Deadline Cinta

Deadline Cinta
Bab 213


__ADS_3

❤️ Happy Reading ❤️


Malam ini seperti biasa...Kendra duduk berkutat dengan segala pekerjaannya dan hal itu tak luput dari pengawasan mata Nisa.


Melihat sang suami membuat Nisa langsung meneteskan air matanya.


Entah karena ikatan batin atau karena cinta mereka yang begitu kuat, begitu Nisa meneteskan air matanya...bersamaan dengan itu pula Kendra mendongak ke arah Nisa.


Melihat dirinya yang di tatap sang suami...membuat Nisa gelagapan dan buru-buru menyeka air matanya yang sudah terlanjur menetes.


Tanpa banyak kata...Kendra langsung meletakkan kertas yang ada di tangannya di atas meja...dia berdiri dan berjalan menghampiri sang istri.


''Ada apa hem?'' tanya Kendra yang sudah duduk berjongkok di samping ranjang, lebih tepatnya di dekat posisi istrinya.


Bukannya menjawab...Nisa malah menangis...air matanya jatuh tak terbendung lagi sehingga membuat Kendra langsung berdiri dan membawa sang istri di dekapannya.


Nisa memeluk erat pinggang Kendra sambil menumpahkan air matanya, sedangkan Kendra mengelus kepala sang istri yang menempel di bawah dadanya.


''Maaf.'' lirih Nisa.


Kendra meregangkan pelukan mereka lalu meraih wajah sang istri dengan kedua tangannya dan mendongakkannya ke arahnya agar bisa dilihat dan ditatapnya wajah ayu nan sayu itu.

__ADS_1


''Maaf untuk apa?'' tanya Kendra dengan sangat lembut.


''Maaf karena aku sudah membuatmu susah, maaf karena sudah menjadi bebanmu, maaf karena sudah merepotkan, masf...'' ucap Nisa.


''Shuutt...'' potong Kendra. ''Kamu ini ngomong apa, namanya juga musibah kita tak akan ada yang tahu kapan datangnya dan akan menimpa siapa.'' sambung Kendra.


''Tapi...'' kata Nisa.


''Sudah jangan berpikir yang macam-macam.'' potong Kendra lagi. ''Tak ada yang merasa direpotkan olehmu, tak ada yang merasa kamu menjadi beban.'' sambungnya. ''Sekarang tugasmu hanyalah beristirahat...biar lekas sembuh.'' imbuhnya.


Nisa masih saja menangis...


''Tapi pekerjaanmu?'' tanya Nisa.


''Itu bisa nanti, karena tak ada yang lebih penting selain dirimu sayang.'' jawab Kendra.


Oh betapa so sweetnya suaminya ini sehingga selalu saja dapat membuat hati ini Nisa meleleh dibuatnya.


*****


''Mas, tolong ambilkan tongkat itu.'' pinta Nisa pagi ini.

__ADS_1


''Kamu ingin mencoba memakainya?'' tanya Kendra.


''Iya.'' jawab Nisa.


Kendra pun langsung membawa kedua tongkat mendekat ke arah Nisa.


''Ish...ahh....'' desis Nisa saat mulai menurunkan kakinya.


Kaki kanannya terasa sakit saat dalam posisi di turunkan...seperti ada aliran darah yang mengalir melewatinya.


''Pelan-pelan.'' peringat Kendra. ''Taruh di sini dulu.'' kata Kendra sambil mendekatkan kursi kecil dan pendek di depan Nisa agar bisa di pakai untuk pijakan kaki kanannya. ''Masih sakit?'' tanyanya khawatir.


''Sedikit.'' jawab Nisa sambil sedikit meringis.


''Jangan terlalu di paksakan...'' kata Kendra lagi yang tak tahan melihat ekspresi kesakitan dari istrinya.


''Tak apa...aku harus sedikit demi sedikit melatihnya.'' jawab Nisa.


''Tapi aku gak mau melihatmu kesakitan.'' kata Kendra lagi.


''Sebentar saja...kalau aku sudah tak sanggup...aku tak akan memaksakan diri.'' kata Nisa dan mau tak mau Kendra pun mengalah.

__ADS_1


__ADS_2