
Hello! Im an artic!
Tania menutup matanya, air matanya mulai menetes membasahi kedua pipinya dan mengalir ke gaunnya.
Disaat ia membuka kembali matanya, pupil mata nya memerah, “Reyhan, ini adalah dendam pribadi antara kamu dan aku, mengapa kamu membalas dendam ini pada ayah ku?! Mengapa kamu begitu kejam?!”
Hello! Im an artic!
Reyhan dengan senyum sinisnya berjalan mendekati Tania, “Jika aku tidak menebang habis pohon besar ayahmu, bagaimana bisa Group Realtech lepas dari ancamanmu? Tidak menebang habis pohon besar ayahmu, bagaimana mungkin bisa menghilangkan sifat aroganmu? Kalian hanya bisa mengandalkan kedudukan ayahmu itu bukan?! Hari ini, aku sudah menghancurkan kedudukannya, kita lihat saja apakah keluargamju masih bisa berbuat semena-mena!”
Layar lebar itu masih menayangkan sepasang pria dan wanita yang sedang bermesraan, Tania menggunakan kedua tangannya untuk menutup erat kedua telinganya, dengan rapuh ia berteriak, “Reyhan! Aku tidak akan melepaskanmu! Kamu benar-benar berengsek! Walaupun keluarga kami hancur, aku tidak akan membiarkan orang bejat sepertimu hidup dengan tenang!”
Reyhan mengangkat bahu, “Terserah apa katamu!”
__ADS_1
“Reyhan, dimana saklarnya? Membiarkan Nindi melihat hal seperti ini, sangat mempengaruhi edukasi pra-melahirkannya!” Ethan bergegas menghampiri mereka, wajahnya penuh ketidaksenangan.
Hello! Im an artic!
Hati Reyhan tergerak, ia mengalihkan pandangan ke sisi lain aula, terlihat Kenzie dan Nindi berdiri berdampingan, sedang melihat layar lebar.
Dalam sekejap, ia langsung kesal, dengan langkah besar, ia berjalan menuju LED, menemukan saklar yang tersembunyi dan mematikan tayangan di LED.
Pandangan mata Tania mengikuti pandangan mata Reyhan, dan menatap Kenzie yang pipinya memerah.
Di dinding aula terpajang sebuah vas bunga besar, tertancap rangkaian bunga mawar sampanye di vas itu.
Tania mencabut rangkaian bunga mawar itu dan melemparnya ke lantai, mengambil vas bunga tersebut dan berjalan ke arah Kenzie.
__ADS_1
Nindi melihat dari kejauhan, berkata pada Kenzie, “Kenzie, Tania berjalan kemari sambil memegang vas bunga besar, apa yang ingin ia lakukan?”
Sampai di saat ia melihat tayangan di layar lebar, Kenzie baru memahami misteri di balik pertunangan ini, semua misteri terpecahkan sekaligus. Melihat Tania berjalan perlahan selangkah demi selangkah menuju ke arahnya, Kenzie menyadari bahwa ia ingin memukulnya untuk membalas dendam.
Kenzie berdiri di depan Nindi, melindunginya , “Nindi, cepat pergi, kamu sedang mengandung, jangan sampai dia melukaimu.”
Nindi menarik tangan dan Kenzie bergegas kabur, “Kita pergi sama-sama, jangan menghiraukan orang gila itu.”
Tania yang melihat mereka kabur, tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, dengan suara tinggi dan tajam, ia berkata “Kenzie, apa kamu takut? Bukankah kamu sering sekali berpura-pura kuat, keras kepala dan memikat perhatian para lelaki? Mengapa hari ini nyalimu kecil seperti tikus?”
Kenzie memandangi wajahnya yang gila dan penuh air mata, sambil memegangi Nindi, dia menoleh dan menasihati Tania, “Carilah sasaran yang tepat, kalau kamu ingin membalas dendam, seharusnya kamu pergi mencari Reyhan! Kenapa malah menghampiriku?! Bawa vas bunga itu, dan temui Reyhan! Jangan menakuti bayi kecil di perut Nindi! ”
Setelah selesai berbicara, kepalanya membentur dada yang keras dan lebar. Kenzie menyentuh hidungnya dan memandang pria jangkung yang tampan itu, pria itu terlihat seperti malaikat penyelamat, “Reyhan, kamu datang tepat waktu. Nasihatilah Tania. Ibunya masih di rumah sakit, kenapa malah berdebat denganku disini?!”
__ADS_1
Reyhan tersenyum dan mengangkat alisnya, “Bawa vas bunga itu, dan temui Reyhan … Kenzie, apakah kamu punya hati?”