
Dahinya dibenturkan hingga berlumuran darah, tangan pria itu juga sudah menjalar ke dada Kenzie!
Kenzie dengan sekuat tenaga berteriak, teriakannya sangat keras, seperti guntur yang memecah langit. Kenzie benar-benar tidak berdaya.
Kenzie tidak pernah disangka, pria yang pernah mengatakan bahwa dirinya “mencintai” Kenzie, ternyata menyerahkannya ke tangan iblis!
“Reyhan, kamu pantas mati! Kamu bukan manusia ! Aku membencimu! Aku membencimu!” teriak Kenzie yang sedang disudutkan ke ujung tembok oleh pria itu, darah bercampur air mata mengalir dari kepalanya, sehingga penglihatannya menjadi tidak jelas.
Suaranya sudah terlihat putus asa, terdengar sangat kesakitan!
Reyhan masih berdiri di depan pintu, sambil menggigit bibirnya. Tangannya memegang gagang pintu berwarna emas yang ada di hadapannya, tubuhnya terlihat sedikit gemetar.
Tiba-tiba, Dia mengangkat kepalan tangannya memukul gagang pintu yang berwarna emas itu hingga jari-jarinya berdarah!
Perseteruan di dalam ruangan pun masih terus berlanjut. Kenzie sudah benar-benar kehilangan tenaganya. Dengan sangat kejam pria itu menjatuhkan Kenzie ke lantai, baju Kenzie pun sudah robek-robek, kulitnya yang terlihat putih pun terlihat begitu jelas…
Melihat Kenzie sudah tidak melawan lagi, pria itu mengira Kenzie sudah pasrah.
Dengan sombongnya dia tertawa, “Masih berani melawan aku?” Setelah berbicara dia berusaha mencium pipi Kenzie dengan paksa, mencoba mencium bibir Kenzie yang terlihat pucat itu.
Kenzie tetap berusaha menghindarinya, bibir pria itu pun mencium leher Kenzie, Kenzie membuka mulut dan langsung menggigit telinga pria itu dengan sekuat tenaga.
Sepertiga dari telinga itu digigitnya, darah berlumuran dimana-mana!
Pria itu kesakitan dan langsung berteriak, dan langsung menampar pipi Kenzie dengan kasar!
“Dasar wanita brengsek! Murahan!” Pria itu pun menarik rambut Kenzie, dan terus menampar pipi Kenzie. Telinga Kenzie pun sampai berdengung, dia juga mendengar teriakan dan amarah pria itu. Kemudian, setelah itu Ia tidak dapat mendengar apa-apa lagi.
“Prak..prak…prak” Suara itu terdengar jelas hingga ke telinga Reyhan. Tenggorokkanya terasa tercekat! Ia mencoba mendengarkan dengan jelas, tapi ia tidak terdengar suara Kenzie sama sekali.
“Planggg!” Pintu kamar pun ditendang oleh Reyhan!
“Presdir Reyhan…” Ketika pria itu ingin bicara, Ia langsung ditendang oleh Reyhan! Dengan pukulan yang kuat Reyhan memukul wajah pria itu, dan membenturkannya ke lantai hingga pria itu tidak bisa bangun.
“Lee, masuk kesini!” Reyhan langsung berteriak keras hingga seluruh dinding ruangan bergema.
Ketika Lee masuk dan melihat sekeliling kamar penuh dengan darah, Ia pun terkejut dan gemetar lalu berkata, “Tuan, anda mencariku?”
“Bunuh dia, dan berikan mayatnya untuk anjing!” Reyhan menunjuk ke arah pria itu, dan suaranya terdengar seperti iblis yang ganas.
Reyhan menengok ke arah Kenzie, jantungnya seakan berhenti dan napasnya menjadi sesak!
Dahi Kenzie, tubuhnya, semuanya penuh dengan darah, tubuhnya polos tanpa sehelai benang pun, ia seperti boneka yang tidak bernafas, Kenzie tidak peduli lagi ia akan tetap hidup atau mati.
Pipinya bengkak, sorotan matanya menatap ke langit-langit, matanya kosong, seakan tidak memiliki harapan.
__ADS_1
Reyhan tiba-tiba merasa sakit, matanya terasa pedas, dan air matanya menetes hingga ke pipi Kenzie. Ia terlihat begitu sedih.
