
“Aku tidak apa-apa, cepat lari!” Reyhan menarik tangan Kenzie sambil berlari.
Di belakang sepertinya ada seseorang yang sedang mengejar mereka. Beng, beng, bunyi tembakan pistol, ada peluru melayang melewati kepala mereka, jantung Kenzie seperti hendak lepas dari tubuhnya.
Saat berlari ke sebuah gang kecil, tiba-tiba sekelompok orang mendekati mereka.
“Tuan Reyhan, lepaskan pistolmu!”, tiba-tiba ada pistol yang dingin yang menunjuk kepala Reyhan dan Kenzie.
Reyhan memegang bahu Kenzie yang tiba-tiba menegang.
“Ada urusan apa denganku, jangan sakiti wanita ini!” Reyhan membuka omongan. Sepasang matanya sedang berputar-putar mencari kesempatan untuk kabur.
Pria berbaju hitam di belakang tertawa menjawabnya: “Buat apa aku harus mendengarkan kau?”
Reyhan menjawab dengan suara serak: “Jika kamu berani menyentuh satu helai rambutnya saja, ingat satupun dari kalian tidak akan ada yang bisa hidup!”
“Kalau aku ingin menyentuhnya?” pria itu mengeluarkan tangan besarnya dan mencubit wajah Kenzie dengan penuh kebencian.
Kenzie menjerit kesakitan.
Reyhan dengan matanya yang suram, sekejap berubah menjadi seorang yang haus darah!
Reyhan mengubah posisi tubuhnya untuk menendang pistol dengan kakinya, lalu memukul pria berbaju hitam yang ada di belakangnya.
Dua orang baju hitam itu bersiul memberi kode, dan semakin banyak orang yang datang mengelilingi mereka, lalu tinjuan demi tinjuan dilayangkan ke Reyhan, seperti hujan. Semua tenaga mereka diarahkan untuk mengalahkan Reyhan.
Reyhan yang tersungkur menerima tinjuan, memberikan kontak mata untuk memberitahu Kenzie untuk cepat kabur.
Reyhan terlihat kesakitan karena di tinju, sampai dirinya berguling kesana kemari. Penghinaan ini belum pernah dilihat oleh Kenzie.
Kenzie juga sudah tidak tahan.
“Cukup!!!” Kenzie berteriak di depan orang-orang itu.
“Jangan pukul lagi! Baru saja aku menelepon polisi, sebentar lagi mereka akan sampai!”
“Prok, prok, prok……” dari Bugatti Veyron hitam di sebelah tiba-tiba terdengar seseorang bertepuk tangan.
Kenzie menengok ke belakang, seseorang sedang duduk disana.
Orang ini bersiul, lalu orang-orang berbaju hitam itu pun berhenti. Secara bersamaan memberi salam “Tuan Fedde.”
Tuan Fedde? Kenzie masih belum terpikir siapa dia. Di sebelah telinganya terdengar ada yang memanggil: “Ayah.”
Ayah? Kenzie pun ternganga.
Ayah Reyhan duduk diam di dalam mobil dan melihat anaknya dihajar oleh anak buahnya sampai seperti ini?
Atau jangan-jangan orang-orang berbaju hitam ini adalah suruhan Ayahnya?
Di dunia masih adakah Ayah yang seperti ini?
Melihat Reyhan yang sudah babak belur, hati Kenzie mulai memanas seperti terbakar api, ia datang menghampiri mobil itu dan berteriak di depannya: “Apakah kamu Ayahnya Reyhan? Kenapa kamu melakukan ini padanya? Apa kamu sudah gila?! Mana ada Ayah yang melakukan ini pada anaknya!”
Tidak ada respon apapun.
Di sebelah kepala Kenzie tiba-tiba sudah ada pistol.
“Berhenti!!!” dari belakangnya Reyhan berteriak, dan melanjutkannya: “Kalau kalian berani menyentuhnya, akan aku habisi kalian semua!”
“Ok. Kalian semua bubar!” orang di dalam mobil itu memerintah seakan-akan mereka benar-benar menyerah.
Mobil itu pun pergi, di jalan kini hanya tersisa Kenzie dan Reyhan, pertarungan baru saja terjadi, seakan tidak pernah terjadi.
“Kenzie!” Reyhan berteriak.
Kenzie menengok ke belakang, Reyhan masih terbaring di tanah, wajahnya memar, dan masih ada bekas darah di mulutnya, rambut dan bajunya pun sudah sangat kotor, terlihat sangat berantakan. Mata Kenzie penuh amarah dan ia berkata: “Siapa suruh kamu banyak ikut campur! Kamu tahu tidak kalau barusan itu sangat berbahaya!”
