
Kenzie cepat-cepat bertanya Nindi: “Group Fortune? Group Fortune yang mana?”
“Itu Group Fortune yang membuat gedung untuk mal! Kalau tidak salah, Presdirnya menikah dengan anaknya wali kota.” Nindi melihat wajah Kenzie yang tertarik dengan hal ini, melanjutkan, “tapi, kalau tidak salah ada terjadi keributan di pesta pernikahannya , akhirnya mereka tidak jadi menikah.”
“Tidak jadi menikah? Tidak mungkin! Dulu kalau tidak salah, aku pernah membaca berita, katanya anaknya wali kota sedang hamil?” Kenzie juga sedikit kaget. Waktu Steven menikah, dia sudah pergi ke Amerika, jadi ia tidak mengetahui hal-hal ini.
Ternyata Steven tidak menikah dengan Betty ya…..Tapi terakhir di mal, mereka terlihat bahagia, dan jelas-jelas, mereka berdua sudah memiliki seorang anak…..
“Saat itu mereka memang sudah menyiapkan pernikahakn mereka, bahkan sudah sampai mengadakan resepsi. Tapi kalau tidak salah, ada orang membuat keributan, akhirnya pernikahannya batal.” Nindi juga menambahkan: “tapi, Presdir Group Fortune dan putri wali kota itu sudah tinggal bersama, sudah punya anak juga.”
Kenzie jadi binggung: “jadi sebenarnya mereka sudah menikah atau belum?”
“Belum nikah, tapi sudah punya anak, juga sudah tinggal bersama.” ucap Nindi, lalu melihat Kenzie: “Kenzie,kenapa kamu sangat tertarik dengan hal ini? Setahuku kamu bukan orang yang tertarik dnegan gosip!”
Kenzie sedikit ragu, lalu memutuskan kalau sementara, ia tidak akan memberitahu Nindi mengenai hubungannya dengan Steven. Ia takut Nindi semakin terkejut dan binggung.
Kenzie sendiri pun merasa hubungannya dengan Reyhan dan Steven sangat-lah rumit.
“Kenzie, jadi kamu sebenarnya mau mencoba atau tidak?” Tanya Nindi.
“Tidak! Aku tidak akan mau bekerja di Group Fortune. Aku akan mencari lowongan di tempat lain.” Walaupun ia bicara seperti ini, tapi sebenarnya KEnzie tidak percaya diri sama sekali untuk mencari pekerjaan baru. Dia tidak tahu apa Reyhan benar-benar akan melepaskannya…..
“Kenzie, aku hari ini mau ke kantor untuk mengurus surat resign-ku. Apa kamu mau ikut?” Tanya Nindi.
“Aa…. Aku tidak ikut, aku baru bekerja untuk beberapa hari, di kantor juga tidak ada barang yang perlu dibawa pulang, juga tidak ada file yang harus dioper.” Kenzie sebenarnya sedikit takut kalau Reyhan akan berbuat sesuatu padanya jika ia kembali ke kantor.
“Ya sudah, aku jalan dulu ya. Aku akan kembali siang ini. Oh iya, nanti sore, ayo kita jalan-jalan!” ajak Nindi.
“Boleh.”
Saat dirinya bangun, Reyhan merasa kepalanya sakit seperti mau meledak.
Setelah susah payah bangkit, dia baru sadar, ternyata dirinya tidur di lantai rumah Ethan.
Di atas kasur, terlihat Ethan yang sedang tidur nyenyak.
“Ethan!!” Reyhan berteriak.
“Setidaknya bawa aku ke kamar tamu untuk tidur, bisa-bisanya membiarkanku tidur di lantai dan tidur dengan nyenyaknya di atas kasur!” gerutu Reyhan dalam hati
Ethan pun terbangun dari mimpinya, wajahnya juga datar.
“Apa? Eh…Orang yang buta karena cinta akhirnya bangun juga?” Baru saja membuka matanya, Ethan langsung menyindir Reyhan.
Reyhan semakin kesal: “Ethan, apa di rumahmu tidak ada kamar tamu?!”
“Haha….. kamar tamu apa, aku rasa, kamu juga merasa nyaman tidur di lantai,bukan ?” Ethan berbalik badan, malas melihat wajah marah Reyhan.
__ADS_1
Rumahnya hangat, lantainya pun dilapisi karpet, Reyhan tidak mungkin kedinginan.
