CINTA SETELAH MENIKAH

CINTA SETELAH MENIKAH
Bab 211 Takdir Bisa Mempermainkan Orang


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Halte bus di depan pintu rumah sakit sangat ramai, Kenzie pun masuk ke tengah-tengah kerumunan itu, tapi walau bus sudah beberapa kali lewat pun, dia masih tidak dapat naik.


Lupakan saja, ia jalan kaki saja, kebetulan dia ingin menenangkan pikirannya.


Hello! Im an artic!


Kenzie berjalan di trotoar, dia merasa sangat bodoh dan hina.


Untuk apa Reyhan seperti ini?


Mengapa Kenzie murahan seperti ini? Mengapa dia tidak dapat menahan godaan Reyhan?


Apakah Ken itu benar-benar anaknya? Jika benar, apakah Kenzie bisa mendapatkan hak untuk mengasuh Ken? Jika setiap hari bisa mendengar suara Ken, mendengar Ken memanggil dirinya “ibu” dengan manis, itu pasti hal yang paling membahagiakan di dunia ini, bukan?


Hello! Im an artic!


“Hei! Apa yang terjadi?! Apa yang kamu lakukan?!” tiba-tiba ada suara yang memotong pikirannya.


Kenzie mengangkat kepalanya dengan kaget, dia melihat di pinggir jalan ada seorang pria tinggi sedang membawa kamera untuk melakukan wawancara, di sekelilingnya ada orang yang sepertinya pejabat pemerintah, sedang mengelilingi pria berbaju hitam di belakangnya.


Gawat, dia tidak sengaja masuk ke background wawancara itu!


“Maaf maaf, aku tidak memperhatikan langkahku!” Kenzie cepat-cepat minta maaf, lalu dia berjalan ke samping untuk menghindari kamera.


Pria berbaju hitam itu menoleh ke belakang, matanya yang berwarna coklat itu menatap pandangan Kenzie.


“Kenzie!”


“Steven!”

__ADS_1


Mereka berdua saling memanggil dan menatap dengan bersamaan. Mereka pun sedikit terkejut.


Melihat Steven, hati Kenzie terenyuh. Selama 5 tahun ini Kenzie berusaha melupakannya, tapi sekarang, Steven malah semakin elegan dan luar biasa. Masih sama seperti saat ia mengenalnya dulu.


Pejabat di sekelilingnya saling melihat satu sama lain, mereka tidak mengerti, siapa wanita yang tiba-tiba masuk ke kamera itu, tidak disangka, seorang Steven yang introvert, bisa senang sampai bibirnya gemetar.


“Kenzie, kamu kemana saja?” kalimat pertama yang diucapkan Steven adalah pertanyaan ini. Suaranya bergetar, seperti sedang menahan rasa sakit dan debar jantung.


Lima tahun ini, Steven diam-diam mencari Kenzie beberapa kali, tetapi sama sekali tidak ada informasi yang bisa ia dapatkan tentang Kenzie.


Di saat dia sudah menyerah, saat dia sudah memutuskan untuk melanjutkan hidupnya dnegan baik bersama Betty, Kenzie muncul lagi di hadapannya.


Kenzie menatap wajah Steven dalam-dalam, hatinya pun penuh dengan rasa bahagia karena bertemu teman lamanya, “aku pergi ke Amerika. Aku baru kembali belum lama ini.”


“Wawancara hari ini sampai sini dulu, kalian kembali dulu saja!” Steven bicara dengan para pejabat dengan halus, di nada bicaranya yang datar itu, seperti ada kekuatan yang tidak dapat ditolak.


Mereka pun bubar. Di jalan itu, hanya tersisa Steven dan Kenzie.


“Kamu sudah menikah?”


“Kamu sudah menikah?”


Ingatan yang tidak asing itu kembali lagi, Kenzie melebarkan matanya melihat senyuman Steven. Semuanya seperti tidak berubah, dia masih Steven yang elegan dan lembut, melihat wajahnya, Kenzie dapat merasakan kehangatan.


“Aku masih sendiri.” Kenzie dengan natural berjalan mengikuti langkah Steven.


Steven menolehkan kepalanya melihat Kenzie, “aku tiga bulan yang lalu baru menikah dengan Betty.”


Hati Kenzie tergerak, “Lima tahun lalu, saat kalian tunangan, bukankah Betty sudah hamil?”


Steven langsung mengerti maksud dari pertanyaan dia, “Anakku sudah hampir lima tahun. Tapi tiga bulan lalu aku baru resmi menikah dengan Betty.”

__ADS_1


Dia memiringkan kepalanya, berusaha menatap mata Kenzie, tetapi Kenzie selalu menghindar.


Dia sudah tidak memenuhi syarat lagi untuk bersama Kenzie.


Steven sudah menunggu Kenzie lima tahun, dan dalam lima tahun ini, ia selalu menolak untuk menikahi Betty. Tetapi akhirnya dia menyerah, dan sekarang, setelah tiga bulan menikah dengan Betty, Kenzie muncul di hadapannya.


Takdir, terkadang memang bisa mempermainkan orang.


Suasana di sana tiba-tiba menjadi berat. Kenzie pun canggung, lalu mencari-cari topik, “barusan dengar mereka panggil kamu Pak Kepala? Jangan-jangan kamu kepala rumah sakit itu?” dia menunjuk bangunan rumah sakit tinggi yang tidak jauh dari mereka.


Steven pun tertawa, “tentu saja bukan. Aku kepala pengadilan di kota A. Hari ini aku datang ke kota C untuk melakukan riset. Siapa yang tahu, aku bisa kebetulan bertemu kamu di sini.”


Ternyata dia sudah pindah ke kota A. Pantas saja Kenzie sudah lama tidak melihat berita tentangnya.


Kenzie menurunkan matanya, kalimatnya itu membuat dia sedikit sedih.


“Kenzie, apa kamu punya waktu sekarang? Bagaimana jika kita minum teh sebentar? Hari ini benar-benar kebetulan .” Steven mengajak dengan senyum.


Kenzie menganggukkan kepalanya, “Baiklah.”


Kenzie tinggal di kota itu, Jadi ia meneraktir Steven.


Mereka berdua masuk ke kedai teh, saling bertanya tentang kehidupan satu sama lain selama lima tahun terakhir, Kenzie menjelaskan sedikit banyak tentang seperti apa kehidupannya di Amerika , Steven yang mendengar pun menjadi sedih.


Dia seorang wanita, hanya bermodalkan 2000 dollar, ia berjuang untuk hidup di Amerika selama lima tahun, dan masih bisa mendapatkan dua gelar pendidikan, kesulitan dan penderitaannya itu, terlihat sangat jelas.


“Kenzie, lima tahun belakangan ini, kamu pasti kesulitan!”Steven menatapnya dengan penuh perasaan, matanya pun penuh dengan kelembutan.


Kenzie tertawa malu karena ditatap seperti itu oleh Steven, “Teman-temanku di sana semua juga seperti itu. Belajar sambil bekerja paruh waktu sebenarnya juga tidak sesulit itu.”


Di pojok kedai teh, ada dua pria yang terlihat licik sedang mengarah ke Steven dan Kenzie, orang itupun mengambil foto mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2