
❤️ Happy Reading ❤️
Kepulangan Nisa dan baby twins yang di sambut oleh seluruh anggota keluarga membuat Nisa semakin yakin bahwa dirinya dan kedua putranya sangat di sayangi oleh keluarga suaminya ini.
Nisa juga bersyukur juga sangat berharap anak-anaknya tak mendapatkan bernasib seperti dirinya dulu.
''Karena anak kak Kendra cowok semua jadi tetap aku yang masih memegang tahta princess di rumah ini.'' celetuk Kirana di sela-sela obrolan mereka.
''Huh tunggu saja sampai kak Kendra punya anak perempuan...wussh...kamu langsung akan terhempaskan dan lengser dari tahta itu sama seperti mami dulu.'' sahut Kenan.
''Wah kok jadi mami di bawa-bawa ni...'' kata Kania.
''Kalian kalau mau punya anak lagi jangan terlalu jauh ya jaraknya...dua atau tiga tahun...ehm empat tahun juga gak papa jaraknya dari baby twins.'' kata Nia. ''Biar sekalian reportnya...'' katanya lagi di sertai kekehan di dalamnya.
''Iya nanti kami pi...'' kata Nisa.
''Aku gak ada rencana buat mambah momongan tante.'' potong Kendra. ''Cukup kejadian kemarin saja yang aku alami...aku gak mau kalau sampai ada kejadian serupa yang terulang lagi...kejadian yang sangat membahayakan untuk anak dan terutama istriku.'' sambung Kendra. ''Aku kedalam dulu.'' pamitnya dan langsung pergi begitu saja.
Semua yang ada di sana hanya diam sambil menatap nanar kepergian Kendra.
Mereka semua tau bagaimana Kendra saat istrinya terbaring lemah di bad rumah sakit...semua tau bagaimana hancurnya dia, jadi mereka mamaklumi apa yang di katakan Kendra barusan.
__ADS_1
''Khem...sayang kamu susul suami gih.'' kata Sifa pada menantunya yang sedari tadi terus menatap ke arah Kendra berlalu.
''I...iya mom.'' jawab Nisa. ''Nisa ke dalam dulu ya...'' pamitnya dan di persilahkan oleh semuanya.
Nisa berjalan secara perlahan menuju ke arah ruangan yang berbentuk kotak empat persegi yang akan membawanya naik ke lantai atas di mana kamarnya berada.
Cklek
Pertama yang tertangkap oleh netra Nisa saat masuk ke dalam kamar adalah suaminya yang sedang duduk di ranjang mereka dalam posisi membelakanginya.
Nisa terus berjalan untuk sampai di mana suaminya berada.
Di dudukkan dengan pelan bokongnya tepat di samping Kendra duduk.
''Eh.'' kaget Kendra yang langsung spontan mengalihkan pandangannya ke pada Nisa.
Entah apa yang di pikirkan oleh tuan muda Wijaya itu sampai-sampai dirinya tak sadar bahwa sang istri telah ada di sana.
''Aku bikin kamu kaget ya?'' tanya Nisa.
''Enggak kok sayang.'' jawab Nisa.
__ADS_1
''Lagi mikirin apa kok ayah baby twins ini sampai segitunya?'' tanya Nisa lagi.
''Sky gak mikirin apa-apa sayang.'' jawab Kendra.
''Yakin?'' desak Nisa.
Kendra mengubah posisinya menjadi menghadap sang istri. Di raihnya tangan lembut itu dan di bawahnya ke arah mulut untuk di kecupnya berkali-kali.
''Kalau kayak gini aku semakin yakin kamu sedang memikirkan sesuatu mas.'' kata Nisa.
''Huh...aku memang tidak bisa menyembunyikan sesuatu padamu sayang.'' kata Kendra.
''Jadi apa?'' tanya Nisa.
''Tentang ucapanku tadi, kamu gak apa-apakan kalau kita gak punya anak lain lagi selain si twins?'' tanya Kendra.
''Kenapa?'' tanya Nisa.
''Aku masih trauma dengan kejadian kemarin...itu seperti sebuah mimpi buruk untukku sayang...aku benar-benar takut kehilanganmu.'' kata Kendra dengan mata yang sudah memerah.
''Apapun keputusanmu...aku terima mas, lagian kita juga sudah ada baby twins...tak apa gak punya anak perempuan, toh nanti kalau mereka sudah dewasa...kita pasti punya anak perempuan juga...para menantu kita.'' kata Nisa. ''Sini peluk...'' kata Nisa.
__ADS_1
Akhirnya mereka berdua pun berpelukan dan Nisa pun berusaha memahami rasa ke khawatiran yang tumbuh di hati dan pikiran suaminya itu.