Sebuah pelukan dingin memeluk Kenzie, Reyhan tidak bisa menahan menangis, “Kenzie, maafkan aku, maafkan aku! Aku salah, aku bukan manusia! Kamu pukul aku saja! Marahlah padaku! Kenzie, maafkan aku… Aku benar-benar cemburu! Aku cemburu pada Steven! Aku cemburu padanya! Dia begitu mencintaimu sejak dulu! Aku cemburu hingga mau mati! Aku benar-benar tidak bisa menerima hubunganmu dengan dia! Kenzie… Ini semua salahku, pukul aku!”
Reyhan mengangkat kepalan tangannya yang masih berlumpuran darah dan memukul kepalanya sendiri dengan sekuat tenaga!
Bibi Dewi yang mendengar itu, terdiam di depan pintu, ia menatap mereka berdua yang di dalam ruangan, namun tidak bisa berkata apapun.
Selama beberapa tahun ini, ini kedua kalinya Ia melihat tuannya menangis. Yang pertama kalinya saat dia berumur 7 tahun, saat ayahnya meninggal.
“Kenzie, bicara, ayo bicara, jangan membuatku panik!” Suara Reyhan yang terisak-isak terdengar begitu menyedihkan, dan orang lain yang mendengar pun menetesekan air mata.
Namun, Kenzie yang berada di dalam dekapan Reyhan itu tidak merespon apa-apa.
Dia mencoba membuka mata dan melihat langit-langit.
Kenzie terlihat seperti mayat.
“Tuan, ayo mandikan Nona Kenzie dulu, dan basuh lukanya!” Bibi Dewi pun meneteskan air mata, tidak tahan melihat itu dan segera keluar.
Presdir Reyhan itu adalah orang yang dijaga oleh bibi Dewi dari kecil, sudah seperti anaknya sendiri, melihat Reyhan dan Kenzie seperti itu, hatinya pun juga tidak nyaman.
Setelah mimpi buruk yang berlarut-larut, Kenzie akhirnya sadar dari pingsannya, dan merasa seperti 10 tahun lebih tua.
Di samping kasur ada sebuah lampu yang menyala. Reyhan duduk di sebelah jendela dan tertidur di sana.
Dahi Kenzie pun terlihat dibalut kain tebal, membuat tidurnya tidak nyaman. Dia membalikkan badan, ingin melihat wajahnya di jendela, dia ingin melihat wajah Reyhan.
Begitu Kenzie membalikkan badan, Reyhan pun terbangun.
“Kenzie, kamu sudah sadar? Kamu akhirnya sadar!” Reyhan sangat senang dan langsung menarik tangan Kenzie, “Kamu sudah tidur seharian penuh.”
Kenzie langsung melepaskan tangannya dari Reyhan, dan merasa hal ini begitu aneh!
Dia melihat bibir Reyhan bergerak, mengucapkan kata demi kata, seperti berbicara kepadanya. Tapi…Dia tidak bisa mendengar apapun!
Ketakutan yang besar menghantui Kenzie. Ia mencoba menyembunyikan tubuhnya, dan dengan sekuat tenaga bersembunyi ke arah sudut kasur, dan melihat Reyhan dengan pandangan yang penuh ketakutan.
Reyhan mengira Kenzie masih takut padanya, Ia langsung menggenggam erat tangan Kenzie dan menempelkannya ke pipinya, dengan berlinang air mata dan penuh penyesalan, ia memohon, “Kenzie, maafkan aku! Aku bukan manusia,pukul saja aku!” Ia mengangkat tangan Kenzie, dan memukul dirinya sendiri!
Kenzie malah berteriak dan menghempaskan tangannya! Dia baru sadar, ternyata… Dia tuli! Dia sudah tidak bisa mendengar apapun lagi!
Reyhan masih tetap mengira Kenzie masih takut padanya, Reyhan terus menarik Kenzie dalam dekapannya, dan memeluknya, “Kenzie, ini semua salahku… Aku tidak akan mengulanginya lagi… Kamu jangan takut.”
Kenzie tahu bahwa Reyhan sedang berbicara dengannya, nafas Reyhan pun terasa sampai ke lehernya. Reyhan memeluknya dengan begitu erat, dia dapat merasakan tenggorokkannya bergemetar, tetapi dia tidak dapat mendengar saura apapun.
