
“Reyhan, kenapa?” tanya Ethan.
“Masih berani bertanya, pasti Presdir Reyhan marah karena daritadi kita mengobrol bertiga saja.” ucap Nindi dengan pasti, dan percaya diri dengan dugaannya.
Ethan tertawa, hanya Nindi yang cara berpikirnya sepolos itu. Mata Reyhan menatap Kenzie, Kenzie dari awal sudah tahu.
Reyhan tiba-tiba marah, pasti karena Kenzie menghiraukan dia.
Ethan yang sudah mengenal Reyhan lebih dari 20 tahun lebih, tentu saja mengerti temannya itu.
Sepertinya Reyhan masih tidak bisa melepaskan Kenzie. Ethan pun menghela nafasnya.
Takut Reyhan berbuat yang aneh-aneh, Ethan cepat-cepat menarik dia ke toilet, “Nindi, Kenzie, kalian duduk dulu ya, aku dan Reyhan ke toilet dulu.”
Di dalam toilet, Ethan menyalakan rokoknya, lalu memberikan sebatang untuk Reyhan. Mereka berdua merokok dalam diam.
“Reyhan, aku tahu sulit bagimu untuk melepaskan Kenzie. Tapi, kenapa tidak mau mencoba untuk melepaskannya?” tanya Ethan dengan tulus, “kamu bisa memberikan waktu satu minggu, satu minggu ini, jangan mencari Kenzie, jangan bertemu dia, jangan mengirimkan pesan padanya, jangan meneleponnya. Kalau setelah satu minggu ini kamu tetap merasa bahwa kamu tidak bisa melepaskannya, kamu bisa bertemu dengannya lagi.”
Reyhan merokok dalam diam, tidak bicara apa-apa.
“Semua yang dipaksakan itu tidak baik, kalau kedua belah pihak saling menyukai, hubungan itu baru bisa menjadi hubungan yang membahagiakan. Kamu dan Kenzie, hanya bertengkar-baikkan-bertengkar-baikkan. Apa kamu tidak lelah?” Ethan merasa seperti perempuan Alisbaya yang cerewet.
Wajah Reyhan pun mengerut, ia menghisap rokok dalam-dalam. Lalu dia menatap Ethan, “tidak.”
Ethan jadi semakin khawatir, “Reyhan, jangan sampai kamu sakit hati, dan membuat dirimu sendiri lelah, hanya demi seorang perempuan saja!”
Matanya yang tajam itu menatap ke luar jendela, bicara dengan dinginnya, “Aku tidak akan melepaskannya. Tapi, aku akan memberikannya kebebasan selama satu minggu bahkan satu bulan!”
Ethan penasaran, “kamu ini sedang bermain permainan kucing dan tikus ya?”
Reyhan menjawab, “aku tidak percaya Kenzie tidak memiliki perasaan sedikitpun terhadapku! Aku akan memberikannya waktu satu bulan, agar dia bisa mengerti perasaannya dengan jelas!”
Kenzie memiliki perasaan sedikitpun terhadapnya? Kalau benar-benar tidak memiliki perasaan sedikitpun terhadap Reyhan, kenapa Kenzie hanya diam, tidak bicara apa-apa, kenapa dia tidak berani menatap mata Reyhan?
Dia tidak percaya kalau Kenzie tidak memiliki perasaan sedikitpun terhadapnya!
Tidak akan, aku tidak akan lepaskanmu. Kenzie, kamu tidak bisa kabur! Dua tangan Reyhan dikepal, matanya pun semakin dalam.
Waktu mereka kembali ke meja, makanan sudah datang. Ethan berjalan di depan, sengaja dia duduk di dalam, sedangkan Reyhan duduk di luar.
Dengan ini, Reyhan duduk di samping Kenzie.
Merasakan kuatnya aura Reyhan, Kenzie tiba-tiba merasa kedinginan. Pria ini seperti memiliki kekuatan yang aneh di tubuhnya, yang selalu membuat Kenzie takut.
“Kenapa kalian lama sekali di toilet? Apa kalian buang air besar?” Nindi selalu bicara blak-blakkan.
“Nindi kamu…” Kenzie marah tapi tak bisa menahan tawa melihat temannya. Hanya Nindi yang berani membicarakan ini saat sedang makan.
