
❤️ Happy Reading ❤️
Dua hari berikutnya...merupakan hari yang sangat menakutkan bagi Nisa.
Sedari pagi dirinya sudah sangat gelisah, bahkan wajahnya pun sudah sangat pucat...kaki dan tangannya juga terasa sangat dingin.
Nisa benar-benar sangat takut merasakannya kembali, bahkan rasa dua hari yang dia rasakan serasa masih sangat terasa untuknya.
''Kamu pucat sekali sayang.'' kata Kendra.
''Aku takut mas...aku takut...'' ujar Nisa dengan mata yang sudah berkaca-kaca ingin menangis.
''Ada aku di samping kamu.'' kata Kendra yang sudah merengkuh tubuh sang istri kedalam pelukannya.
''Rasanya aku sangat trauma mas...rasanya...'' kata Nisa lagi yang sudah menangis dan tak sanggup melanjutkan kata-katanya lagi.
Waktu sudah menunjukkan lewat tengah hari dan sang dokter beserta asistennya pun kembali datang.
Dan seperti yang di takutkan oleh Nisa...rasa kali ini jauh lebih sakit lagi dari yang kemarin.
Hal itu membuat Nisa kembali menangis dan lebih kencang dari sebelumnya.
__ADS_1
Masa bodoh dia mau di katakan cengeng atau apa pun itu dirinya tak perduli...yang
jelas rasa ini benar-benar sakit, kalau Nisa bisa...mungkin dirinya sudah mengumpat sang dokter.
''Sakit mas...hiks...hiks...hiks...sakit...'' tangis Nisa.
''Sabar sayang...sabar ya...'' kata Kendra berusaha menangkan.
''Sakit...sakit mas...hiks..hiks...'' tangisnya lagi.
''Iya...sedikit lagi ya...kamu bisa...'' kata Kendra lagi.
Sampai selesai pun...Nisa masih saja terus menangis.
''Aku gak mau pergi lagi mas...aku mau di rumah saja...aku gak mau kemana-mana lagi...hiks...hiks...'' kata Nisa di sela-sela tangisnya.
Kata-kata Nisa membuat Kendra semakin sedih...sebegitu traumakah istrinya pasca mengalami kecelakaan kemarin.
Nisa sama sekali belum bisa berjalan sampai saat ini, di tambah benang yang baru saja di lepas membuat dirinya semakin takut untuk berjalan.
Nisa takut kalau sampai jahitan lukanya robek kembali dan dia harus melakukan penjahitan ulang...dia tak mau itu.
__ADS_1
Bila Nisa sedang sendiri...tiba-tiba peristiwa kecelakaan kemarin terlintas di pikirannya...bayangan lukanya pun seperti terlihat jelas di pelupuk mata dan itu langsung membuat Nisa menangis, dadanya seperti terasa penuh dan dia juga langsung berkeringat.
''Ada apa sayang?'' tanya Kendra yang melihat sang istri seperti itu.
''Nisa pun langsung memeluk Kendra dan menangis di sana...dirinya juga menceritakan apa yang di rasakannya.
Hal ini semakin membuat Kendra khawatir, dia takut kalau sang istri kalau hal ini akan menjadi trauma tersendiri dan menggangu psikis Nisa, di tambah lagi saat ini ada kedua buah hatinya yang masih sangat membutuhkan peran sang bunda.
*****
Kendra menemani sang istri hingga terlelap dan setelah itu dirinya keluar untuk menemui sang mommy dan menceritakan semuanya.
Dia saat ini sangat membutuhkan sekali nasehat dari sang mommy dan juga pendapat dari keluarganya.
''Sepertinya kita membutuhkan bantuan psikolog untuk membantu Nisa.'' kata mommy Sifa. ''Nanti mommy carikan.'' imbuhnya lagi.
''Jadi kapan kita akan bawa kak Nisa ke psikolog mom?'' tanya Kirana.
''Secepatnya.'' jawab mommy Sifa. ''Tapi bukan kita yang bawa Nisa ke sana...melainkan akan kita undang kemari, mengingat kondisi Nisa yang trauma untuk keluar juga karena Nisa yang belum bisa berjalan.'' sambung mommy Sifa.
''Dan kamu kak...daddy harap kamu bisa lebih fokus ke istrimu...kalau masalah kerjaan di luar selama bisa di handle Rio...biar dia yang kerjakan dan kalau kamu butuh bantuan, daddy siap untuk bantu.'' nasehat Kevin.
__ADS_1