
Tiba-tiba, cahaya lampu senter dari arah yang jauh tersorot kearah mereka.
Suara Nindi terdengar semakin jelas, “Kenzie, kamu dimana? Kenzie…”
Kenzie segera mencari ponselnya, ponselnya tadi dirampas dan dimatikan oleh Reyhan, Nindi tidak dapat menghubungi dirinya, Nindi pasti sangat cemas.
Kenzie ingin menghubungi Nindi, tapi ia baru sadar kalau dia belum mengenakan pakaiannya. Kenzie segera mengambil dan memakai pakaiannya.
“Kenzie, ayo pulang bersamaku?” Reyhan menggenggam tangannya dan tidak membiarkannya memakai pakaiannya.
Walaupun tadi ia sudah sangat puas, tapi ia merasa masih belum cukup menikmati Kenzie.
“Tidak. Bukannya kita berdua sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi? Kamu kenapa seperti ini lagi?” Mendengar suara teriakan Nindi yang semakin jauh, Kenzie semakin khawatir, sudah selarut ini, Nindi sendirian mencarinya kemana-mana, kalau terjadi apa-apa, ia harus bagaimana!
“Aku tidak bisa melepaskanmu, aku menyesalinya.” Reyhan mengatakan kalimat ini dengan nada yang sedikit gugup.
Jika sebelumnya, kata-kata seperti ini tidak akan keluar dari mulut Reyhan. Tapi hari ini, demi Kenzie, ia rela menurunkan martabatnya dan mengatakan kata-kata itu.
Kapan seorang Reyhan pernah berbicara seperti ini kepada perempuan? Selama ini hanya perempuan yang mengatakan hal-hal seperti ini kepadanya, tidak pernah sekalipun ia mengucapkan kata-kata seperti ini kepada perempuan.
Dilihat dari ekspresi dan respon dari Kenzie tadi, Reyhan percaya bahwa Kenzie akan menerimanya.
Reyhan sudah bisa memprediksi watak Kenzie dengan sangat jelas, Kenzie adalah tipe orang yang tidak bisa dikasari, sedikit menurukan nada bicara, pisau didalam dirinya, tidak akan lagi setajam itu.
Kenzie melepaskan tangan Reyhan, lalu segera mengenakan pakaiannya.
Didaerah sekitar sini, dua hari yang lalu baru terjadi kasus pembunuhan, katanya ada orang jahat yang meneror dan memperkosa wanita disekitar sini, jika wanita itu melawan, pembunuh itu akan memperkosa korbannya dulu, lalu membunuhnya.
Kenzie sama sekali tidak mengerti apa yang sedang dikatakan Reyhan, Kenzie bergegas mengenakan pakaiannya sambil berkata, “Reyhan, kita tidak cocok. Lebih baik kita jadi teman biasa saja.”
Kenzie langsung menyalakan ponselnya dan menghubungi Nindi.
“Kenzie!” Reyhan sudah bersungguh-sungguh dalam mengutarakan cintanya dan ternyata semua itu sama sekali tidak dihiraukan oleh Kenzie. Reyhan merasa dirinya akan meledak!
Wanita ini, benar-benar sangat susah ditebak! Tidak punya perasaan! Selesai mengenakan pakaiannya, langsung memalingkan wajahnya seperti tidak mengenaliku!
Reyhan merampas ponsel Kenzie dari tangannya lalu membuka jendela mobil dan dengan sekuat tenaganya melempar ponselnya keluar.
Nindi baru saja mengangkat telepon dari Kenzie. “Hallo, Kenzie! Kamu dimana?!” lalu diikuti suara yang mengejutkannya.
Kenzie hanya mendengar “Hallo” yang diucapkan Nindi, baru mau membalasnya, tapi ponselnya sudah terlebih dulu dirampas dan dibuang oleh Reyhan!
“Reyhan! Apa kamu sebenarnya menyadari apa yang sedang kamu lakukan?!” Kenzie melototinya dengan sekujur tubuhnya yang gemetaran karena marah, “Kamu ini seperti orang gila! Aku tidak akan kembali padamu! Tidak akan!”
Kenzie hendak turun dari mobil dan mendorong Reyhan dengan sekuat tenaganya.
Kalimat “Aku tidak akan kembali padamu.” benar-benar memancing amarah Reyhan yang sudah lama ia pendam!
