
❤️ Happy Reading ❤️
''Ada apa kak? Nisa kenapa?'' tanya Sifa panik.
Gimana gak panik, dia melihat putranya sedang membopong menantunya ala bridal style, apalagi menantunya itu sedang hamil besar...hamil calon penerus kerajaan bisnis keluarga Wijaya.
''Nanti saja ceritanya mom...sekarang kita bawa Nisa ke rumah sakit dulu.'' jawab Kendra tanpa menggantikan langkahnya. ''Susul Rio di belakang...dekat toilet!'' perintah Kendra pada beberapa anak buah yang standby di halaman sekolah. ''Dan kamu supirin mobil saya.'' perintah Kendra lagi pada salah satunya.
Tanpa banyak omong orang tersebut langsung membukakan pintu mobil Intuk Kendra dan Sifa, kemudian dirinya langsung duduk di kursi belakang kemudi.
''Mom...telpon Kirana mom.'' pinta Kendra pada sang mommy untuk menghubungi adik perempuannya yang mengurus rumah sakit milik sang mommy.
Tanpa ba bi Bu Sifa langsung menghubungi Kirana untuk mempersiapkan segalanya dengan segala kemungkinan yang terjadi, tak lupa pula dirinya menghubungi Kevin sang suami untuk memberi kabar tentang apa yang terjadi pada menantu mereka.
''Mas...sa...kit.'' rintih Nisa.
''Sabar ya sayang...sebentar lagi kita sampai di rumah sakit.'' kata Kendra yang berusaha tetap tenang.
''Sa...sakit mas...aku su...dah gak kuat.'' rintih Nisa lagi dengan meringis menahan rasa sakitnya.
''Aku tau kamu kuat sayang...jadi aku mohon tahan sedikit lagi ya...demi anak-anak kita.'' lirih Kendra yang masih berusaha membendung air matanya yang hendak keluar.
__ADS_1
''Mas...ra...sanya a...aku le...lah...ingin ti...tidur.'' kata Nisa dengan mata yang seperti hendak terpejam.
''Jangan biarkan Nisa tertidur kak...usahakan terjaga.'' kata Sifa dengan suara seraknya akibat sedari tadi sudah menangis.
''Sayang...kamu dengarkan apa kata mommy, kamu gak boleh tidur.'' kata Kendra. ''Kamu harus tetap tersadar sayang.'' sambungnya. ''Sayang...hei...kamu dengar akukan...'' kata Kendra sambil sedikit menepuk pipi Nisa.
Sebisa mungkin Kendra mengajak Nisa berbicara dan bila Nisa seperti hendak memejamkan matanya maka Kendra akan sedikit menepuk pipi Nisa dengan pelan agar Nisa tetap terjaga.
Perjalan yang hanya membutuhkan waktu kurang lebih 15 sampai 20 menit terasa berjam-jam lamanya bila dalam keadaan panik seperti yang Kendra rasakan saat ini.
Mobil terus melesat hingga berhenti tepat di depan pintu.
Siapa yang berani memarahi atau melarang...toh ini yang punya rumah sakit yang melakukannya.
Beberapa tim medis dengan dokter terbaik pun sudah standby di ruang tindakan menunggu kedatangan mereka.
Di sepanjang lorong Kendra masih saja mengajak Nisa untuk berbicara dan tangan mereka berdua pun saling menggenggam.
''Maaf tuan muda tidak di perbolehkan masuk, karena kami akan memeriksa serta memberikan tindakan.'' kata sang perawat begitu mereka sampai di depan pintu ruang tindakan.
''Tapi...'' kata Kendra.
__ADS_1
''Biarkan mereka melakukan yang terbaik kak.'' potong Sifa.
''Aku akan ikut masuk ke dalam untuk memastikan semuanya.'' ucap Kirana. Walaupun bukan spesialis dia, tapi siapa yang bisa mencegah direktur rumah sakit untuk ikut memantau langsung ke dalam ruangan...tidak ada yang berani karena mereka semua masih sayang pada pekerjaannya.
Tap
Tap
Tap
''Bagaimana Nisa?'' tanya Kevin yang baru saja datang bersama oma Iren dan opa Adi.
''Masih di periksa dad.'' jawab Sifa.
Sifa pun mengkode suaminya lewat isyarat mata agar Kevin mendekati sang putra yang saat ini tengah berjalan mondar-mandir di depan pintu tanpa menghiraukan sekelilingnya.
Kevin yang peka pun langsung menghampiri Kendra, merangkul bahu putranya.
''Ayo duduk kak.'' ajak Kevin. ''Kamu mondar-mandir kayak gini pun gak ada gunanya kak.'' kata Kevin lagi saat sang putra hendak buka suara dan mau tak mau pun Kendra menurut pada daddynya.
''Istri dan anak-anak Kendra dad...'' lirih Kendra. ''Istri Kendra kesakitan dad.'' lirihnya lagi.
__ADS_1
Kevin pun langsung merangkul tubuh Kendra...memeluk tubuh putra sulungnya...anak hebatnya yang saat ini sedang rapuh.
''Kita do'akan yang terbaik untuk mereka kak.'' sahut Kevin. ''Daddy yakin mereka akan baik-baik saja...istrimu dan anak-anak kalian itu kuat.'' imbuhnya dengan posisi yang masih memeluk Kendra.