CINTA SETELAH MENIKAH

CINTA SETELAH MENIKAH
Bab 97 Berusaha Mengeluarkan Air Mata


__ADS_3

Tempat judi yang berkelap-kelip, terlihat Rena sedang berjuang di meja judi.


“Aku menang!” Terdengar suara lantang dan gembira atas kemenangannya, tanpa peduli suaranya akan mengganggu orang sekitar atau tidak, malam ini beruntung sekali, padahal baru saja mulai sudah memenangkan ratusan dollar, semakin main semakin kacau, uang di tangan pun semakin berkurang, kalah terus.


Rena, jangan main lagi, ayo kita pulang. ” Sambil menarik tangan Rena, Agus mau membawa Rena meninggalkan tempat judi ini.


Mata Rena sudah merah karena kekalahannya, kalau tidak cepat-cepatbawa dia pergi dari sini, uang mereka sudah pasti akan habis semua! Kenzie tak lama lagi akan melahirkan anak, membutuhkan biaya yang tidak sedikit, sedangkan Rena suka berfoya-foya dan menghambur-hamburkan uang, harus membiayai tiga orang dengan biaya yang sangat besar, uang hasil menjual cincin sudah hampir habis dipakai.


“Kamu jangan urus masalah aku!” Rena mendorong tangan Agus, sambil memandang ke arah meja judi….


Kenzie sendirian di apartemen sedang mempersiapkan barang-barang yang diperlukan untuk bersalin, mengelus lembut pakaian mungil, topi mungil sang bayi dengan perasaan lemah lembut….


Akung, sebentar lagi akan datang ke dunia ini, Ibu sudah tidak sabar lagi mau bertemu dengan kamu, berharap kamu adalah seorang bayi cantik yang sehat.


Meskipun kamu tidak mempunyai Ayah, tapi Ibu akan merawatnu dengan baik, memberikan cinta dan kasih akung sepenuhnya kepadamu….Sambil mengelus perutnya dengan lembut, wajah Kenzie terlihat memancarkan aura keibuannya.


Perutnya mendadak sakit.Kenzie mulai panik, apakah sudah mau melahirkan?


Seingat dia, dokter bilang, saat-saat sebelum melahirkan akan sering terjadi kontraksi palsu, Kenzie mulai merasa lebih tenang.


Sesuai anjuran dokter, berbaring telentang di atas tempat tidur, Kenzie mulai menghitung berapa kali dia kontraksi, sakit setiap setengah jam sekali, sampai teratur sakit lagi setiap sepuluh menit sekali, cocok dan sesuai dengan gejala yang dibilang dokter!


Tapi sekarang di rumah hanya dia sendiri! Kenzie merasa sedikit cemas, mengambil handphonenya dan segera menelepon Rena.


“Di….di….” Terdengar bunyi suara memanggil, tidak ada yang menjawab.


Kenzie pun berusaha menghubungi Agus, ternyata sama, tidak ada yang menjawab juga.


Suara ribut di tempat judi membuat mereka tidak bisa mendengar panggilan masuk handphone mereka, Rena sedang berjuang di meja judi, Agus yang tidak berdaya harus menunggu di sampingnya. Tidak ada seorangpun yang memperhatikan suara panggilan di dalam tas mereka, yang sedang berbunyi.


Perut Kenzie semakin sakit, dia sendiri tahu sebentar lagi akan melahirkan. Sambil menahan perutnya yang sakit terus, Kenzie turun dari ranjang dan membereskan perlengkapan bersalin, pakaian bayi, botol susu, peralatan ibu bersalin, satu-satu dimasukkan ke dalam tas besar yang sudah dipersiapkan sebelumnya.


Sakitnya sudah tidak bisa ditahan lagi, terlihat keringat membasahi muka pucat Kenzie.


Kakak, di mana kakak berada? Kenzie coba untuk menghubungi Rena lagi, tapi tetap tidak terhubung.


Tidak keburu lagi, dengan tangan gemetar, Kenzie berusaha menelepon mobil ambulance rumah sakit….


Sesampainya Rena dan Agus di rumah sakit, Kenzie sudah masuk ke dalam ruangan operasi.

__ADS_1


“Dokter, bagaimana keadaan adik aku?” Rena terlihat sedikit emosi. Tadinya sudah mau menang judi, tapi harus ditarik pergi oleh Agus, dengan alasan ada pesan dari Kenzie, bahwa sebentar lagi akan melahirkan.


