
Sesampai di kantor, baru saja Kenzie bekerja sebentar, jam pulang kerja tiba.
“Tante Kenzie, hari ini orang-orang departemen kita akan makan malam bersama, tadi sore kamu tidak ada di kantor, jadi aku lupa memberitahumu.” Asisten Departemen Nirmala datang. “Di dekat sini, di tempat bernama The Silent Devil, kita makan dulu baru pergi karoke.”
“Nirmala, tolong beritahu Direktur Gunadi, aku tidak ikut.”
Kenzie merasa tertekan, sore tadi ia harus berurusan dengan Reyhan, sedangkan kerjaan masih banyak yang belum dikerjakan, malam ini ia harus lembur.
Nirmalan sedikit ragu. “Baiklah, nanti akan kusampaikan ke Direktur Gunadi.”
Tak berapa lama Nirmalan pergi, ia mendapat telepon dan Gunadi.
“Kenzie,kenapa kamu tidak ikut acara kumpul bersama ?” Kenzie jadi bingung, bukannya hanya sedekar makan dan karaoke, kenapa menjadi acara bersama saja…
Kenzie baru akan bicara, Gunadi berkata lagi, “Kamu adalah karyawan baru, lebih baik kamu ikut acara seperti ini, agar lebih cepat mengenal teman kerja lainnya.”
Gunadi terdiam sejenak lal melanjutkan, “Dan juga, aku sangat berharap kamu bisa datang.”
Kalimat terakhir itu, dikatakannya suara kecil dan cepat, Kenzie tidak bisa mengenarnya dengan jelas, hanya saja mendengar kata-kata Gunadi yang pertama, ia merasa itu cukup masuk akal , jadi dia mengiyakannya. “Baik, kalau begitu aku akan segera berberes dan langsung pergi.”
Jarak dariCavern Co. ke The Silent Devil tidak jauh, Kenzie dan teman kerjanya bercengkrama sepanjang jalan. Nirmala sudah memesan dua ruangan besar dan makanan prasmanan, setelah itu mereka pergi karoke
Kenzie tinggal di luar negeri selama 5 tahun, ia sudah tidak terlalu bisa menyanyikan lagu populer dalam negeri, jadi ia hanya minum sambil mendengarkan orang lain bernyanyi.
“Kenzie, kenapa kamu tidak bernyanyi?” Gunadi menghampirinya, duduk disampingnya.
“Eh, aku tidak terlalu bisa bernyanyi. Nyanyiian Direktur tadi, bagus sekali!” Kata Kenzie, baru saja Gunadi menyanyikan lagu cinta dengan sangat mendalaminya, semua orang yang mendengarkan memberikan tepuk tangan yang meriah.
“Oh ya?” Mata Gunadi tersenyum.
Kenzie merasa sedikit gugup, maksud tatapan mata Gunadi terlalu jelas, dia juga bukan orang bodoh, dia juga dapat merasakannya.
Ia tidak berani menatap Gunadi, dia tersenyum sambil menganggukan kepala, tanpa sadar pipinya terasa sedikit panas.
Wajah Kenzie cantik, pipinya sedikit merah, bulu matanya tebal dan panjang, terlihat sangat menawan, Gunadi yang disampingnya terus menatapnya, Rasa cinta yang terpancar dari matanya jadi semakin bertambah.
Setelah selesai karaoke, jam menunjukan pukul 11 lebih, dan semuanya bubar untuk pulang.
“Kenzie, Aku akan mengantarmu pulang!” Gunadi menatap Kenzie. Ini kesempatan langka, dia berharap dapat memperat hubungan mereka berdua.
“Tidak perlu, rumahku dekat daerah sini, naik transportasi umum sudah sampai kok.” Kenzie dengan cepat menolak.
Gunadi tetap berusaha. “Sudah sangat malam, tidak aman jika seoang perempuan pulang sendirian. Lagipula tidak jauh, aku juga searah.”
Cahaya bersinar dari matanya, hidung tinggi, sudut mulut yang tersenyum, dan kaca mata bertengger di hidungnya. Dari sudut pandang ini, Gunadi tampaknya agak mirip dengan Steven!
Jantung Kenzie berdetak sangat kencang, hampir terpesona melihat wajah Gunadi.
