
“Kenzie, didalam lemari ada buah favoritmu, kamu bisa memakannya, setelahaku selesai memberekan ini semua, aku akan membawamu berkeliling ke lantai atas.” setelah selesai makan, Steven pun mulai membereskan dapur. Ia melakukannya sendirian, tanpa bantuan siapapun. Kenzie sebenarnya ingin membantu Steven mencuci piring, tetapi dilarang oleh nya.
“Kenzie, biarkan aku yang melakukannya. Aku tidak rela melihatmu mencuci piring.” mata amber Steven menatap Kenzie, membawakan kehangatan dan cinta yang tidak terbatas, membuat Kenzie lupa akan dirinya sendiri.
Tatapan Reyhan sudah seperti sekumpulan api, atau seperti es yang begitu dingin. Tidak sama dengan Steven, tatapan Steven selalu terasa hangat, seperti matahari pada musim dingin, hangat tetapi tidak terlalu membara.
Berpikir hingga kesini, Kenzie tiba-tiba tertegun, bagaimana bisa seperti ini, dia lagi-lagi membandingkan Steven dengan lelaki babi itu. Reyhan hanyalah sesorang yang memiliki kekuasaan, seseorang yang suka mempermainkan wanita, bagaimana bisa dia dibandingkan dengan lelaki yang hangat seperti Kak Steven?
Kenzie mengerutkan alisnya, ingin menghapus wajah Reyhan dari otaknya. Bisa saja Reyhan mencarinya, bisa saja dia membuat keributan, tetapi itu merupakan permasalahan di hari esok, biarkanlah besok baru dia pikirkan.
“Kenzie, kamu sedang memikirkan apa?” Steven telah selesai mencuci piringnya, berjalan mendekati Kenzie. Berbicara dengan tersenyum.
“Aku tidak memikirkan apapun. Kamu bukankah ingin membawaku berkeliling ke lantai atas? Mari kita pergi! “Di mata Kenzie terdapat beberapa keraguan.
Steven menggulurkan tangannya kepada Kenzie, jarinya nya sangat putih, panjang dan penuh dengan tenaga, seperti sepasang tangan tentara, tangan yang bisa dipercaya, sesaat Kenzie merasa ragu, tetapi dia masih saja menerima uluran tangan tersebut, meletakkan tangana kedalam genggaman tangan Steven.
Steven tersenyum bahagia, tatapannya penuh dengan kebahagiaan dan cinta. Dengan ringan, dia menggandeng Kenzie, membawanya menuju lantai atas.
“Kenzie, ini merupakan ruangan yang aku persiapkan untukmu.” Steven mendorong pintu didepannya sambil berkata kepada Kenzie.
Ruangan itu berwarna merah muda, warna yang selalu diidamkan sejak ia masih kecil! Kenzie diam diam berkata didalam hati, “ini merupakan warna yang baru akan disukai oleh seorang gadis kecil, apakah kakak kelas Steven masih menganggap Kenzie sebagai anak anak?”
Merasa sedikit aneh dan lucu, Kenzie memasuki ruangan yang penuh dengan nuansa gadis kecil tersebut.
Diatas dinding terdapat sebuah vas bunga yang terbuat dari crystal, dinding dicat dan dipoles mengkilat, dan semua barang yang ada didalam sana juga berwarna merah muda, terlihat seperti dunia impian. Meskipun secara keseluruhan, terlihat sangat kekanakan, tetapi masih bisa membuat orang yang melihatnya merasa terhipnotis.
Kenzie tidak memperdulikan, melihat kearah luar jendela, dia sudah hampir sehari tinggal dirumah ini, dia juga tidak mengetahui situasi diluar sana.
“Kenzie, kamu tidak mau melihat vas bunga krystal ini kah?” Steven menunjuk crystal tersebut.
Pertama Kenzie tidak melihat ada yang spesial dengan vas krystal, tetapi pada saat melihatnya lebih teliti, Kenzie tiba tiba terkejut, ternyata semua didalam krystal itu adalah lukisan dirinya!
Disetiap sudut terdapat foto Kenzie, mulai dari saat dia masih kecil, hingga dia beranjak dewasa! Kenzie terdiam sesaat!
“Kakak Steven, …ini…apakah ini semua aku?” meskipun mengetahui jelas itu semua adalah foto dirinya, tetapi dia masih saja tidak bisa mempercayainya.
Wajah Steven menampilkan senyuman yang sangat indah: “Benar. Kenzie, semua lukisan di atas vas krystal ini adalah dirimu! Tiga tahun yang lalu, ketika kamu menghilang dan aku tidak bisa menemukanmu dimanapun. Ketika aku merindukanmu, aku akan melukis dirimu. Aku takut, jika aku tidak melukisnya, aku akan perlahan melupakan dirimu….”
