
Kenzie mengambil nafas dalam-dalam dan perlahan-lahan berdiri, dengan elegan dan percaya diri, ia mengulurkan tangan kanannya, tersenyum dangkal dan sopan, “Presdir Reyhan, sudah lama tidak jumpa.”
Presdir Reyhan.
Dia memanggilnya Presdir. Mata Reyhan menyipit, dan hatinya tiba-tiba terasa sangat sakit.
Sudah lima tahun, ia tidak mendengar berita tentangnya. Reyhan tidak tahu di mana Kenzie berada atau apa yang dia lakukan.
Dia tahu bahwa Kenzie sangat membencinya.
Dia juga sudah mencoba melepaskan Kenzie, mendengarkan kata-kata kakeknya, dan mencoba berhubungan dengan wanita lain.
Musim silih berganti, Reyhan pikir dia secara bertahap telah melupakan Kenzie, dan telah menerima kenyataan bahwa Kenzie tidak akan kembali ke dalam kehidupannya.
Namun, pada saat Reyhan mendengar namanya di telepon, ia seperti tersengat listrik, dan jantungnya berdetak cepat.
Sekarang, Kenzie berdiri di depannya, senyumnya begitu familiar, bahkan aroma tubuhnya yang samar masih sama dengan lima tahun yang lalu.
Namun, Kenzie memanggilnya dngan sebutan “Presdir Reyhan”.
Reyhan mengulurkan tangan dan menjabat tangan Kenzie. Jari-jarinya begitu lentik, dan sentuhan lembutnya masih sama seperti dulu.
Sementara itu, Kenzie dengan sopan menarik tangannya dari telapak tangan Reyhan.
Reyhan secara naluriah memandang mata Kenzie.
Kenzie malah tidak balik menatapnya, hanya tersenyum dan berkata kepadanya, “Karena Presdir Reyhan datang untuk bertemu kalian, maka aku akan pergi dulu. Kalian mengobrol dulu saja, aku pergi dulu!”
Nindi tahu bahwa Kenzie tidak ingin terlalu banyak bicara dengan Reyhan, dan dia menarik lengan Kenzie dan berkata, “Kalau begitu aku dan Kenzie pergi dulu, kamu mengobrol saja dulu dengan Presdir Reyhan!”
Keduanya mengambil tas mereka masing-masing dan hendak pergi dari restorran itu. Reyhan dengan cepat mengambil langkah yang panjang dan menghentikan Kenzie, “Kenzie, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu.”
Kenzie merasa tak berdaya.
Sikapnya baru saja menegaskan bahwa dia tidak ingin bicara dengannya sama sekali. Tapi Reyhan akhirnya mengatakan ini secara langsung, jika Kenzie masih bersikeras untuk pergi, sepertinya ini sedikit kekanakan-kanakan.
“Apa? Katakan saja.” Kenzie sedikit mengadahkan lehernya untuk menghindari pandangan mata Reyhan.
“Nindi, kamu tadi mengatakan bahwa kamu ingin pergi ke toilet, bukan? Kebetulan, aku juga ingin ke toilet, ayo pergi bersama!” Ethan benar-benar seorang pria yang pengertian. Ketika mendengar bahwa Reyhan ingin mengatakan sesuatu pada Kenzie, Ia segera menarik Nindi pergi.
Nindi diseret ke toilet oleh Ethan, dan dia hanya bisa mengatakan, “Ethan, kamu sedang apa! Kamu meninggalkan Kenzie dengan Reyhan sendirian, siapa yang tahu apa yang akan Reyhan lakukan?!”
Nindi masih ingin mengatakan sesuatu, tapi bibirnya ditutup oleh Ethan.
Di bawah bunga wisteria, suasana terasa sedingin es.
“Presdir Reyhan…” Kenzie perlahan membuka mulutnya dan memecahkan keheningan.
Presdir Reyhan mengatakan bahwa dia ingin mengatakan sesuatu kepadanya, tetapi dia terus terdiam. Suasana itu membuat Kenzie tertekan sehingga dia hanya ingin melarikan diri dengan cepat.
“Lima tahun yang lalu, aku berutang maaf padamu, aku tidak pernah punya kesempatan untuk mengatakannya. Aku baru bertemu denganmu hari ini, kuharap kamu bisa menerima permintaan maafku.”
__ADS_1
Suara Reyhan sangat rendah, dan sangat lambat, tapi Kenzie masih dapat mendengar setiap kata dengan jelas.
Dorongan samar di hatinya dapat Ia sembunyikan dengan sangat baik. Kenzie tersenyum dan berkata, “Ya, itu semua adalah masa lalu. Tidak perlu membahasnya lagi. Bukankah setiap orang harus melihat ke depan?”
