
Reyhan menatapnya dengan begitu tajam, Kenzie tidak menghindar, ia malah nalik menatapnya.
Sekarang, ia sudah lupa bahwa hubungannya dan Reyhan sudah berakhir, ia hanya karyawan biasa, yang berani menyatakan pendapatnya dan berusaha untuk mengurangi kerugian perusahaan.
Kenzie merasa ia tak bersalah, oleh karena itu, ia berani balik menatap Reyhan.
Reyhan menatapnya dengan penuh rasa apresiasi. Tidak disangka, Kenzie adalah karyawan baru tapi ia berani menatapnya dengan tajam.
Reyhan merubah pandangannya tentang Kenzie!
Reyhan pun berkata kepada manager departemen bisnis: “Manager Eko, coba anda cek ulang datanya.”
Kenzie menghela nafasnya, ia sadar pendapatnya diterima.
Setelah laporannya itu, pikirannya terasa lebih relaks.
Saat ingin keluar dari ruang rapat, Reyhan menghentikan langkah kakinya, membalikkan badan, dan melihat ke arah Kenzie yang tak jauh darinya.
Kenzie kebetulan juga sedang menengadahkan kepalanya, tatapannya masuk ke dalam mata Reyhan, tanpa alasan, hatinya tiba-tiba sedikit gugup.
“Presdir?” panggil manager yang sedang berada di sebelahnya saat melihat Reyhan menengok ke arah sekretaris di belakang sana, ia kira Reyhan masih ada urusan dengan sekretaris itu.
Reyhan masih menatap Kenzie, ia menatapnya dengan sedikit ketidakpahaman, dan ia berkata: “Berikan sekretaris Kenzie bonus gaji, sesuai dengan bonus yang paling tinggi.”
Vera yang berada di belakang Reyhan, mendengar perkataan Reyhan dengan benar-benar jelas, giginya menggigit bibirnya, ekspresi wajahnya langsung berubah.
Melihat ekspresi Vera, Kenzie mengoceh dalam hati.
Ia tidak bermaksud meencari perhatian atau apapun.
Baru saja masuk kerja, ia sudah punya musuh.
Setibanya di ruang sekretaris, Kenzie masih sedikit tak terima, melihat wajah Kenzie, Nindi mengira Kenzie melakukan kesalahan tadi, ia pun bertanya: “Kenzie, kamu tidak apa-apa kan? Apa kamu dimarahi karena barusan ketika rapat tidak mencatat semuanya dengan baik?”
“Nindi, kamu terlalu banyak berpikir! Ia baru saja menyombongkan dirinya! Sekarang ia adalah pekerja kesayangannya presdir kita!” jawab Vera dengan kesal sambil duduk di kursinya.
Melihat tatapan iri Vera, Nindi tahu bahwa Kenzie baik-baik saja, hatinya mulai tenang. Ia menepuk bahu Kenzie dan kembali ke tempat duduknya.
“Nindi, tadi saat rapat tadi, aku mengemukakan kesalahan manager departemen bisnis.”
“Apa?! Kamu lihat saja wajahnya Vera, cemberut seperti nenek tua.”.
Kenzie dan Nindi pun tak bisa menahan tawa.
Vera pun semakin marah, tangannya dengan kuat meremas termos airnya. Kuku panjang yang indah itu pun terasa sakit, sampai-sampai salah satu kukunya patah.
Kenzie menjelaskan semua kejadian rapat hari ini ke Nindi, Nindi sangat bersemangat atas perilaku temannya ini: “Kenzie, kamu sangat hebat! Baru datang saja sudah bisa menemukan celah besar seperti ini, kamu memang pintar!”
Kenzie tersenyum malu. Nindi merasa bangga, dan tak menyesal berteman dengannya.
Tiba-tiba bayangan Reyhan terlihat dari pintu luar, ia dan dua direktur perusahaan hendak keluar.
__ADS_1
“Kenzie, kamu benar-benar hebat sekali! Presdir sudah pergi! Kita bisa bersantai hingga sore!” Nindi sambil mengintip dari jendela kecil Kenzie.
