CINTA SETELAH MENIKAH

CINTA SETELAH MENIKAH
Bab 110 Melihatmu Apakah Ada Perkembangan


__ADS_3

Kenzie mengerutkan keningnya: “Reyhan, kamu untuk apa sih megang-megang, aku jadi tidak konsentrasi nih baca bukunya!”


Reyhan tersenyum menunjukkan giginya: “Kenzie, karena hal ini konsentrasimu terganggu?”


Bibir itu begitu dekat dengan telinga Kenzie, dan suara nafas itu begitu dekat dengan lehernya: “ataukah aku terlalu menarik, ketika kau melihatku kau langsung tak bisa menahannya?”


“Pei! Siapa yang tak bisa menahannya! Orang itu adalah kau! Jangan sembarang pegang bisa ga! Aku lagi membaca ******* ceritanya!”


Mata Reyhan yang dingin melihat Kenzie: “buku ini apanya yang menarik? Sampai membuatmu menjadi seperti ini? Coba kamu bacain untukku!”


Kenzie menahan diri untuk mencakar Reyhan, ia sedang giat mengumpulkan konsentrasinya untuk membaca buku ini: “Pintu itu dibuka dan rumah itu sangat berdebu. Ruangan ini didesain seperti terlihat baru, seolah-olah makam yang diselimuti kesuraman……”


Suara lembut Kenzie sungguh menyentuh orang, suara yang polos dan begitu memikat, didengarnya pun menjadi sangat nyaman.


Reyhan pun mulai meraba pinggang, wajahnya menempel di kepala Kenzie, perlahan mencium aroma rambutnya dan berkata: “lanjutkan ceritanya……”


Kenzie menjulurkan tangannya untuk menahan tangan Reyhan yang tak bisa diam, dan melanjutkan bercerita: “Tirai mawar merah muda, kap lampu mawar, meja rias, deretan produk kristal halus dan pria yang membuat peralatan cuci berlapiskan perak, tapi perak sudah tumpul …… hei …… ”


Tangan Reyhan memang nakal sampai membuat Kenzie terkejut hampir melompat ke bawah.


“Kenapa tidak dilanjutkan?”, Reyhan bertanya sambil tersenyum jahat.


“Kamu……”, kata Kenzie.


Dia masih tidak punya malu bertanya kenapa Kenzie tidak melanjutkan ceritanya? Harusnya bertanya apakah dia baik baik saja atau tidak!


Kenzie dengan tatapan benci melihatnya: “Tanganmu bisa tidak jangan sembarang megang-megang!”


“Sembarang megang?”, Reyhan mendekatkan wajahnya kepada lehernya dan mulai mencium lehernya.


“Berhenti!”, kata Kenzie sambil menutup buku, dengan tenaga menahan tangannya, alisnya mengerut dan dengan kesal berkata: “Reyhan, tulangmu sudah patah, beberapa hari ke depan kau akan mati!”


Selain hal ini, dalam pikirannya tidak ada hal lain yang dipikirkannya.


Setelah tangannya didorong Kenzie, Reyhan dengan tidak setuju menatapnya: “Kenzie, aku menyentuhmu karena aku menganggapmu! Banyak wanita lain di luar sana yang menyuruhku menyentuh mereka tapi aku tidak sudih!”


……


Kenzie dari marah menjadi tertawa, apakah ini Reyhan! Masih mengira semua wanita di dunia ini ingin berlomba-lomba untuk seranjang dengannya!


“Kalau banyak wanita yang ingin diraba-raba olehmu, kamu pergilah raba mereka! Mengapa harus terus menggangguku?”

__ADS_1


Wanita ini tak tahu diuntung! Reyhan mulai mengerut menandakan bahaya akan datang. Tiba-tiba ia menarik kencang lengan Kenzie. Kenzie berusaha melepaskannya. “Ish……”, suara kesakitan, luka Reyhan seakan tertarik, kesakitan itu membuatnya menjadi lemas.


Melihat Reyhan yang kesakitan, hati Kenzie mulai tak tahan.


Ia mulai bertanya kepadanya: “Apakah kamu tidak tahan lagi? Tunggu lukamu sembuh……”


Baru bicara setengah, ia merasa itu tidak seharusnya diomongkan, tiba-tiba mulai menggigit bibirnya sendiri.


Reyhan segera mencari celah di perkataannya: “kalau sudah sembuh bagaimana? Kalau sudah sembuh berarti tiap hari bisa memuaskanku?”


Kenzie mulai kesal, menatapnya tajam: “Kamu tidak tau malu ya? Sepanjang hari yang kau pikirkan hanya hal ini? Apakah kamu tuh tidak bisa mengontrol dirimu sendiri?”


Mengontrol? Perkataan bodoh! Jika ia bisa mengontrol dirinya, apakah ia menjadi tidak peduli dengan kondisinya?


Begitu mudah baikan dengan Kenzie, sudah lewat beberapa hari, setiap hari bisa melihatnya, memeluknya, menciumnya, menyentuhnya, tetapi tidak dapat merasakan ***********, benar-benar sulit!


