CINTA SETELAH MENIKAH

CINTA SETELAH MENIKAH
Niat Baik


__ADS_3

Vina mengengam kuat tangan suaminya. Kali ini bukan takut kehilangan tetapi takut karena bertemu lagi dengan pria pemaksa itu. Vina takut, pria itu akan kembali memaksanya. Vina sangat tidak suka itu.


"Jangan takut, Sayang! aku ada bersamamu," bisik Yoga ketika mobil Arsen sampai di sebuah masjid di mana ia dan Jasmine akan melangsungkan pernikahan.


"Aku percaya padamu, Suamiku. Kamu pasti nggak akan ngebiarin pria jahat itu menyakitiku. Hanya saja aku takut," jawab Vina jujur.


"Tidak perlu takut, Sayang. Bukan kamu yang salah di sini. Tapi dia dan keluarga liciknya itu," jawab Yoga, lembut namun serius. Agar Vina percaya padanya dan supaya bisa lebih tenang.


Vina tersenyum sekilas. Lalu menempelkan pipinya di lengan sang suami. Sedangkan Ayu yang ada di sampingnya mau menegur. Tapi tak enak dengan bosnya.


Namun begitu, Ayu akan tetap menegur Vina jika acara ini sudah selesai.


Arsen datang sendiri di dampingi kuasa hukumnya. Seperti tak ada beban yang terlihat dari raut wajah pria itu.


Semua terasa biasa, sampai pada akhirnya dia mengucapkan ijab qobul lantang dengan satu tarikan napas. Arsen mengucapkan ijab qobul nya dengan sangat baik. Bahkan tanpa kendala sedikitpun.


Selepas semua yang datang di sana mengucap sah, saat itu juga Arsen melirik Jasmine yang terlihat takut berada di sampingnya. Sedangkan Arsen sendiri, malah sibuk memuji kecantikan istrinya meskipun pakaian yang dia gunakan bisa di katakan biasa.


Selepas acara, tak ada perbincangan lagi. Arsen langsung meninggalkan tempat ini. Sesuai permintaan Jasmine. Sungguh gadis ini sangat tidak ingin melihat pria itu ada di dekatnya.


"Kapan kita pulang ke Jakarta, Kak?" tanya Jasmine pada Ayu.

__ADS_1


"Habis ini kita kemasi barangmu yang ada di kos. Nanti Kakak cari mobil buat ngangkutnya. Kamu nggak usah khawatir, dia sudah pergi," ucap Ayu, berusaha menenangkan adeknya.


Sedangkan Yoga dan Vina langsung mendekati kakak beradik itu. Sungguh mereka sangat sedih melihat pernikahan yang tidak diinginkan ini.


"Saya ucapkan banyak terima kasih, Pak. Karena Bapak dan semuanya sudah sudi membantu kami," ucap Ayu pada Yoga.


"Ya, kamu tenang saja. Kita bakalan pantau terus pria itu. Kalian tidak perlu khawatir," jawab Yoga.


"Baik, Pak. Terima kasih," jawab Ayu.


"Kalian balik ke Jakarta naik apa?" tanya Yoga.


"Oh, gimana kalo kalian bareng Agus aja. Gus, aku nitip mereka boleh tidak?" tanya Yoga.


"Boleh, ayo!" jawab Agus.


"Tapi kami pulang ke kos dulu, Pak. Mau ambil barang-barang adek saya," jawab Ayu.


"Tak malah, mari!" jawab Agus, singkat, dingin, membuat Ayu sebenarnya tidak nyaman. Namun, Ayh tak ingin berprasangka buruk. Mungkin begitulah sifat Agus. Berwibawa dan dingin pada wanita yang tidak terlalu ia kenal.


Yoga dan Vina kembali ke mobil pribadi mereka. Sedangkan Ayu dan Jasmine masuk ke dalam mobil Agus. Vincent masuk ke mobilnya sendiri. Tak lama berselang mereka pun berpisah.

__ADS_1


Di dalam mobil Agus...


Tidak ada perbincangan yang berarti, Agus lebih fokus pada jalanan yang ada di depannya, lalu dengan ponselnya yang terus berderinh. Sedangkan Ayu hanya diam. Begitupun dengan Jasmine. Mereka berdua tahu ini bahwa di mobil ini mereka hanya numpang. Itu sebabnya mereka tidak berani mengeluarkan suara barang sekata pun. Kecuali Agus bertanya.


Sesampainya di kos Jasmine, mereka langsung cepat-cepat merapikan barang-barang Jasmine. Agar Agus tidak kelamaan menunggu. Jujur Ayu tidak enak dengan asisten bosnya itu. Karena merasa merepotkan.


Lima belas menit menunggumu, akhirnya Ayu dan Jasmine pun kembali ke mobil Agus. Agus membukakan bagasi mobil, lalu membantu kakak beradik itu menyusun barang mereka.


Ayu semakin merasa tidak nyaman. Karena Agus ternyata begitu baik. Hanya bibirnya saja yang tidak banyak bicara. Sedangkan gadis ini terlanjur menaruh hati pada pria itu. Membuat suasana menjadi semakin kaku.


***


Di lain pihak..


Diam-diam Arsen mengikuti mobil yang membawa istrinya. Melihat sikap dan kediaman Jasmine ketika bertemu dengannya membuat hati Arsen tersentuh kasihan.


Ingin rasanya ia meminta maaf tadi, tapi sayang rasa gengsi merajai hatinya. Membuat Arsen mengurungkan niat untuk tidak melakukan itu.


Arsen berjanji akan bertangungjawab pernuh atas Jasmine meskipun kedua orang tuanya menentang, begitupun dengan Jasmine sendiri. Arsen tahu gadis itu pasti akan menolaknya. Namun Arsen lelah membuat kesalahan yang mengakibatkan hatinya tidak tenang. Setidaknya jika niatnya baik, Arsen yakin, dia pasti akan mendapat kebaikan juga.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2