
Lima tahun kemudian, di bandara kota C.
Kenzie terlihat di tengah-tengah kerumunan orang, rambut keriting alami, sepasang mata yang lincah dan jernih, T-shirt putih, celana jeans dan jaket hitam yang simple itu, membuat Kenzie terlihat lebih segar.
“Kenzie!” Di tengah kerumunan orang yang menjemput di luar, Nindi melambaikan tangan dan memanggil dengan gembira.
Kenzie juga melihat Nindi, dan tersenyum sumringah kepadanya. Mereka saling berpelukan.
“Nindi, terima kasih sudah menjemputku!” Kenzie sudah lama tidak bertemu dengan sahabatnya ini, dan ia memuji, “Raut wajahmu terlihat segar sekali, Ethan pasti sangat menyayangimu, bukan?”
Nindi dengan bangga berkata, “Tentu saja! Sekarang ia takluk padaku!”
Setelah berkata, dia menatap Kenzie dari atas hingga ke bawah, dengan senang berkata, “Kenzie, kamu semakin lama semakin cantik! Dengan wajah seperti ini, kamu pasti bisa menaklukkan hati semua pria tampan di negara ini!”
Kenzie hanya tertawa, “Benarkah? Bukannya pria di negara kita ini tidak tertarik dengan wanita yang sudah tua? Aku jadi gugup!”
Nindi membantu membawakan koper Kenzie, dan menggandeng lengannnya, “Kamu bermoral dan bertalenta, wanita seperti kamu itu bagaikan berlian, cukup menggerakkan jarimu sedikit, semua pria yang masih bujangan pasti akan mengejarmu!”
“Hahaha! Kamu terlalu berlebihan!” Kenzie tertawa terbahak-bahak, terlihat sangat bahagia ketika berbicara dengan Nindi.
Baginya, Nindi lah yang punya daya tarik, ketika orang berada di sekeliling Nindi, orang itu pasti akan merasa senang.
Mereka bercanda ria hingga sampai di mobil. Kenzie duduk dan melihat pemandangan di luar, matanya penuh dengan kejutan, “Nindi, di kota C begitu banyak berubah, aku bahkan sudah tidak mengenalinya lagi!”
Nindi sambil menyetir, sambil menunjuk pemandangan di jalan luar, “Kenapa? Tidak kalah dengan Amerika kan? Ehm, di depan itu pusat perkantoran, Ethan sering pergi ke sana, di sebelahnya gedung tinggi berwarna putih itu, adalah Group Realtech…”
Baru setengah berbicara, Nindi tiba-tiba berhenti berbicara, dan melirik melihat raut wajah Kenzie.
Kenzie memandang gedung tinggi itu, dan memandang logo emas Grup Realtech yang bersinar di bawah terik matahari.
Dia menoleh melihat Nindi, dan tersenyum, “Nindi, kamu jangan begitu, itu sudah masa lalu. Mau Grup Realtech atau bukan, bagiku itu semua masa lalu, aku sudah melupakannya.”
Hati Nindi pun terasa begitu lega, dan tersenyum, “Sudah lima tahun kamu menjomblo, aku kira kamu tidak bisa melupakannya!”
Kenzie tersenyum menggeleng-gelengkan kepala, “Aku memilih untuk menjomblo hanya karena belum menemukan yang tepat, kamu kira semua orang bisa bernasib baik seperti kamu? Langsung bisa menemukan pria seperti Ethan yang begitu baik?”
Nindi tersenyum dengan manis, “Itu karna aku punya daya tarik, bukan? Tidak ada Ethan, masih ada Erik, Erwin, yang masih ingin mengejarku!”
Kenzie tertawa, dan menjulurkan tangannya ke wajah Nindi, “Dasar kamu ya!”
Nindi menyewakan sebuah apartemen untuk Kenzie, di dekat pusat perkantoran, dekat dengan kereta bawah tanah, sarana transportasinya sangat mudah, di dekat sana juga ada taman yang besar, lingkungannya juga bagus.
“Kenzie, cepat masuk dan lihat kamu menyukainya atau tidak.” Nindi menarik koper Kenzie yang besar itu masuk ke kamar, dan langsung memanggil Kenzie.
Apartemen itu menghadap selatan, toilet dan dapurnya bersih, di ruang tamu terdapat kipas angin besar, tirainya yang putih bersih tertiup oleh angin, lantai kayu mengkilap, sofa besar lembut, rak buku putih memenuhi buku dan ada juga tanaman hijau yang menghiasi ruangan, semuanya begitu tampak bersih dan nyaman.
