
Saat Ethan masih tertidur, Nindi mengambil kesempatan untuk kembali ke kamarnya, ia takut sebentar lagi Kenzie akan mangajaknya untuk sarapan bersama .
Nindi kembali ke kamarnya dengan mengendap-endap, ia kembali kamarnya dan mandi.
Semalam Ethan terlalu gila, ia harus cepat-cepat mencuci bersih jejak-jejak yang ditinggalkan Ethan di tubuhnya.
Sambil bercermin dikamar mandi, Nindi pun menghela nafas.
Dilehernya, di atas dadanya, semua bekas ciuman Ethanterlihat jelas.
Bagaimana bisa ia bertemu dengan seseorang dengan bekas-bekas seperti ini?
Untung saja sekarang musim dingin, jadi ia bisa menggunakan pakaiannya yang tebal untuk menutupi semua bekas ciuman ini, jika sekarang musim panas, tamatlah riwayatnya.
Selesai mandi dan mengenakan syalnya, Nindi menelepon kekamar Kenzie, hendak mengajaknya sarapan, dia sudah menahan lapar semalaman, sekarang dia sudah lapar sampai hampir mati.
“Duuu…” suara sambungan telepon itu terus berdering, tetapi tetap tidak ada yang mengangkat.
Nindi mengkerutkan alisnya, Kenzie pergi kemana, kenapa tidak ada dikamar? Kalau pergi sarapan, Kenzie pasti mengajaknya.
Apa mungkin dia sedang mandi, jadi tidak mendengar telepon yang berdering?
Nindi pun berbaring diatas kasurnya, berencana untuk kembali menghubungi Kenzie sebentar lagi.
Membaringkan kepalanya dibantal yang empuk dan lembut itu, membuat Nindi merasa sangat nyaman, tapi bagaimana pun juga di dalam otaknya masih berputar adengan tadi malam…
Memikirkan semua yang terjadi tadi malam, ia langsung tersipu malu.
Merek baru terpisah beberapa saat saja, tapi Nindi sudah mulai merindukannya.
Nindi pun menjulurkan tangan putihnya ke atas telepon dengan ragu-ragu, memikirkan ia harus menelepon ke kamar Ethan atau tidak…
Apakah Ethan masih tidur? Hal semalam pasti membuatnya lelah sekali, bukan? Nindi tersenyum sendiri dan menarik tangannya.
Setelah beberapa saat Nindi menelepon ke kamar Kenzie lagi, tapi masih tidak ada jawaban, ponselnya juga tidak diangkat, Nindi mulai mengkhawatirkan Kenzie.
Semalam mereka berpisah, dan sampai sekarang Nindi tidak mendengar kabar darinya, jangan-jangan sesuatu terjadi padanya?
Dia semakin bingung, tapi perutnya sangat lapar, Nindi berpikir lebih baik dia membawa ponselnya dan pergi makan ke restoran dulu.
Saat ia baru keluar dari kamarnya, Nindi berpapasan dengan Mary.
Bukankah perempuan ini model yang kemarin dibawa Reyhan? Nindi pun melontarkan senyuman sopan kepadanya, dia sadar bahwa mata Mary terlihat sangat merah, seperti orang yang tidak tidur semalaman.
Nindi pun tertawa dalam hati, sepertinya kemarin malam Reyhan sangat bergairah!
Semalam setelah diusir oleh Reyhan, Mary minum-minum sendirian di tempat pemandian itu, ia minum sampai sekitar jam dua atau jam tiga, lalu kembali ke kamarnya. Saat ia kembali, ia menemukan bahwa kamarnya masih kosong, tidak ada siapa-siapa, tidak usah berpikir dua kali, dia juga sudah tahu, pasti Reyhan sedang berduaan dengan Kenzie!
Setelah melihat Nindi, terlihat di dalam matanya tersimpan amarah seakan ia akan membunuh Nindi, teman musuhnya adalah musuhnya juga! Nindi adalah teman baiknya Kenzie, pasti dia juga bukan orang baik!
__ADS_1
Melihat Nindi tersenyum padanya, kemarahan di wajahnya terlihat semakin jelas, dengan kasar dia melontarkan tiga kata, “Tidak tahu malu!”
Setelah mendengar perkataan Mary, Nindi langsung menolehkan kepalanya ke belakang. Tidak ada siapa-siapa dibelakangnya, jadi apa yang dikatakan Mary barusan ditujukan untuk dirinya?
