CINTA SETELAH MENIKAH

CINTA SETELAH MENIKAH
Bab 136 Tidak Berniat Baik


__ADS_3

Dari kemarin malam hingga saat ini, Kenzie pun tidak begitu memiliki nafsu makan, namun karena melakukannya berkali-kali dengan Reyhan, Kenzie pun lapar setengah mati sekarang.


“Krucuk… krucuk…” Terdengar bunyi dari perut Kenzie, perut Kenzie pun seakan mengajukan protesnya.


Reyhan juga mendengar suara itu, dan tersenyum sejenak melirik Kenzie. Pipi Kenzie seketika menjadi merah. “Dasar kamu ini! Kan normal saja jika perutku berbunyi, kenapa malah kamu tertawakan?” Dengan mata melotot Kenzie memandang Reyhan.


“Kamu lapar? Aku pesankan makanan untukmu ya.” Dengan penuh kasih sayang, Reyhan membelai rambut Kenzie dan dengan mesra mengecup keningnya.


Mereka sudah berpisah selama 3 bulan, Reyhan belum puas bermanja-manja dengan Kenzie.


“Tidak, Aku sudah berjanji pada Nindi untuk makan siang bersamanya.” Kenzie langsung menolak penawaran Reyhan tanpa berpikir dua kali.


“Ayolah… Makan di sini saja, kamu masih tidak enak badan, restoran juga jauh, bagaimana kamu bisa kesana?” kata Reyhan yang tidak ingin membiarkan Kenzie pergi.


“Tidak apa-apa, Aku bisa jalan pelan-pelan.” Kenzie sangat ingin berduaan dengan teman baiknya itu untuk membicarakan banyak hal. Dia juga ingin menanyakan perkembangan hubungan Nindi dengan Ethan, kemarin malam Kenzie melihat mereka berdua begitu mesra.


Melihat wajah Reyhan yang tidak senang dan mengerutkan kening, Kenzie pun segera mencium pipinya, dan membujuk, “Rey, boleh ya? Aku akan berhati-hati.”


Kenzie jarang sekali agresif begini kepada Reyhan, kecupan dan rayuan manis Kenzie pun meluluhan hati Reyhan.


“Baiklah, Aku akan menelepon Ethan, kita pergi makan berempat.” Reyhan kemudian langsung menelepon Ethan.


Nindi pun sudah menunggu Kenzie di restoran. Seketika Nindi melihat Kenzie, Reyhan, dan Ethan berjalan masuk menuju restoran, raut wajahnya pun berubah.


Raut wajah Ethan pun hanya tersenyum biasa saja, sama sekali tidak menunjukkan hal yang tak lazim. Tapi, Nindi merasa canggung, Ia pun bingung menghadapi Ethan.


“Nindi!” kata Reyhan menyapa Nindi. Karena Nindi adalah teman baik Kenzie, Reyhan pun memanfaatkan momen ini untuk mencari perhatian Kenzie. Bagaimanapun bagi Kenzie, Reyhan masih dalam masa percobaan.


Nindi tersenyum ke arah Reyhan, dan tidak bisa menahan diri untuk menengok ke arah Ethan.


Namun, Ethan malah hanya mengangguk-angguk dan tersenyum dingin ke Nindi, kemudian duduk.


Senyuman itu terasa hanya seperti senyum kepada teman biasa, siapapun tidak dapat mengira bahwa baru kemarin Ethan mengucapkan kata-kata manis dan mesra kepada Nindi.


Amarah dan rasa malu memenuhi benak Nindi, ia menggenggam erat kain meja, ingin segera pergi dari tempat itu, namun ia harus memikirkan perasaan temannya, Kenzie dan Reyhan.

__ADS_1


Makan siang itu begitu mewah, semua yang disajikan dibuat dari bahan-bahan terbaik.


“Makan ikan ini ya.” Reyhan membersihkan duri-duri ikan dengan teliti dan menyuapi Kenzie. Mereka terlihat begitu romantis.


Kenzie pun agak tersipu malu, berkata “Apa-apaan ini? Kamu ingin sok romantis di depan orang banyak?” Di sampingnya ada Nindi dan Ethan, namun Reyhan sedikitpun merasa malu.


“Taruh saja di piringku , Aku bisa makan sendiri.” Kenzie memalingkan kepala untuk menghindari suapan Reyhan.


Melihat kemesraan mereka berdua, Nindi tiba-tiba merasa hidungnya tersumbat. Reyhan memang cuek dan kasar, tapi sangat terlihat bahwa Ia begitu menyayangi Kenzie, Nindi jadi sangat iri melihatnya.


Diam-diam ia melirik Ethan. Ethan sedikitpun tidak memperhatikan kemesraan Reyhan dan Kenzie. Ethan malah sibuk dengan ponselnya.


Nindi melihat jari Ethan yang bergerak begitu cepat, tampaknya Ethan sedang mengirimkan pesan kepada seseorang. Ia menatap layar ponselnya sambil tersenyum. Senyum itu terlihat begitu familiar bagi Nindi, senyum seorang pria yang sedang bicara dengan kekasihnya.


Hati Nindi pun terasa tertusuk, ia berbicara dalam hati, “Ethan, apa kamu sedang berkirim pesan dengan seseorang? Wanita itu pasti cantik, bukan?”


Pada saat makan, Ethan menerima pesan dari adik perempuan yang bernama Gisselle, yang isinya, “Kak, kamu sedang apa? Aku besok lusa pulang, aku akan pulang bersama Nayra. Kakak dan Reyhan jemput kami ya.”