“Waa! Nindi! Terima kasih! Aku sanggat menyukainya!” Kenzie langsung meletakkan tas besarnya, melompat ke sofa itu dan langsung berbaring, “Hari ini aku mau mentraktir kamu makan untuk membalas kebaikanmu!”
Nindi tertawa lebar berkata, “Mumpung kita akan makan makanan enak, bolehkah aku membawa keluargaku?”
__ADS_1
Ethan juga tahu bahwa Kenzie kembali ke tanah air hari ini, Ethan juga sebenarnya ingin ikut menjemputnya.
Kenzie bermalas-malasan di sofa, perasaanya begitu bahagia, “Mau mengajak Ethan, ya? Boleh, Aku tidak keberatan menjadi nyamuk kalian.”
Mereka akhirnya memutuskan untuk makan malam di suatu restoran dekat apartemen Kenzie.
Restoran ini katanya dibuka oleh keluarga kerajaan, setiap hari hanya melayani tiga meja saja, bahkan tidak ada menu, apapun yang dimasak chef, itulah yang akan dihidangkan untuk pelanggan.
Pada musim semi yang begitu sejuk, Kenzie, Ethan dan Nindi duduk bersama-sama, menikmati angin musim semi yang sepoi-sepoi dan wine berkualitas tinggi, sepertinya sudah lama Kenzie tidak pernah santai seperti itu.
Selama lima tahun di luar negeri, Kenzie sudah mendapat dua gelar, setiap hari ia sibuk sekolah sambil bekerja, ia selalu membuat dirinya sendiri sibuk agar ia tidak memikirkan hal yang aneh-aneh, dia benar-benar melupakan masa lalunya yang kelam.
Melihat wajah Kenzie, Ethan juga terasa lega.
Dalam lima tahun, tidak ada lagi keedihan dan derita di dalam raut wajahnya, hanya ada daya tarik intelektual dan kepribadian yang dewasa yang terlihat jelas dari raut wajahnya. Dibandingkan tahun-tahun itu, Kenzie sekarang seperti wine yang sudah difermentasi lama, begitu kuat dan menarik.
Kalau saja Reyhan melihat Kenzie yang sekarang, akankah dia menyesal?
Saat ia sedang memikirkan ini, ponselnya yang ditaruh di meja berbunyi.
Ethan mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang meneleponnya, raut wajah seketika berubah gugup, itu adalah panggilan dari Reyhan.
Ethan menerima panggilan itu dan permisi untuk keluar, menghindar dari Kenzie.
Nindi telah mengingatkannya berkali-kali untuk tidak menyebut nama Reyhan di depan Kenzie, ini bisa menjadi sangat fatal.
“Rey, ada apa?” Ethan berbicara sambil mengintip ke arah Kenzie.
Ethan merasa lega.
“Kamu dimana? Ayo keluar untuk minum? Aku punya satu botol anggur Condid Winery tahun 1990.” Suara Reyhan terdenga rdari ponsel .
“Aku sedang makan di luar dengan Nindi, kamu cari orang lain saja.” Ethan segera menolak ajakan Reyhan.
“Kamu dan Nindi kemari saja.Lagipula kita ini kan teman.” Reyhan merasa agak aneh.
Saat Ethan hendak menolak, di belakang tiba-tiba terdengar suara Nindi berteriak, “Hei! Kenzie! Kembalikan padaku!”
Gawat! Reyhan pasti mendengarnya! Ethan cepat-cepat menoleh, ia melihat Kenzie dan Nindi sedang berbicara begitu keras, lalu ia melihat apa yang sedang dilakukan Kenzie.
Ethan menjadi panik, di dalam ponsel Nindi, ada foto telanjangnya! Kalau Kenzie melihatnya, dia akan malu setengah mati!
Ia langsung berbicara ke Reyhan, “Aku masih ada urusan disini, aku tutup dulu ya!”
“Hei! Ethan! Tadi bukannya kamu bilang kamu sedang makan berdua dengan Nindi? Dia sedang bicara dengan siapa?” Suara Reyhan di telepon terdengar agak sedikit bergemetar.
“Tidak.. tidak.. kamu salah dengar!” Ethan cepat-cepat menutup teleponnya dan langsung menghampiri mereka, berusaha merebut ponsel itu dari tangan Kenzie.