Kenzie termenung ditempat, air matanya tiba tiba mengancam turun lagi, terlihat jelas butir butir air mata yang sedang berputar didalam mata indahnya.
“Kak Steven..” dia hanya bisa mengeluarkan satu kalimat ini, sama sekali tidak ada kalimat lain lagi yang keluar. Apakah perasaannya benar-benar sedalam itu?
“Pada saat itu, melihat waktu yang terus berputar, aku selalu takut aku akan melupakan dirimu. Tetapi sekarang aku menyadarinya, dulu aku hanya terlalu berlebihan, aku berpikir yang tidak-tidak. Aku sama sekali tidak bisa melupakan rupa mu. ”
“Kak Steven!” air mata Kenzie sudah tidak bisa ditahannya lagi, dan jatuh dengan bebas dari pelupuk matanya.
Steven berjalan ke sebelah Kenzie, dengan ringan memeluk bahunya…
Hari perlahan berubah menjadi gelap. Hari yang bahagia, selalu terasa terlalu singkat. Sedangkan yang tidak bahagia, selalu terasa begitu panjang.
__ADS_1
“Aku…aku harus pergi…” Membersihkan air matanya, Kenzie dengan berat hati berkata kepada Steven.
“Kenzie, jangan pergi. Aku akan putus dengan Betty, lalu kita bersama, bagaimana?” Steven memeluk Kenzie, tidak rela melepaskan wanita yang ada dipelukkannya.
Kenzie menggigit bibir bawahnya dengan keras, berusaha menahan diri untuk berkata “iya.”
Kenzie tidak memiliki hak untuk menyetujui perkataan Steven, dia tidak mempunyai hak untuk menjadi wanita Steven. Steven masih tidak mengetahui bahwa Kenzie memiliki anak di dalam perutnya yang bahkan tidak diketahui siapa ayahnya, ditambah lagi Steven masih tidak mengetahui kalau Kenzie merupakan simpanan Reyhan!
Jika, Steven sudah mengetahuinya, apakah dia akan memandang rendah Kenzie? Atau dia akan seperti Reyhan, menertawakannya, menyindirnya?
Tidak! Tidak boleh! dia tidak boleh membiarkan Kak Steven mengetahuinya, dia ingin Steven mengingatnya sebagai Kenzie yang polos dan ceria seperti tiga tahun lalu, berharap di dalam hati Steven, Kenzie selalu menjadi perpempuan yang lugu dan polos, anggun seperti layaknya tuan putri, memiliki senyuman yang polos.
“Tidak. kakak Steven, tidak boleh. ”
“Apakah kamu tidak bersedia putus dari Reyhan? Kenzie, aku tahu dihatimu masih ada aku, aku bisa merasakannya. Bisakah kita bersama?” Suara Steven terdengar memohon.
“Aku, aku sangat mencintainya. Aku tidak bisa berpisah dengannya. “Kenzie mengigit erat bibir bawahnya, dia merasakan rasa sakit setelah berkata seperti itu.
Steven memegang kedua lengan Kenzie. Diantara Steven dan Reyhan, Kenzie, pada akhirnya memilih Reyhan.
Kalau ditanya apakah ia merasa gagal, jawabannya ya, ia merasa sangat gagal. Tetapi Steven masih tidak bersedia melepaskan tangan Kenzie. Gadis yang dia tungg- tunggu sekian lama, sekarang berdiri dihadapannya, bagaimana bisa Steven begitu mudah melepaskannya!
Tidak rela, sungguh sangat tidak rela.
“Kenzie, bukankah kamu selalu ingin melihat laut? Aku akan mengajakmu pergi melihat laut, bagaimana?” Steven menahan rasa sakit dihatinya, berusaha untuk tersenyum.
Steven menarik tangan Kenzie menuju ke jendela, membuka jendela.
“Wah!” Kenzie termenung sebentar, lalu mengeluarkan suara terkejut. Di luar jendela, ternyata adalah laut! Ternyata ini merupakan rumah yang mempunya pemandangan paling bagus, di daerah laut!
Kenzie sudah lama tidak melihat laut.
Setelah bisnis ayahnya hancur, setiap hari dia sibuk memikirkan bagaimana bisa caranya bertahan hidup, mana ada waktu untuk melihat laut?
Biarkan rasa bahagia ini bertahan sebentar lagi! biarkan kebahagiaan ini bertahan sebentar lagi! Bisa saja setelah hari ini, semua yang bisa dia pegang hanyalah ingatannya saat bersama dengan Kak Steven.
Setelah selesai melihat laut, Kenzie sudah harus pergi, dia harus kembali ke kehidupan asalnya, menerima nasibnya yang tidak bisa diubah.
Angin laut sangat sejuk, meniup tubuhnya terasa sangat nyaman. Di pasir pantai yang bersih, hanya ada Kenzie dan Steven.