Aneh! Ia tidak melakukan apa-apa, kenapa perempuan ini tiba-tiba marah padanya?
Nindi bukan tipikal orang yang bisa diinjak-injak, dia langsung menghentikan langkah kakinya dan membentak dengan nada yang lebih keras dari Mary, “Yang kamu bilang tidak tahu malu itu siapa?”
Mary mengangkat kepalanya melihat Nindi yang lebih tinggi darinya, “Tentu saja orang yang tidak tahu malu itu! Minggir, anjing baik tidak menghalangi jalan!” sambil bicara, ia mencoba untuk menyeggol bahu Nindi dan berjalan pergi.
“Kamu mau lari kemana?!” Nindi sangat marah dan langsung menarik tangan Mary, “Bicara yang jelas! Siapa yang kamu bilang tidak tahu malu?!”
“Tentu saja kamu! Teman dari wanita yang murahan seperti Kenzie, pastinya tidak akan jauh beda dengannya, murahan!” Umurnya masih kecil, tapi bicaranya sangat ketus dan tidak berperasaan.
“Kamu!” Nindi sudah marah sampai tidak bisa mengatakan apa-apa, Nindi adalah orang yang pemberani, tapi bertemu Mary perempuan yang mulutnya ketus seperti ini, sepertinya Nindi lebih baik mempermainkannya dulu.
Dia bersumpah, kalau sekali lagi Mary memakinya, ia pasti akan memberinya pelajaran.
Mary melihat Nindi yang tidak bicara apa-apa, ia berpikir bahwa ia sudah menang, ia pun lanjut berbicara dengan nada keras, “Memangnya apa yang aku katakan itu salah? Aku datang kesini bersama kekasihku, Kenzie langsung merampas kekasihku, melepas semua pakaiannya dan langsung menerobos masuk! Apa namanya itu kalau tidak disebut tidak tahu malu?! Dasar tidak tahu malu!”
“Ah?” Nindi langsung terdiam dalam sekejap, dia tahu Kenzie tidak mungkin melakukan apa yang dikatakan Mary, tapi kenyataannya Kenzie memang tidak ada dikamarnya.
Apa jangan-jangan Kenzie benar-benar menghabiskan malam bersama Reyhan?
Bukanya dia sudah berkata ia tidak mencintai Reyhan, tidak ingin mempunyai hubungan apapun dengannya lagi ? Bagaimana bisa jadi begini?
Nindi sedikit bingung, tidak tahu harus berkata apa.
Nindi tidak tertarik untuk meladeni perkataan Mary, dia langsung berbalik arah dan pergi ke kamar Ethan, dia tidak tahu dimana kamar Reyhan, hanya Ethan yang tahu dimana kamar Reyhan.
Sesampainya didepan pintu kamar Ethan, dia melihat pintu kamar Ethan terbuka lebar.
Di dalam kamar Ethan ada Direktur Mario dan dua eksekutif lain yang tidak dikenalinya.
Setelah melihat Nindi yang berdiri di depan pintu kamar, empat pasang mata itu pun tertuju pada Nindi.
Nindi tidak sangka sepagi ini sudah ada orang kantor yang datang untuk membawa laporan untuk Ethan, dalam seketika, ia terdiam ditempat ia berdiri.
Pagi-pagi begini ia pergi ke kamar Ethan dan terlebih lagi empat orang ini sedang ada di kamarnya, dia merasa sedikit canggung, perasaanya seperti maling yang tertangkap, ini benar-benar memalukan.
Dua eksekutif itu menundukkan kepalanya sambil diam-diam bertatap-tatapan.
Hubungan antara Ethan dan Nindi ini pasti tidak biasa! Pasti ada apa-apa di antara mereka!
Nindi melihat dua eksekutif itu saling bertatap-tatapan, ia merasa semakin canggung, wajahnya juga semakin memerah. Rasanya seperti ia melepas semua pakaiannya dan dilihat oleh orang lain, sangat memalukan!
Nindi menatap Ethan dengan wajah memelas , berharap bahwa Ethan bisa membantunya menjelaskan, kalau saja dia berkata, “Aku yang menyuruh Nona Nindi datang kesini untuk membawa laporan.”, itu bisa membuat keadaanya menjadi lebih baik.
Tapi sayangnya Ethan hanya dengan perlahan mengarahkan pandangannya ke arah Nindi, Nindi bahkan melihatnya tersenyum sambil mengerutkan alisnya, jelas-jelas sangat tidak menghargai kedatangannya.