Gunadi sedikit gugup karena dipandang oleh Kenzie, sambil memperbaiki kacamata, ia bertanya “Kenzie, apakah ada yang menempel di wajahku?”
__ADS_1
Kenzie baru sadar kembali, sedari tadi dirinya terpana melihat Gunadi!
“Eih, tidak, tidak… tidak ada apa-apa…” dengan kikuk Kenzie melihat ke arah yang lain, dalam hati muncul sedikit rasa sedih.
Kakak Steven.
Sudah lama tidak mendengar kabarnya. Mungkin dia dan Betty sudah menikah? Lalu sudah mempunyai anak yang lucu, menjalani hidup rumah tangga yang bahagia.
Mereka berdua tidak berbicara, terlarut dalam kesunyian yang hangat.
Di seberang jalan terparkir mobil SUV hitam , jendela mobil terbuka setengah, asap dari mobil mengepul ke atas, ujung rokok menyala, di dalamnya terlihat tatapan dari gelap seorang pria yang tajam seperti pisau.
“Yuk jalan, Kenzie.” Gunadi menarik lengannya.
Malam ini Kenzie sangat cantik, diam penuh aura misterius, membuat jantung Gunadi berdetak dengan kencang.
Kenzie masih terlalu larut dengan rasa sedihnya, anehnya dia juga mengikuti Gunadi masuk ke dalam mobil.
Mobil hitam SUV yang seram itu mengikuti mobil Gunadi dari belakang, melaju di jalan utama.
Rumah Kenzie tidak jauh, Gunadi berusaha mengendarai mobilnya sepelan mungkin, tapi tak berapa lama, mereka sudah sampai di rumah Kenzie.
“Terima kasih, Direktur Gunadi! aku masuk dulu, hati-hati di jalan.” Kenzie tersenyum berterima kasih, sambil membuka pintu mobil, bersiap untuk turun dari mobil.
Satu kakinya baru melangkah keluar dari mobil, Gunadi tiba-tiba teriak menghentikan. “Kenzie, tidak bersalaman dulu?”
Eh? Jabatan tangan perpisahan, ini etika yang apa? Kenzie masih belum begitu paham, Gunadi sudah melepaskan tangannya, dia tersenyum dengan lembut berkata, “Cepat masuk, dan cepat istirahat.”
Pria yang didalam mobil SUV yang mengikuti dari belakang itu, melihat itu tatapan dan langsung tertegun.
Ia mengira salam perpisahan Kenzie dan Gunadi itu yang mempunyai maksud lain.
Kenzie tanpa menyadari keberadaan Reyhan, turun dari mobil dan naik ke lantai apartemennya.
Dia terus memikirkan salaman yang tadi, tapi bagaimanapun dia masih tidak bisa mengerti artinya. Dia menggelengkan kepala dan tidak ingin memikirkannya lagi, anggap saja tata krama yang baru.
Gunadi menyalakan mobil pergi, dimatanya terpancar rasa bahagia dan puas. Wajah putihnya yang tampan, tersenyum dan bercahaya.
BEejalan sampai depan pintu, Kenzie membuka tasnya untuk mengambil kunci, baru saja membuka pintu, tiba-tiba lengannya ditarik dari arah belakang oleh seseorang.
“Kenzie! Ternyata kamu sudah berubah! Kamu sudah pandai sekali berbohong sekarang!” kemudian Reyhan menariknya dan menghadapkan wajah ke wajahnya, ia menyemburkan amarahnya sambil menggeretakkan gigi.
Reyhan? Kenapa dia bisa berada disini? Kenzie kaget.
“Bagaimana kamu bisa tahu aku tinggal disini?” Kenzie berontak, berusaha melepaskan lengannya.
Tangan Reyhan yang kuat seolah menjepit kedua lengan Kenzie yang kecil, Kenzie sama sekali tidak dapat bergerak, suaranya yang datar dan dingin berkata, “Aku tidak hanya tahu kamu tinggal di mana… Aku juga tahu selingkuhanmu baru saja pergi! Aneh sekali, kenapa kamu tidak mengajaknya untuk bertamu? Kenapa tidak menyuruhnya tinggal untuk menikmati malam yang indah?”
Selingkuhan? Karena perkataan Reyhan, Kenzie langsung marah besar!
