
❤️ Happy Reading ❤️
''Segitunya yang mandangin calon istri...cantik ya...sampai mau netes tuh air liur.'' kata Arka sambil menepuk pundak Kendra sehingga membuatnya tersadar.
''Tenang kak...habis acara ini kakak bisa lebih puas memandanginya.'' sahut Bobby yang ikut-ikutan membuat Kendra mendengus kesal.
Nisa duduk tepat di samping kiri Kendra.
''Nak Kendra...apa benar ini calon istrinya?'' tanya petugas KUA. ''Coba di lihat dulu...nanti takutnya tertukar jadi salah nanti yang di jadiin istri. '' candanya agar tak tegang.
''Iya benar pak.'' jawab Kendra dengan ekor matanya yang melirik ke arah Nisa.
Setelah menanyakan beberapa hal...termasuk keperluan administrasi, petugas KUA pun memulai acara ijab qobul mereka.
''Baiklah karena semuanya sudah lengkap, mari kita mulai.'' katanya lagi.
__ADS_1
Kendra sangat lancar serta lantang mengucap kalimat ijab qobul dalam satu tarikan nafas.
Saat terdengar suara ''Sah'' membuatnya bernapas sangat lega, seolah-olah tadi untuk bernapas saja dirinya sangat susah karena di landa kegugupan yang luar bisa, bahkan menurut Kendra hal ini lebih menggugupkan di bandingkan harus menghadapi beberapa klien penting untuk memenangkan tander dengan nilai yang fantastis.
Nisa pun meneteskan air matanya setelah kata itu terucap dari seorang pria yang saat ini sudah resmi menjadi suaminya.
Ada perasaan sedih, haru juga bahagia dan rasa syukur yang Nisa rasakan. Sedih, karena dia teringat kedua orangtuanya yang telah tiada dan tak menampik pula ada sedikit rasa iri dalam hatinya bila melihat orang lain yang menikah di dampingi oleh kedua orang tuanya. Haru, karena saat ini dirinya sudah resmi menyandang status sebagai seorang istri. Bahagia, karena dia sudah bisa melewati satu proses lagi dari perjalan hidupnya...yaitu menikah. Rasa syukur, karena masih di beri umur sampai saat ini dan juga di terima dengan baik oleh keluarga yang sangat luar biasa baiknya.
Tak hanya Kendra dan Nisa, Kevin dan Sifa pun meneteskan air matanya. Mereka bersyukur karena masih bisa menyaksikan perjalan hidup serta menyaksikan putra sulung mereka menikah mereka juga berharap masih di beri umur yang panjang agar bisa menyaksikan anak-anaknya yang lain menikah serta menimang cucu mereka kelak.
''Silahkan masnya...dipakaikan cincin pernikahannya ke istri.'' kata sang petugas lagi.
Nisa pun setelah itu meraih tangan Kendra dan menciumnya untuk yang pertama kali untuk baktinya sebagai seorang istri.
Kendra pun kemudian memegang ubun-ubun wanita yang kini telah menjadi istrinya, wanita yang halal untuknya yang telah sah di mata agama dan negara sambil membaca do'a.
__ADS_1
''Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha'alaih.''
Setelah itu Kendra pun mengecup kening sang istri.
Ada buliran air mata yang lagi-lagi menetes di pipi Nisa saat Kendra mengucapkan do'a itu dan tak jauh beda dari Nisa...Kendra pun mengeluarkan buliran bening di sudut matanya.
Momen pernikahan adalah momen yang membahagiakan namun tak ayal juga menjadi sebuah momen yang begitu mengaduk perasaan sekaligus menguras air mata.
*****
Prosesi selanjutnya adalah sungkeman, karena Nisa tak punya orangtua maka dari pihak Nisa ada ibu Farida.
''Ibu titip Nisa ya nak, tolong jaga baik-baik dia, kasihan dia karena selama ini sudah hidup menderita tak seperti layaknya orang lain yang lebih beruntung.'' lirih ibu Farida. ''Jangan pernah sakiti dia, dan jika kamu sudah tak menginginkannya...katakan pada ibu, maka ibu akan menjemputnya karena pintu panti asuhan kami selalu terbuka lebar untuknya.'' lirihnya lagi.
''Kendra tidak bisa berjanji bu' tapi Kendra akan berusaha.'' sahut Kendra juga dengan suara yang lirih.
__ADS_1
''Nisa minta maaf ya bu' kalau selama ini Nisa sudah bikin salah juga kecewa ibu dan adik-adik panti., Nisa juga berterimakasih untuk segalanya bu'.'' kata Nisa. ''Nisa minta do'a restu ibu untuk Nisa juga pernikahan kami.'' sambungnya lagi.
''Tentu saja sayang, ibu akan selalu mendo'akan kalian meski tanpa kalian minta sekalipun, karena kamu sudah ibu anggap seperti putri ibu sendiri.'' sahut ibu Farida. '' Nak, ibu cuma berpesan...saat ini kamu sudah menjadi seorang istri maka saat ini baktimu ada pada suami juga keluarga suamimu.'' pesan ibu Farida.