Benar-benar sial! Apalagi bukan adik kandung, kenapa harus buru-buru datang menjaga dia! Uang hasil menjual cincin sudah hampir habis, tidak tahu apakah Kenzie masih punya barang berharga yang bisa dijual…. harus cari akal buat mendapatkan uang, pikIr Rena dalam hati.


Mendengar dokter bilang, satu setengah jam lagi belum tentu Kenzie akan melahirkan, mereka menunggu sambil menonton TV di ruang tunggu.


Rumah sakit di sini dikhusushkan untuk Chinese, dokter dan perawat semuanya adalah orang Chinese, channel TV yang ditonton pun berita Chinese semuanya, termasuk BoHuabu Xinwen (Berita).


“Terdengar kabar, penerus Group Realtech sudah meninggalkan kota C dan pergi ke Chicago, siap-siap ambil alih Group Realtech. Penerus Group Realtech ini, dulunya pernah mengurus bisnis Group Realtech di kota C, saat ini dipulangkan ke Chicago, sebenarnya ada alasan lain yaitu mau mencarikan seorang istri buat dia. Tahun ini dia sudah berumur 27 tahun, masih belum berkeluarga, sangat tampan, sungguh adalah seorang pria yang baik.


Berita ini mulai tersebar di TV, terlihat keluarga pasien yang sedang menunggu pasien bergosip,”Penerus Group Realtech mencari istri? Sebenarnya Kakek Reyhan sudah lama mendambakan keturunan baru. Hanya saja Reyhan belum mau menikah, sudah tidak sabar mau menimang cucu!


“Reyhan?” Telinga Rena langsung menegak!


Dia segera mendekat, duduk pas di depan TV, menonton berita dengan serius.


Ternyata Kakek Reyhan sudah tidak sabar mau menimang cucu! Syarat utama mencari istri adalah harus bisa melahirkan seorang bayi, yang nanti akan menjadi penerus Group Realtech.


Mata Rena mulai terang! Sudah ada rencana tersembunyi di otaknya!”Haha….” Rena tidak bisa menahan suara ketawa dengan bangganya dia berpikir! Tuhan benar-benar baik dengan dia! Apa yang diinginkan selalu dikabulkan!


Penerus kecil? Di dalam kamar pasien sudah terdapat seorang penerus keluarga!


“Rena, mengapa kamu terlihat senang sekali?” Agus mulai bingung, seorang yang sudah kalah banyak semalam di tempat judi, mengapa saat ini Rena masih bisa tesenyum?


Setelah mendengar semua itu, mata Agus terbelalak besar,”Rena, apakah kamu sudah gila? Kalau Kenzie tahu, dia pasti akan sangat membencimu!”


Sambil tertawa Rena berkata,”Kalau tidak begitu, bagaimana kita bisa bertahan hidup? Uang kita sudah habis, sekarang hanya menunggu waktu diusir oleh pemilik tanah!”


Agus menggelengkan kepala, masih bisa berkata apa lagi, Rena sudah manja di pelukannya,”Agus, bukankah kamu sangat mencintai aku? Apakah kamu tidak ingin melihat aku melewati hari yang bahagia?”


Rena melepas semua perhiasan di badan, kemudian mengambil banyak uang di atm, memasukkan ke dalam sebuah amplop dan menuju kantor rumah sakit.


Di ruang bersalin, Kenzie sedang berjuang semaksimal mungkin, dia merasa kesadarannya mulai berkurang, rasa sakit yang hebat menyerangnya, bibirnya sudah luka karena tergigit, tangannya memegang erat pegangan tempat tidur, sambil mengeluarkan suara kesakitan!


Cairan panas mengalir keluar, dia mulai merasa sedikit baik, pelan-pelan semakin berkurang sakitnya….Kenzie tahu, bayi sudah lahir dengan selamat!


Dia sudah kecapekan, bahkan sudah tidak bisa melihat buah hatinya, dan akhirnya dia tertidur lelah.


Di dalam kantor rumah sakit, dokter diam-diam mengambil sebuah keranjang bayi kepada Agus, setelah mengambilnya, tanpa berpikir panjang lagi akhirnya berjalan meninggalkan rumah sakit.

__ADS_1


Setelah terbangun dari capeknya, Kenzie akhirnya mulai punya sedikit tenaga.Setelah membuka mata, melihat Rena sedang tertidur pulas di sampingnya.


