Deadline Cinta

Deadline Cinta
Bab 210


__ADS_3

❤️ Happy Reading ❤️


Sepuluh hari sudah Nisa mengalami kecelakaan...selama sepuluh hari itu juga setiap dua hari sekali pasti akan ada dokter yang datang kerumah untuk mengecek luka sekaligus membersihkannya dan mengganti perban.


Sesibuk apapun Kendra pasti akan menemani sang istri.


Seperti kejadian beberapa hari yang lalu, tepatnya empat hari pasca kecelakaan...di kali kedua Nisa mengganti perbannya...sang nyonya muda itu sedikit berteriak kesakitan karena benang di jahitan tangannya tak sengaja tertarik saat sang dokter melepas perban di karenakan benang yang menempel pada perban.


Dan hal itu tentu saja membuat Kendra sangat geram, entah apa jadinya dokter itu bila sang tuan muda tak di tenangkan oleh pawangnya...sang istri tercinta.


''Selamat siang tuan muda...nyonya muda.'' sapa sang dokter yang baru saja tiba bersama sang asisten.


''Selamat siang dok.'' sahut Nisa dengan sangat ramah.


Setelah berbasa-basi sebentar...sang dokter pun mulai mengeluarkan peralatannya.


Ada dua alat yang sangat menyita perhatian Kendra...dua alat yang beberapa hati ini sama sekali tak terlihat selama perawatan luka sang istri.

__ADS_1


''Kok ada gunting?'' tanya Kendra.


Nisa pun yang saat ini sudah berbaring mengalihkan pandangannya menatap ke arah sang dokter.


''Benang jahitannya sudah mulai ada yang kering tuan, jadi kami akan melakukan tindakan pelepasan benang.'' jawab sang dokter yang sudah langsung membuat Nisa panas dingin.


Nisa adalah tipe orang yang sangat takut dengan yang namanya jarum suntik dan sejenisnya.


Dokter pun mulai memposisikan dirinya untuk melakukan tindakan.


''Mas.'' panggil Nisa dan Kendra pun mulai mendekat dan memegang tangan sang istri yang tidak sakit.


Satu persatu benang di kaki mulai di lepaskan dan itu sudah cukup membuat Nisa menangis.


Nisa sedikit lega ketika sang dokter mengatakan sudah, tapi kelegaan itu tak berlangsung lama karena jahitan di tangan pun juga akan di buka dan ternyata rasanya jauh lebih sakit sehingga membuat Nisa jauh lebih keras meraung kesakitan.


Kendra yang tak tega melihat bagaimana kesakitan sang istri pun sampai sedikit memalingkan wajahnya karena air matanya pun ikut menetes.

__ADS_1


Kalau Nisa menangis karena merasakan sakit di lukanya...Kendra menangis karena merasakan sakit melihat sang istri menangis dan kesakitan.


''Bagaimana dok?'' tanya mommy Sifa yang baru saja masuk dan melihat sang menantu masih menangis sesegukan di pelukan suaminya.


''Saya baru saja melepaskan benang jahitannya nyonya...namun baru separuh- separuh dan separuhnya lagi akan di lepaskan besok lusa.'' jawab sang dokter.


Setalah selesai mommy Sifa mengantarkan sang dokter dan asistennya keluar.


Kini yang tersisa di kamar hanyalah sepasang suami istri saja dengan istri yang masih menangis dan sang suami yang masih sibuk menenangkan.


''Sakit mas...'' cicit Nisa.


''Iya mas tau.'' lirih Kendra namun dirinya juga tak tau harus berbuat apa untuk mengurangi rasa sakit yang di rasakan sang istri.


Kalau bisa memilih...Kendra lebih memilih dirinya yang merasakan sakit ini menggantikan sang istri dari pada istrinya yang harus merasakan semuanya.


Nisa bagikan anak kecil yang sedang menangis sesenggukan...rasa ini adalah rasa yang baru dia rasakan seumur hidupnya...rasa yang sangat-sangat sakit menurutnya.

__ADS_1


__ADS_2