
Makan yang puas, tidur yang nyenyak, sekarang Kenzie baru merasa sungguh-sungguh segar dan sehat.
Dia bisa menikmati ranjang besar tanpa Reyhan, betapa indahnya kalau tangannya tidak diborgol dan kakinya tidak dirantai.
“Nona Kenzie, sudah waktunya makan malam…” Panggil bibi Dewi dengan lembut.
Kenzie melihat jam di dinding, sudah pukul 6 sore. Sudah waktu makan lagi? Makanan tadi siang saja sepertinya belum turun!
Beranjak dari ranjang, dia turun bersama bibi Dewi. Bibi Dewi berkata dengan senyum: “Nayra juga makan di rumah.”
Nayra? Kenzie merasa merinding mendengar nama itu. Nayra adalah adik Reyhan yang arogan dan tingkah lakunya sombong, membuat Kenzie sangat tidak menyukainya di
Di ruang makan. Reyhan yang sedang membaca koran, Nayra yang duduk di sebelah nya juga sedang sibuk dengan ponsel nya.
Melihat Kenzie, Nayra menoleh dan bertanya pada Reyhan: “Kak, mengapa perempuan ini masih disini?”
Nayra masih kuliah, maka itu tinggal di dekat kampus, biasanya jarang pulang ke rumah.
Reyhan masih terpaku dengan korannya, tidak menjawab. Mungkin tidak mendengar atau sengaja tidak ingin menjawab.
Nayra merasa tersinggung karena diacuhkan,, malah melampiaskan kemarahnya kepada Kenzie: “Seharusnya kamu malu, bukannya merasa betah menumpang di rumah orang!”
Kenzie sengaja mengangkat tangannya, menunjukkan borgol: “Bukannya aku ingin tinggal di rumah ini, kakakmu yang memasang borgol di tanganku supaya aku tidak bisa pergi!”
Reyhan akhirnya bergerak juga setelah lama fokus membaca berita di koran. Ternyata ada tanah yang sudah lama diincar perusahaan Reyhan sejak lama yang jatuh ke tangan perusahaan Steven, tanah itu adalah tanah terakhir yang terletak di lokasi superblock. Reyhan sudah susah payah mencari relasi dan koneksi, menghabiskan uang dan waktu, hasilnya tetap saja, perusahaannya kalah tender.
Dan yang paling parah adalah dia mendapat informasi ini dari koran, bukan dari pihak perusahaannya.
Selama ini apa saja yang dikerjakan para staff yang di tugaskan menjalani projek ini?!
Suara pertengkaran dua perempuan ini membuatnya dia muak. Ia bangkit berdiri dan mengamuk: “Kalau tidak mau makan, keluar kalian!”
Dengan suasana hati yang emosi, dia mengambil jas yang di sofa dan keluar rumah. “Tuan muda, mau kemana? Apa tidak mau makan dulu?” Bibi Dewi sambil teriak sambil mengejar.
“Aku harus ke kantor. Awasi Kenzie.” Reyhan meninggalkan pesan dan pergi. Di ruang makan hanya tersisa mereka berdua, Kenzie dan Nayra
Nafsu makan Kenzie hilang karena melihat sikap Nayra yang luar biasa sombong itu. Sambil berdiri Kenzie berkata, “Tuan putri, silahkan makan, aku akan kembali ke kamarku.” Kenzie berbalik dan siap melangkah.
“Tunggu.” Nayra mulai bicara: “Apa aku sebegitu menjengkelkannya hingga membuatmu kehilangan nafsu makan?”
Kenzie ingin menjawab: “Ya.” tapi akhirnya ditelan juga kata itu.
Ini masih tinggal di rumah nya, jadi Kenzie harus mengalah.
“Bukan begitu. Aku sendiri yang tidak nafsu makan.”
Bibi Dewi yang cemas pertengkaran ini akan berlanjut, menyela: “Nona Kenzie, sebaiknya kamu makan sedikit, ibu hamil tidak boleh sampai kelaparan.”
__ADS_1
Nayra sedikit kesal setelah mendengarnya, pikirannya berputar, mengapa kakaknya sampe harus bawa pulang sapinya kalau hanya ingin minum susu? Mengapa menghamili gadis ini kalau hanya sekedar ingin main-main?
Dengan nada sinis dan ketus, Nayra berkata: “Hebat juga ya, akhirnya kakak ku menghamili kamu, tetapi jangan pernah kamu bermimpi kamu bisa masuk ke dalam keluarga kami, menggunakan anak ini.”
Kenzie menjawab dengan santai: “maaf ya, aku tidak pernah berpikir begitu, kamu lah yang suka berpikir sembarangan.”
Nada santai Kenzie membuat Nayra emosi, dia membalas dengan nada lebih tinggi lagi: “Tidak pikir begitu? Perempuan kakakku sangatlah banyak, satupun tidak ada yang hamil, pasti kamu sudah menjebak kakakku, wanita licik!”