__ADS_1
Alis Reyhan mengerut, Nindi benar-benar cuek, bagaimana bisa Ethan menyukai perempuan seperti ini. Lalu dia melihat Kenzie yang menyenangkan hati, hatinya pun mulai membandingkan, memang Kenzie-lah yang terbaik.
Ethan sama sekali tidak peduli, dia tertawa menatap Nindi, “Nindi, bagaimana kamu tahu? Tadi kamu diam-diam mengikuti kami ke toilet ya?”
“Kamu!” Nindi melotot ke arah Ethan, lalu mulai makan, “Sudah, aku malas membalasmu! Kalian lama sekali, aku sudah lapar!”
Kenzie tidak nafsu makan, ia hanya makan sushi tuna.
Sushi di restoran ini sangat spesial, di bagian luarnya ada abon tipis yang garing, rasanya juga manis.
Kenzie makan dua sushi sekaligus. Saat dia hendak melanjutkan makannya, Reyhan yang berada di sampingnya bersuara, “Kenzie.”
“Hmm?” Kenzie memutar wajah, melihat Reyhan. Ini pertama kalinya Reyhan bicara dengan dia setelah kejadian di bar itu. Hatinya sedikit tergerak.
Reyhan malah menarik wajah Kenzie, dia ambil tisu di meja lalu mengelap sisa abon yang menempel di bibirnya.
Gerakan Reyhan cepat dan lancar, Kenzie pun kaget, bengong menatap Reyhan.
Reyhan sedang…Mengelap mulutnya?
Kenzie benar-benar kaget. Barusan bukannya Reyhan mengatakan ingin melepaskannya? Sejak saat ini mereka berdua harusnya sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi, kenapa Reyhan mengelap mulutnya? Itu kan seharusnya dilakukan oleh sepasang kekasih?
Melihat gerakan Reyhan, Ethan dan Nindi kaget.
Ethan bingung, tadi Reyhan berkata ingin memberikan Kenzie waktu satu bulan, sekarang ia mulai lagi.
Nindi malah iri.
Pria seperti ini sekalinya lembut benar-benar sangat menawan!
Apalagi seperti saat sekarang seperti ini, ia mengelap mulut Kenzie dengan lembut, gerakan dan ekspresinya benar-benar lembut, tampan sekali, sudah seperti kekasih idaman semua orang!
Nindi merasa semua asumsinya ke Reyhan salah! Sangat salah!
Reyhan itu mencintai Kenzie! Bukan hanya main-main!
Nindi tiba-tiba berada di pihak Reyhan, menjadi fansnya Reyhan!
“…” Kenzie tiba-tiba sadar dari lamunannya, cepat-cepat memiringkan kepala, menghindar dari tangan Reyhan.
Reyhan sudah selesai mengelap bibir Kenzie, dilihat dari gerakanya, Kenzie merasa tidak menyukai apa yang baru ia lakukan. Hanya mengelap mulut, kenapa Kenzie sampai menolak seperti itu?
Baru saja mau mengatakan sesuatu, Nindi sudah bicara terlebih dagulu, “Wah! Presdir Reyhan, kamu tahu tidak, barusan kamu romantis sekali! Seperti film-film! Aku baru sadar ternyata Presdir Reyhan sangat tampan ya!”
Reyhan dengan bangganya menatap Kenzie. Lihat, sekarang Nindi saja sudah terkena dengan pesonanya, sudah mengakui kalau dia itu pria tampan, hanya Kenzie yang buta tidak bisa melihat ini!
Kenzie merasa binggung dengan perubahan Nindi, “Nindi, mata kamu rusak ya?”
__ADS_1
Bagaimana ia bisa menganggap Reyhan itu tampan dan lembut? Gerakan dia mengelap mulut tadi sangat kasar, mulut pun sampai sakit!
Nindi menatap Reyhan penuh rasa kagum, “Presdir Reyhan, kamu tampan sekali! Aku jadi menyesal resign dari perusahaanmu!”
Setelah bicara, matanya pun langsung tertuju ke Kenzie, “Kenzie, aku rasa dia mencintaimu ! Kamu terima saja dia ! Kalian pacaran! Dengan ini aku bisa sering-sering menikmati ketampanannya Presdir Reyhan!”
