
“Ayo.” Steven mengangguk dan tersenyum senyum.
Aula sudah penuh orang yang sedang menunggu filmnya dimulai, Steven melihat-lihat ke sekitarnya, tiba-tiba bayangan seseorang menarik perhatiannya.
Kepalanya tertunduk, rambutnya yang hitam menutupi setengah wajahnya, penampilannya yang tidak asing, sangat mirip dengan seseorang.
Jantung Steven mulai berdebar. Dia pun berlari ke arah orang itu.
“Steven, kamu mau kemana?” melihat Steven tiba-tiba berlari, Betty juga ikut berlari.
Semakin dekat, detak jantung Steven semakin kencang, akhirnya setelah hampir sampai di depan orang itu, dia berhenti.
Dia tidak salah orang, perempuan yang duduk di sana itu Kenzie.
Banyak yang ingin ia keluarkan dari hatinya, tapi satu kata pun tidak bisa terucap dari mulutnya. Steven mau bicara, tapi tengorokkannya seperti tercekat.
Betty juga ikut menghampiri wanita itu, sekali lihat, dia langsung mengenali Kenzie yang masih menunduk sambil bermain ponsel. Rasa cemburunya dengan cepat naik, seperti racun ular. Wajahnya yang manis pun sedikit mengerut.
Steven berdiri di depan Kenzie dalam diam, tidak berani bicara. Dia takut, sekali ia bicara, Kenzie akan langsung menghilang, dia masih harus menunggu beberapa tahun lagi untuk melihatnya.
Seperti bisa merasakan bahwa dirinya sedang diperhatikan, Kenzie tiba-tiba mengangkat kepalanya.
Matanya menatap lurus Steven.
Steven….
Mata Kenzie penuh dengan rasa terkejut, dan….. sedikit rasa malu.
“Kenzie! Kamu kemana saja? Aku menelepon kakakmu, dia berkata bahwa kamu meninggal karena kecelakaan.” Steven masih merasa dirinya sedang bermimpi, tidak percaya ia masih bisa bertemu dengan Kenzie.
“Ha? Aku tidak kecelakaan kok, aku pergi ke Amerika dan tinggal disana untuk beberapa waktu.” ucap Kenzie pelan-pelan sambil melihat Betty yang berada di sebelah Steven.
Wajah Steven yang selalu gentle itu tiba-tiba terlihat tertekan: “Kenzie, apa kamu baik-baik saja selama berada di Amerika?”
“Dia di Amerika baik-baik saja atau tidak, apa urusannya denganmu? Steven, bukankah perhatianmu ini terlalu berlebihan?” Ucap Betty dengan tajam. Omongannya itu memang untuk Steven, tapi kemarahnya itu tertuju pada Kenzie.
Tidak mau terjebak di tengah-tengah keributan Steven dan Betty, Kenzie pun berdiri, tersenyum ke Steven: “Steven, temanku sebentar lagi datang, aku kesana dulu ya.”
Dia juga mengangguk dengan sopan ke arah Betty, lalu bersiap-siap untuk masuk ke dalam.
“Kenzie, aku peringati kamu ya! Jauh-jauh dari tunanganku! Jangan murahan!” Ucap Betty dengan kesal.
“Betty, kamu keterlaluan! Apa yang baru saja kamu katakan? Apa kamu tidak menyadarinya? Cepat minta maaf pada Kenzie!” Steven yang selalu hangat, tiba-tiba menjadi serius.
Steven dari dulu tidak pernah berbicara sekasar itu pada Betty, ini membuat Betty semakin membenci Kenzie! Dia menggigit bibirnya sambil melotot ke Steven, “Steven, kamu baru saja menyuruhku meminta maaf pada perempuan ini?”
“Iya, Kenzie itu temanku, kamu tidak boleh bicara kasar seperti itu padanya!” wajah Steven terlihat semakin marah.
Betty marah sampai badannya gemetar, air matanya pun keluar: “Steven, aku melahirkan anak untukmu, selalu menemanimu, apa yang kurang dariku? Kamu, kamu beraninya membentakku demi dia!”
Steven menghela nafas, mendengar kata anak, hatinya pun melembut. Matanya pun tidak lagi menatao Betty, ia langsung menatap Kenzie dan berkata: “Kenzie, Betty salah, aku mewakili dia,minta maaf padamu.”