__ADS_1
Dia melototin Reyhan. “Reyhan! Kamu harus sadar! Aku dan kamu tidak memiliki hubungan apapun! Aku tidak memiliki hubungan dengan siapapun, jika aku tidur dengan pria yang lain, kamu juga tidak ada hak untuk ikut campur!”
Reyhan menatapnya secara seksama, seperti seekor cheetah yang bersiap menyerang. “Kenzie, kamu berbohong padaku dan berkata bahwa kamu lembur, tapi sebenarnya untuk bertemu dengan pria ini, bukan? Kamu ini tidak bisa hidup tanpa seorang pria di sisimu, kan? 5 tahun di luar negeri, pasti sudah bertemu dengan banyak pria kan?”
Kenzie emosi sampai ke ubun-ubun, ia tidak perduli lagi. “Apa urusanmu?! Pergi kamu! Ini rumahku, aku tidak menerimamu!
Dia dan Reyhan berdiri di depan pintu, Dia sekuat tenaga berusaha mendorong Reyhan, lalu masuk ke dalam rumah, asalkan pintu sudah tertutup, dia akan aman!
“Oh ya! Tidak menerima aku?! Ayo kita lihat saja, kamu akan menerimaku atau tidak!” Reyhan emosi besar, seketika mendorong Kenzie masuk ke dalam rumah, dan pintu tertutup!
“Kamu mau apa! Kamu melanggar hukum dengan menorobos ke tempat tinggal pribadi seseorang, aku akan melapor polisi! Kamu ini seperti orang gila! Kamu Gila!” Kenzie ronggoh tasnya untuk mencari ponselnya, hendak menelepon 110.
Baru saja menemukan ponsel dan membuka tombol, Reyhan mengambil ponselnya, ‘Brak’ ponselnya jatuh ke lantai!
Layar ponselnya retak, Kenzie mulai menggila!
Dia langsung menghajar Reyhan. “Gila Kau! Enyah kamu! Pergi!”
Matanya yang awalnya berbinar, memerah karena emosi, tanpa pikir panjang lagi, dia langsung mengigit lengan Reyhan!
Reyhan menahan rasa sakit, mendekati telinga Kenzie dengan suara yang sangat berat dan mengerikan berkata, “Kenzie, kamu tahu jelas akibat dari melawan amarahku…”
Kenzie benar-benar takut.
“Tolong! Tolong!” Baru saja teriak berapa kalimat, tangan Reyhan menutup mulutnya dengan kuat.
Hingga Kenzie akhirnya lemas.
Reyhanpun melakukan apa yang ingin dia lakukan
Reyhan menggendongnya Kenzie yang sudah tidak bertenaga masuk ke kamar mandi.
Lalu Reyhan menggendongnya kembali ke kasur.
Kenzie menutup dirinya dengan selimut dengan sangat erat, tanpa melihat Reyhan, dengan datar ia berkata, “Ok, kamu sudah selesai memperkosaku, sekarang kamu boleh pergi!”
Apa? Tatapan Reyhan yang sedingin es. “Kenzie Apa katamu?”
“Aku bilang,kamu sudah selesai memperkosaku, sekarang kamu boleh pergi!” Kata Kenzie tanpa ragu.
Reyhan marah sampai ingin meledak!
“Setelah kamu selesai memakaiku, kamu langsung mengusirku? Kamu kira aku mainan?!” Kata-kata ini keluar dari mulutnya, ia baru sadar bahwa kata-katanya terdengar konyol.
Alis Reyhan semakin mengkerut, memelototi wanita yang menutup dirinya di atas kasur itu.
Kenzie sudah mulai tenang, dia melihat Reyhan. “Presdir Reyhan, kamu sendiri yang menerobos masuk ke rumahku, bersikap kasar dan memperkosaku, sekarang bersikap seolah-olah kamu tidak bersalah, bukankah itu namanya tidak tahu malu?”
Kenzie mengambil bantal untuk menutupi dadanya, membuka laci kecil di samping Kasur, dari dalam surat, dia mengambil tiket berwarna merah muda dan diberikan kepada Reyhan. “Oh! Jika kamu menganggap dirimu sebagai mainan, kalau begitu terimalah.”
__ADS_1