__ADS_1
Begini… Juga bagus. Asalkan dia menutup matanya, dia dapat menghilang dari dunia ini. Asalkan dia menutup matanya, Reyhan pun juga akan menghilang.Kenzie menyembunyikan dirinya dalam selimut. Menutup mata, tidak berbicara apapun, juga tidak bergerak. Seperti sebuah kayu yang terbakar.
…
Asbak di ruang tamu pun penuh dengan puntungan rokok.
Mata Reyhan terlihat sangat merah, Ia duduk sambil merokok di sofa. Tidak lama, dua buah asbak pun penuh.
Bibi Dewi datang membawa baki, baki itu penuh dengan makanan, yang tidak tersentuh sedikitpun.
Melihat raut wajah Reyhan yang begitu sedih, Bibi Dewi pun berkata, “Tuan, nona Kenzie masih tidak mau makan.”
Reyhan melotot dan berkata, “Kalau dia tidak mau makan, cari cara lain supaya dia makan!”
“Tuan, aku tidak punya cara lain lagi, aku terus menasihati nona Kenzie, namun, tidak ada gunanya.. Nona Kenzie sudah dua hari tidak makan apa-apa…” Perkataan Bibi Dewi membuat Reyhan semakin naik pitam.
Tadi pagi, saat nona Kenzie menolak untuk makan, Reyhan memecahkan semua barang antik yang ada di ruang tamu…
“Kalau malam Kenzie masih tidak makan, semua orang yang ada di dapur akan aku pecat !” Reyhan berkata sambil mematikan rokoknya, dan langsung pergi ke kamar untuk melihat Kenzie.
“Tuan!” Bibi Dewi melihat Reyhan masuk ke dalam kamar, dan ia langsung menghentikan langkah Reyhan. Sekarang orang yang tidak ingin Kenzie lihat, seharusnya adalah tuan, bukan?
“Apa?” Reyhan langsung menoleh ke arah bibi Dewi.
Bibi Dewi tidak mungkin mengatakan, “Kenzie membenci mu, jangan masuk saja, jika kamu masuk, itu hanya akan menyulutkan amarahnya” , bukan? Melihat Reyhan membalikkan badan, dia hanya bisa berkata, “Tuan, telinga nona Kenzie… sepertinya…
“Telinga Kenzie kenapa?” Reyhan langsung melototkan mata, ketakutan dan kekhawatiran langsung menghujam benaknya.
Bibi Dewi menghela nafas, dan dengan pelan-pelan berkata, “Telinga nona Kenzie, sepertinya sudah tidak bisa mendengar lagi. Tadi ketika aku masuk kamar dan mendekatinya, dia begitu terkejut. Padahal, sebelumnya aku menutup pintu dengan kencang, tapi ia sepertinya tidak menyadari bahwa aku masuk.”
“Bicara apa kamu ini? Coba ulangi!” Reyhan langsung mendekati bibi Dewi, dan langsung menarik kerah baju bibi Dewi.
Bibi Dewi sudah menjaga Reyhan sejak Reyhan masih kecil, , namun Reyhan tidak memiliki sopan santun sedikitpun kepada bibi Dewi.
Hari ini tidak disangka dia bisa melakukan hal seperti itu kepada Bibi Dewi, sungguh tidak bermoral!
Seluruh dokter di kota C pun dipanggil Reyhan untuk datang ke rumah.
Semua ahli sudah melakukan pemeriksaan, dan semuanya menggeleng-gelengkan kepala memberitahu Reyhan, bahwa Kenzie sudah tuli.
Ketika Reyhan menanyakan apakah bisa disembuhkan, semua ahli hanya bisa menundukkan kepala dan tidak berkata apa-apa.
Hanya ada seorang doker muda berkata, “Telinganya dia yang tuli, karna benturan yang begitu keras yang menyebabkan sarafnya terluka, dan yang lebih parah lagi, membuat psikologisnya terganggu. Dia ingin menggunakan ketuliannya sebagai alasan untuk menghindari masalah. ”
Reyhan mendengar penjelasan dokter itu dan dengan tidak sabar langsung memutus perkataannya, “Sebenarnya apa bisa disembuhkan?”
__ADS_1
Dokter muda itu terlihat ragu, “Saraf yang teluka dapat disembuhkan, tapi psikis itu belum tentu. Harus diselidiki dulu penyebabnya apa yang membuat dia menjadi seperti ini, baru bisa dilakukan pemulihan.”