Anak kecil ini akhirnya bersedia pulang. Raut wajah Ethan seketika penuh dengan senyuman yang manja, dan membalas pesan Gisselle, “Baik. Kakak pasti akan jemput kamu, hati-hati di jalan ya.”


Jantung Nindi pun seketika berdebar dan matanya terlihat kebingungan.


Nindi pun bingung hingga hingga ingin bersembunyi, Ethan malah mengira Nindi kali ini membalasnya dengan sikap yang dingin.


Ethan mengerutkan kening,ia tak mengerti, dia tidak melakukan apapun, namun mengapa Nindi begitu dingin padanya, seakan-akan kemarin malam tidak terjadi apa-apa diantara mereka berdua.


Dan pagi ini, tiba-tiba saja ia menangis tanpa alasan dan memaki Ethan di kamarnya, sungguh aneh! Ethan ini orang yang sedikit arogan dan bangga pada dirinya sendiri, dari dulu sampai sekarang wanita selalu mengejar-ngejarnya, ia tidak pernah mengejar wanita terlebih dagulu.


Ethan mengangkat bahu, ia tidak mengira Nindi akan begitu dingin padanya, Ethan berpikir tak perlu lagi memberikan senyum yang hangat pada Nindi. Ethan kemudian hanya melanjutkan makan siangnya, dan sama sekali tidak melirik ke arah Nindi lagi.


Semakin lama hati Nindi semakin panas. Melihat Ethan yang begitu dingin padanya, hatinya begitu penuh dengan amarah!


Dengan perasaan hati yang berbeda-beda, keempat orang itu akhirnya mereka menghabiskan makan siang mereka.


Setelah perjalanan yang panjang, akhirnya mereka kembali ke kota C.

__ADS_1


Setelah mengantar Nindi dan Kenzie pulang ke rumah mereka, Reyhan malah tidak ingin berpisah dari Kenzie.


Melihat mereka berdua begitu mesra, Nindi pun bersembunyi di kamarnya.


Reyhan menggandeng Kenzie menuju kamar Kenzie dan menutup pintunya, kemudian Reyhan segera memeluk dan mencium Kenzie.


Ciuman Reyhan yang begitu mesra, membuat raut wajah Kenzie merah dan tersipu malu.


“Jangan, ada Nindi di sini ! Hari ini bukannya kamu juga harus rapat? Cepat kembali ke kantor.” Kenzie pun takut tidak bisa menolak keinginnan Reyhan jika Reyhan terus merayunya seperti itu.


“Kamu mengusirku?” Reyhan merasa sedikit tersinggung. Sudah sekian lama ia menanti bekas memar di tubuh Kenzie membaik, tapi Kenzie malah tidak ingin bermesraan dengannya.


Ini benar-benar menyiksa Reyhan.


“Bukan begitu, lain kali kan juga bisa…” sahut Kenzie dengan wajah tersipu malu.


“Kenzie, bagaimana jika kamu tinggal denganku saja?” Reyhan suka melihat wajah Kenzie yang tersipu malu itu, setelah mendengar penjelasan Kenzie dengan nada halusnya, hati Reyhan merasa puas.


“Eeee… Aku… Aku rasa sebaiknya aku tinggal bersa,a Nindi.” Kenzie sendiri merasa bimbang, karena sebenarnya ia sudah merepotkan Nindi selama ini dan Nindi tidak mau menerima uang sewa yang diberikan Kenzie untuknya. Tapi, haruskah ia tinggal dengan Reyhan? Bayangan masa lampau Kenzie sepintas muncul di benaknya.


Melihat kebimbangan Kenzie, Reyhan pun mendekatkan diri dan mencium telinga Kenzie, dengan nada ringan berbisik di telinganya, “Kalau kamu terus tinggal di tempat Nindi, itu akan merepotkan dia. Tempatku juga kosong, dekat dari pusat kota, kamu akan mereka lebih nyaman jika pindah ke tempatku. Kenzie, aku dulu memang aku tidak baik padamu, tapi kamu jangan khawatir, aku berjanji aku akan menjagamu. Ya, tinggal di tempatku ya?”


“Eeemm… Baiklah.” Selang beberapa saat, Kenzie pun menyetujui permintaan Reyhan. Dia berencana untuk mencari pekerjaan, dan mengumpulkan uang untuk menyewa sebuah tempat tinggal nantinya.


Tentu saja, Reyhan begitu bahagia mendengar jawaban Kenzie, dan ia langsung memeluk Kenzie dengan erat.


Kenzie memberitahu Nindi mengenai keputusannya untuk tinggal bersama Reyhan, meskipun Nindi merasa agak tidak rela, tapi dia cukup mengerti temannya ini. Bagaimanapun juga Kenzie dan Reyhan sudah kembali bersama, dengan hubungan mereka sekarang, tinggal bersama itu wajar.


Barang Kenzie yang tidak banyak, sebuah tas travel cukup memuat semua barangnya.


Setelah membereskan barang-barang itu. Reyhan menutup tirai jendela, dan berjalan pelan-pelan menuju Kenzie.


“Kamu… Kamu mau apa?” Kenzie dengan sangat berwaspada menutupi dadanya, sepasang matanya melototi Reyhan.


“Menurut kamu aku mau apa?” Reyhan kemudian mendorong Kenzie dengan paksa ke arah dinding, menggenggam Kenzie dalam dekapannya, menunjukkan jelas apa yang ia inginkan.

__ADS_1


__ADS_2