“Haha! Kalian ketahuan!” Melihat Ethan kembali, Kenzie juga sungkan bercanda mengenai hal ini lagi, dia segera mengembalikkan ponsel itu ke Nindi, “Melihat kalian begitu panik, pasti ada hal yang tidak boleh diberitahukan ke orang lain di ponsel itu!”
__ADS_1
Nindi langsung melihat ponselnya, ponselnya tidak terbuka sama sekali, saat itu Ia baru sadar bahwa Kenzie sedang bergurau padanya, wajahnya memerah, “Aku juga menduga kamu tidak mungkin tahu sandi ponselku! Ternyata kamu menipuku! Ah, kamu ini memang dasar, kamu baru tinggal di Amerika lima tahun, sekarang sudah berubah menjadi penipu, ya!”
Kenzie menunjukkan ekspresi tidak bersalah, “Nindi, hal-hal seperti ini jangan dimasukkan dalam ponsel, kalau sampai hilang atau dicuri orang… Ahh,coba kamu ingat kasus kak Edison Chen!”
Muka Nindi langsung memerah, “kak Edison Chen itu siapa? Aku tidak kenal! Dan lagipula, saat itu aku masih perawan!”
Hahaha… Kenzie dan Ethan tidak dapat menahan tawa mereka.
Canda tawa mereka mewarnai makan bersama itu. Di hati Ethan tiba-tiba terbesit perasaan yang tidak enak, baru selesai makan, Ia cepat-cepat meminta semuanya untuk cepat pergi.
Nindi mengerutkan kening kebingungan, “Sebentar lagi ya, lagipula tidak ada orang yang sedang menunggu di luar, untuk apa kamu terburu-buru?”
Kenzie menoleh ke Ethan dan tersenyum, lalu berbicara ke Nindi, “Baiklah, Ethan ingin cepat-cepat berduaan denganmu! Ayo bayar, lalu pulang, aku hari ini juga baru pulang, belum sempat membereskan barang-barangku juga.”
Nindi berpikir sejenak, Kenzie baru saja melakukan perjalanan yang cukup jauh, ia duduk di pesawat selama berjam-jam, ia pasti sangat lelah. Sambil menundukkan kepala, ia berkata pada Ethan, “Ethan sayang, cepat bayar!”
Ethan tersenyum mengiyakan, mengulurkan tangannya memencet tombol untuk memanggil pelayan.
Pintu kayu di depan tanaman berbunyi, suara langkah kaki ringan tiba-tiba menghampiri.
Tiga orang itu mengira itu adalah pelayan yang datang untuk memberikan bon mereka, mereka tidak menoleh ke arah pintu, mereka terus bersandar di kursi dan meneruskan obrolan mereka.
Suara langkah kaki pun sampai di depan meja mereka, namun tidak terdengar suara dari pelayan.
Saat itu Ethan sedang asyik berbicara dengan Nindi, jadi ia tidak memperhatikan pelayan itu, Kenzie merasa ada yang ganjal, ia pun menoleh.
Seorang pria dengan kemeja biru gelap berdiri diam di belakang pohon dan menatapnya.
Di bawah sinar matahari senja, matanya yang gelap seperti kolam yang dalam, menatap lurus ke mata Kenzie.
Tubuh Kenzie tiba-tiba bergetar. Ia seakan kehilangan oksigen, wajahnya pucat.
Reyhan.
Ya, benar, itu adalah Reyhan.
Hari pertama kembali ke tanah air, ternyata masih bertemu dia.
“Kenzie kamu kenapa? Apa kamu tidak enak badan?” Nindi yang pertama kali merasa Kenzie sedikit aneh, sambil menanyakan dia ia menoleh ke arah pandangan Kenzie.
Reyhan masih terdiam disana, tidak bergerak, tidak berbicara, dia hanya berdiri dan menatap Kenzie.
Nindi seketika marah, sial, kenapa Reyhan kesini? Nindi yakin Kenzie tidak ingin bertemu Reyhan.
“Kenapa kamu kemari?” Nindi memandang Reyhan, nadanya dingin, bahkan terdengar marah.
Ethan segera berdiri dan menarik Reyhan dan berkata, “Rey, kamu juga datang, ayo duduk sebentar, kita mengobrol.”
Reyhan seakan tidak bisa melihat Ethan dan Nindi, ia berjalan ke arah Kenzie selangkah demi selangkah, dan dengan suara yang terdengar kosong, ia berkata, “Kenzie, lama tak jumpa.”
__ADS_1
Ethan dan Nindi saling bertatapan, lalu memandang Kenzie dan Reyhan dengan tatapan gugup.