Vera juga melihat bayangan Reyhan di luar, matanya menatap Kenzie, ia berdiri dan berjalan ke arah pantri.
Saat makan siang, Nindi berjalan girang dan menepuk bahu Kenzie: “Kenzie, ayo, waktunya makan!”
Kantin Group Realtech menyajikan makanan-makanan yang terbaik, tidak hanya gratis, tetapi lauknya juga beragam, rasanya tidak kalah dengan restoran ternama.
Ini lah alasan orang-orang berebut untuk masuk Group Realtech.
Masa depan karirnya cerah, gajinya tinggi, presdir perusahaan juga tampan. Banyak wanita yang belum menikah bekerja disini, seperti Vera.
Dulu, ia pernah menghabiskan malam bersama Reyhan, sayangnya, hubungan itu hanyalah sebuah cinta satu semalam.
Tapi ia tidak rela menyerah begitu saja, ia yakin bahwa ia akan bisa meluluhkan hati Reyhan!
Kenzie dan Nindi duduk bersama di sudut restoran, makan sambil ngobrol, terlihat sangat gembira. Kenzie sudah lama tidak sesenang ini. Bisa ngobrol sepuasnya dengan teman baiknya benar-benar membuatnya bahagia!
Vera berjalan dari arah berlawanan smabil membawa mangkok yang mengebul uapnya, sepertinya mangkuk itu berisi sup panas.
Ia berjalan pelan-pelan ke arah sebelah Kenzie, sedikit membelokkan badannya, dan menumpahkan supnya ke lengan Kenzie!
“Ah!” Kenzie belum sempat berteriak, Vera sudah teriak lebih dulu: “Kenzie, maaf! Maaf sekali! Aku tak sengaja!”
“Ah, sakit!” sup itu membuat tangan Kenzie berubah menjadi merah dan bengkak.
“Kenzie! Kamu tidak apa kan?” Nindi buru-buru mengelap tangan Kenzie, tangan Kenzie yang kemerahan sudah sedikit melepuh: “Kenzie! Lenganmu melepuh!”
Vera mencoba menutupi kepuasan dalam hatinya, ia berpura-pura meminta maaf: “Aku tidak sengaja!”
Melihat Vera yang munafik, hati Nindi sangat kesal: “Tidak sengaja? Aku rasa kamu sengaja melakukannya!”
“Nindi!” tangan Kenzie menarik tangan Nindi. Kalau ia tak menarik tangan Nindi, Nindi dan Vera pasti akan berkelahi.
Mereka semua adalah teman satu kantor, Kenzie tidak ingin membesarkan masalah ini. Dan mungkin, Vera benar-benar tak sengaja?
Orang-orang di kantin pun melihat ke arah mereka. Ada beberapa orang yang mengetahui sifat asli Vera dan berkata: “Duh, burung kenari Presdir mulai menindas orang lagi!”
“Tidak tentu loh! Wanita yang tersiram sup itu bukan orang biasa, hari ini saat rapat para petinggi, ia menyombongkan keahlian dirinya!”
“Bagaimana bisa ia menyombongkan diri, hubungan Vera dan Presdir, kalian tidak tahu…”
Tiba-tiba, semua suara itu lenyap, dan seketika kantin menjadi tenang.
Suara ketukan sepatu kulit itu semakin lama semakin dekat.
Kenzie menengadahkan kepalanya, ia terkejut sampai mulutnya terbuka, yang datang adalah Reyhan!
Ia dan beberapa petinggi perusahaan sedang menghampirinya.
“Presdir kenapa bisa datang makan disini?” kata Nindi pelan.
__ADS_1
Kantin Group Realtech terdiri dari 3 lantai, presdir biasa makan di lantai 3. Lantai 1 hanya untuk para karyawan.
Dari dulu tak pernah ada yang melihat Reyhan datang ke lantai 1, hal ini membuat Nindi sangat terkejut.
Reyhan baru tiba disana dan melihat sekelompok orang sedang berkumpul di sudut kantin.
Reyhan melihat Kenzie dan Vera sedang tarik menarik, dan seorang sekretaris lainnya di sebelah sana mengatakan sesuatu dengan sengit.