“Kakak!” Kenzie memanggil dengan pelan, sambil melihat dan mencari keberadaan bayinya di sekeliling ruangan.


Mengapa di ruangan ini hanya ada dia berdua saja dengan kakaknya? Bayinya mana? Bayi mengapa tidak berada di sampingnya?


Rena akhirnya terbangun, mendadak merasa ketakutan, tapi dengan cepat tenang kembali.


Menggunakan tangan mengusap mata sendiri, Rena memaksakan diri untuk mengeluarkan air mata, dengan suara sedihnya,”Kenzie….”


Melihat ekspresi Rena, Kenzie langsung punya firasat tidak baik,”Kakak, apa yang telah terjadi? Mana bayi aku?”


Mendengar pertanyaan Kenzie, suara tangisan Rena semakin keras,” Kenzie! Adikku yang malang! Bayi, bayinya…. ” Rena menggosok-gosok matanya sendiri supaya terlihat memerah, berusaha memaksakan air mata keluar lagi.


“Kakak, apa yang terjadi dengan bayi? Si kecil kemana? Atau apakah ada masalah dengan kesehatannya? Apakah sedang berada di ruang ICU?” air mata Kenzie mengalir deras membasahi pipi.


Bayi, mengapa bayinya kasihan sekali, baru lahir sudah harus sakit!


Rena menangis dengan suara keras,”Kenzie….si kecil… si kecil sudah tiada!”


Pandangan Kenzie langsung gelap seketika, kepala mulai terasa sakit, bagaikan mendapat serangan bertubi-tubi yang begitu hebat. Dia berusaha turun dari tempat tidur ,Kakak! Apa kakak bilang! Bayi sudah tiada? Bayinya kemana?!” Semakin bertanya semakin takut, dia takut akan mendengar kabar-kabar yang tidak baik!


Bayi itu, dari lahir bawaannya memang sudah cacat, begitu lahir langsung meninggal!” Dengan suara tangis Rena menceritakannya kepada Kenzie.


Pandangan Kenzie gelap seketika, dan akhirnya jatuh pingsan.


Di sebuah bangunan tua dan megah milik keluarga Reyhan, seorang pembantu melaporkan dengan membungkukkan badan sebagai tanda hormat,”Tuan, di luar sana adalah seorang perempuan, dia mengaku adalah kekasih tuan muda, dan katanya baru saja melahirkan seorang putra tuan muda.”


Tuan yang sebenarnya sudah kelihatan mengantuk setelah bermain catur bersama bawahannya, setelah mendengar berita ini, seketika matanya langsung terang bagaikan bola lampu sebesar 500 watt!


“Perempuan? Telah melahirkan seorang putra buat Tuan Muda?!” Suaranya terdengar sungguh kaget!


Sekarang anaknya sudah tidak memperdulikan usaha keluarga, hanya tahu jalan-jalan dan bersenang-senang di luar. Hanya Reyhan cucu satu-satunya yang menjadi harapan, dia sangat berbakat untuk menjadi penerus usaha di Group Realtech, tetapi dia sudah berumur 27 tahun dan sampai sekarang masih belum seorang kekasih! Mengharapkan dia menikah, kelihatannya sangat tidak mungkin. Sudah lama ingin menimang cucu, sebelumnya tidak pernah terpikir hari ini ada yang mengantarkan seorang cucu ke rumah!


“Cepat! Cepat suruh dia masuk!” Kakek Reyhan terlihat bahagia sekali! Tidak peduli berita ini benar atau tidak, tersebar isu seperti ini juga tidak ada salahnya, Reyhan dan Ayahnya selalu cuek dan tidak pernah ambil pusing soal masalah-masalah. Bahkan keluarga ini sepertinya tidak pernah dikenal orang!


Mendengar diizinkan masuk oleh Kakek Reyhan, Rena tersenyum penuh harap.


Menggendong erat bayi yang ada di dalam pelukannya, Rena masuk mengikuti bawahan ke kediaman Kakek Reyhan.

__ADS_1


Ini benar-benar adalah bangunan yang tua, atap yang tinggi dengan ukiran khas zaman dinasti, menggunakan warna hitam dan emas sebagai warna khas keluarga dan lampu kristal yang besar sekali, semua sisi dihiasi bunga-bunga mahal, terlihat sangat mewah.


Di tengah ruangan yang besar itu, duduk seorang kakek tua berkumis putih, sambil menggendong bayi itu, Rena berjalan menghampirinya.


__ADS_2