Deadline Cinta

Deadline Cinta
Bab 218


__ADS_3

❤️ Happy Reading ❤️


Kebetulan hari ini adalah hari minggu, jadi semua anggota keluarga masih berada di rumah utama setelah tadi malam mereka menggelar acara tasyakuran untuk kesembuhan sang nyonya besar Wijaya selanjutnya.


Apalagi di tambah mereka mulai sibuk mempersiapkan ini dan itu untuk acara pernikahan si kembar Kenan dan Kirana.


''Kalau capek gak usah di keluar sayang...di kamar aja, biar nanti sarapannya aku bawa kesini.'' kata Kendra saat menghampiri sang istri yang baru keluar dari ruang ganti.


Kejadian kemarin benar-benar masih menyisakan begitu banyak kekhawatiran di hati sang tuan muda.


Bayang-bayang akan kehilangan sang istri membuat ketakutan tersendiri di dalam dirinya.


Dua kali...sudah dua kali Nisa membuatnya seperti spot jantung...dua kali istrinya itu seperti membuat jantungnya berhenti berdetak dan nafasnya terasa tercekat dalam selisih waktu yang hanya beberapa bulan saja lamanya.


Yang pertama saat kejadian melahirkan si kembar sehingga membuatnya koma dan yang kedua adalah kejadian yang baru-baru ini terjadi...yang membuat Nisa tak bisa berjalan selama beberapa waktu.

__ADS_1


''Aku gak apa-apa kok mas.'' sahut Nisa. ''Lagian gak enak juga dengan yang lainnya...mereka kan masih di sini.'' imbuhnya lagi.


''Gak usah mikirin gak bisa enak sayang...mereka juga ngerti kok gimana kondisi kamu.'' sahut Kendra.


''Aku ingin berkumpul sama yang lainnya mas.'' kata Nisa dengan memelas.


Hampir satu bulan dirinya hanya berdiam diri di kamar membuat Nisa ingin merasakan kebebasannya kembali.


Ingin merasakan suasana berkumpul dengan anggota keluarga yang lain, apalagi sebentar lagi Kenan dan Kirana akan menikah dan memulai kehidupan baru mereka di rumah yang baru.


Kenan tinggal di rumah yang telah di sediakan oleh daddy Kevin yang letaknya tak begitu jauh dari kediaman utama keluarga Wijaya, sedangkan Kirana akan ikut sang suami tinggal di kediaman keluarga Reyhan.


''Baiklah suamiku.'' sahut Nisa dengan wajah cerianya seraya akan berdiri dari duduknya.


''Eith mau kemana?'' tanya Kendra dengan tangan yang sudah memegang salah satu tangan Nisa.

__ADS_1


''Mau keluar.'' jawab Nisa.


''Duduk dulu.'' kata Kendra sambil menekan pundak sang istri untuk duduk. sedangkan dirinya sendiri berdiri tepat di depan sang istri.


''Kenapa mas?'' tanya Nisa dengan wajah bingungnya.


Namun kebingungan Nisa hanya terjadi seperkian detik saja, karena selanjutnya...hem sang suami sudah mulai menyerang bibir manisnya yang selama ini sudah menjadi candu pewaris tahta tertinggi kerajaan bisnis keluarga Wijaya itu.


''Kangen.'' lirih Kendra di sela-sela aktivitasnya sekaligus memberi jeda bagi permaisuri hatinya untuk sekedar menghirup napas.


Tak salah Kendra mengatakan seperti itu...karena selama sang istri sakit dia sama sekali tak pernah menc***unya, baginya hasratnya adalah yang nomor sekian...yang terpenting dan paling utama adalah kesehatan sang istri.


Selanjutnya kegiatan pun kembali di lakukan seperti sebelumnya.


''Oh astaga.'' kata Kirana yang main masuk ke kamar Nisa tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu sebab pintu kamar itu tak tertutup dengan rapat.

__ADS_1


Mau tak mau Kendra pun menghentikan aksinya dan melihat siapa yang telah dengan lancang masuk ke dalam kamarnya tanpa permisi.


''Ck.'' decak Kendra saat melihat si pelaku yang sudah berdiri membelakanginya.


__ADS_2