“Kamu!” Kenzie baru saja ingin berbicara, tetapi mata Reyhan sudah tertutup.
__ADS_1
Kenzie menjadi tak tenang, ia melihat Reyhan benar-benar sudah tidak sadarkan diri.
Rumah Sakit St. Louis
Di luar ruang gawat darurat, Kenzie berjalan tak tennag kesana kemari dengan melipat tangannya.
Hari ini berlalu dengan sangat menegangkan.
Kenzie selalu mengira bahwa Reyhan adalah seorang tuan muda yang manja, oleh karena itu sikapnya sangat keras dan dingin.
Ia tidak pernah mengira, Reyhan memiliki ayah yang gila, yang hampir menghabisi nyawa anaknya, bahkan masih melayangkan pistol di kepala anaknya sendiri.
Kenzie merasa ia bertemu dengan sebuah keluarga yang gila.
“Nyonya Kenzie! Nyonya Kenzie!”,Paman Lee pengurus rumah datang membawa sekelompok orang.
Kenzie baru saja menggunakan ponsel Reyhan untuk menghubunginya, ia tidak berani memberi tahu masalah ini kepada Kakek Reyhan, takut ia terkejut dan jantungan.
“Nyonya Kenzie, bagaimana kondisi tuan muda sekarang? Sebenarnya apa yang terjadi?”
“Masih tidak tahu, ia masih dalam pemeriksaan.” Kenzie melirik pintu ruang gawat darurat.
Kenzie menyimpan rasa kalut di hatinya.
Kenzie tahu pengeroyokan Reyhan ada hubungannya dengan dirinya. Jika bukan karena ingin menyelamatkan Kenzie, Reyhan pasti tidak akan dipukul sampai separah ini.
Saat dipukuli pun, Reyhan masih memperhatikan Kenzie, masih menyuruhnya untuk kabur. Walau terlihat dari tatapan matanya ia kesakitan.
Kenzie mulai berbicara dalam hatinya.
Apakah Reyhan benar-benar menyayanginya?
Lampu di ruang gawat darurat padam, dokter keluar dan berbicara dengan bahasa inggris, bicaranya sangat cepat. Kenzie pun kebingungan mendengarnya. Ia hanya bisa mengandalkan Paman Lee.
“Tulang rusuknya patah, selain itu tidak ada masalah lain.” Paman Lee dengan menghela nafas menjelaskan ini kepada Kenzie.
Reyhan dibawa keluar dengan cepat, hidungnya dipasangkan alat bantu oksigen, matanya masih terpejam, luka darah di bibirnya sudah dibersihkan oleh dokter.
Reyhan kini dibawa ke ruang rawat yang sangat mewah. Semua fasilitas di ruangan ini baru dan terlihat mahal, dan ada 4 orang perawat yang akan menjaganya.
Kenzie duduk di sebelah Reyhan, hatinya sangat kacau.
Di dalam tidurnya, Reyhan seperti kehilangan karisma ketampanannya, wajahnya yang penuh luka, rambutnya berantakan, .
Melihat Reyhan dengan jarak dekat seperti ini, membuat hati Kenzie semakin kacau.
Semua yang Reyhan lakukan hari ini untuknya benar-benar membuatnya terkejut, semua ini seperti mengarah ke satu hal: Reyhan benar-benar menyayanginya.
Rok yang digenggamnya adalah rok seharga 10.000 yuan, tetap kini sudah kotor tak bernilai.
Demi dirinya, Reyhan menghabiskan uang ini dan memberikan semua yang terbaik untuknya.
Kenzie selalu berpikir kalau Reyhan adalah keturunan konglomerat, Reyhan selalu membelikannya barang mungkin karena baginya uang itu tak seberapa dan tak ada artinya.
Melihat situasi sekarang, sepertinya kenyataan yang ada bukan seperti yang dipikirkannya.
Kenzie sampai pusing memikirkan hal ini.
Jika Reyhan benar-benar menyukainya, ini akan menjadi hal yang rumit.
“Nyonya Kenzie minumlah ini!” Paman Lee memberinya segelas lemon tea sambil melihat ke arah Reyhan dan berkata: “Nyonya Kenzie, di dalam ada kasur, kamu bisa beristirahat disana. Tuan muda juga akan segera terbangun sebentar lagi.”
“Tidak apa, aku tidak mengantuk.” Kenzie dengan lembut mengucapkan terima kasih.
Di saat seperti ini mana bisa ia tertidur? Bukan karena khawatir dengan kondisi Reyhan, tetapi karena hari ini banyak terjadi hal-hal yang tidak terpikirkan olehnya.
