
Ayu tercengang ketika melihat seseorang yang digandeng oleh Vina. Pria itu terlihat sangat nurut ketika Vina membawanya ke tempat di mana ia berada.
Bukan hanya itu, Ayu juga tidak habis pikir. Kenapa bos besarnya ada di sini? Dan bergandengan mesra dengan sahabatnya. Seolah mereka adalah sepasang kekasih.
"Assalamu'alaikum, Yuk! Kenapa bengong?" tegur Vina sembari menepuk pundak sahabatnya. Membuat Ayu terkejut dalam diam.
"Eh, iya apa. Waalaikumusalam!" jawab Ayu gugup.
Vina tahu kenapa sahabatnya seperti itu. Ia pasti shock melihat dirinya datang bersama pria yang hampir setiap saat mereka ghibahin.
"Kenapa bengong?" tanya Vina, sembari tersenyum.
"Ah tidak. Maaf, Pak, boleh saya pinjam teman saya sementara?" tanya Ayu sembari menarik dan memisahkan tangan Yoga dari sahabatnya.
"Oh, oke," jawab Yoga tak kalah bingung.
Spontan, Ayu pun menarik tangan Vina dan mengajak sahabatnya itu menjauh dari Yoga.
"Eh.. lu gila ya, ngapain ke sini sama bos kita. Udah gitu pakek gandengan tangan segala. lu jangan gitu, Vin. Jangan jadi pelakor. Kan lu udah ada laki juga. Gimana sih?" cecar Ayu kesal.
"Oh, iya, aku lupa. Habis tadi ketemu di lobi. Terus aku bilang mau ketempat elu. Dan dia mau ikut, ya udah aku ajakin," jawab Vina, ngarang.
"Ih, kamu ma, Vin. Terus gimana kalo sampai istrinya tahu. Lu cari penyakit, Vin!" ucap Ayu lagi.
"Iya, sorry. Udah jangan bahas dia. Biarin saja dia di situ. kan niat beliau baik, mau jenguk adik lu kan. Udah samperin dia, sapa. Dosa loh orang punya niat baik malah dicuekin!" jawab Vina, masih sengaja tak mau memberi tahu Ayu bawa Yoga adalah suaminya.
"Oh, iya juga ya. Sebaiknya aku ke sana. Sapa beliau. Bilang makasih juga. Eh, lu awas ya, jangan gandengan tangan lagi sama dia. Aku marah Vin. Aku nggak mau lu jadi pelakor. Aku nggak mau lu selingkuh. Paham!" ucap Ayu memperingatkan.
"Oke, Bu. Saya paham. Sudah sana, habis ini pengacara lu bakalan dateng. Mau nanya soal kedatangan bos adek lu," jawab Vina, santai.
__ADS_1
"Oke, oke!" jawab Ayu seraya melangkah mendekati Yoga.
"Selamat malam, Pak!" sapa Ayu.
"Ya, malam," jawab Yoga singkat.
"Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas kedatangan, Bapak. Tapi adek saya sudah sembuh, Pak. Makasih banyak sebelumnya," ucap Ayu, gugup.
"Iya tak masalah," jawab Yoga. Lagi-lagi dengan jawaban super singkat. Membuat Vina yang saat ini ada di antara mereka berdua tersenyum menahan tawa.
Menurutnya drama yang tersaji di depan mata ini sangat menggemaskan.
"Vin, jangan tawa terus ah. Malu ada bos," ucap Ayu sembari menarik tangan Vina.
"Iya, aku tahu. Habis kamu gitu banget." Vina terkekeh. Sedangkan Yoga hanya melirik sambil tersenyum.
"He, maafkan teman saya, Pak. Dia memang nge fans sama Bapak. Tapi dia udah janji kok, nggak bakalan naksir Bapak," ucap Ayu, sembari tersenyum malu.
Di tengah ketidaknyamanan yang dirasakan oleh Ayu, Tiba-tiba datang lagi dua pria gagah mendekati mereka. Terang saja, kedatangan mereka berdua sukses membuat Ayu tercengang.
