
Kehidupannya akhirnya kembali tenang, tenang seperti laut mati.
Nindi yang mengetahui Kenzie dan Reyhan sudah benar-benar putus, berkata, “Kenzie! Ini sangat bagus, sifat kalian berdua terlalu keras, kalau kalian bersama, pasti akan bertengkar terus, lebih baik seperti ini. Mau tidak besok aku atur pertemuan dengan Mario?”
Kenzie sedang berbaring lelah di atas sofa, memandang kosong ke luar jendela, “Tidak perlu. Aku sekarang sudah tidak tertarik lagi pada laki-laki.”
Nindi berteriak dengan kencang, “Tidak mungkin! Kamu ingin menjadi lesbian ya? Aku beritahu, jangan sampai menyukaiku! Kalau tidak kamu akan sengsara! Aku hanya menyukai laki-laki!”
Kenzie tersenyum dan menatapnya sebentar, “Tenang, bahkan jika kamu telanjang di depan mataku, aku juga tidak akan tertarik padamu.”
“Waaaaa! Kamu ini mesum sekali! Otakmu penuh dengan pikiran kotor! Pasti pengaruh dari Reyhan kan!” Nindi mengoceh dengan ekspresi kagetnya.
Reyhan… Kenzie terdiam sejenak dan mengganti topik lain, “Minggu depan kamu sudah mau nikah, apa semuanya sudah siap?”
Nindi mengangguk, “Semuanya sudah siap. Yang aku khawatirkan pengapit pria dan wanitanya tiba-tiba kabur.”
Nindi memiliki empat orang pengapit pengantin wanita, Kenzie dan Tania adalah salah satunya.
Reyhan adalah salah satu pendamping Ethan.
Kenzie menundukkan wajahnya ke sofa dan tidak bersuara.
Nindi cemas dan berkata, “Hei! Kamu benar-benar tidak akan meninggalkanku kan? Kamu dan Reyhan benar-benar mirip, sekali marah langsung mencampakkan orang lain begitu saja!”
“Bukankah Reyhan akan mendampingi Ethan?” tanya Kenzie.
“Hmm. Kemarin dia menelpon Ethan, katanya minggu depan ia harus berdinas ke luar kota, dia bahkan tidak bisa datang ke pesta pernikahan kami. Hmm, ini teman macam apa dia! Di waktu yang penting malah meninggalkan temannya, aku bahkan sudah berencana untuk menghasut Ethan untuk memutuskan pertemanannya dengan Reyhan!” kata Nindi yang sedang kesal.
__ADS_1
“Kalau begitu aku tidak akan mencampakkanmu, kamu tidak perlu mencari penggantiku.” Kenzie tidak bisa mengungkapkan perasaannya saat itu.
Ingin bertemu dengannya? tidak ingin bertemu dengannya? Ini adalah pertanyaan yang sulit di jawab bagi Kenzie.
Sejak bertengkar besar di hotel itu, Reyhan benar-benar memegang omongannya, ia tidak lagi muncul dihadapan Kenzie.
Setiap kali mendengar suara dering di ponsel nya, jantungnya selalu berdegup kencang, ia selalu mengambil dan melihat ponselnya dengan gugup, tapi, setiap kali profil yang muncul di ponsel nya itu, bukanlah Reyhan…
Reyhan benar-benar menghilang, benar benar hilang dari kehidupannya.
Setelah Nindi pergi, Kenzie menonton televisi seorang diri, kemudian mematikan televisinya, bahkan ia sendiri tidak mengingat apa yang baru saja ia tonton. Dia sedikit lapar, dalam kesepiannya, ia memasak mie untuk dirinya, membawanya ke meja makan dan makan sendiri, tiba tiba ia teringat saat dimana Reyhan duduk di hadapannya, memaksanya menghabiskan telur yang ada dim angkoknya, “Makan lebih banyak! Kamu terlalu kurus, kalau membawamu jalan-jalan, aku bisa malu!”
Telur di goreng kuning keemasan, dan aromanya menyebar kemana mana, tapi, didepannya tidak akan ada lagi orang itu, tidak akan ada yang memberinya makanan secara paksa, menyuruhnya makan yang banyak, menyuruhnya menambah berat badannya.