Kenzie tidak bisa bicara apa-apa, saat ini ia merasa Nindi adalah teman yang jahat.
Hanya demi melihat pria tampan, Nindi menjadikan temannya sendiri sebagai umpan!
“Kamu ingin melihat pria tampan? Bukankah di sampingmu ini ada pria yang sangat tampan?” ucap Ethan sambil tertawa, hatinya sedikit asam.
Cara Nindi menatap Reyhan, membuat hati Ethan sedikit tidak nyaman. Ethan pria tampan, dia dan Reyhan salah satu dari 4 pria paling tampan di kota C, kalau hanya bicara penampilan, dia juga tidak kalah dengan Reyhan, kenapa Nindi hanya menatap Reyhan?
“Kamu terlalu percaya diri!” Nindi melirik Ethan, tiba-tiba dia teringat Ethan akan menjadi atasannya nantinya, dia pun langsung dengan cepat merayu, “Hei, sebenarnya kamu juga lumayan tampan, tapi matamu selalu penuh nafsu, sekali melihatumu, semua orang juga akan tahu kalau kamu bukan orang baik-baik.”
Setelah selesai bicara, Nindi baru sadar kalau dirinya salah bicara, dia langsung cepat-cepat tutupi mulutnya dengan tangan, matanya pun menatap Ethan dengan pandangan memohon, Nindi benar-benar ingin menggigit lidahnya sendiri.
Mendengar omongan Nindi, Ethan tidak marah sedikitpun. Ia berbicara dalam hati, “Kamu benar! Mataku memang selalu penuh dengan nafsu! Aku tidak akan berhenti mengejarmu!”
Akhirnya mereka selesai makan.
“Nindi, Kenzie, kalian tinggal dimana? Biar kamu yang mengantar kalian pulang.” Ethan berjalan sambil bicara.
“Hmm, tidak usah. Kita pulang sendiri saja.” Kenzie dengan cepat menolak. Dia tidak mau Reyhan tahu dimana ia tinggal.
Ethan mengerti maksud Kenzie, ia juga tidak memaksa.
Reyhan malah tidak peduli dengan omongan Kenzie, dia langsung ke parkiran dan mengambil mobilnya.
Tangannya membuka pintu penumpang, matanya yang tajam itu melirik Kenzie, “naik.”
Nindi cepat-cepat mendorong Kenzie, “Cepat, Presdir Reyhan ingin mengantar kamu pulang, cepat naik. Aku dan Ethan duduk di belakang saja.”
Nindi sekarang sangat bersemangat menjodohkan Kenzie dan Reyhan.
Reyhan memang dingin dan kasar, tapi sebenarnya dia adalah orang yang baik dan penuh perhatian. Caranya mengelap bibir Kenzie tadi akan membuat semua wanita yang melihatnya iri setengah mati
Mobilnya pun berjalan dengan lembut. Di kursi belakang Nindi dan Ethan sedang mengobrol dengan suara kecil.
Reyhan fokus menyetir mobil, dan Kenzie sedikit tegang, matanya menatap ke jalan di depan, tapi detak jantungnya sedikit tidak stabil.
Duduk bersama Reyhan di ruang yang kecil seperti ini, membuat Kenzie merasa sedikit tidak nyaman. Aura pria ini benar-benar sangat kuat.
Tiba-tiba Kenzie teringat semua barangnya ada di tempat Reyhan, Kenzie dalam hati menimbang-nimbang, harus memberi tahu Reyhan bahwa ia ingin memindahkan barangnya besok.
Sebenarnya dia tidak terlalu membutuhkan barang-barang disana. Dia bisa saja membeli baju dan sepatu beli baru.
__ADS_1
Hanya saja, ada sebuah kardus berisi peninggalan ayahnya, Kenzie belum membukanya sama sekali, ia tidak sanggup membukanya. Mengingat saat itu ayahnya sendirian di rumah sakit, tanpa siapapun di sisinya, tanpa ada yang menemani, kesepian sampai akhir hidupnya, hati Kenzie menjadi sakit, hingga tidak bisa bernafas.
“Hmm.. apa boleh aku ke rumahmu besok untuk mengambil barang-barangku?” Kenzie berkata dengan takut-takut. Tidak tahu kenapa, sekarang, setiap bicara dengan Reyhan, dia selalu merasa takut.