CINTA SETELAH MENIKAH

CINTA SETELAH MENIKAH
Bab 116 Tidak Seharusnya Memberinya Kebebasan


__ADS_3

Di dalam toko baju, Kenzie sedang memilih baju bersama Nindi.


“Kenzie coba lihat ini, bagus tidak?” kata Nindi sambil memegang rok hitam.


Kenzie menggelengkan kepalanya.


Kulit Nindi terang, jika mengenakan warna hitam pasti sangat tidak cocok. Kenzie langsung berjalan ke arah rak baju mengambil gaun berwarna putih: “Nindi, coba yang ini.”


Nindi sedikit ragu: “Kulitku gelap, jika mengenakan ini bukankah kulitku akan terlihat kusam?”


Kenzie menggelengkan kepalanya sambil tersenyum: “Kulitmu warnanya terang, lebih cocook mengenakan pakaian warna putih!”


Nindi dengan setengah percaya berjalan ke fitting room, sambil menunggu, Kenzie melihat-lihat baju lainnya.


Tiba-tiba ada suara yang tidak asing yang terdengar dari arah rak baju sebelah.


“Aku kesal, Steven! Banyak baju yang bagus seperti ini tapi aku sekarang tidak bisa mengenakannya! Semua salahmu yang membuat aku hamil! Habis melahirkan nanti akan aku sudah akan menjadi ibu-ibu.” suara Betty terdengar.


Steven… nama yang tidak asing ini membuat Kenzie gemetar.


Kenzie mengintip dari lubang di sela-sela rak baju, Steven sedang memilih baju bersama Betty.


Betty menjadi lebih gemuk, pipinya pun terlihat lebih berisi. Di sampingnya ada Steven yang sedang menemaninya. Dia masih tetap tampan, pada wajahnya juga tetap ada senyuman lembutnya, tapi kelihatannya dia sedang memikirkan sesuatu.


Kenzie cepat-cepat bersembunyi di antara baju-baju. Tapi debar jantungnya tidak bisa dikontrol!


Steven, kakak kelasnya, sedang ada di sebelah! Hanya berjarak satu rak baju dengannya!


Tapi satu rak baju ini, terasa sangat jauh…. jauhnya seakan tak bisa digapai seumur hidupnya.


Jarak terjauh di dunia ini, bukanlah hidup dan mati, melainkan berdiri di depan orang yang kau cintai , tetapi orang itu tidak tahu bahwa kau mencintainya.


Kalimat ini, tiba-tiba mengambang di kepala Kenzie, kalimat yang seperti omong kosong ini, saat ini benar-benar membuat Kenzie sedih.


Steven…dia harusnya baik-baik saja kan? Menikah dengan Betty, melahirkan anak yang lucu, hidupnya pasti akan bahagia.


Ini adalah hal yang baik.


Kehidupan Steven, memang seharusnya seperti ini.


Betty memang tidak terlalu baik, Rapi ia mencintai Steven, itu saja sudah cukup.


Kenzie meremas baju yang tergandung di rak itu dengan keras, seperti sedang meremas hatinya yang sakit.


“Betty, kalau kamu tidak suka baju di toko ini, kita lihat baju di toko lain saja.” Steven tersenyum lalu menarik Betty ke sebelah.


Kenzie juga lega, dia merasa beruntung, Steven dan Betty tidak berjalan ke arahnya.


Dia belum bersiap bertemu Steven. Kalau bisa, dia berharap tidak bertemu dengannya lagi selama sisa hidupnya.


Melihat Steven dan Betty semakin jauh, Kenzie pun tidak sadar bahwa bulu matanya sudah basah.

__ADS_1


“Hei Kenzie, kamu sedang melihat apa sampai serius seperti itu?” Suara Nindi memotong pikiran Kenzie.


Kenzie cepat-cepat mengelap matanya yang basah, lalu tersenyum: “Nindi, sudah selesai mencobanya?”


Nindi tidak begitu peduli, juga tidak begitu memperhatikan keanehan Kenzie, sambil mengenakan gaun putih, ia berdiri di depan Kenzie: “Kenzie, bagaimana? Cantik tidak? Apakah menurutmu ini akan memikat pria-pria IT itu?”


Pesta besok malam itu dengan kantor IT di seberang kantor mereka, dengar-dengar banyak pria IT yang gajinya besar, pendidikannya tinggi, wajah juga tampan.