__ADS_1
“Ada apa Nona Nindi?” Nada bicara Ethan dalam seketika langsung membuat jarak diantara hubungan Ethan dan Nindi menjadi jauh, ekspresinya itu seakan-akan kemarin malam tidak ada apapun yang terjadi antara mereka berdua!
Jantungnya serasa berhenti berdetak, Nindi merasa seperti diguyur seember air.
Dengan canggung, ia berusaha memberikan sebuah senyuman, lalu berkata, “Oh, tidak apa-apa, saya, aku hanya ingin bertanya apakah Presdir Ethan melihat Kenzie…”
Kenzie? Dua eksekutif itu saling bertatapan, memangnya yang sedang dekat dengan Ethan itu Kenzie yang baru disebutkan Nindi? Kalau tidak untuk apa pagi-pagi begini, Nindi pergi ke kamar Ethan untuk mencarinya?
Mendengar Nindi bertanya tentang Kenzie, Direktur Mario yang membawa laporan ditangannya juga membalikkan tubuhnya dan bertanya, “Nindi, Kenzie kenapa?
Alasan yang sembarangan dilontarkan Nindi malah menarik perhatian semua orang, jantungnya berdebat semakin kencang, wajahnya juga memerah sampai sudah mau terbakar, bicara juga tidak bisa disaring diakal sehat lagi, “Oh, Kezie tidak apa-apa, aku, aku hanya mencarinya disekitar sini…”
Kata-kata yang dikatakannya semakin tidak jelas, Nindi sendiri juga tidak tahu dia sedang bicara apa.
“Kita bubar dulu!” Ethan menganyun-ayunkan tangannya menyuruh tiga laki-laki itu keluar.
“Ada apa dengan Kenzie?” Tangan Ethan masih menggenggam laporan yang tadi ia bahas dan berjalan ke arah Nindi.
Nindi tercengang dan menatap ke arah Ethan, tiba-tiba merasa laki-laki ini sangat asing, jarak antara mereka terasa jauh.
Setelah apa yang semalam mereka lakukan, malah sekarang di tatapan matanya itu sama sekali tidak ada rasa cinta! Sekarang semua orang di kamar itu sudah pergi, kalau mereka memang benar-benar adalah pasangan kekasih, dia pasti akan segera memeluknya, bahkan mungkin akan memberikan dia ciuman yang mesra. Tapi sekarang Ethan malah terlihat begitu dingin!
Nindi merasa dirinya telah dipermainkan! Apakah semua laki-laki seperti ini, selesai memanfaatkan langsung membuang?
Ethan bertanya seperti itu dan Nindi malah langsung menangis.
Ia jadi semakin takut, apakah benar-benar terjadi sesuatu pada Kenzie?
Dua tangannya memegang bahu Nindi, sedikit tergesa-gesa dia bertanya, “Jangan menangis dulu, apa yang terjadi pada Kenzie?”
Setelah mendengar ucapannya, Nindi menjadi semakin marah, memang tidak ada salahnya jika dia mengkhawatirkan Kenzie, tapi kenapa tidak menenangkannya dulu?
Sepertinya dia benar-benar sudah dibuang? Nindi benar-benar tidak menyangka, ternyata Ethan adalah laki-laki seperti ini.
Dengan marah ia mengangkat kepalanya, di dalam sepasang matanya, tampak kekecewaanya, dengan jengkel dia melototi Ethan, “Kamu pembohong! Aku benci padamu!”
Selesai bicara, dia pun langsung lari dari situ!
Tadi ia mendengar Direktur Mario melaporkan tentang pekerjaan, salah satu anak perusahaan mereka sedang dalam masalah besar, dia sangat emosi karena hal itu.
Melihat Nindi datang dan berkata bahwa Kenzie hilang, ditambah melihat wajah Nindi yang memerah seperti sangat ketakutan, membuat hatinya juga ikut takut.
Ia mengorbankan masalah perusahaanya, membubarkan karyawannya, untuk mendengar penjelasan dari Nindi, tapi Nindi malah melontarkan kalimat, “Kamu pembohong!”
Ethan sendiri merasa sangat binggung!
Nindi, perempuan kecil ini, benar-benar tidak tahu caranya menghargai!
Sulit sekali diatur! Dia harus memperbaiki karakternya baik-baik!
__ADS_1
Dengan sikapnya yang seperti ini, bagaimana bisa ia bekerja dengan baik di perusahaan mereka? Bagaimana bisa dirinya tidak dipersulit oleh rekan kerjanya?