Reyhan tersenyum dan sedikit terpana. Tampaknya Kenzie sudah melupakan semua hal-hal di masa lalu… “Aku ada urusan, aku harus pergi dulu, tolong sampaikan salamku pada Nindi dan Ethan.” Kenzie berkata dengan cepat dan tegas, tetapi ujung jarinya sedikit bergetar.
Ia mengambil tas di kursi, mencoba untuk tenang, Kenzie dengan cepat berjalan keluar dari restoran itu.
Matahari senja perlahan menghilang, dan Reyhan berdiri sendirian di bawah bunga wisteria. Angin mengangkat kelopak bunga bewarna ungu yang akhirnya jatuh di pundak Reyhan.
Nindi dan Ethan berdiri di luar toilet, dan menatap Reyhan dengan sedikit rasa simpati.
“Tidak bisakah Reyhan tidak menunjukkan bahwa ia kesepian?! Ini membuatku merasa simpatik untuknya.” Nindi mengerutkan kening, merasa sangat tidak nyaman.
Ethan memandang Nindi, “Apakah kamu masih tidak menyadari, setelah Kenzie pergi ke luar negeri, hidup Reyhan sama sekali tidak membaik?”
Nindi berpikir keras dan mengangguk, “Iya juga! Ia bahkan seperti orang yang berbeda. Reyhan yang dulu adalah orang yang sombong, dan sangat arogan. Sekarang dia sedikit lebih manusiawi.”
Ethan mencubit hidung Nindi, “Apa maksudmu? Reyhan adalah saudaraku, lain kali jangan mengatakan hal yang buruk tentangnya.”
Nindi meliriknya, “Kenzie itu teman baikku! Dia sangat menderita waktu itu, jadi wajar saja jika aku memakinya dan mengatakan 10.000 hal buruk tentang Reyhan!”
Mulut Ethan berkata, “Lihat, siapa yang lebih menyedihkan sekarang?”
Nindi menatap Reyhan dan tersenyum senang, “Rasakan! Kenzie sangat dingin terhadapnya, ini benar-benar membuat hati aku senang!”
Ethan menggelengkan kepalanya, “Kalian para wanita, benar-benar suka balas dendam!”
Nindi tiba-tiba teringat, “Hei, bagaimana Reyhan bisa ada di sini? Apakah kamu yang memberitahukannya tentang keberadaan kita?”
Nindi merasa agak aneh, “Mengapa dia sampai melakukan itu? Apakah Reyhan masih memiliki perasaan terhadap Kenzie?”
Ethan akhirnya tidak ingin mendengarkannya lagi, “Reyhan sangat tampan, banyak wanita yang menunggunya! Kenzie bukan peri, Reyhan tidak akan terus-terusan terobsesi padanya ! Aku rasa ia hanya merasa masih ada sesuatu yang mengganjak di hatinya.”
Nindi mengangguk, “Semoga begitu. Kenzie tidak mungkin akan menerimanya lagi. Aku sudah menyiapkan banyak pria yang berkualitas dan dapat diandalkan. Ketika Kenzie sudah siap, aku akan memperkenalkan mereka kepadanya satu per satu!”
Ethan segera memperingatkan, “Bagaimana kamu bisa mengenal banyak laki-laki berkualitas itu? Nindi, aku peringatkan kamu, jangan macam-macam!”
Nindi tersenyum licik seperti rubah kecil, “Hei, kalau begitu habiskan lebih banyak waktu bersamaku, perhatikan aku baik-baik setiap saat!”
Kenzie menghabiskan beberapa hari untuk mengatur perabotan apartemen. Setelah itu ia mulai mencari pekerjaan.
Dia tidak sabar untuk memulai hidup barunya.
Kenzie memiliki gelar dalam bidang hubungan masyarakat, dan memiliki pengalaman kerja selama satu tahun. Setelah Ia melamar ke beberapa perusahaan, Ia segera menerima pemberitahuan wawancara dari perusahaan hubungan masyarakat yang terkenal, Cavern Co..
Pada hari itu, Kenzie sengaja mengenakan rok yang pendek, dipadu dengan tas klasik Chanel 2.55, dengan wajah putihnya, sepasang mata besar dengan gelombang cahaya, rambutnya yang keriting alami, dan perawakannya yang manis, ia terlihat empurna.
Kenzie menghadap cermin dan bersorak untuk dirinya sendiri, “Semangat, Kenzie!”
Bangunan kantor Cavern Co. berada di pusat area perkantoran, tidak jauh dari tempat tinggal Kenzie. Mengikuti peta rute dalam pemberitahuan wawancara, dia berjalan menuju ke stasiun kereta bawah tanah dan menunggu kereta bawah tanah. Kenzie terkejut saat menemukan bahwa gedung kantor Cavern Co. berada di sebelah gedung Reyhan!