Mewakilinya minta maaf.
__ADS_1
Hati Kenzie pun sedikit sakit karena permintaan maaf dari Steven.
Kenapa dia harus mewakili Betty minta maaf? Atas dasar apa? Betty itu ibu dari anaknya, Betty itu keluarganya, makanya Steven mewakilinya minta maaf.
Dia Kenzie, di mata Steven, ia adalah orang asing sekarang. Kenzie sudah tidak mungkin masuk ke kehidupannya lagi.
Menahan sakitnya hati, Kenzie tersenyum pada Steven: “tidak apa-apa, tidak usah dipikirkan.”
Dia membalikkan badannya dan berjalan ke arah pintu. Dia takut, telat sedikit saja, air matanya akan keluar. Kepura-puraannya yang kuat akan hancur, kelemahannya juga akan terlihat.
Tiba-tiba perasaan ingin menonton filmnya hilang. Kenzie menelpon Nindi: “Nindi, kamu dimana? Aku tiba-tiba tidak ingin nonton film. Aku pulang duluan ya. Kamu nonton sendiri saja.”
“Aku baru sampai bioskop. Kamu dimana?” baru selesai bicara, Nindi langsung melihat Kenzie di tengah kerumunan orang.
“Kenzie, kamu kenapa tiba-tiba tidak mau nonton film?”
“Tidak apa-apa, perasaan hatiku sedang tidak bagus.” ucap Kenzie pelan-pelan.
“Kalau gitu kita makan saja! Di pusat kota ada restoran jepang yang baru buka, aku traktir kamu makan! Untuk merayakan resign-ku.”
“Boleh.” melihat temannya itu sedang semangat, Kenzie pun tidak enak untuk menolak.
Restoran jepang yang baru buka itu memang lumayan bagus. Dekorasi luarnya elegan, di depan pintunya ada dua kolam ikan, di dalamnya ada kolam lotus dan ikan mas, kelihatan sangat bagus.
Pelayan melihat Kenzie dan Nindi masuk: “mohon maaf, sekarang sedang tidak ada tempat kosong, silahkan masuk ke ruang tunggu di dalam dan tunggu sebentar.”
“Oke.” tidak masalah menunggu sebentar, lagi pula mereka juga tidak begitu lapar.
Mereka berdua mengikuti pelayan ke ruang tunggu di dalam yang elegan.
“Ha?” Kenzie bingung kenapa Nindi tiba-tiba menyebut Reyhan.
“Reyhan ada di dalam!” Nindi menaikan nada suaranya. Dua pria yang di dalam mendengar suara Nindi, lalu mengangkat kepalanya.
Setelah mendengar omongan Nindi dengan jelas, Kenzie baru saja hendak menarik Nindi keluar, tapi sudah telat.
Reyhan menatapnya dengan mata yang dalam. Hati Kenzie gemetar.
“Nindi, kebetulan ya.” Ethan melihat Nindi, matanya langsung bersinar, “kalian juga sedang menunggu tempat kosong ya? Nanti duduk bersama saja.”
Nindi melihat wajah Kenzie yang pucat, dan juga melihat wajah Reyhan yang marah, langsung berkata kepada Ethan: “Terima kasih Presdir Ethan, tapi kami makan di restoran lain saja. Selamat tinggal.”
“Tunggu.” ucap Reyhan dengan dingin, menatap Kenzie dan Nindi.
Setelah terbengong sebentar, Kenzie langsung menarik Nindi pergi.
“Kenzie, kalau kamu berani pergi, jangan berharap Nindi akan mendapat pekerjaan lain di kota C.” ancam Reyhan.
Kenzie marah sampai gemetar, apa yang bisa ia lakukan selain mengancam? Dulu Reyhan menggunakan ayah Kenzie untuk mengancamnya, sekarang ia mengacamnya menggunakan Nindi.
Kenapa semua orang yang dia sayangi, digunakan Reyhan untuk mengancaman untuk dia?
Reyhan, kamu sebenarnya mau memaksaku sampai kapan?
__ADS_1
Kenzie berhenti, membelakangi Reyhan, dia pun tidak bisa bergerak karena ancaman itu.