Gaun putih itu memiliki model yang sederhana, tapi berhasil membuat Nindi yang bentuk tubuhnya bagus dan kulitnya yang cerah terlihat lebih menarik, ditambah dengan senyumannya yang cantik, giginya yang putih bersinar, ia terlihat sangat cantik.


Kenzie memuji Nindi: “Nindi, kamu cantik sekali! Aku yakin para pria IT itu pasti akan terpikat!”


Nindi menaikkan rambutnya: “iya, besok malam aku akan menunjukkan kecantikan aku, lalu tahun ini aku akan menikah!”


Melihat cantiknya senyuman Nindi, Kenzie sedikit iri. Benar, Kenzie iri pada Nindi, walaupun Nindi belum punya pacar, tapi menurut Kenzie kehidupannya sangat berwarna.


Bekerja, memiliki kekasih, lalu nanti akan menikah dan melahirkan anak. Semuanya bisa berjalan mulus.


Tidak sepertinya, kehidupannya seolah-olah sudah ditakdirkan menjadi kehidupan yang gelap, ia tidak bisa melihat cahaya sama sekali.


Pesta kali ini memang luar biasa, semua yang datang adalah pria tampan dan perempuan cantik, kalaupun tidak tampan atau cantik, pasti bentuk tubuhnya bagus.


Sejauh mata memandang, semuanya yang datang bisa membantu menyegarkan hati dan mata.


Kenzie merasa ia mengambil memilihan yang tepat datang kesini hari ini .


Sebenarnya, ia tidak berminat untuk ikut serta dalam pesta malam ini, tujuannya datang hanya untuk menemani Nindi. Tapi dia tidak menyangka bahwa hari ini bisa melihat begitu banyak pria tampan perempuan cantik.


Nindi sangat senang, dan ia mengatakan kepada Kenzie: “Sepertinya ada harapan!”


Pihak penyelenggara pesta membuat sistem nomor pasangan. Kenzie mendapat nomor 7, jadi pasangannya adalah nomor 17. Nindi dapat nomor 23, pasangannya adalah nomor 33.


Melihat Kenzie diam-diam menyembunyikan nomornya di meja, Nindi langsung menghalanginya: “Kenzie, jangan seperti itu! Kamu kan juga lajang, kalau memang kamu belum siap mencari pasangan, anggap saja mencari teman baru, semua orang di sini masih muda, jadi santai saja, kalau kamu memang merasa tidak cocok, tidak suka, jangan nerikan nomor ponselmu.”


Kenzie merasa yang dikatakan Nindi ada benarnya, lagipula ia juga sudah datang kesini, anggap saja mencari teman baru.


Semua berjalan ke meja yang sudah ditentukan, orang dengan nomor 17 sudah duduk di sana. Melihat bayangannya, Kenzie merasa bahwa Bayangan itu sangat familiar. Kenzie menenangkan diri, lalu berjalan ke arah pria itu.


“Ha…!” sapaan itu baru diucapkan setengah, lalu suaranya seperti tersangkut di tenggorokan!


Reyhan! pria yang duduk di sana, ternyata Reyhan! wajahnya yang menyeramkan itu melihat Kenzie


“Kamu… kamu kenapa ada di sini?” tanya Reyhan dengan suaranya yang kecil. Kenzie merasa terkejut, hingga dirinya mundur selangkah.


Reyhan yang tinggi, melotot ke arah Kenzie, kemejanya berwarna hitam yang ia kenakan, membuatnya terlihat semakin menyeramkan.


Melihat ekspresi Reyhan, Kenzie menjadi tegang.


Reyhan berkata: “Kenzie, kamu berani juga.” wajahnya memerah, tampak dipenuhi amarah yang membara.


“Aku… aku…” Kenzie ingin menjelaskan, tapi tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya, haruskah ia menjelaskan bahwa dia datang untuk menemani Nindi? Atau haruskan ia berkata kalau dia sebenarnya tidak ada rencana untuk datang? Reyhan tidak akan percaya.

__ADS_1


Sudahlah tidak perlu dijelaskan. Kenzie menurunkan kepalanya, dan tidak ingin bicara.


Reyhan luar biasa kesal, ia begadang untuk menyelesaikan urusan di Shanghai, belum sempat istirahat, ia langsung cepat-cepat kembali ke perusahaan, ia mencari Kenzie dimana-mana, tapi tidak bisa menemukannya, lalu dia mendengar dari resepsionis kantor bahwa Kenzie dan Nindi pergi ke pesta perjodohan!