Reyhan dengan keras mendorong Kenzie ke kursi belakang dan Reyhan merobek rok tipis yang dikenakan Kenzie menjadi serpihan-serpihan kain kecil.
__ADS_1
“Bagus! Kenzie, sekarang kamu hanya milikku!” Reyhan berkata dengan nada yang rendah dan mengikat tangan Kenzie kebelakang.
“Reyhan! Kamu gila! Psikopat! Aku benci padamu!!” Kenzie berusaha menjulurkan tangannya untuk memegang wajah Reyhan, tadi Kenzie sempat simpati padanya, sepertinya Kenzie benar-benar buta, laki-laki ini benar-benar adalah iblis, orang gila, psikopat!
Kenzie tidak mungkin bisa mengalahkan tenaga Reyhan, kedua tangannya sudah dipegang erat-erat oleh Reyhan, dan ia tidak dapat bergerak.
Kedua mata Kenzie hanya termenung melihat ke langit-langit mobil, ia seperti boneka kain yang tidak memiliki perasaan dan pikiran.
Ethan yang sudah tertidur pulas dibangunkan oleh nada dering ponselnya.
“Apa?!” Ethan menjawab dengan nada yang tinggi. Setelah mendengar suara dari telepon, amarah Ethan langsung mereda, “Ehm…, ada apa Nindi? Jangan nangis.”
Nindi langsung menangis tesedu-sedu dan berkata, “Ethan, Kenzie dia…sepertinya dia sedang dalam bahaya…tadi dia menghubungi aku, aku baru…mengangkatnya teleponnya…lalu langsung terputus…ada suara seperti barang dibanting…aku rasa, aku rasa dia diculik…”
Ethan mengerutkan dahinya. Kalau Kenzie memang sedang berduaan dengan Reyhan, harusnya tidak mungkin seperti ini.
Apakah jangan-jangan terjadi sesuatu?
“Ethan, cepat bantu aku…Ayo cari Kenzie! Kamu pergi…cari Reyhan…lihat dia ada di rumah atau tidak, jangan jangan…Reyhan sebenarnya sudah mengantar Kenzie pulang?” Nindi menangis sampai tidak bisa mengontrol nafasnya.
Ia benar-benar mengkhawatirkan Kenzie.
“Sudah-sudah, jangan nangis lagi, oke? Kamu dimana, aku segera kesana.” Ethan memang adalah orang yang sangat pengertian, mendengar suara tangisan Nindi, ia merasa hatinya tidak bisa menahan rasa sakit itu dan segera menurunkan nada suaranya.
Setelah melihat Ethan turun dari mobil, Nindi yang terduduk bengong disamping taman bunga pun tak bisa menahan air matanya dan menangis tersedu-sedu.
“Ethan, gara-gara aku…Kenzie hilang…”
Hati Ethan memang selembut kapas, dia berjalan dengan langkah yang besar menuju Nindi, dan menarik tubuh Nindi yang mungil. Nindi sudah duduk diluar untuk waktu yang lama sehingga tubuhnya terasa dingin.
Ethan melepaskan jaket yang mengenakan dan melingkarkannya diatas tubuh Nindi, dengan lembut ia menghapus air mata yang ada di wajah Nindi, “Sudah, jangan menangis lagi. Aku akan membantumu mencarinya. Kenzie akan baik-baik saja. Jangan khawatir!
Ethan memberikan senyuman manis yang menenangkan. Melihat tubuh Ethan yang tegap, Nindi pun merasa tenang berada disampingnya.
Ethan berusaha menghubungi Reyhan, tapi ponselnya masih tidak aktif. Ethan menelepon ke rumah Reyhan. Penjaga rumah berkata Reyhan belum pulang.
Aneh, Reyhan pergi kemana?
Sekarang mereka benar-benar tidak tau harus mencari Kenzie kemana, yang terpikir oleh mereka hanyalah mencari Reyhan dan menanyakan keberadaan Kenzie. Tapi mereka sama sekali tidak bisa menghubungi Reyhan!
“Nindi, kamu sudah mencari di daerah sekitaran rumah kalian?” Ethan tiba-tiba bertanya.
Kalau benar Reyhan kembali untuk bertemu Kenzie, mereka pasti pergi dengan mobil Reyhan. Bisa saja mereka masih di daerah sekitaran sini.