“Kenzie, ayo pergi! Aku tidak mempercayai ancamannya!” Nindi tidak takut pada ancaman Reyhan, dia tidak percaya Reyhan sejahat itu.
Tapi Kenzie tidak berani begitu optimis, ia mengerti kekuatan Reyhan dengan jelas.
Kekuasaan Reyhan di kota C sangat besar, kuatnya melebihi imajinasi Nindi. Dia tidak mau membuat teman baiknya itu mengambil resiko.
“Nindi, aku lapar, kita makan di sini saja ya.” Kenzie menatap Nindi dengan tatapan memohon.
Melihat ekspresi Kenzie, Nindi mau tidak mau menganggukkan kepala. Mereka berdua terpaksa duduk di pinggir meja, berseberangan dengan Reyhan dan Ethan.
“Kenzie, tidak usah gugup seperti gitu. Reyhan tidak akan memakanmu.” Ethan menatap Kenzie risih, Reyhan tampan,kaya, kemampuannya dalam mengatur perusahaannya juga bagus, di sukai oleh Reyhan, Kenzie seharusnya merasa senang.
Melihat wajah Kenzie yang seperti terpaksa, Ethan pun geram.
Reyhan melipat tangannya, tidak bicara sepatah katapun.
Tadi pagi saat bermain golf dengan Ethan, otaknya penuh oleh Kenzie, dia ingin bertemu Kenzie, hanya ingin bertemu Kenzie, hal lain, menurutnya tidaklah penting.
Tadi saat Kenzie muncul, jantungnya langsung berdebar cepat. Hatinya yang kosong pun langsung terasa penuh.
Tapi ekspresi wajah Kenzie yang dingin, membuat hatinya juga menjadi dingin.
Kenzie pun tersenyum ke arah Ethan dengan terpaksa, tidak bicara apa-apa.
Mereka berempat pun diam, atmosfernya menjadi aneh.
“Kenzie, kamu tidak perlu gugup seperti gitu, Reyhan sudah memutuskan untuk melepaskanmu, dia tidak akan dekat-dekat denganmu lagi.” Ethan mencoba buka suara, dia ingin melihat respon dari Kenzie, ingin melihat apakah Kenzie memiliki perasaan terhadap Reyhan, jika memang ya, walaupun itu sedikit, Reyhan pasti akan membaik.
Hanya Ethan yang mengerti pahitnya hati Reyhan saat ini. Orang yang brutal seperti Reyhan ternyata bisa patah hati juga. Ethan benar-benar salut pada Kenzie.
Mendengar Ethan, badan Kenzie pun bergetar. Melihat Ethan dengan tidak percaya, suaranya pun juga terdengar senang: “Kamu, yang kamu tadi berkata itu serius?”
Kekagetan di wajah Kenzie, terlihat dengan jelas.
Harapan terakhir Reyhan sudah hancur. Ternyata, yang Ethan katakan itu benar, Kenzie benar-benar sama sekali tidak mencintainya! Kalau tidak, tidak mungkin ekspresinya bahagia seperti itu.
Ekspresi Kenzie terlihat bahagia, seperti orang kelaparan yang melihat makanan.
Ternyata, Kenzie benar-benar tidak mencintainya, dari dulu tidak pernah mencintainya…..
Tangan Reyhan pun dikepalnya keras keras, matanya yang tajam semakin dalam, seperti malam yang gelap.
Ethan mengangkat bahunya: “Benar, kalau tidak percaya tanya saja pada Reyhan.”
Kenzie pun memutar kepalanya, hendak bertanya ke Reyhan. Pandangan itu malah membuat hatinya gemetar.
Di mata Reyhan, dia melihat sesuatu, yang hanya bisa dijelaskan menggunakan satu kata–putus asa.
Ia sering melihat tatapan Reyhan yang dingin, yang sombong, yang kekanak-kananakan, yang nafsu….. Tapi, dia tidak pernah melihat mata Reyhan yang putus asa.
Apa melepaskannya membuat Reyhan sesakit itu? Kenzie selama ini berpikir dirinya hanyalah mainannya Reyhan, apa jangan-jangan dia salah? Apa Reyhan benar-benar mencintainya?
__ADS_1
Hatinya seperti ditabrak oleh sesuatu.