajahnya ….
Tapi dipikir-pikir, Kenzie masih berpikir bahwa ini adalah nasibnya untuk berada di samping Reyhan, ia membawa piring salad itu dan menggunakan pisau menyuapinya.
Reyhan membuka mulutnya dan menelan makanan yang disuapi Kenzie. Ada sedikit saus salad nempel di dekat bibirnya, terlihat seperti anak kecil, Kenzie tak bisa menahan senyum, ia pun mengambil tisu untuk membersihkannya.
Kembali menyuapi satu suap salad ke mulutnya, Reyhan membuka mulutnya dan melahapnya. Kenzie sedang mempersiapkan suapan ketiga, tetapi Reyhan tidak membuka mulutnya lagi.
Apa-apaan ini? Kenzie terheran-heran. Hanya melihat Reyhan yang memerintah menggunakan tangannya menunjuk ke arah mulut: “Kenzie, bersihkan mulutku.”
Kenzie seperti ingin muntah darah! Bersihkan mulut mau bersihkan apa, menggosok mulut anda?! Mulutmu sangat bersih tak ada yang harus dibersihkan!
Kenzie berkata: “Mulutmu sangat bersih, tidak ada yang harus dibersihkan!”
Reyhan menaikkan alisnya menatap Kenzie: “Aku suruh bersihkan ya bersihkan!”
Kenzie tak ada pilihan, tak tahu bagaimana cara mengatasi ini, ia pun terpaksa mengambil tisu dan membersihkan mulutnya sampai bersih.
Ekspresi Reyhan berubah menjadi ada senyum kemenangan. Tadi Kenzie membantunya membersikan mulutnya, ia merasa itu suatu hal yang menyenangkan baginya, seperti waktu kecil mamanya dulu membersihkan mulutnya.
Seperti ada rasa dicintai, dimanjakan, dirawat, dia sangat senang.
Melihat ekspresi bahagia Reyhan sama seperti melihat barang indah dari surga.
Cukup naif.
Kenzie mengerutkan bibirnya.
“Kenzie, sini kepalamu.”, Reyhan tiba-tiba meminta.
Kenzie mengarahkan telinganya ke dekat mulut Reyhan, dia pikir Reyhan akan membisikkan sesuatu.
Tiba-tiba, bibir Reyhan menciumnya.
Dengan sedikit bekas makan salad, bibirnya mendarat di wajahnya yang bersih.
Luka Reyhan harus segera diobati. Setelah makan, Reyhan melanjutkan istirahat di ruang rawat itu.
Pagi yang indah, matahari yang hangat dan cerah menyinari ruang rawat itu.
Kenzie terpaksa menemani Reyhan di kasur rumah sakit, tangannya berada di bahunya, mereka berdua sambil membaca sebuah novel.
Sebuah novel dengan cerita cinta yang menyentuh, Kenzie membacanya dengan sangat serius, melihat bagian yang menyedihkan membuat matanya menjadi lembab.
Reyhan berada di sebelahnya sambil membaca bersama.
Gambar yang indah nan hangat……
Tentu saja, jika tidak ada selimut dibawahnya Reyhan, ya diatas tubuhnya, semua ini terlihat lebih indah.
Kenzie masih serius membaca buku, tetapi tangan Reyhan di tubuh Kenzie mulai menjalar kemana-mana…
__ADS_1