Kenzie terlihat mengerutkan alisnya dalam-dalam, seperti ia kesakitan.
Reyhan menaikkan alisnya, wanita ini kenapa lagi?
Reyhan berjalan kesana dan bertanya: “kalian sedang apa?”
Vera dan Nindi saling menolehkan kepala.
Melihat Reyhan sedang berdiri di belakang mereka.,dua orang itu mundur satu langkah, aura Reyhan memang kuat.
Kenzie buru-buru menjelaskan: “Oh, tidak kenapa-napa, aku tidak hati-hati jadi ketumpahan sup panas, Nindi baru ingin membawaku ke ruang pengobatan!”
Nindi yang mendengar hal itu menjadi tak senang, menunjuk Vera dan berkata ke Reyhan: “Bukan Kenzie yang salah, Vera yang sengaja menumpahkannya!”
Kali ini dia tidak akan takut terhadap Vera yang adalah kekasih Reyhan, ia ingin menuntut keadilan untuk Kenzie!
Kenzie sengaja menyembunyikan lengannya ke belakang, ia tidak ingin Reyhan melihatnya.
Reyhan berjalan satu langkah ke depan, menarik lengan Kenzie, melihat luka Kenzie yang sudah melepuh!
Reyhan mengerutkan keningnya, ia tak berkata apa-apa, hanya menatap tajam Vera, dan menarik tangan Kenzie untuk pergi ke ruang pengobatan.
Vera dan Nindi pun terkejut melihat yang dilakukan Reyhan kepada Kenzie. Wajah Nindi benar-benar penuh kekagetan, sedangkan wajah Vera diselimuti rasa kaget yang bercampur kecemburuan.
Kenzie sudah mulai bereaksi, ia melepaskan tangannya. Tetapi tangan Reyhan sangat bertenaga, ia menggenggamnya erat-erat, Kenzie pun tak berani berontak. Sambil menggenggam tangannya dan mengabaikan pandangan orang-orang yang kaget, mereka pun masuk ke dalam lift.
Sekali masuk lift, Kenzie pun melepaskan tangannya dari genggaman Reyhan: “Aku bisa ke ruang pengobatan sendiri, kamu pergi saja!”
Reyhan tidak menghiraukan Kenzie, ia kembali menggenggam tangan Kenzie, sambil menatapnya serius, tangan sudah begitu merah dan terlihat melepuk, terlihat jelas bahwa lukanya yang sangat serius.
“Jangan bergerak!” Reyhan memerintahnya. Wanita ini benar-benar membuat orang tidak tenang, baru ditinggal sebentar, situasinya sudah menjadi kacau seperti ini.
“Aku bisa pergi ke ruang pengobatan sendiri minta obat. Lepaskan aku!” Kenzie merasa Reyhan membesarkan hal sepele ini, hanya ada beberapa gelembung, waktu dulu ia kerja di restoran ini adalah hal yang biasa.
“Diam!” Reyhan menaikkan nadanya.
Kenzie mengerutkan keningnya: “Kenapa kamu galak seperti ini?!” Pria ini benar-benar membinggungkan, sebentar berperilaku seakan-akan hatinya sedih karena luka lengan Kenzie, sebentar langsung membentaknya.
“Kamu kenapa begitu bodoh?! Orang menumpahkan sup panas ke dirimu, kamu masih diam saja?” Reyhan menghela nafas sambil memegang dadanya, mulai mengajarkan Kenzie bagaimana cara bersikap.
“Tidak usah repot-repot mengajariku! Aku tahu apa yang harus aku lakukan!” Kenzie kesal hingga wajahnya memerah. Pria ini benar-benar aneh, Kenzie tidak memintanya pertolongannya, Reyhan-lah yang menarik tangannya untuk pergi ke ruang pengobatan, kenapa Reyhan harus emosi?
Pria ini selalu saja egois, dari dulu ia tidak pernah memikirkan yang dirasakan orang lain. Selalu melakukan apapun sesuai
__ADS_1
Kapan ia bisa belajar untuk menghargai orang lain?