Reyhan frustasi dan terbaring di kasurnya, wajahnya kurang enak dilihat. Dia benar-benar hancur. Sudah tidak ada waktu untuk melihat Kenzie, sekarang tiap hari bertemu dengannya tetapi tidak dapat menyentuhnya, benar-benar tersiksa!


Melihat wajah Reyhan yang suram, Kenzie mulai khawatir, ia buru-buru bertanya: “ada apa? Apakah kamu mulai kesakitan? Aku pergi panggil dokter ya?”


Memanggil dokter? Sakit yang ia hadapi tidak dapat disembuhkan oleh dokter!


Reyhan menggelengkan kepalanya dan berkata: “Kenzie, cium aku!”


Kenzie lagi enak-enak membaca buku, kenapa dia ingin dicium?


“Kenzie!”, alis Reyhan kembali mengerut, menatap tajam Kenzie, dan memanggilnya.


Kenzie takut ia kembali marah dan bisa berpengaruh ke lukanya, ia mau tidak mau pergi menciumnya sesaat.


“Ini tidak terhitung! Aku mau ciuman Perancis.”, Reyhan memintanya.


Pria jelek sungguh tidak pernah puas.


Kenzie mengerutkan keningnya, serius berbicara kepada Reyhan: “Reyhan, kamu benar-benar sungguh haus?”


Mengapa saat dengannya, di pikirannya hanya ada pikiran seperti ini?


Apakah dia benar-benar mencintai Kenzie? Ataukah hanya saja mencintai tubuhnya? Karena banyaknya partner tidurnya, tubuh Kenzie yang paling cocok untuknya?


Kenzie benar-benar dibuat bingung oleh Reyhan.

__ADS_1


“Jadi kamu tidak haus?”, Reyhan bertanya dengan begitu kalem, seakan di dunia ini tidak ada manusia yang haus.


“Tentu saja tidak!”, Kenzie berkata dengan tegas, mencoba memberi jarak antara dirinya dengan Reyhan.


“Reyhan, aku siapin makanan sebentar untukmu……”, Kenzie ingin terbebas dari ranjang Reyhan, tempat ini sangat ribet, kelamaan disini pasti akan ada masalah.


“Aku tidak ingin makan apa-apa, aku hanya ingin memakanmu!”, Reyhan mulai membuka mulutnya dan mengeluarkan nafasnya ke arah leher Kenzie.


Reyhan menatap muka Kenzie sambil mengatakannya satu per satu.


Kalau terus begini sudah pasti tidak bisa bersembunyi……


Dalam otak Kenzie seperti ada bunyi lonceng besar. Ia buru-buru menahan tangan Reyhan yang mulai nakal meraba-raba, Reyhan pun segera menepis tangan Kenzie.


Kenzie berkata: “Sudahlah jangan mengganggu, kamu istirahat yang baik, kalau tidak ntar lukamu jadi sakit lagi.”


Kenzie memperhatikan Reyhan ? Mulut Reyhan mulai mengarah untuk mencium Kenzie, menempel ke dekat telinganya berkata: “Kalau takut terkena lukaku, kenapa kamu tidak inisiatif?”


Oke juga. Dia masih belum mencoba rasanya kalau Kenzie yang inisiatif. Reyhan tidak merasa risih kalau terus dilayani olehnya.


Reyhan berbaring di kasurnya, tangannya masih menggenggam tangan Kenzie dan siap untuk menikmati makan besar: “Kenzie, cium aku. Aku mau lihat apakah kamu ada kemajuan atau tidak.”


……


“Kepalamu yang maju!”, dalam hati Kenzie ngedumel.


Tidak berani berkata tidak karena takut ia semakin melecehkanku.


Ia membalikkan tubuhnya dan mulai menciumnya.


Reyhan dengan tatapan yang tidak puas menatapnya, mengangkat tangannya ke leher Kenzie, dan mulai menciumnya dengan lebih dalam.


Ciuman itu semakin lama semakin bergairah, tangan Reyhan semakin lama semakin nakal. Kenzie mulai meresponi ciumannya, tetapi otaknya seakan berputar dengan cepat. Tiba-tiba matanya memandang ke arah bel yang ada di sebelah kasur.


Perlahan-lahan menekan tombol itu.


Bip bip bip bip bip – suara bel itu berbunyi.


“Kenzie kau cari mati!”, Reyhan menatapnya, Kenzie sudah menekan tombol itu, mata Reyhan mulai bernuansa dingin menatap Kenzie.


Ada yang mengetok pintu, perawat itu buru-buru masuk ruangan: “Tuan Reyhan anda butuh apa?”

__ADS_1


Kenzie tertawa menjawabnya: “Suster, aku menyerahkan Reyhan kepadamu ya.” Setelah itu ia berlari keluar kamar. Sebelum itu ia menatap Reyhan dengan penuh kepuasan: “Reyhan, kau diam-diam ya!”


Reyhan mulai badmood.


__ADS_2