Deadline Cinta

Deadline Cinta
Bab 189


__ADS_3

❤️ Happy Reading ❤️


Satu persatu anggota keluarga berbondong-bondong ke rumah sakit untuk menjenguk nyonya muda Wijaya termasuk ibu Farida.


Semuanya bahagia dengan bangunnya Nisa dari komanya.


''Kenapa hem?'' tanya Kendra yang melihat sepeti istrinya sedang tak nyaman.


Kendra memang tak mau jauh dari sang istri padahal saat ini yang di sekitar tempat tidur Nisa adalah para wanita sedangkan para pria duduk di sofa yang ada di sudut ruangan.


''Aku mau ke kamar mandi mas.'' lirih Nisa.


''Ya sudah sini...'' kata Kendra yang sudah megambil posisinya untuk membopong Nisa.


''Eh...'' kaget Nisa saat tangan Kendra yang di telusupkan di punggung atas dan paha Nisa. ''Mas mau apa?'' tanya Nisa.


''Katanya mau ke kamar mandi...ya mas gendonglah.'' jawab Kendra dengan entengnya.


''Memangnya gak bisa ya mas di papah aja.'' kata Nisa.


Tanpa ba bi Bu lagi Kendra langsung saja membopong tubuh Nisa ala bridal style.


''Nanti keburu kamu ngompol di sini.'' bisik Kendra.


Malu...itulah yang Nisa rasakan saat ini, wajahnya sudah memerah bak kepiting rebus...bagaimana tidak saat ini di ruangan itu penuh dengan semua anggota keluarga, lain cerita kalau dirinya hanya berdua dengan sang suami.

__ADS_1


''Mom, tolong infusnya lepasin dan kasih ke Nisa.'' pinta Kendra pada sang mommy.


''Oh iya baik sayang.'' sahut Sifa.


Setelah Nisa memegang infusnya...Kendra mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar mandi.


''Mas kenapa masih di sini?'' tanya Nisa. ''Keluar mas...aku mau buang air kecil.'' kata Nisa lagi.


''Gak...aku tetap di sini.'' sahut Kendra.


''Tapi aku malu mas.'' keluh Nisa.


''Kayak sama siapa saja...ini sama suami kamu sendiri loh sayang...bahkan setiap inci dari tubuhmu pun aku sudah sering melihat bahan merasakannya.'' kata Kendra dengan frontalnya.


Drama tak sampai di situ saja, bahkan Kendra membantu Nisa untuk melepas dan memakaikan kembali celananya dengan alasan tak ingin istrinya itu sedikit membungkukkan badan sehingga membuat sakit luka bekas operasinya dan dari pada berdebat...Nisa lebih memilih menurut saja...toh membantah pun tak akan ada gunanya.


*****


''Mas, anak-anak mana? dari aku bangun sampai sekarang aku sama sekali belum melihat mereka.'' kata Nisa begitu dirinya sudah berbaring lagi di tempat tidur.


''Biar aku minta perawat buat bawa kesini kak.'' sahut Kirana.


''Iya Ra...terimakasih sebelumnya.'' ucap Nisa. ''Ist...'' rintih Nisa yang meresahkan bagian dadanya sangat sakit.


''Kenapa sayang? mana yang sakit?'' tanya Kendra yang sekarang lebih cepat panik.

__ADS_1


''Dadaku mas.'' jawab Nisa.


''Kayaknya asi kamu minta di keluarin Nis.'' jawab mama Nana yang melihat bagian dada Nisa sedikit basah.


Cklek


''Halo...kami datang.'' seru Kirana bersama dua perawat yang membawa baby twins.


''Sini sama bunda sayang.'' kata Nisa dengan menengadahkan kedua tangannya. ''Anak bunda...'' ucap Nisa saat salah satunya sudah berada di dalam dekapannya.


''Kamu susui dulu sayang.'' kata Sifa.


Kendra yang tak ingin kedua aset istrinya terlihat oleh laki-laki lain langsung membentangkan tirai pembatas antara ranjang pasien dan area sofa.


Sesekali Nisa meringis merasakan sedotan dari mulut mungil putranya yang begitu sangat kuat, apalagi ini adalah pengalaman serta yang pertama untuknya.


''Pelan-pelan sayang...'' ucap Nisa dan tak terasa air matanya sudah menetes di pipinya.


''Sakit?'' tanya Kendra sambil menghapus air mata sang istri namun Nisa menggelengkan kepalanya.


''Enggak mas, aku nangis bukan karena sakit tapi karena aku merasa bahagia.'' ucap Nisa.


Setelah satunya selesai, Nisa gantian menyusu yang satunya lagi hingga kenyang.


''Nama cucu-cucu mama siapa ni Ken?'' tanya Nana.

__ADS_1


__ADS_2