__ADS_1
Kenzie memandangi dinding tirai kaca Cavern Co. dan memandangi bangunan putih Reyhan. Tiba-tiba, dia merasa sangat tertekan.
Jika ia berhasil lolos wawancara ini, apakah dia akan sering bertemu Reyhan nantinya?
Kenzie menundukkan kepalanya dan merasa bahwa dia terlalu banyak berpikir.
Kenzie mengisi daftar pengunjung di aula, staf memasang label kuning “tamu wawancara” di lengan bajunya.
Di meja resepsionis ada seorang gadis kecil yang tersenyum sopan. Ketika melihat Kenzie, ia dengan sopan membuat isyarat, “Silakan pergi ke ruang 2107 dan menunggu wawancara. Sebentar lagi pihak kami akan memberikan anda segelas teh.”
Pintu 2107 terbuka lebar, di dalam ruangan itu ada sebuah meja bundar kecil dengan tanaman hijau dan rak buku di sebelahnya, diatur dengan sangat cantik, ini tidak tampak seperti ruang wawancara, leboh seperti ruang kerja di rumah.
Kenzie langsung memiliki kesan yang baik pada Cavern Co.. Perusahaan ini terlihat manusiawi dan terawat, membuat hatinya sangat nyaman.
Ia telah menunggu untuk beberapa saat, tapi pewawancara masih belum datang.Tak lama kemudian, resepsionis datang membawa nampan berisi air limun.
Kenzie berterima kasih kepada resepsionis itu dan berjalan ke arah jendela. Dia ingin melihat pemandangan di luar jendela.
Tatapan Kenzie menyapu dari jendela, matanya tiba-tiba membeku.
Bangunan di seberang jendela adalah bangunan milik Reyhan. Jaraknya antara gedung-gedung di pusat perkantoran itu sangat dekat. Bayangan pekerja di gedung seberang itu dapat terlihat dengan jelas.
Reyhan berada di lantai berapa? Apa yang sedang ia lakukan saat ini? Bukankah dia akan melamun dan menatap keluar jendela juga?
Kenzie tidak bisa menahan diri untuk melihat lantai 18. Dulu, di gedung lamanya, kantor Reyhan berada di lantai 18…
Detik berikutnya, Kenzie terkejut dengan tindakannya.
Apa yang dia lakukan! Mengapa Ia mencari sosok Reyhan?
Kenzie mengetuk kepalanya dengan jengkel.
“Permisi, apakah benar Anda nona Kenzie?” Pintu yang terbuka setelah sebelumnya diketuk dengan lembut sebanyak dua kali, lalu terdengar suara seorang pria yang bertanya dengan hangat.
Kenzie berbalik.
Seorang pria muda dengan kemeja merah muda muda dan jas hitam berjalan masuk ke ruangan dengan CV yang ada di tangannya.
Ketika dia melihat Kenzie, dia sepertinya terdiam sejenak.
Itu adalah pewawancara hari itu. Kenzie dengan cepat mengalihkan pikirannya, berjalan sambil tersenyum dan berjabat tangan dengannya, “Perkenalkan, aku Kenzie.”
“Saya adalah Direktur Hubungan Masyarakat, Gunadi. Silakan duduk!” Gunadi mengambil kursi dan duduk. Wawancara resmi dimulai.
Posisi yang dilamar Kenzie adalah design gambar dan publisitas untuk perusahaan, termasuk promosi dan penyebaran di beberapa jaringan.
Kenzie telah melakukan pekerjaan dalam bidang itu sebelumnya, saat ia berada di luar negeri. Wawancara itu berjalan sangat baik. Gunadi sangat puas. Di akhir wawancara, ia segera berkata, “Latar belakang dan CV nona Kenzie sangat cocok dengan posisi ini. Aku pribadi berharap kamu dapat bergabung dengan timku. aku akan memberi tahu HR untuk mengatur wawancara berikutnya untukmu, aku harap kamu berhasil!”
Perkataan Gunadi ini, pada dasarnya juga seperti sudah menerima Kenzie di perusahaan itu.
Wawancara dengan atasan langsung adalah bagian terpenting, selama putaran ini berhasil dilewati, yang lain hanya seperti wawancara biasa.
__ADS_1
Kenzie tersenyum cerah kepada Gunadi, “Terima kasih Direktur Gunadi! Masih ada dua wawancara yang tersisa, aku harus tampil dengan baik!”
Gunadi mengangguk sambil tersenyum, dan tiba-tiba topik berubah, “Kenzie, apakah kamu mengingatku?”