
Anak kecil itu menikmati makannya dengan sangat gembira, tapi dua orang dewasa ini malah banyak pikiran, hubungan mereka yang seharusnya sudah kembali membaik, malah berubah menjadi canggung kembali.
Setelah mereka selesai makan, hari sudah gelap. Saat keluar dari ruangan itu, Kenzie baru sadar ternyata lampu jalan sudah bersinar terang, memantul dari kaca besar yang mengalirkan air, terlihat sangat menyilaukan.
Satu tangan Ken menggandeng Kenzie dan tangan yang lainnya menggandeng Reyhan, keluar dari pintu besar itu, sambil melompat dan berayun.
Disudut restoran itu, Tania menatap pemandangan yang sangat membahagiakan itu sambil mengepalkan tangan.
Sepasang matanya menahan air matanya supaya tidak sampai terjatuh, menahan amarah yang tergambar jelas diwajahnya.
“Rupanya Kenzie si wanita miskin ini! Mengapa dia kembali lagi?! Dulu ia membuat kakakku setengah mati, sampai perusahaan pun diterlantarkan, sampai keluarga Reyhan hampir berantakan, sekarang ia mulai masuk ke kehidupan keluarga Reyhan lagi, dasar tidak tahu malu!”
Nayra yang berada disamping Tania segera berdiri, bersiap untuk menghampiri dan memarahi Kenzie.
“Jangan Nayra!” Tania menarik tangannya, dengan tatapan memohon “Kamutahu sendiri tempramen kakakmu, kalau terjadi keributan, bisa saja, tanpa pikir panjang dia akan mengakhiri hubungannya denganku!”
Nayra dengan perasaan tidak rela, melihat keluar jendela sambil mengertakan gigi, melihat Kenzie yang bersiap untuk masuk kedalam mobil.
Ken tertawa memeluk leher Kenzie, sambil dengan nakalnya mengigit hidung Kenzie.
Nayra melihat itu dengan amarah, “Ternyata masih ada wanita seperti itu! Tidak disangka bisa dengan mudah menggambil hati Ken, menyebalkan! Lihat Ken begitu baik terhadapnya dibandingkan diriku tante kandungnya!”
Dia sangat membenci Kenzie, jelas-jelas hanya seorang wanita miskin, masih berpura-pura menjadi seperti orang yang berkelas, kakak sendiri juga masih lebih menyayangi Kenzie dari pada dirinya, yang jelas-jelas adalah adik kandungnya.
Kalau dibandingkan, Tania lebih masuk kriterianya, terkenal selama tiga generasi, lembut dan berkelas, juga sangat baik terhadapnya, Tania bahkan memberikan 2 buah tas Hermes sekaligus sebagai hadiah.
Kenzie mana sebanding dengannya!
Tania melihat raut Neyra yang menahan amarah, dengan tatapan nanar dan nada suara yang menyedihkan, “Bagaimana ini Nayra?! Kakakmu pasti sudah tergoda oleh wanita itu, kalau tidak, mengapa dia mengajak Ken keluar bertemu dengan wanita itu? Nayra, bagaimana denganku..?”
__ADS_1
Setelah menyelesaikan kalimat itu, akhirnya air mata yang sudah ditahan itu terjatuh juga, Tania menangis tersedu.
Nayra segera mengambil tissue untuk menghapus air matanya, hatinya semakin membenci Kenzie si wanita simpanan itu, “Kakak Tania, kamu tenang saja, wanita seperti itu tidak akan mendapatkan akhir yang baik, dia pasti akan kena batunya!”
Tania menangis tersedu-sedu, “Nayra, kakakmu pasti sangat menyukai wanita itu. Pertama kali aku bertemu dengan wanita itu, aku mencium aroma parfum yang sangat aku kenal, setelah diingat-ingat, parfum yang disimpan baik dalam kotak di dalam kamar kakakmu dan tidak seorangpun boleh menggunakannya itu sama persis dengan aroma yang ada di tubuh gadis itu…”
Nayra menatap Tania dengan perasaan yang sama sedihnya, merangkulnya dan dengan nada yang lembut menenangkannya, “Kakak Tania, kamu juga sudah terlalu baik terhadap wanita miskin itu, seharusnya kamu memberikan pelajaran kepadanya agar dia sadar, merebut kekasih orang itu ada karmanya!”
Tania menghapus air matanya dengan tissue, dengan sedih berkata, “Nayra, kamu tau perasaanku terhadap kakakmu. Aku takut kalau sampai kakakmu tahu perbuatanku, dia pasti akan meninggalkanku…”
Tania tidak berbohong, dia sangat mencintai Reyhan. Penampilan Reyhan, tubuhnya, kekayaannya, keluarganya, kemampuannya saat diranjang, tidak ada satupun pria yang bisa memberikan semua itu untuknya.
