
❤️ Happy Reading ❤️
Hari dimana menjalankan rencana seperti yang di katakan oleh mommy Sifa dan mami Kania telah di mulai.
Seperti biasa pagi ini Nisa telah di antar oleh supir untuk berangkat ke sekolah.
''Bu...Bu Nisa.'' seru salah satu staf pengajar memanggil nama Nisa begitu dirinya baru selesai mengisi kelas.
''Iya Bu.'' sahut Nisa yang menghentikan langkahnya.
''Bu nanti siang setelah selesai jam mengejar...ikut dengan saya dan teman-teman yuk.'' ajaknya.
''Kemana bu?'' tanya Nisa sebelum mengiyakan.
''Kebetulan kemarinkan saya habis tunangan jadi saya ingin mengajak ibu dan rekan-rekan yang lain untuk makan-makan bareng.'' jawabnya.
''Nanti saya kasih tau jawabannya ya Bu bisa atau enggaknya.'' kata Nisa. ''Sayakan harus ijin suami dulu.'' sambungnya.
''Oh iya gak apa-apa bu, nanti kalau sudah bilang langsung kasih tau saya ya Bu.'' sahutnya.
Mereka berdua terus berbincang di sepanjang koridor sekolah hingga sampai di ruang guru.
Sesampainya di kursinya,Nisa langsung membuka ponselnya untuk mengirim pesan pada suami untuk meminta ijin.
Walaupun mereka belum bisa di katakan seperti layaknya suami istri namun Nisa tetap menjalankan tugas serta kewajibannya sebagai seorang istri yang baik, entah itu di anggap atau tidak oleh Kendra.
*****
__ADS_1
''Bagaimana bu?'' tanya ibu Dwi yang tadi mengajak Nisa.
''Iya Bu bisa, tapi saya di antar supir gak apa-apakan?'' tanyanya.
''Iya gak apa-apa bu, nanti kita langsung saja ketemu di restoran xx ya Bu.'' sahut ibu Dwi.
''Iya Bu.'' kata Nisa.
Setelah selesai mengajar, benar saja Nisa langsung meminta supir untuk melakukan mobilnya ke restoran xx dimana tempat Nisa dan rekannya akan makan.
Mereka duduk di salah satu meja yang berada di sudut ruangan.
Cukup rame, karena ada sekitar sepuluh orang di sana termasuk pak Bagas dan kebetulan tempat duduk Nisa tepat bersebelahan dengan pak Bagas.
Mereka makan lalu sedikit berbincang-bincang...mengobrol ngalor ngindul.
''Apa-apaan dia...bisa-bisanya duduk bersebelahan dengan laki-laki itu.'' gumamnya dalam hati.
Dia berusaha menahan sampai meeting dengan kliennya selesai, padahal kakinya sudah gatal untuk ingin melangkah menghampiri.
''Kamu kembali dulu ke perusahaan, aku ada sedikit urusan dan mungkin tak akan kembali ke kantor.'' katanya pada sang asisten setelah sang klien berpamitan.
''Memangnya kamu ada urusan apa?'' tanyanya.
''Kamu gak perlu tau Rio.'' geramnya. ''Cepat pergi atau kau akan memotong 70% dari gajimu bulan ini.'' ancam Kendra.
''Eh jangan-jangan pak bos, baiklah-baiklah aku pergi sekarang juga.''kata Rio.
__ADS_1
Ya yang memperhatikan ke arah Nisa sedari tadi adalah Kendra namun Nisa sama sekali tak menyadari bahwa ada sang suami juga yang ada di sana.
Pelan tapi pasti, Kendra mulai melangkah menuju ke arah di mana Nisa berada.
Tetap berusaha tenang dan terlihat stay cool yang Kendra tampakkan.
''Khem.'' dehem Kendra setelah tepat berdiri di sebelah istrinya duduk.
Deheman itu sukses membuat sepuluh orang yang duduk di satu kerumunan meja dua yang di jadikan satu itu serempak menoleh.
''Mas.'' lirih Nisa yang merasa sedikit takut melihat sorot mata Kendra.
''Sudah selesai belum?'' tanya Kendra.
''Eh i...iya sudah mas.'' jawab Nisa.
''Kalau begitu ayo kita pulang.'' ajak Kendra. ''Maaf semuanya...Nisanya saya ajak pulang terlebih dahulu.'' pamit Kendra.
''Maaf ya saya pulang duluan dan Bu Dwi sekali lagi selamat untuk pertunangannya...semoga semuanya berjalan dengan lancar hingga hati h pernikahan.'' ucap Nisa berpamitan. ''Assalamualaikum.''
''Wa'alaikumsalam.''
''Suami ibu Nisa itu ganteng tapi auranya nyeremin.'' kata salah seorang setelah Nisa dan Kendra sudah berjalan sedikit jauh.
''Bener banget.'' sahut lainnya.
''Hust jangan di ghibahin, yang punya yayasan tu...'' kata yang satunya.
__ADS_1
''Ketahuan...wah bisa-bisa langsung pecat.'' celetuk rekan lainnya.