Pria berbaju hitam berdarah dingin, Ayahnya yang misterius……
Bukankah Keluarga Reyhan adalah keluarga yang kaya raya? Kenapa tindakannya seperti preman?
__ADS_1
Ia bertanya: “Orang seperti apakah Ayahnya Reyhan?”
Mendengar pertanyaan itu, Paman Lee terdiam dan ekspresi wajahnya berubah. Ia menatap Kenzie dan berkata: “Nyonya Kenzie, hal yang tidak seharusnya dibicarakan janganlah dibicarakan, simpan saja hal itu di dalam hatimu.”
……
Sebenarnya semisterius apa dia? Mengapa menyebutkan namanya saja tidak boleh? Keluarga seperti apakah keluarga Reyhan sebenarnya?
Kenzie terus menebak-nebak tetap saja ia tidak menemukan jawabannya. Ia pun berhenti memikirkannya.
Di ranjang rumah sakit, Reyhan tertidur dengan tenang, di bibirnya masih ada sedikit luka yang mulai mengering.
Kenzie merendam kapas di air panas dan membersihkan bibir Reyhan, serta menggunakan jari tangannya untuk menyisir rambut Reyhan yang berantakan.
Reyhan terus tertidur, sampai matahari terbit barulah ia terbangun. Sepasang mata itu mulai menatap Kenzie.
“Sudah bangun?” Kenzie yang duduk di kursi dekat kasur melihatnya terbangun.
“Iya.” Reyhan berusaha untuk duduk, tapi ia merasa kesakitan sampai mengelus dadanya sendiri.
Ia semakin membenci anak buah Ayahnya.
“Tulang rusukmu patah, beberapa hari ini kamu lebih baik istirahat disini, jangan banyak bergerak.” Kenzie menjawab sambil menekan tombol kasur untuk menaikkan kasur itu.
“Sialan!!” Reyhan mengerutkan alisnya.
“Kamu istirahat lah disini!” Kenzie berbicara pelan ke Reyhan.
Semua perawat yang seharusnya menjaganya, tak kuasa menahan kantuk, dan akhirnya mereka pun tertidur di sofa di luar ruang itu.
Wajah Kenzie terlihat lebih pucat dari pagi tadi.
Hal ini membuat Reyhan tidak nyaman.
“Kenzie, tidur sana!” Reyhan menyuruhnya.
“Aku tidak mengantuk.” Kenzie menggosok matanya dan berkata: “Mau aku kupaskan apel?”
“Jangan cari masalah! Pergilah tidur!” Reyhan semakin tidak nyaman.
Kenzie tidak menghiraukannya, ia malah mengupas apel.
“Kenzie! Apa kamu menganggap apa yang aku katakan itu hanya angin lewat?!” Reyhan mulai kesal: “apakah kamu mau mati?”
Wanita ini semakin tidak menghiraukannya! Benar-benar keterlaluan!
Saat Reyhan dipukuli, Kenzie dengan berani meneriaki ayahnya.
Sebenarnya Reyhan adalah anak Fedde, ia juga yang memberi Reyhan pelajaran dengan memukulinya, tapi ia tidak akan membunuhnya.
Tetapi Kenzie berbeda, kalau ia memarahi Fedde, ia mau punya 10 nyawa pun tetap akan mati.
Kenzie memang tidak menghiraukan kemarahan Reyhan, dan masih saja mengupas apel.
Reyhan sudah kesal sampai alisnya mengerut, ia bahkan menjulurkan tangannya untuk mencegahnya, tetapi sekali tangannya bergerak, dadanya terasa sakit. “Aish……”
Mendengar suara Reyhan, Kenzie berhenti sejenak dan melihatnya: “sakit tidak? Aku akan memanggilkan dokter untukmu.”
“Tidak perlu.” kata Reyhan.
Keduanya berhenti berbicara. Reyhan pun juga tak ingin Kenzie pergi meninggalkannya.
Reyhan dengan setengah bersandar menyaksikan Kenzie yang memotong apel.
Kenzie memotong apel dengan penuh hati-hati dan dalam diam, tidak seperti Kenzie yang pergi melawan Fedde tadi.
“Kenzie, keberanianmu sangat besar. Kamu berani berteriak kepada Fedde, kamu tidak tahu dia itu seperti apa?”
“Seperti apa? Orang kaya raya di Eropa yang misterius?”, Kenzie menjawabnya.
__ADS_1
Wanita ini benar-benar polos, ia hanya melihat penampilannya saja.
“Ia melakukan segala hal tergantung dengan suasana hatinya, pernah sekali bodyguardnya mengatakan sesuatu kepadanya, body guard itu langsung ditembak 2 kali olehnya.” Reyhan menjawab sambil menatapnya ingin melihat respon dari Kenzie.