CINTA SETELAH MENIKAH

CINTA SETELAH MENIKAH
Pertemuan Pertama


__ADS_3

Kini Yoga terbaring lemah di rumah sakit. Bibirnya terlihat pucat. Yoga dehidrasi karena kehilangan banyak cairan. Entah apa yang terjadi padanya saat ini.


"Bagaimana keadaan suami saya, Dokter?" tanya Vina.


"Suami Ibu diare, Bu. Sepertinya salah makan," jawab Dokter yang menangani Yoga.


"Astaga! tapi pagi ini beliau belum makan apapun, Dokter. Kenapa bisa diare ya?" tanya Vina.


"Tidak, Bu. Suami Ibu ada makan tadi pagi, beliau makan nasi goreng dengan tingkat pedas yang lumayan. Itu penyebabnya, kami sudah bertanya dengan beliau," jawab Dokter itu.


"Apa? Kok saya nggak tahu, Dok? Apa dia jajan sendiri?" tanya Vina geram.


"Mungkin. Maaf, Ibu, apa ada pertanyaan lagi?" tanya Dokter sengaja menghindar sebab pertanyaan Vina sudah menjulur pada ranah pribadi rumah tangga mereka dan sebagai dokter itu sangat ia hindari.


"Tidak, Dokter. Terima kasih banyak."


"Baik, Ibu, saya permisi!" jawab dokter itu, kemudian ia pun berlalu meninggalkan Vina yang terbengong memikirkan apa yang terjadi padanya hari ini.


Kesal dengan kelakuan sangat duani, Vina kembali masuk ke ruang di mana sang suami di rawat.


Terlihat Yoga memejamkan mata sembari meringis kesakitan di area perutnya.


Tadinya Vina ingin marah, tapi jadi lupa saat melihat sang suami kesakitan. Tak ingin sakit yang diderita sang suami berlanjut, Vina pun mengambil minyak kayu putih dan mengoleskan minyak itu di area perut sang suami. Berharap sakit yang diderita segera berkurang.


"Lain kali kalo pengen apa, bilang lah, Mas. Jangan jajan sembarangan gini!" ucap Vina, lembut.


Yoga membuka mata lalu tersenyum. Kemudian menutup matanya kembali. Jujur ia malu, tadi pagi terlalu berteman marah pada istrinya. cemburu buta tak jelas. Sekarang merepotkan wanita itu juga.


"Jangan pergi," punya Yoga lirih.


"Nggak, Mas. Mana mungkin aku pergi. Tak mendengar kabarmu saja aku gelisah. Bagaimana aku bisa meninggalkan mu!" jawab Vina sembari megelus kening raja sangat pemilik hatinya.


"Makasih, Sayang. Maafkan aku yang kelewat cemburu!"


"Ya, Vina mengerti, Mas. Pejamkan matamu, istirahat lah. Aku akan menjagamu. Aku pesanan bubur, nanti kalo datang Vina bangunin, hemmm!" ucap Vina, sembari mengecup kening suaminya.


"Makasih, Sayang. Maafkan aku merepotkan mu," ucap Yoga sembari meringis kesakitan.


Vina kembali mengelus perut sang suami, berharap bisa meredakan sakit itu. Dan benar saja, setelah beberapa saat ia mengelus perut sang suami, Yoga tak lagi meringis. Malah terlelap karena nyaman.


***


Di lain pihak...

__ADS_1


Sesuai janjinya pada Arsen, Agus pun menemani pria itu untuk menemui istrinya.


Awalnya Jasmine menolak menemui Arsen. Namun dengan kerendahan hatinya, Agus pun mencoba memberikan pengertian pada istri sahabatnya.


"Tidak semua manusia bersalah itu jahat, Jas! Kan ada aku di sini, ada kakakmu juga, apa yang kamu takutkan. Dia hanya ingin bercengkrama denganmu. Tidak melakukan hal lain," bujuk Agus.


Jasmine menatap Agus. Diam sejenak. Memikirkan apa yang pria itu sampaikan. Lalu mengambil keputusan, mau menemui pria yang ia benci itu.


Kini mereka sudah duduk bersama di ranjang kamar Jasmine. Kamar yang sempit namun bersih dan wangi. Namun tetap membuat Arsen sedih, karena seharusnya wanita yang ia nikahi tidak tinggal di tempat seperti ini. Tapi di tempat yang layak. Seperti rumah yang ja tinggali saat ini, mungkin.


"Kuliahnya gimana?" tanya Andrew.


"Tidak gimana-gimana, saya sudah berhenti," jawab Jasmine lirih.


"Kenapa berhenti? Katanya mau kuliah lewat online!" tanya Arsen.