Hatinya semakin kesal, nafsu makannya pun hilang. Kenzie baru saja hendak mengangkat mangkok mie nya untuk di buang, ponselnya yang berada di sofa tiba-tiba berdering.
Sudah pukul 11 lebih, demi kesehatan janinnya, setiap malam Nindi tidur jam 10, jadi siapa yang menelponnya malam-malam begini?
Kalau ini hanya harapan kosong saja, ia tidak akan sanggup menjalani malam yang sunyi dan sepi ini.
Ponselnya terus berdering, Kenzie dengan tangan yang gemetar mengambil ponsel nya dan melihat nama penelepon… Reyhan.
Foto profilnya adalah foto Reyhan sedang tersenyum melihat kearahnya, hidung mancungnya yang tinggi, bibir yang tipis, dan tatapannya sombong…
Hati Kenzie penuh dengan kegirangan, Kenzie menarik nafas dalam dalam, dengan suara pelan menjawab, “Hallo?”
“Tante Kenzie, Ken rindu padamu! Kenapa kamu lama sekali tidak datang menemuiku? Apa kamu sudah tidak suka Ken lagi?”
__ADS_1
Di seberang menelepon terdengar suara Ken memanggil Kenzie dengan suara khas anak-anaknya.
Kenzie sangat terkejut dan bahagia, tidak disangka, Ken bisa menelponnya!
Airmatanya sudah menggenang, “Sayang, pintar ya, tante…tante akhir-akhir ini sedang sibuk, jadi tidak ada waktu untuk bertemu dengan kamu, bukan karena tante tidak suka padamu. Ken kan anak yang baik, lucu, dan pintar, tidak mungkin tante tidak menyukai Ken!”
Sifat Kenzie keras, biasanya, ia tidak mungkin berbicara seperti ini, hanya saat berbicara dengan Ken, dia baru bisa ucapkan perkataan seperti itu.
“Tante Kenzie, kamu nangis? Kebetulan sekali, ayah ku hari ini juga nangis.” Ken berbicara seperti orang dewasa.
Reyhan menangis? Kenzie langsung bertanya, “Ayah kamu menangis? Kenapa? Berebut permen dengan Ken ya?”
Ken tertawa kecil mendengar candaan Kenzie, tapi dia menjawab, “Bukan! Ayahku akhir-akhir ini minum tiap hari, semalam ia mabuk, dan langsung nangis. Oh ya, Tante Kenzie, waktu Tante Tania membantunya membasuh wajahnya, ayahku memanggil namamu, Tante Tania sangat marah dan dia langsung memelototiku dengan sangat mengerikan!”
Tania melototi Ken? Kenzie merasa kesal, langsung menghiburnya, “Sayang, perasaan hati Tante Tania sedang buruk, makanya ia melotot, dia bukannya tidak sukapadamu. Ken kan lucu, siapa yang tidak suka?”
Ken mengangguk, “Tante Kenzie, kamu tinggal dimana? Aku ingin bertemu denganmu.”
Ken ingin bertemu dengannya? Hati Kenzie berbunga-bunga, langsung menjawab, “Kalau begitu…apa ayahmu tahu? Apa ayahmu yang menyuruhmu menelepon?”
“Bukan! Ayahku sedang mabuk, aku sudah sangat rindu padamu, jadi aku langsung mengambil ponselnya menelponmu.”
Ken baru saja selesai berbicara, dan Kenzie baru hendak menjawab, tapi di dalam telepon terdengar suara Tania, “Ken, kamu sedang menelepon siapa? Bukannya sudah diberitahu sebelumnya, tidak boleh bermain dengan ponsel ayah? Kenapa tidak menurut?”
Suaranya sangat keras dan sangat dingin.
Kenzie langsung menutup mikrofon ponselnya dengan tangannya, hatinya menciut. Sikap Tania terhadap Ken membuatnya tidak senang. Berbicara dengan anak kecil berumur 5 tahun, kenapa begitu kasar?
__ADS_1
“Tante Tania!” ini hal yang terakhir Kenzie dengar, lalu telepon langsung dimatikan.
Dalam kesunyian yang menusuk itu, sesuatu seakan mencengkram hatinya, membuatnya sulit bernapas.