Kenzie tetap diam.
“Biar aku beritahu kamu! Jangan kira kamu bisa diterima di keluarga ini karena anak di perutmu itu! Sampai kapan pun keluarga kami tidak akan mengakui anak ini!”
Kenzie menggeleng-gelengkan kepalanya dengan senyuman sinis, masuk ke keluarga kalian? Aku tidak sudi.! Keluarga kalian tidak mau mengakui anak ini? Wajar, karena memang ini bukan keturunan keluarga kalian.
Melihat wajah Kenzie yang tersenyum, Nayra lebih emosi lagi: “Mengapa kamu tersenyum? kamu kira karena kakakku baik padamu dan membela kamu. kamu bisa langsung menjadi nyonya besar di rumah ini?”
Kenzie sedikit mengangkat bahunya dan membalas dengan dingin: “Dengar ya kamu, pertama, aku tidak tertarik menjadi nyonya di keluargamu, dan kedua anak di perutku memang bukan keturunan keluarga kalian.”
Setelah mendengar semua ini, Nayra dan bibi Dewi menjadi kaget, terkejut,tidak percaya…
Nayra menjerit sambil menunjuk ke Kenzie, dengan suara gemetar: “Beraninya kamu, kamu perempuan gila yang tidak tahu malu, kamu selingkuh, sudah hamil dengan anak orang lain, masih mencoba menipu kakakku! Aku akan memberitahu kakakku sekarang juga, anak di perutmu itu anak haram yang tidak jelassiapa ayahnya!”
Bibi Dewi mendekatinya: “Nona Kenzie, tidak boleh sembarangan bicara!”
Ia jarang melihat tuan mudanya begitu serius terhadap seorang wanita, mungkin karena wanita ini sudah terlanjur mengandung darah daging keluarganya.
“Tidak perlu repot-repot, kakakmu sudah tahu!” Kenzie menjelaskan dengan tenang dan santai.
“Perempuan bodoh yang sombong! Hajar dia bibi, ternyata anak itu bukan keturunan dari keluarga kita! atas dasar aoa dia tinggal makan gratis di rumah kita?! Hajar dan usir dia dari sini, Bi!” Sikap dan kata-kata Kenzie membuat Nayra marah tidak terkendali.
Bibi Dewi mana berani menghajar Kenzie?! Bibi Dewi mengerti sesungguhnya, walaupun mereka berdua sering berselisihan dan bertengkar, tuan muda Reyhan sangat menyukai Kenzie. Kalau bukan karena adanya rasa cinta di hati tuan muda Reyhan, buat apa Reyhan membiarkan Kenzie yang sedang hamil anak orang lain, terus tinggal di rumah ini?
“Bibi, mengapa diam saja? Hajar dia!” Nayra menjerit sambil menghentak-hentakan kakinya! Nayra adalah putri kesayangan di dalam keluarga, kakak Reyhan yang galak kadang juga harus tunduk mengalah padanya, sekarang pembantu ini berani membantah dan tidak menuruti perintahnya hanya karena perempuan ****** yang tidak jelas asal usul nya!
“Nona Nayra, kamu tenang dulu, tunggu saja tuan muda pulang.” Bibi Dewi tidak bisa menangani masalah ini. Ini urusan tuan rumah, dan dia hanya seorang pembantu yang tidak berhak mencampuri masalah ini.
Setelah dengar komentar bibi Dewi, Nayra lebih bukannya reda malah tambah berapi-rapi nyaris gila, pembantu berani membantah dan membela perempuan ini! Kurang ajar! Aku sebagai putri di rumah ini akan memberimu pelajaran!
Nayra dengan menarik dan mendorong Kenzie, ingin mengeluarkan dia dari rumah. Kenzie kaget juga, dia cepat berlindung di sudut tembok. Untung borgol tangannya tadi dilepas untuk makan, tapi rantai kakinya menghalangi dia untuk bergerak leluasa.
Sepertinya, Nayra hari ini tidak mungkin berhenti kalau belum menghabisi Kenzie. Dengan spontan Kenzie mengambil pisau buah di meja makan dan memegangnya dengan kuat: “Nayra, kalau kamu dorong aku lagi, aku akan berbuat kasar!”
Nayra tersenyum dingin: “Coba saja kalau kamu berani!” Ini di rumah nya sendiri, tidak mungkin dia bisa dilukai oleh perempuan tidak jelas ini.
Selangkah demi selangkah, Nayra mendekati Kenzie. Menatapnya dengan mata yang menyala-nyala dengan api kemarahan.
Semakin Nayra mendekat, semakin erat Kenzie memegang pisaunya. Seperti seekor landak yang bersiap-siap untuk bertempur dengan duri-duri tajamnya yang berdiri semua.
__ADS_1
Nayra meloncat, menerkam ke arah Kenzie, dengan cepat Kenzie ingin menghindar dengan menarik kembali tangannya, tetapi terlambat sudah! Lengan Nayra tertusuk pisau di tangannya dan darah segar mengalir menyelimuti lengannya yang seputih salju itu.