“Apa ini cara kamu menyambut tamu?” Reyhan benar-benar marah. Dia dan Ethan juga sudah lama berteman, bisa-bisanya Ethan membiarkan dia tidur di lantai.
Ethan pun menjawab: “Kamu minum sampai mabuk seperti itu, satu badanmu bau alkohol, aku ini Presdir Oracle Entertainment, sudah bagus aku bisa menahan bau dan membawa kamu ke sini! Kamu jangan banyak menuntut!”
“…..” Reyhan tidak bisa bicara apa-apa.
“Cepat mandi! Badanmu bau alkohol, membuat kamar perempuan-ku jadi bau saja!” Ucap Ethan.
Kalau dulu, kata “kamar perempuan” itu bisa membuat Reyhan tertawa, tapi sekarang dia tidak merasa ini lucu sama sekali.
Terdiam di atas lantai, Reyhan berusaha mengingat kejadian kemarin.
Sepertinya ingatannya itu bisa otomatis menghapus semua hal yang jelek, ia tidak bisa mengingat jelas apa yang terjadi semalam. Tapi ada satu hal yang ia inat dengan sangat jelas, yaitu—Kenzie tidak mencintainya. Dia akhirnya ia juga sadar bahwa Kenzie tidak mencintainya.
Sakit yang ia rasakan di hatinya saat ini, dapat menghilangkan sakit kepalanya, Reyhan hanya dapat merasakan bahwa hatinya itu sakit luar biasa.
“Han, mandi sana. Hari ini tidak usah masuk kerja. Kita main golf saja!” melihat wajah termenung Reyhan, Ethan menurunkan nada bicaranya.
Reyhan tidak menjawab. Wajahnya penuh dengan rasa kesepian, ekspresi itu, sama sekali tidak seperti presdir yang penuh semangat, malah seperti kakek-kakek 70-an. Terlihat edih dan kecewa.
Ethan menghela nafas: “Reyhan, lepaskan saja! Kamu mau sampai kapan seperti ini? Buat apa menyusahkan orang lain dan menyusahkan diri sendiri?”
Satu kalimat itu, membuat Reyhan yang termenung dan sakit hati tersadar.
Lepaskan? Lepaskan Kenzie?
Tapi, apakah ia bisa benar-benar merelakan Kenzie? Dan mulai sekarang, Kenzie akan menjadi orang asing? Dan mulai sekarang, Kenzie sudah bukan miliknya lagi, ia harus melihat Kenzie akan tersenyum di pelukan pria lain, berciuman dengan pria lain?
Tidak! Tidak mungkin! Dia tidak peduli, bagaimanapun ia tidak bisa melakukan itu! Dia tidak akan melepaskan Kenzie!
Seakan bisa membaca pikiran Reyhan, Ethan pun duduk, mengatakan pada Reyhan dengan serius: “Reyhan, aku tahu, sulit bagimu untuk melepaskannya sekarang. Lebih baik kamu berikan waktu satu minggu untuk dirimu sendiri, untuk sementara jangan bertemu dengan Kenzie, kalau setelah satu minggu kamu masih merasa bahwa lebih baik kamu tetap bersama dia, walau kamu harus menahan rasa sakit karena dia tidak mencintaimu, kamu boleh menemuinya lagi.”
Reyhan mengangkat kepalanya dan menatap Ethan, dari kaca jendela, dia bisa melihat wajahnya sendiri.
Ia terlihat pucat dan kesepian. Hanya satu malam, jenggotnya sudah tumbuh di dagunya, matanya pun memerah.
Reyhan kaget, sejak kapan dirinya berubah menjadi seperti ini? Wajahnya yang tampan, seperti dilapisi oleh kain gelap, sama sekali tidak bercahaya.
Mungkin memang sudah saatnya untuk melepaskan…Dia sudah menghabiskan banyak tenaga untuk Kenzie, kalau Kenzie memang mencintainya, hati Kenzie pasti sudah tergerak dari dulu, tidak mungkin ada hari ini.
Mungkin, Kenzie tidak ditakdirkan untuknya.
Reyhan sakit hati, tapi kepalanya mengangguk: “Baiklah , akan aku coba.”
Nindi tidak menyangka ia dapat mengurus surat resignnya dengan mudah, manajer bagian HRD sama sekali tidak bertanya apapun, hanya menyuruhnya mengoper pekerjaannya ke sekretais lainnya lalu tanda tangan. Lagipula sekretaris di Group Realtech juga banyak. Walaupun dia keluar, itu tidak akan menjadi masalah.
