Deadline Cinta

Deadline Cinta
Bab 87


__ADS_3

❤️ Happy Reading ❤️


''Saya sudah tidak ada urusan dengan kalian berdua.'' sahut Kendra yang sudah tersulut emosi.


Clara memberi kode pada pelayan suruhannya untuk menawarkan minuman ke meja Kendra.


Dan benar saja tebakan Clara, karena Kendra sedang emosi dan minumannya tadi juga sudah habis...dia langsung mengambil minuman yang di tawarkan pelayan hingga menenggaknya hingga hampir habis.


''Oups sorry gak sengaja.'' ucap Clara saat menyenggol gelas Kendra yang hanya tinggal sedikit sehingga tumpah mengenai jas yang Kendra pakai. ''Kamu akan jadi milikku malam ini Kendra.'' gumamnya dalam hati.


''Sayang, aku ke toilet sebentar dan kamu jangan kemana-mana.'' kata Kendra pada Nisa selembut mungkin.


''Biar saya yang menemani bu' bos.'' kata Rio yang entah sejak kapan datang dan ada di sana.


Karena setau Nisa, asisten suaminya itu tak ikut bahkan Kendra sendiri juga kaget tentang keberadaannya.


''Kamu.'' kata Kendra.


''Nanti saya jelaskan pak bos.'' sahut Rio.


*****


''Mau apa kamu disini?'' tanya Kendra saat keluar dari pintu toilet dan ternyata sudah ada Clara di sana.


''Jangan ketus-ketus dong sayang...'' katanya dengan sangat menggoda. ''Apa kamu tak merindukan aku?'' tanyanya lagi dengan penuh percaya diri.

__ADS_1


''Cih dalam khayalanmu.'' ketus Kendra.


''Ayolah Kendra...aku tau kamu sebenarnya masih cintakan dengan aku....'' katanya lagi dengan tangan yang menyentuh pundak Kendra.


''Lepaskan tangan kotormu itu atau aku tak segan-segan mematahkannya dengan kedua tanganku sendiri.'' kata Kendra dengan kata penuh penekanan. ''Shitt...kenapa tubuhku rasanya panas sekali.'' gumam Kendra dalam hati.


''Auw aku takut...'' ejek Clara. ''Aku tau kamu tak akan melakukan itu sayang...karena kamu pada dasarnya masih cinta dengan aku.'' sambungnya. ''Kena kamu Kendra...pasti obat itu telah bereaksi.'' kata Clara dalam hati bersorak karena melihat wajah Kendra yang sudah memerah.


''Jaga batasan kamu Clara.'' tekan Kendra yang masih dengan kesadaran penuhnya. ''Dan apa...cinta yang tadi kamu bilang...cinta itu sudah mati dari sejak aku melihat kamu mengkhianatiku.'' sambungnya lagi lalu melangkah pergi dari sana.


''Sial...'' umpat Clara yang melihat punggung Kendra semakin berjalan menjauh.


*****


''Ayo kita pulang.'' kata Kendra tiba-tiba sehingga membuat Rio dan Nisa langsung berdiri.


''Pak bos kenapa?'' tanya Rio yang melihat bosnya itu seperti gelisah.


''Sepertinya ada yang bermain-main denganku Yo.'' sahut Kendra. ''Tubuhku rasanya panas sekali.'' sambungnya mengatakan apa yang dirasakan tubuhnya saat ini.


Rio langsung menelpon pihak manager hotel untuk memanggil seorang dokter pria agar bisa memeriksa keadaan bos mereka.


''Mana dokternya?'' tanya Rio tanpa basa basi pada sang manager yang menunggu di lobi hotel.


''Itu tuan.'' sahut sang manager menunjuk ke arah seseorang yang sedang duduk di kursi tunggu yang ada di lobi.

__ADS_1


''Langsung ikuti kami menuju ke kamar tuan muda.'' perintah Rio.


Rio dan Nisa memapah Kendra yang sudah sangat gelisah dari tadi, kalau di bilang mabuk tapi Kendra sama sekali tak meminum alkohol...dan hal ini membuat kedua orang itu bingung dengan apa yang terjadi pada Kendra.


''Kalau terjadi apa-apa pada pak bos...mampus aku bisa langsung di lenyapkan sama tuan besar.'' gumam Rio dalam hati.


Cklek


''Periksa tuan muda.'' perintah Rio yang sudah membaringkan Kendra di tempat tidur.


Beberapa saat sang dokter memeriksa keadaan Kendra dengan seksama dan sangat teliti.


''Bagaiman?'' tanya Nisa saat sang dokter sudah selesai dengan tugasnya.


''Tuan muda seperti meminum semacam obat perangsang nona.'' jawabnya.


''Apa!'' seru Rio. '' Berikan penawarnya.'' titahnya lagi namun sang dokter menggelengkan kepalanya.


''Tuan muda harus menyalurkan hasratnya.'' kata sang dokter.


''Menyalurkan hasratnya?'' tanya Nisa sedikit bingung apakah yang dikatakan oleh dokter sama dengan apa yang ada dalam pikirannya saat ini.


''Bodoh...bodoh...bodoh...bisa-bisanya kamu kecolongan Rio.'' rutuk Rio dalam hatinya.


''Benar nona, kalau tidak...'' kata sang dokter lagi.

__ADS_1


''Kalau tidak apa?'' potong Rio.


__ADS_2