Dia sengaja mengatakan kalimat itu, berharap Nayra mengerti maksudnya.
Sesuai harapan, setelah Nayra yang mendengar kata-katanya itu segera menggenggam tangannya dan menggertakan gigi berkata, “Kakak Tania, percayalah kepadaku! Karena Kenzie berani datang dan menggoda kakakku, aku akan membuatnya menderita”
Kenzie menatap Reyhan dengan tatapan menyalahkan, “Aku menyuruhmu untuk langsung pulang, kamu tidak mau dengar! Aku bisa memesan taxi sendiri! Tidak perlu kamu antar!”
Sambil berbicara, ia turun dari mobil, menengok ke arah Ken dan dengan suara yang lembut berkata kepada Reyhan, “Sesampainya dirumah, minta bibi Dewi untuk membersihkan kaki, tangan dan wajah Ken, ia bermain di luar seharian, agar tidurnya nyaman, harus bersih-bersih dulu. Aku pergi dulu, cepat antar Ken pulang.”
Reyhan tetap duduk tanpa memalingkan wajah dan berkata apapun.
Pria yang tidak bisa ditebak… Dalam hati Kenzie menghela nafas dan pergi tanpa menghiraukan Reyhan.
Baru berjalan beberapa langkah, tangan Reyahan menarik Kenzie kembali kedalam pelukannya.
Reyhan dengan tergesa mencium bibir Kenzie.
Kenzie dibuat bingung olehnya, apakah Reyhan gila, bukankah tadi dia marah pada Kenzie? Sekarang kenapa menghentikannya dan tidak membiarkannya pergi?
__ADS_1
Baru ingin memberontak, Reyhan tiba-tiba melepaskan bibirnya, dengan suara yang sedikit serak, “Pulanglah. Aku pergi dulu.” Setelah mengatakan itu, dia berbalik badan dan tanpa ragu pergi meninggalkan Kenzie.
Dengan perawakannya yang tinggi dan langkah yang besar, dengan cepat dia sudah sampai ke pintu mobil.
Kenzie melihatnya menutup pintu mobil, dan menatap mobil yang perlahan hilang dari pandangannya. Dari awal hingga akhir, Reyhan tidak menengok sama sekali.
Kenzie bingung dan tidak mengerti.
Ia terdiam sebentar di bawah pohon, lalu Kenzie memutuskan untuk menelpon Nindi, “Nindi, apakah kamu ada waktu?”
Nindi yang baru saja mandi, dengan suara yang tak acuh, “Kalau untukmu kapanpun aku selalu ada waktu. Cepat katakan, ada kabar gembira apa?”
“Nindi, aku ingin pindah rumah. Bisakah kamu memberikan kontak pemilik rumah, aku sendiri yang akan berbicara kepadanya.” Kenzie merasa sedikit bersalah, Nindi pasti khawatir, pada saat itu Nindi-lah membantunya mencari rumah, biarpun lokasinya sedikit jauh, tapi harga yang murah dengan dekorasi yang sepadan.
Nindi terdiam sejenak, “Kenapa? Apakah rumahnya tidak nyaman?”
Kenzie dengan sedikit ragu, menceritakan kejadian dengan Reyhan dan Ken hari ini.
Setelah mendengarnya Nindi terdiam sejenak, “Kenzie, perasaan Reyhan pasti tulus terhadapmu. Sekarang apa yang kamu pikirkan?”
Kenzie tiba-tiba merasa lelah, “Aku tidak ingin berhubungan dengannya lagi. Sudah banyak hal yang terjadi antara aku dan Reyhan, semuanya tidak akan bisa kembali seperti semula lagi.”
Setelah terdiam sejenak, dia menambahkan, “Belum lagi, sekarang sudah ada Tania. Dia adalah kekasih Reyhan yang sesungguhnya. Untuk apa aku ada diantara mereka?”
Nindi menghela nafas, “Reyhan dan Tania, sepertinya hubungan mereka sebatas status saja. Dia bilang satu tahun lagi, ia akan memberikanmu status, tinggal menunggu satu tahun lagi setelah dia menyelesaikan urusannya dengan Tania, dia akan meninggalkan wanita itu.”
Kenzie dengan acuh berkata, “Masa bodo! Laki-laki macam apa yang melakukan itu?!”
Nindi menggelengkan kepala diseberang sana, “Kenzie, kamu jangan selalu menilai laki-laki dengan sudut pandang seperti itu. Menurut kebanyakan wanita, cinta adalah segalanya, bukan hanya sekedar masalah sepele, tapi bagi laki-laki karir adalah segalanya. Karena itulah Reyhan seperti itu, aku bisa mengerti. Laki-laki manapun pasti akan seperti itu. Dunia ini memang sangat kejam.”
__ADS_1