“Ah!” Nayra berteriak dengan histeris! Bibi Dewi yang disana juga terkaget-kaget menyaksikan kejadian semua ini.
“Kenzie! Aku habisi kamu!” Nayra kelihatannya sudah bertekad, ia mengambil mangkok yang di meja, dengan keras dia memukul kepada Kenzie menggunakan mangkok itu!
Dengan rantai di kakinya Kenzie berusaha menghindar ingin sembunyi di sudut, namunbelum sempat ia menghindar, mangkok keramik itu sudah mengenai kepalanya!
Kepala Kenzie terasa pusing, dan tubuhnya seperti melayang.
Di kantor, Reyhan sedang mengumpulkan staff-staff untuk rapat, tiba-tiba ia menerima telepon dari Bibi Dewi: “Tuan muda, cepat pulang, Nona Kenzie dan Nona Nayra bertengkar!”
Dengan nada tidak sabar ia menjawab:”Tidak bisa kah kamu meleraikan mereka?” Ada masalah seruys di perusahaan yang harus di selesaikan, di tambah lagi masalah dua perempuan yang tidak pernah bisa tenang ini, bagaimana mungkin ia bisa sabar?
“Tuan muda, saya tidak sanggup meleraikan mereka! Nona Nayra tertusuk pisau oleh Nona Kenzie!Darahnya tidak berhenti mengalir!” Dengan paniknya bibi Dewi menjelaskan apa yang terjadi.
Nayra adalah adik kesayangan Reyhan, kalau nanti sampai terjadi sesuatu yang lebih parah, bagaimana bisa seorang pembantu bisa mempertanggung jawabkanny?
“Aku akan segera pulang.” Reyhan telepon, menginggalkan pesan untuk staff-nya dan langsung bergegas pulang.
Setibanya Reyhan di rumah, Nayra dengan airmata berlinang, mulai bersandiwara: “Kakak, Kenzie menyerang aku dengan pisau,” katanyasambil mengangkat lengannya yang sudah di perban.: “Kakak harus bertindak tegas.”
Reyhan melihat lengan adiknya yang diperban, kelihatanyan cukup parah, alis tebalnya berkerut dan dalam hat, iai menyalahkan Kenzie beraninya melukai adik kesayangannya.
Dengan ratapan mata yang penuh kemarahan dan tajam, dia menoleh melihat Kenzie yang dengan tenang duduk di sofa, seperti orang yang tunggu di adili.
“Kamu melukai adikku dengan pisau?” terdengar suara Reyhan yang dingin dan nada marah.
Dalam hatinya ia berharap kejadian ini adalah hanya kesalahpahaman..
“Benar. Aku yang melakukannya.” Kenzie menjawab dengan tenang tanpa sedikitpun marasa bersalah.
Mendengar pengakuan Kenzie. Tangisan Nayra bertambah keras, “Coba lihat kak, perempuan ini sudah melukai aku, masih berani begitu tinggi hati, sedikitpun tidak merasa bersalah, sedangkan aku sama sekali tidak melakukan apapun kepadanya.”
Reyhan tidak seluruhnya mempercayai pembelaan Nayra, karena di lubuk hatinya ia merasa bahwa Kenzie tidak mungkin melakukan sesuatu yang begitu kasar, mungkin ada alasan tersembunyi, pasti ada sesuatu.
Berbalik ke bibi Dewi, Reyhan bertanya dengan tenangkan: “Jelaskan kejadian yang sesungguhnya padaku.”
Nayra bermain mata padanya. Bibi Dewi mengerti kalau dia juga harus bersandiwara: “Setelah tuan berangkat, Nona Kenzie meninggalkan ruang makan, katanya tidak nafsu makan, kemudian Nona Nayra membujuk supaya Nona Kenzie makan sedikit. Tanpa alasan apa-apa Nona Kenzie langsung marah, dan Nona bermaksud menghampirinya dan merayu Nona Kenzie untuk makan sesuatu, tapi Nona Kenzie malah menyerang Nona dengan pisau buah!”
Kenzie diam membisu, dia hanya bisa menggerutu dalam hati karena pembantu ini sudah membuat cerita untuk menjebak nya, ia juga merasa heran, wajah bibi Dewi tidak sedikit pun memerah, tidak merasa malu telah buat cerita palsu.
Bibi Dewi adalah pengasuh Reyhan dari kecil, maka itu Reyhan tidak meragukan cerita Nayra. Dan mempercayai bahwa Kenzie sengaja melukai adiknya tanpa sebab.
Ia menjadi sangat emosi, dia menjambak rambut Kenzie dengan kasar, “Kurang ajar kamu, beraninya kamu melukai adikku! Berani sekali kamu!”
Kenzie menjawab sambil melotot pada Reyhan. “Apakah kamu yakin ini semua salahku?”
__ADS_1