__ADS_1
Sampai akhirnya, saat ia hendak membuat bukti resign, ada sedikit masalah. Supervisor yang bertanggung jawab bersikeras, bahwa harus ada persetujuan dari Presdir Reyhan, barulah dia mau membuatkan bukti resign untuk Nindi.
“Nindi, kamu sebaiknya menelepon Presdir Reyhan dan memberitahunya bahwa kamu ingin resign, bagaimanapun kamu ini sekretarisnya. Kita tidak tahu apakah dia memberikanmu tugas khusus. Kalau kamu tiba-tiba keluar seperti ini, lalu dia bertanya pada kita, kita tidak bisa menjelaskan apa-apa.” ucapan supervisor masuk akal.
“Baik. Aku akan menelepon Presdir Reyhan.” Ucap Nindi.
Waktu telponnya tersambung, Nindi sedikit tegang, aura Reyhan itu sangat kuat, walaupun hanya berbicara via telpon, jantung Nindi tetap saja berdebar tidak karuan: “Halo, Presdir Reyhan, aku Nindi.”
Reyhan saat itu sedang bermain golf dengan Ethan.
“Halo, Presdir Reyhan bukan? Aku Nindi, aku mau resign, hari ini aku ke kantor untuk mengurus resign-ku. Supervisor berkata bahwa aku harus melapor padamu dulu.” Jantung Nindi ingin lepas dari tempatnya. Dia tidak tahu akan seperti apa reaksi Reyhan.
“Baik.” Satu kata yang simpel, lalu Reyhan memutuskan telponnya.
Nindi kaget mendengar Reyhan setuju secepat itu.
“Reyhan, siapa yang menelponpun?” Ethan penasaran.
“Nindi, ia berkata dia mau resign.” Reyhan bicara dengan mudah, wajahnya yang dingin tanpa ekspresi.
“Nindi?” Ethan sedikit tertarik, langsung mengambil ponselnya Reyhan, “Aku mau mencatat nomornya.”
“Kamu mau apa?” Reyhan merasa binggung, jangan-jangan Ethan benar-benar tertarik dengan perempuan galak itu?
“Mau apa? Ya jelas mau main-main.” Ethan menjawab dengan asal, tapi matanya tersenyum.
Setelah selesai mengurus urusan resignnya, Nindi dengan senangnya telpon Kenzie: “Kenzie, aku sudah selesai, kamu cepat keluar! Kita hari ini jalan-jalan, nonton film!”
“Tidak usah jalan-jalan, nonton film saja! Sudah lama aku tidak nonton film.”
Kenzie mengganti bajunya, bersiap-siap mau keluar. Kakinya yang terkilir kemarin, hari ini masih sedikit sakit, dan tidak mengganggunya. Tapi kakinya yang luka karena terseret kemarin, sampai sekarang masih ada bekas daranya, kalau ia memakai sendal, bekas darahnya bisa membuat orang takut.
Sudahlah, tidak perlu banyak berpikir, Kenzie mengayunkan rambutnya. Rasanya bebas dari Reyhan benar-benar menyenangkan. Hari ini, ia pasti senang.
Di bioskop, Kenzie yang baru selesai membeli tiket duduk menunggu Nindi.
Di luar bioskop, Steven sedang menemani Betty sambil melihat-lihat poster di luar.
Hari ini hari ulang tahun Betty, mendengar dia dengan manjanya memohon-mohon, Steven pun membawa Betty nonton film. Ia memang sudah lama tidak menemani Betty, dia juga berhutang sebuah pesta nikah untuknya, juga cinta dan waktu, Steven juga merasa bersalah.
“Steven, aku mau nonton film horor ini!” ucap Betty dengan manja. Walaupun sudah menjadi seorang ibu, tapi kalau sedang sama Steven, ia masih suka manja.
Steven tersenyum: “oke.”
Matahari menyinari wajah Steven, putih dan tampan, badannya yang tinggi besar terlihat semakin gagah di bawah sinar matahari.
Betty menatap Steven, hatinya merasa bangga: ini adalah prianya, tampan, sifatnya baik, smembuat orang yang melihat mereka iri padanya. Ini membuat Betty semakin puas.
__ADS_1
Dia berpikir dia benar-benar mencintai Steven.
Di wajahnya terdapat senyuman yang manis, Betty mengangkat kepalanya dan menatap Steven: “Steven, filmnya sudah mau dimulai, ayo kita masuk!”