
❤️ Happy Reading ❤️
''Masuk.'' kata Kendra dengan sangat-sangat datar ketikan mereka sampai di parkiran mobil.
Tanpa bicara sedikit pun Kendra langsung melajukan kendaraannya ke arah dimana letak apartemen mereka berada.
Tadi Kendra juga sempat menghubungi supir yang bertugas mengantar Nisa untuk pulang terlebih dahulu.
Brak
Kendra langsung keluar dan menutup pintu mobil dengan kasar begitu mereka telah sampai di basement apartemen.
Tanpa menunggu Nisa, Kendra melangkah terlebih dahulu.
Ingin rasanya Kendra meluapkan amarahnya sedari tadi namun masih berusaha di tahannya mati-matian sampai di apartemen.
Kendra membelokkan langkahnya menuju dapur untuk mengambil air dan meneguknya...ia ingin sedikit meredakan emosinya namun setiap mengingat dan melihat Nisa bersama dengan laki-laki itu emosi Kendra seperti tak terkontrol. Sedangkan Nisa langsung menuju ke kamarnya.
Cklek
''Mas.'' sapa Nisa ketika Kendra masuk ke dalam kamar.
Nisa sedikit takut melihat tatapan Kendra...karena tatapan itu sama seperti yang kemarin saat langsung membuatnya sakit.
''Sepertinya kamu suka sekali menguji emosiku Nisa.'' kata Kendra dengan suara rendah namun penuh dengan penekanan.
''Ma...maksud kamu ap..apa mas, aku gak ngerti?'' tanya Nisa.
''Apa belum cukup aku memberimu sedikit pelajaran kemarin?'' tanyanya balik. ''Mau yang lebih dari kemarin?'' tanyanya lagi dengan kaki yang terus melangkah ke depan dan Nisa yang ketakutan secara refleks melangkah mundur.
''Aku gak ngerti mas.'' lirih Nisa.
''Aku gak suka kamu dekat-dekat dengan pria itu.'' seru Kendra. '' Sampai di sini kamu paham!'' bentaknya.
__ADS_1
''Tapi kan di sana tadi ka...kami rame-rame mas.'' kata Nisa.
''Mau rame-rame atau enggak aku gak perduli.'' sahutnya.
Kaki Nisa terbentur oleh ranjang sehingga membuatnya terjatuh dengan posisi terlentang di atasnya.
Kendra semakin mendekat dan langsung menindih Nisa...di kungkungannya tubuh ramping istrinya itu.
''Mas.'' lirih Nisa.
''Akan aku ingatkan statusmu saat ini.'' kata Kendra.
Cup
''Statusmu adalah istri dari seorang Kendra Wijaya.'' sambungnya setelah mengecup sekilas bibir manis yang tepat di bawahnya.
''Oh berarti kamu juga ingat akan statusmu mas.'' kata Nisa. ''Kemarin-kemarin kemana aja mas?'' tanyanya. ''Kamu mengacuhkan aku, kamu tak menganggap ku ada, kamu juga tak memperdulikan aku.'' sambung Nisa menyampaikan segala unek-unek yang ada di hatinya selama ini. ''Apa begitu sikap seorang suami pada istrinya?'' tanya Nisa. ''Hem apa kamu cemburu mas?'' tanyanya lagi. ''Ayo ja...'' kata Nisa.
C**man yang mulanya kasar semakin lebih melembut saat Nisa sudah mulai terbawa suasana.
Entahlah kenapa tubuh Nisa sangat mudah sekali merespon segala yang di lakukan oleh Kendra.
Tangan Kendra pun tak tinggal diam, meraba apapun yang bisa di rabanya, meremas sesuatu yang mungkin akan menjadi salah satu tempat favoritnya...ya apalagi kalau bukan dua bukit kembar yang masih tertutup rapat.
Satu persatu di buatnya kancing hingga terlepas semua dan entah bajunya serta baju Nisa di lemparkannya kemana.
Kemudian tangan kembali bergerilya ke belakang punggung untuk mencari sesuatu hingga terpampanglah yang sedari tadi telah menggodanya.
Dij***t dan sesekali dih***pnya secara bergantian bak cosplay menjadi seorang bayi saat ini.
Setelah puas c*****n semakin turun dan turun hingga ke sajian utama, tapi sebelum itu sudah di tinggakannya beberapa jejak di atas sana di beberapa tempat.
''Ini akan mengingatkanmu akan statusmu dan ini juga akan mengingatkanmu bahwa kamu hanyalah milikku...milik Kendra Wijaya.'' kata Kendra.
__ADS_1
Dia lalu memberikan foreplay yang sangat memabukkan sehingga membuat Nisa sudah seperti cacing kepanasan di buatnya, dia ingin menolak tapi tubuhnya sangat menerima dengan baik.
''Su...sudah ma..s.'' kata Nisa.
''Tapi tubuhmu merespon lain sayang.'' kata Kendra yang entah sadar atau tidak telah memanggil Nisa dengan sebutan sayang.
''Ak...aku su...sudah ti..dak..kuat...'' kata Nisa setelah mendapatkan yang pertama.
''Aku baru mau memulainya.'' kata Kendra lalu melakukan penyatuan bangsanya yang membuat Nisa terpekik kaget plus sedikit sakit.
Rancauan-rancauan nakal bernyanyi di sana, d***han-d***han manja bak lantunan yang merdu nan mengairahkan terdengar juga.
Entah sudah berapa banyak keringat yang bercucuran, entah sudah berapa banyak mereka melakukannya, entah sudah berapa tenaga pula yang mereka keluarkan...seolah-olah tiada lelahnya, tiada habisnya sehingga ingin lagi dan lagi seperti hari esok tak akan ada lagi.
''Terimakasih sayang.'' ucap Kendra lalu mencium sekilas kening dan bibir Nisa lalu menyelimuti tubuh mereka berdua dengan selimut.
Tapi Nisa yang sudah tak berdaya hanya menanggapinya dengan sebuah anggukan dan senyuman.
*****
Pengumuman GA
Maaf sebelumnya aku mau menyampaikan tiga teratas di bulan Juli kemarin, dan aku mau minta maaf mungkin gak bisa kasih banyak...cuma pulsa aja yang gak seberapa.
Dan aku mohon dukungan dari teman-teman semuanya... kerena novelku ini levelnya anjlok yang dari level 7 ke level 4...nyesek banget.
Aku juga mau minta maaf kalau ada teman-teman yang chat atau mau masuk grup chat aku tapi belum aku balas, itu semua di luar kendali aku karena chat dan notifikasi aku dari satu bulan yang lalu gak bisa di pakek...sudah tanya ke Q&A tapi gak taulah bulet jawabannya dan tetap gak bisa di pakek.
Jadi untuk yang dapet GA harap inbox di FB aku Ennita, pp'nya sama kayak PP di profil aku yang di novel karena kalau di ig aku jarang buka.
Terimakasih semuanya dan selamat 🙏😊👏
__ADS_1