“A…, Aku tidak cari ke daerah sana…” perkatakan Ethan dalam sejenak menyadarkan Nindi, tadi waktu turun dari kamar, sepertinya dibawah ada mobil, tapi ia tidak lihat terlalu jelas karena sudah gelap dan terhalang oleh pohon.
Setelah dipikir-pikir, mobil itu sepertinya mobil Reyhan.
Ethan langsung berlari kesana.
__ADS_1
Mereka mengarahkan lampu senter dari jauh ke arah plat mobil itu, mereka berdua bertatap mata dan berkata, “Ini mobil Reyhan!” Ethan manarik tangan Nindi dan berlari kearah mobil itu.
Reyhan yang berada di dalam, merasa terganggu karena matanya tiba-tiba disoroti lampu senter.
“Sialan!” Reyhan mengeluarkan kata-kata kutukan, siapa, sudah malam begini masih saja berkeliaran dengan lampu senter! Kalau saja bukan karena ia hampir mencapai puncaknya, ia pasti turun dan menghajar orang itu.
Nindi membawa senter dan berlari menuju mobil Reyhan bersama Ethan.
“Rey…” belum sempat memanggil namanya, mereka sudah melihat jelas apa yang sedang mereka lakukan didalam mobil.
Tenyata Reyhan dan Kezie sedang berhubungan didalam mobil!
Wajah Nindi langsung memerah karena malu! Ingin rasanya ia menampar dirinya sendiri! Sialan, kenapa ia mengarahkan lampu senter itu kedalam mobil!
Ethan juga melihat apa yang terjadi didalam mobil, dengan canggung melihat kearah lain, lalu menarik Nindi dan berlari ke samping.
Kenzie yang didalam mobil juga terkejut sampai seolah-olah darah disekujur tubuhnya mengalir ke wajahnya!
Pasti yang tadi itu Nindi! Nindi memergokinya bersama dengan Reyhan! Kenzie merasa ingin mati saja!
Rasanya ia tidak berani bertemu dengan orang lagi!
Nindi dan Ethan duduk dibangku batu yang ada disekitar sana dengan ekspresi yang canggung, wajah Nindi sudah merah seperti tomat, untung langit sedikit berawan, jadi seharusnya Ethan tidak bisa melihat jelas ekspresi wajahnya.
Laki-laki memang seperti binatang, apa yang tadi mereka lihat membuat Ethan merasa seluruh darah ditubuhnya itu mendidih!
Wangi tubuh gadis disampingnya itu tercium karena hembusan angin malam, Ethan merasa sedikit tidak tenang. Tubuh Nindi sepertinya sangat manis…
“Untuk apa kalian datang?!” suara Reyhan mengejutkan Ethan dan Nindi. Lalu mereka pun menoleh kearahnya.
Reyhan dengan gaya marah berdiri didepan mereka, mata sinis itu seperti ingin membuat lubang di wajah mereka.
“Reyhan…maaf…kami tidak menyangka kalian…ehm ehm…” Ethan menjelaskan dengan nada yang gugup.
Siapa pun akan marah jika diganggu saat melakukan itu! Ethan memahami Reyhan.
Nindi terbengong sampai tidak dapat mengatakan apa-apa.
Ekspresi wajah Reyhan terlihat sangat tidak senang. Seperti ingin sekali menghajar Nathan.
“Kenzie dimana?” Nindi memberanikan diri untuk bertanya, walaupun tadi cuman tampak sekilas, tapi bisa terlihat jelas ekspresi wajahnya seperti tidak berdaya, ia sangat mengkhawatirkan Kenzie.
Reyhan tidak menjawabnya,membalikkan tubuhnya dan berjalan kembali ke mobilnya.
Ekspresi wajah perempuan itu sedikit menakutkan, Reyhan juga merasa sedikit gugup.
Setelah membuka pintu mobil, wajah Reyhan berubah menjadi putih pucat!
“A…a…!!” Nindi yang mengikuti dibelakang Reyhan berteriak histeris.
__ADS_1
Darah dimana-mana! Kenzie mengenakan pakaian yang robek, terbaring dikursi belakang dengan tidak berdaya, didalam tangannya, dia menggenggam sebuah pisau kecil.
Dipergelangan tangan kirinya, terdapat segaris luka goresan yang sangat dalam.