"Vin, mereka pada mau ngapain ke sini?" tanya Ayu gugup.
"Mau bantu selesaiin kasus lu lah, Yu. Mau ngapain lagi?" jawab Vina.
"Ohhh... " jawab Ayu masih tak percaya dengan apa yang dia lihat.
Tiga pria muda dengan pesona yang berbeda. Namun tetap nyaman di pandang mata. Apa lagi asisten bosnya itu. Sungguh parfumnya saja bisa mengalihkan perhatian Ayu. Astaga, gadis ini ndeso sekali.
"Yu... lu oke?" tanya Vina.
__ADS_1
"Oke, Vin. Tapi aku nggak tahu, mereka ke sini mau ngapain?" tanya Ayu gugup.
"Astaga, itu lagi di tanyain. Mereka ke sini mau bantu lu cari solusi buat masalah adek lu. Gimana sih?" jawab Vina lama-lama geram.
"Ohhh... oke," jawab Ayu, seketika terdiam. Apa lagi melihat ketiga pemuda itu bercengkrama. Bukan pakai bahasa seperti kita. Mereka berbicara dengan bahasa campuran. Sehingga membuat Ayu yang saat ini sedang tidak fokus menjadi lebih oleng.
"Emmm, Mbak Ayu... bisa kita bisa kita bicara?" tanya Vincent, selaku kuasa hukum yang di siapkan Yoga untuknya.
"Ya, tentu saja. Silakan duduk," jawab Ayu seraya mengajak mereka duduk di kursi ruang tunggu.
"Jadi gini, Mbak Ayu. Sebelumnya kami minta maaf karena belum menyerahkan kasus ini sepenuhnya pada pihak yang berwajib. Kami berpikir, jika kasus ini masuk ke ranah hukum, kesempatan untuk memutar balikkan fakta sangat besar. Mengingat keluarganyanh kita hadapi bukanlah keluarga biasa. Ini bukan saya takut menghadapi mereka, hanya saja saya kasihan dengan adik Anda. Dia masih kuliah, nanti kalo kalah, takutnya dia beban mental juga," ucap Vincent berusaha menyampai hasil diskusi antara dirinya dan kedua pria yang lebih berkuasa atas kasus ini.
"Iya, terus?" tanya Ayu.
"Tadi saya dan teman saya ini sudah ngobrol dengan pelaku. Dia mau bertanggungjawab atas apa yang dia lakukan. Asalkan Mbak sebagai wali menyetujuinya," jawab Vincent, jujur.
"Bertanggungjawab dalam bentuk apa? Kalau cuma finansial aku nggak mau," jawab Ayu tegas.
"Tidak, dia nggak bertanggung jawab hanya soal itu. Tapi dia akan bertanggungjawab secara moril juga. Saya tahu jika ini bukan keputusan yang pas. Menikahkan pelaku pemerkosaan dengan korban, itu adalah sesuatu yang sangat salah menurut saya. Tetapi, kita ambil sisi positifnya. Jika seandainya terjadi seuatu pada adik Anda, misalnya dia hamil atau mengenai kesuciannya, ini bisa dipertanggungjawabkan melalui pernikahan. Bagaimana?" Jawab Vincent lagi.
Ayu terdiam. Rasanya sangat mustahil menyerahkan sang adik pasa pria jahat itu. Tapi, jika tidak mengizinkan adiknya menikah, lalu pria mana yang mau menerima sang adik dalam keadaan sudah ternoda seperti itu.
"Saya tidak tahu harus menjawab apa. Bolehkan kasih saya waktu untuk berpikir. Setidaknya untuk membicarakan masalah ini dengan adik saya," jawab Ayu memohon.
Ketiga pria itu mencoba mengerti. Karena masalah ini memang sangat rumit. Jangankan Ayu dan Jasmine yang mengalami. Ketiga pria yang mendampinginya saja ikut pusing memikirkan ini.
Bersambung...
sambil nunggu mak update, kalian bisa kepoin karya sahabat emak😍Stetun😘😘😘....
__ADS_1