“Kakak Steven, aku merasa sangat aneh, mengapa tidak ada satu orang pun disekitar sini. Bukankah ini adalah musim yang cocok untuk berenang?”
“Bodoh, ini adalah pantai pribadi yang aku beli, tentu saja tidak akan ada orang lain. ”
Kenzie merasa seperti akan memuntahkan batu. Dia sudah terbiasa hidup dalam kemiskinan, dia sudah lupa jika orang yang memiliki banyak uang tentu saja memiliki banyak hak untuk melakukan apapun.
“Kenzie, apakah kekasihmu pernah mengajakmu melihat laut?”
“…tidak pernah.” Kenzie menghentikan suaranya sebentar, Reyhan, hanyalah tambang emas Kenzie.
__ADS_1
Ombak laut dengan lembut menyapu kaki mereka, ombak laut yang jauh terlihat sedang menari. Kenzie dan Steven berjalan berdampingan di atas pasir pantai, dalam diam mendengarkan bunyi dari ombak laut.
Ini merupakan masa-masa yang sangat membahagiakan, bahagia sampai terasa seperti mimpi. Kenzie diam-diam berdoa didalam hatinya, berharap waktu bisa berhenti, atau setidaknya berjalan lebih lambat.
Steven tiba tiba membuka mulutnya: “Kenzie, kamu tebak, aku sedang memikirkan apa?”
“Kakak sedang memikirkan apa?”
“Aku sedang berdoa kepada Tuhan, agar waktu bisa berhenti, atau setidaknya berjalan lebih lambar.” suara Steven terdengar begitu datar, tetapi masih bisa dirasakan dari suaranya bahwa dia menyimpan rasa sakit yang mendalam.
Kenzie melebarkan matanya, menatap Steven.
Telepon Steven tiba-tiba berbunyi. Tetapi Steven seakan tidak mendengarnya. Sama sekali tidak ingin menjawab teleponnya.
“Kak Steven, teleponmu berbunyi.” Kenzie mengigatkannya, khawatir jika itu merupakan panggilan penting dari perusahaannya.
Steven menatap Kenzie sesaat, menghembuskan nafas, lalu mengangkat telepon.
“Steven, kamu dimana? Mengapa tidak mengangkat telepon ku? Sekretaris berkata bahwa kamu sama sekali tidak pergi kerja. Kamu pergi kemana?” suara lembut seorang gadis terdengar dari seberang sana.
“Betty, aku di laut. ”
“Di Laut? Apakah kamu sendirian?”
“Tidak. ”
“Kamu bersama dengan siapa?” suara diseberang sana tiba tiba berubah menjadi tajam.
“Benar, Betty, aku ingin mengatakan satu hal kepadamu….” Steven dengan tegas berkata.
“Tidak, aku tidak mau dengar! Aku tidak mau dengar! Kamu tidak usah berkata apapun! Aku tidak ingin mendengarnya!” sebelum Steven menyelesaikan omongannya, Betty sudah memotongnya terlebih dahulu.
Steven mengambil nafas, tidak memperdulikan omongan Betty, dan langsung berkata: “Betty, kita putus saja!”
Kenzie membuka matanya lebar-lebar, merasa terkejut. Dia tidak salah dengar, Steven benar benar meminta putus dengan Betty demi dirinya. Dan lagi Betty merupakan anak emas walikota kota C, dengan bantuan ayahnya, Steven dapat dengan mudah memperluas bisnisnya didalam kota C.
Diseberang sana terdengar suara tangisan seorang gadis, “Steven, dimana letak keburukanku? Katakan padaku, aku akan merubah segalanya. ”
Steven mengeluarkan tatapan menyakitkan: “Tidak, Betty, kamu sangat baik. Akulah yang tidak baik. Aku mencintai wanita lain. ”
“Mencintai wanita lain? Kamu pada dasarnya memang tidak bisa melupakan dia!” suara Betty terdengar sangat marah, “Mengapa tidak pernah sekalipun mengajakku ke rumahmu yang di tepi pantai itu? Sebenarnya ada rahasia apa di dalamnya?”
Steven merasa bersalah.
Suara tangisan Betty terdengar semakin keras, bersamaan dengan bertriak parau: “Steven, apakah kamu pernah mencintai aku?”
“Betty, aku bersalah padamu, mari kita putus! Kamu pantas mendapatkan lelaki yang lebih baik.” bola mata Steven penuh dengan rasa sakit, tubuhnya juga sedikit bergetar. Ternyata putus dengan Betty, bukanlah hal yang mudah.
“Steven! Bagaimana bisa kamu memperlakukanku seperti ini! Di dalam perutku sudah ada anakmu!” Betty berteriak frustasi.
__ADS_1