"Ya, awalnya maunya begitu. Tapi nggak ada biaya. Saya nggak mau ngrepotin kakak," jawab Jasmine.


"Soal biaya kamu nggak usah takut. Nanti aku yang bayar. Jangan berhenti, sayang kalo berhenti udah semester empat kan?" tanya Arsen.


Jasmine mengangguk. Namun terlihat jelas bahwa dia gugup dan takut berada dekat dengan dirinya.


"Jangan takut, aku nggak akan nyakitin kamu! Aku kan sadar, nggak mabok. Aku janji sama kamu nggak akan mabok lagi," ucap Arsen serius.


"Kamu tahu kan klinik Basmallah di depan gang ini?" tahya Arsen.


Jasmine mengangguk pertanda ia tahu.


"Aku praktik di situ. Kamu kalo mau cari aku, aku ada di situ. Aku juga tinggal di rumah itu. Kalo kamu butuh apa-apa, ke sana saja. Oke!" ucap Arsen.


Jasmine masih diam dan hanya mengangguk tanda menyetujui.


"Boleh aku minta nomer telpon kamu?" tanya Arsen.


Jasmine menatap Arsen sekilas. Seperti ragu untuk memberikan itu. Namun Arsen adalah suaminya. Mau seburuk dan sejahat apapun dia, Arsen tetap suaminya. Dosa baginya jika berani melawan pria ini. Apa lagi menolaknya.


"Mana ponselnya?" tanya Jasmine.


Arsen mengeluarkan ponselnya. Lalu menyerahkan ponsel itu pada istrinya.


Jasmine mengambil ponsel itu dan memasukkan nomer miliknya pada daftar kontak yang ada di ponsel itu. Lalu mengembalikan barang itu pada pemiliknya.


"Makasih, nggak masalah kan kalo aku bakalan sering tanya kabar kamu?" tanya Arsen.

__ADS_1


"Ya," jawab Jasmine.


"Kamu juga boleh chat aku. Kapanpun kamu mau," ucap Arsen.


"Baik."


"Balik kuliah lagi ya, ini buat biaya kuliah kamu. Kalo kurang nanti aku tranfer lagi," ucap Arsen sembari menyerahkan sebuah card berwarna biru.


"Tidak, pernikahan kita hanya sementara. Aku tidak mau dinilai memafaatkanmu. Tunggu aku dapat kerjaan saja, nanti baru lanjut kuliah lagi," jawab Jasmine.


"Kita nggak boleh ngomong itu, Jas. Pernikahan adalah pernikahan. Mana boleh kita bilang sementara atau apa. Tuhan sudah menyatukan kita dalam satu ikatan, dosa kalo kita tidak berusaha menjaganya. Kamu mau dosa?" tanya Arsen.


"Tentu saja tidak," jawab Jasmine. Sungguh jawaban yang lugu. Namun Arsen senang.


"Makanya, nggak boleh bilang pisah-pisah. Allah nggak suka itu, Jas. Perjanjian kita dalam pernikahan itu bukan main-main. Meskipun tidak ada rasa di antara kita, tapi aku yakin selama kita mau berusaha saling menerima, pasti cinta itu akan hadir nantinya. Aku minta maaf, Jas, karena di pertemuan pertama kita, aku telah menyakiti mu!" ucap Arsen.


Jasmine diam. Namun ia tidak menampik bahwa apa yang disampaikan oleh suaminya. Jasmine tahu, jika itu benar.


"Selama ini, makanannya di makan nggak?" tanya Arsen.


"Dimakan," jawab Jasmine.


"Uangnya dipakek nggak?" tanya Arsen lagi.


"Belum, ini masih utuh," jawab Jasmine sembari membuka bantalnya dan menunjukan tumpukan amplop yang dikirim Arsen untuknya.


"Kenapa?"


"Takut."


"Jangan takut, itu hakmu, Jas!"


"Ya."


"Jangan takutkan apapun, aku tidak akan menyakitimu lagi. Aku janji, akan menjadi seseorang yang baik dan berarti untukmu," ucap Arsen.


"Tidak usah seperti itu, aku baik-baik saja. Aku sedang berusaha melupakan kejadian itu," ucap Jasmine.


"Makasih, Jas. Maukah kamu memaafkan aku?" pinta Arsen.


"Ya. Aku akan berusaha ikhlas," jawab Jasmine.


Arsen tersenyum. Lalu meraih tangan istrinya, menciumnya perlahan. Lalu menatap Jasmine hanya hanya diam seakan masih menyimpan ketakutan dan itu wajar sebab Arsen memang keterlaluan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2