Deadline Cinta

Deadline Cinta
Bab 170


__ADS_3

❤️ Happy Reading ❤️


Setapak demi setapak Nisa mulai berjalan menyusuri jalan yang di buat memakai pamping menuju ke arah ke gazebo.


Saat sudah semakin dekat semakin jelas suara perbincangan serta canda tawa di sana dari tiga pasang suami-istri yang sangat harmonis menurut versi Nisa.


''Khem...assalamualaikum.'' sapa Nisa saat sudah dekat dengan keberadaan mereka.


Mungkin karena terlalu asik di tambah sedikit berisik dari suara mereka sampai tak ada satupun yang menyadari bahwa ada Nisa di sana sampai sang empunya buka suara.


''Wa'alaikumsalam.'' sahut semuanya dengan arah pandang yang melihat ke arah wanita yang sedang mengandung penerus kerajaan bisnis keluarga Wijaya.


''Sayang...'' seru Sifa yang langsung beranjak turun untuk menghampiri sang menantu. ''Ayo duduk.'' kata Sifa kemudian sambil menggenggam tangan Nisa.


''Em maaf ya mom dan semua kalau Nisa bangunnya kesiangan.'' ucap Nisa dengan menundukkan kepalanya karena sangat-sangat malu.


''Oh tidak apa-apa kok sayang...kami bisa ngerti dan memaklumi.'' sahut Sifa.

__ADS_1


''Iya sayang...santai saja, kami tidak apa-apa kok jadi kamu gak perlu merasa bersalah atau tidak enak sehingga minta maaf seperti ini.'' kata mama Iren. ''Kami sama sekali tak mempermasalahkannya.'' imbuhnya lagi.


''Kami juga sudah pernah mengandung sepertimu sayang...jadi santai saja.'' timpal ibu Dewi.


''Kami memakluminya kok sayang...kami tau kalau kamu pasti capek.''kata Sifa lagi. ''Sudah sarapan sayang?'' tanya Sifa.


''Iya sudah mom.'' jawab Nisa.


''Vitamin dan susunya bagaimana?'' tanya Sifa lagi.


''Bagus sayang.'' ucap Sifa. ''Tadi sebelum berangkat ke kantor suami posesif kamu itu sudah berpesan serta mewanti-wanti semuanya hingga panjang dan lebar.'' cerita Sifa. ''Apa dia pikir tanpa dirinya mengatakan semua itu kami akan abai padamu...'' keluhnya. ''Tanpa dia minta pun pasti kami akan selalu memperhatikan kamu sayang...'' imbuhnya.


''Terimakasih.'' ucap Nisa singkat, karena untuk saat ini hanya kata itu yang mampu di ucapkannya.


''Sama-sama sayang.'' sahut Sifa.


Semua kekhawatiran serata ketakutan Nisa menghilang begitu saja, keluarga suaminya ini benar-benar sungguh luar biasa baiknya.

__ADS_1


Nisa masih tak menyangka kalau ternyata kehidupannya akan sebaik ini setelah semua yang dirinya lewati dengan penuh perjuangan serta banyaknya dia mengeluarkan yang namanya air mata, menurutnya hal-hal di masa lalu menjadi sebuah pelajaran yang berharga...yang membawanya masuk dan mendapatkan kebahagian, sekaligus bahan untuk instrospeksi dirinya sendiri.


''Hei sayang kamu kenapa? kamu menangis?'' tanya Sifa dengan raut yang sangat khawatir saat tak sengaja ekor matanya melihat Nisa menghapus jejak air mata yang sudah tak terbendung tadi.


''Eh enggak kok mom.'' sanggah Nisa dengan cepat. ''I...ini hanya sedikit pedih saja...mungkin tadi tak sengaja kemasukan debu.'' imbuhnya agar lebih meyakinkan.


''Kamu yakin enggak apa-apa?'' tanya Sifa yang masih belum percaya dengan ucapan Nisa.


''Iya mom, Nisa sangat yakin.'' kata Nisa.


''Sini biar mommy lihat masih ada debunya apa tidak.'' pinta Sifa.


''Eh gak usah mom...ini sudah lebih baik kok.'' kata Nisa mencegahnya, sebab Nisa tak ingin ketahuan kalau itu semuanya hanya alibinya saja untuk menutupi rasa yang nano-nano dalam hatinya.


Kenapa nano-nano? karena perasaan Nisa saat ini ada rasa bahagia, juga sedih...ah entahlah bagaimana untuk menggambarkannya.


Mereka akhirnya duduk disana sambil melanjutkan obrolan sampai jam makan siang tiba.

__ADS_1


__ADS_2