
❤️ Happy Reading ❤️
Nisa duduk menunggu Kendra bekerja sambil membaca aplikasi novel online di ponselnya.
Wajah Nisa sedikit pucat juga sedikit berkeringat padahal di sana adalah ruangan yang ber'ac.
''Ish...'' desis Nisa sambil dengan salah satu tangan yang memegang perutnya.
Kendra yang memang memiliki pendengaran cukup tajam pun mendengar desisan yang di keluarkan oleh Nisa.
''Kamu kenapa?'' tanya Kendra yang melihat kearah Kendra.
''Oh aku gak apa-apa kok...mas.'' sahut Nisa berusaha menutupi apa yang dia rasakan.
Kendra yang tak percaya dengan apa yang di katakan Nisa pun langsung berdiri dari duduknya dan berjalan kearah Nisa duduk.
''Kenapa wajah kamu pucat?'' tanya Kendra. ''Katakan Nisa!'' serunya.
''Aku ti...'' sahut Nisa.
''Jangan katakan kalau kamu tidak apa-apa lagi, karena aku tau kalau kamu sedang tidak terlihat baik-baik saja.'' potong Kendra dengan kata-kata yang tegas.
__ADS_1
''Perut aku sedikit perih mas.'' ucapnya jujur karena takut Kendra semakin marah. ''Aku belum makan dari tadi.'' sambungnya.
''Oh ya ampun.'' sahut Kendra.
Kemudian Kendra berjalan kembali ke arah mejanya untuk menghubungi seseorang lewat sambungan interkom yang ada di kantornya.
Kendra menyuruh seseorang untuk membelikannya makanan serta obat lambung untuk Nisa juga tak lupa doa meminta untuk di bawakan teh hangat kedalam ruangannya.
''Kenapa kamu gak bilang dari tadi?'' tanya Kendra.
''Aku gak mau ganggu kamu saja mas.'' jawab Nisa apa adanya. ''Mas Kendra sendiri juga belum makankan?'' tanya Nisa.
''Aku sudah biasa makan sedikit terlambat apalagi ketika sedang banyak pekerjaan dan lagian juga tadi saya sudah makan roti ketika masih di pesawat saat kamu istirahat tadi.'' papar Kendra.
''Kamu do'ain aku.'' ketus Kendra.
''Hah...eng...enggak kok mas.'' sahut Nisa dengan cepat agar suaminya itu tak salah paham. '' Aku cuma ngingetin mas aja, lagian mana ada seorang istri yang berdo'a jelek untuk suaminya sendiri.'' sambungnya lagi.
Begitulah makan dan minuman datang, mereka berdua langsung menyantap makanan mereka, setelah itu tak lupa juga untuk Nisa minum obatnya, doa gak mau sakit disini...dia tak mau menyusahkan Kendra selama di sini.
*****
__ADS_1
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam sore, jadi Kendra memutuskan untuk pulang ke hotel dimana mereka menginap...tidak lain dan tidak bukan adalah salah satu cabang hotel perusahaan Wijaya.
''Ini hotel...'' lirih Nisa begitu membaca nama hotel di depannya, karena saat ini mereka berdua sudah sampai di lobi.
''Iya ini cabang hotel keluarga Wijaya.'' sahut Kendra seolah tau apa yang ada di benak Nisa.
Mereka berdua jalan beriringan menuju kamar yang akan mereka tempati, bukan beriringan sih tapi lebih tepatnya Nisa yang berusaha menyamakan langkahnya.
Cklek
''Mas, tunggu sebentar biar Nisa siapkan air untuk mandi.'' kata Nisa begitu mereka berdua sudah memasuki kamar khusus keluarga pemilik hotel.
''Kamu mandi saja dulu.'' sahut Kendra sambil melepas dasinya. ''O iya malam ini aku ada undangan pertemuan jadi kamu harus ikut.'' kata Kendra memberitahu.
''Loh mas Kon gak ngomong dari sebelum kita berangkat?'' tanya Nisa. ''Jadi aku bisa membawa gaun.'' sambungnya.
''Gak usah ribet, nanti bakal ada orang yang akan mengantar pakaian kamu.'' jawab Kendra.
Dan benar saja ketika keluar dari kamar mandi, dirinya sudah di sodori dengan beberapa paper bag yang berisi gaun, tas juga haig heels.
Nisa memakai gaun berwarna hitam yang membuatnya terkesan lebih elegan dan serasi dengan warna pakaian yang Kendra kenakan.
__ADS_1
''Jangan buat malu dan aku harap kamu bisa mengikuti alur bila di ajak berbincang.'' peringat Kendra, karena Kendra yakin ibu-ibu yang ada di acara tersebut pasti akan mengajak ngobrol Nisa bila para suami sedang membicarakan masalah bisnis.
''Iya mas aku ngerti.'' sahut Nisa.