
❤️ Happy Reading ❤️
''Sayang...Ayo bangun sayang...anak-anak menunggu kamu...menunggu bundanya, mereka ingin di pangku, di peluk, di gendong serta di susui oleh bundanya...ayo buka matamu sayang.'' kata Kendra.
Perlahan namun pasti kelopak mata itu lama-lama bergerak dan terbuka...
''Sayang...'' lirih Kendra yang kemudian berulang kali mengecup tangan Nisa yang masih di genggam salah satu tangannya...kemudian dia beralih menghujani seluruh wajah sangat istri secara bertubi-tubi tanpa ada satu inci pun yang terlewat.
''Alhamdulillah.'' lirih Sifa yang masih dengan berurai air mata...lega rasanya melihat sang menantu sudah sadar.
Sifa kemudian bergegas memanggil para dokter yang bertanggung jawab atas Nisa.
Nana dan Carlos yang baru saja keluar dari ruangan baby twins, merasa bingung sekaligus cemas karena melihat beberapa dokter serta perawat berjalan tergesa ke dalam ruangan Nisa.
Setelah saling pandang, mereka berdua pun mengikuti masuk ke ruangan Nisa.
''Bagaimana dok?'' tanya Sifa.
''Semuanya baik-baik saja nyonya dan sudah stabil.'' sahut sang dokter.
''Terimakasih dokter.'' ucap Sifa.
__ADS_1
''Sama-sama nyonya, tapi nyonya muda masih di sarankan untuk lebih banyak beristirahat.'' sahutnya. ''Kami permisi.'' pamitnya mewakili rekan yang lain dan di balas dengan anggukan kepala oleh Sifa.
''Jadi menantu kita?'' tanya Nana pada Sifa.
''Iya dia sudah sadar.'' sahut Sifa. ''Terus bagaimana dengan cucu-cucu kita?'' tanya Sifa.
''Kami berdua tadinya keluar memang mau menyampaikan sesuatu tentang cucu kita.'' kata Nana.
''Kenapa? ada apa dengan cucu kita?'' tanya Sifa yang kembali di liputi perasaan cemas dan wajahnya sudah kelihatan panik.
''Tenang...cucu kita tidak kenapa-napa, mereka juga sudah bisa berada di luar inkubator.'' jawab Nana.
''Huft...alhamdulilah...lega aku rasanya.'' kata Sifa. ''Aku hubungi daddynya anak-anak dulu.'' ucap Sifa lalu keluar ruangan.
''Mas.'' seru Nisa tiba-tiba sehingga membuat Kendra yang masih dengan setia memandangi wajah ayu di depannya sambil sesekali menciumi tangan yang berada di genggamannya.
''Anak-anak...anak-anak bagaimana mas?'' tanya Nisa yang takut terjadi sesuatu dengan anak-anaknya, apalagi kata Kendra dirinya sempat koma selama satu minggu.
''Kamu tenang sayang...anak-anak aman...mereka ada di ruangan sebelah.'' jawab Kendra. ''Huft kamu menang sayang.'' sungut Kendra tiba-tiba.
''Hah...maksudnya?'' tanya Nisa.
__ADS_1
''Iya mereka akan menjadi sainganku dalam mendapatkan seluruh perhatian sama kasih sayangmu.'' sahutnya.
''Ih mas sama anak sendiri gak boleh gitu ah...'' kata Nisa.
''Mereka semua laki-laki sayang...jadi kamu tetap yang tercantik di keluarga kecil kita.'' imbuh Kendra.
''Benarkah mas?'' tanya Nisa memastikan, karena yang mereka tau bayi mereka memang kembar tapi untuk jenis kelamin sama sekali mereka tak tau.
''He'em.'' jawab Kendra. ''Kamu pasti senang sekarang...karena akan di kelilingi oleh pria-pria tampan.'' ujar Kendra.
''Iya aku seneng banget mas.'' sahut Nisa. ''Tapi nanti kalau kamu mau seorang princess...kita bisa program saat anak-anak sudah agak besar.'' kata Nisa.
''No...gak sayang, aku gak mau kamu hamil lagi...kejadian ini sungguh sudah membuatku trauma dan aku gak mau kehilangan kamu.'' tegas Kendra.
''Baiklah...apapun keputusan kamu.'' kata Nisa dengan lembut...berusaha memahami perasaan suaminya.
''Mas...'' panggil Nisa lagi.
''Hem.'' sahut Kendra.
''Aku haus...'' lirihnya.
__ADS_1
Dengan sigap Kendra langsung menyetel tempat tidur Nisa dengan bagian kepala lebih tinggi agar lebih memudahkannya untuk minum, baru setelah itu dirinya meraih satu botol air mineral baru yang ada di atas nakas lalu membuka tutupnya dan memberi sedotan baru setelahnya di sodorkan tepat di depan mulut Nisa.