
Keesokan harinya...
Sesuai kesepakatan, akhirnya Jasmine mau dinikahi oleh Arsen. Namun dengan satu syarat, Jasmine ingin tinggal di Jakarta. Ia tak ingin tinggal di Bandung lagi. Soal kuliah Jasmine memilih online sampai rasa takut yang ia rasakan hilang.
Tak lupa, di dalam Perjanjian pra nikah mereka, Jasmine juga mencantumkan syarat, bahwa ingin Arsen menceraikannya ketika usia pernikahan mereka satu tahun atau jika perlu enam bulan juga tidak apa, yang penting Jasmine tidak ingin menjalin hubungan terlalu lama dengan pria jahat itu.
Di samping alasan itu, Jasmine juga ingin melanjutkan hidupnya tanpa bayangan itu lagi. Jasmine juga tak ingin jika Arsen menemuinya. Meskipun hanya sekedar say hallo.
Pokoknya setelah menikah, Jasmine tetap ingin menjadi orang lain untuk Arsen. Begitu pun sebaliknya.
Sedangkan Arsen, dia tidak mau bodoh mengorbankan karirnya hanya karena masalah yang menurutnya sepele ini. Bahkan dia sangat marah ketika mami dan papinya melarang dirinya untuk bertanggungjawab.
"Cukup, Mi... Arsen lelah mami papi atur terus. Apa kurang cukup kalian memisahkan Arsen dengan wanita yang Arsen cinta. Gara-gara kalian, Arsen seperti orang bodoh yang menyerang pihak benar. Gara-gara kalian Arsen seperti keledai dungu yang tak tahu jika dirinya dipermainkan. Jadi Arsen mohon, tolong jangan ikut campur lagi urusan Arsen. Biarkan Arsen sendiri yang memutuskan!" ucap Arsen kesal.
"Menikah dengan pembantu, kau gila?" tanya Deren.
"Aku tidak gila, Pi. Aku hanya mau bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan." Arsen menatap kesal pada kedua orang tuanya.
"Gadis miskin begitu kamu kasih uang juga dia mau. Tak perlu menikahi segala!" ucap Lika.
"Mami tidak tahu siapa yang berada di balik gadis itu, kan? Makanya mami bilang begitu?"
"Memangnya siapa yang mau membela gadis miskin rendahan seperti dia?" tanya Lika, kesal.
"Mami ingat Agus?"
"Ya... Agus anaknya Pak Kopassus itu?"
"Ya... dia yang ada dibalik gadis itu. Ada lagi bosnya Agus, pemilik sekaligus pemimpin di Pataya Velery Grup. Mami tahu seberapa kaya dia? Mami mau tahu seberapa kuat dia? Hanya dengan jentikan jari dia bisa saja membumi hanguskan kita Mi. Membumiganguskan karir Arsen. Mami mau Arsen hancur seperti itu? " tanya Arsen, emosinya semakin membara. Sebab mengungkapkan identitas pria itu, sama hal nya dengan menghancurkan hatinya. Bagaimana tidak? Wanita yang Arsen gadrungi selama ini telah di peristri oleh pria pemilik power yang tidak main-main.
"Kau gila? Gadis murahan begitu mana mungkin punya back up sebegitu kuat?" tanya Lika tak percaya.
__ADS_1
"Cek saja kalo Mami tidak percaya!" tantang Arsen.
"Dari mana kamu tahu?" tanya Deren.
"Kakak dari Jasmine adalah sahabat dari pemilik perusahaan itu. Itu sebabnya dia mudah mendapatkan bantuan!" Jawab Arsen sesuai dengan apa yang ia tahu selama ini.
"Benarkah? jika begitu baiklah. Kamu nikahi saja dia. Papi merestui!" Jawab Pak Deren.
"Apa Mami Papi mau tahu satu hal lagi? Hal yang membuat Arsen hancur?" tanya Arsen dengan tatapan nanar.
"Hancur? Kenapa hancur?" tanya Lika heran.
"Karena pria itu... pria yang bisa membuat kita hancur adalah suami dari Davina yang sekarang!" jawab Arsen terbata. Sekali lagi, menyebut nama Yoga adalah arti dari kehancurannya. Baik secara hati maupun raga jika ia berani bertingkah.
"Tidak! Kamu jangan ngarang, Arsen!" tolak Lika.
"Nggak, Mi. Mana ada Arsen ngarang. Kalo kalian tidak percaya, mari ikuti Arsen ke rumah sakit. Pasti pria itu ada bersama Vina. Karena pria itulah yang mengancam Arsen untuk menikahi pembantu kita," jawab Arsen sesuai fakta yang ia alami.
Deren dan Lika tak mampu berucap apapun. Karena di samping masalah ini, mereka juga punya kesalahan yang mungkin akan membuat suami Davina murka pada mereka.
Arsen diam. Karena ia lelah melawan. Lelah memilih. Arsen pasrah, apapun yang nantinya akan terjadi pada dirinya.
Tak ada perbincangan lagi. Namun mereka yakin, jika apa yang apa yang mereka pilih saat ini adalah keputusan yang tepat.
***
Di sebuah kamar hotel, terlihat dua sejoli sedang bersiap untuk menghadiri acara pernikahan salah satu adik sahabat mereka.
"Sudah siap, Yang?" tanya Vina pada suaminya.
"Belum, Yang. Parfumku nggak ada ini. Ke mana ya? Kamu nggak bawain kah?" tanya Yoga
__ADS_1
"Astaga! iya, Yang, aku lupa! Jadi gimana dong?"
"Nggak pa-pa lah, atau nggak bagi parfum kamu saja. Mana?" pinta Yoga.
Vina pun segera mengambilkan parfum miliknya. Lalu menyemprotkan parfum tersebut di area yang ia kehendaki.
"Wangi juga parfum kamu, Yang. Parfum apaan ini?" tanya Yoga sembari mencium beberapa kali ujung telapak tangannya.
"Itu boleh di kasih sama temen, Mas!" jawab Vina.
"Di kasih, sama temen? Cewek apa cowok?" tanya Yoga, terlihat tak suka.
"Emak-emak, Mas. Ya Tuhan.. gitu aja melotot. Emak-emak, yang hari itu anaknya Vina bikinkan kue ultah."
"Ohh, kirain cowok. Kalo cowok bakalan ku patahin tangannya. Berani sekali dia menyentuh milikku!"
"Ya Tuhan, cemburunya. Jangan gitu ah. Nggak baik. Nanti kurus loh!" canda Vina.
Yoga tersenyum. Menurutnya Candaan Vina sangat garing, tapi renyah.
"Sayang, Mas mau kasih tahu kamu sesuatu. Tapi jangan kaget ya! Jangan pula terpesona!"
"Ya, Mas! Apa? Kasih tahu apa?" tanya Vina.
"Sebenarnya, Mas mau kasih tahu kamu semalam. Cuma Mas masih belum punya kalimat yang pas buat kasih tahu kamu. Tapi sekarang, biar kamu nggak shock shock amat, Mas kasih tahu sekarang aja!"
"Ya, ada apaan sih Mas? Kok kayaknya penting gitu!"
"Ya, Sayang. Ini sangat penting. Jadi.... Pria yang melakukan tidak asusila pada Jasmine adalah dia, Yang!" ucap Yoga, sembari menatap sang istri.
Meski belum tahu pasti, tapi Vina tahu siapa pria yang di maksud suaminya. Hati Vina mengatakan, jika pria itu adalah dia. Tapi benarkah?
__ADS_1
Vina masih terdiam, tercengang, sibuk mengatur pikirannya.
Bersambung...