Kemarahannya bertambah besar, Reyhan langsung berdiri, matanya yang gelap seakan sedang membakar api amarah: “Kenzie, kamu ini cari mati ya! Berani-beraninya kamu diam-diam datang kesini!”


Orang di sekitar mereka langsung melihat ke arah mereka berdua. Diteriaki seperti itu di depan umum, Kenzie sangat malu! Setiap bersama Reyhan, ia pasti selalu jadi pusat perhatian semua orang!


Kenzie sangat benci perasaan seperti ini!


Malas berurusan dengan orang seperti ini, Kenzie pun langsung duduk, lalu dengan dinginnya berbicara dengan Reyhan: “aku hanya datang untuk meramaikan saja, terserah kamu percaya atau tidak!”


Hmm, jadi ini salahnya Reyhan? Apa dirinya hanya curiga berlebihan saja? Atau tidak percaya pada Kenzie?


Reyhan sangat marah pada Kenzie!


“Meramaikan? Di saat kebetulan aku sedang dinas ke luar kota? Meramaikan saja untuk apa dandan secantik ini? Mau menarik perhatian siapa?!”


Reyhan berteriak marah, sambil memegang lengan Kenzie, ia bertanya: “baru berapa hari tidak ada pria di sisimu, kamu langsung tidak tahan?”


Walaupun aula berisik, tapi teriakan Reyhan menarik perhatian beberapa orang, dan semuanya langsung melihat ke arah mereka.


“Reyhan! Lepaskan!” Kenzie berbicara sambil mengerutkan kening, lengan Kenzie kesakitan ditarik seperti itu.


Mata Reyhan yang marah melihat baju Kenzie.


Kenzie memakai dress hitam V neck, lehernya yang putih dan panjang itu pun terlihat.


Mengenakan baju seperti ini, masih berani berkata kalau ia hanya meramaikan! Kenzie, sepertinya aku seharusnya tidak memberikanmu kebebasan apapun.


Mata Reyhan yang dingin melihat ke arah Kenzie, lalu menarik tangannya: “Ayo, pulang denganku!”


“Reyhan kamu mau apa?! Lepaskan!” Kenzie benar-benar marah dan teriak dengan keras.


Nindi yang melihat bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan Kenzie, langsung cepat-cepat menghampiri.


Saat melihat orang yang mengganggu Kenzie itu Reyhan, Nindi langsung kaget.


“Presdir Reyhan?”


Reyhan memutar kepalanya. Saat melihat Nindi, kemarahannya semakin bertambah, hubungan Kenzie dengan Nindi sangat baik, Nindi yang menghasut Kenzie untuk datang ke pesta perjodohan ini!


Ia berbicara dengan dingin: “Nindi, apa kamu yang ajak Kenzie untuk datang ke pesta ini?”


Nindi melihat wajah Reyhan yang gelap, hatinya juga sedikit takut, tapi dia masih mengangguk: “Iya, aku yang mengajak dia. Lagipula semua yang datang ke pesta ini masih muda, berkenalan dengan teman baru juga tidak ada salahnya!”


“Kenalan dengan teman baru itu, maksudnya berkenalan dengan pria kan? Karyawan dari Group Realtech sekarang sudah terbuka seperti ini ya?” Reyhan menyindir dengan dingin.


Mendengar kata-kata Reyhan, Nindi melihatnya dengan sedikit tidak percaya, apakah ini kata-kata yang seharusnya diucapkan oleh seorang presiden direktur perusahaan? Mereka hanya datang ke sebuah pesta, bukan menyebarkan rahasia perusahaan, apakah ini salah?


“Presdir Reyhan, walaupun kita hanya karyawan Group Realtech, tapi kita juga punya kehidupan pribadi kan, sepulangnya kerja, apapun yang kita lakukan, itu adalah hak kita, presdir juga seharusnya tidak boleh ikut campur kan?” Nindi bukan orang yang sabar, kalau memang harus menyerang balik, dia tidak akan mengalah.

__ADS_1


“Nindi, aku rasa kamu sudah tidak mau kerja di Group Realtech lagi ya!” Wajah Reyhan yang marah semakin menjadi. Seorang karyawan berani-beraninya berbicara seperti itu padanya! Di dunia ini, selain Kenzie, belum ada perempuan lain yang berani membantahnya!


__ADS_2