Deadline Cinta

Deadline Cinta
Bab 178


__ADS_3

❤️ Happy Reading ❤️


Aktivitas gerak Nisa semakin hari semakin terbatas karena kehamilannya yang bertambah masuk mendekati hari perkiraan lahir sang buah hati.


Sering terbesit di benak serta perasaan Kendra rasa kasihan pada sang istri yang sedang hamil besar itu...ukuran perutnya sangat lebih besar dari ukuran orang hamil normal. Kendra juga sering merasa khawatir dan rasa itu semakin bertambah mengingat sang istri akan segera melahirkan.


Kendra sering membaca buku tentang kehamilan semenjak istrinya dinyatakan hamil jadi sedikit banyak dirinya tau bagaimana perjuangan seorang ibu untuk melahirkan anak-anaknya ke dunia. Bagaimana resiko-resikonya serta tentang apapun yang mungkin terjadi nanti saat proses melahirkan.


''Kamu mau apa sayang?'' tanya Kendra saat baru masuk kedalam kamar dan mendapati istrinya seperti kesusahan melakukan sesuatu.


''Eh mas sudah pulang?'' tanya Nisa. ''Maaf ya aku gak nyambut mas di bawah, soalnya aku gak tau kalau mas pulang jam segini.'' ucapnya.


''Tidak apa-apa sayang.'' sahut Kendra. ''Ngomong-ngomong tadi kamu itu mau apa?'' tanyanya lagi sambil duduk tepat di samping Nisa.


''Ini kuku kakiku kayaknya sudah mulai panjang, jadi mau aku potong.'' jawab Nisa. ''Eh tapi malah susah banget mas...kehalang mereka.'' sambungnya dengan tangan yang mengelus perut buncit dimana kedua anaknya tinggal untuk sementara ini.


''Ya ampun sayang...kamukan bisa minta tolong sama siapa gitu.'' kata Kendra yang tak habis pikir dengan istrinya, padahal di rumah inikan banyak orang jadi bisa dengan mudah minta bantuan kalau dirinya memang kesusahan. ''Sini biar mas yang potongin.'' kata Kendra lagi.


''Gak usah mas...mas kan baru pulang pasti masih capek.'' kata Nisa.

__ADS_1


''Gak ada rasa capek kalau untuk istri juga anak-anakku tersayang.'' balas Kendra. ''Lagian kamu itu obat capek buatku sayang...dengan melihatmu serasa rasa cepekku langsung hilang seketika.'' sambungnya.


''Ih gombal.'' cibir Nisa.


''Ye gak percaya.'' kata Kendra. ''Sini.'' kata Kendra lalu mulai memotong satu persatu kuku kaki Nisa.


''Maaf ya mas kalau aku jadi ngerepotin kamu.'' kata Nisa yang merasa tak enak hati.


''Kamu ini ngomong apa sih sayang...kamu itu sama sekali gak ngerepotin aku kok, aku seneng bisa lakuin apapun untuk kamu dan anak kita.'' kata kendra.


''Selesai.'' kata Kendra begitu telah selesai melakukannya.


Cup


''Terimakasih ayah sayang...'' ucapnya setelah berhasil mencuri satu kecupan di bibir Kendra.


''Sama-sama sayang.'' sahut Kendra. ''Aku mandi dulu ya...gerah.'' kata Kendra.


''Iya mas.'' jawab Nisa.

__ADS_1


*****


''Kak, kamu itu jangan terlalu forsir dalam bekerja.'' kata Sifa saat mereka ada di ruang keluarga seusai makan malam. ''Luangkan waktumu untuk menemani Nisa...ini sudah bulan akhir lo.'' sambung Sifa.


''Iya mom akan aku usahakan.'' jawab Kendra.


''Aku gak apa-apa kok mom.'' sahut Kendra. ''Gak apa-apa kalau kamu kerja seperti biasa lagian di rumahkan juga banyak orang.'' sambungnya lagi.


''Tetap saja beda Nis rasanya.'' sahut mommy Sifa.


''Aku cuma gak mau kalau mas Kendra semakin tambah terbebani mom.'' ujar Nisa.


''Itu sudah tanggung jawabnya.'' sahut mommy Sifa. ''Lagian dia jugakan yang buat kamu kayak gini.'' imbuh Sifa lagi.


''Bener kata mommy, aku gak apa-apa dan juga gak merasa terbebani.'' kata Kendra.


''Lebih baik pekerjaan kamu sebagian kamu pindahin kerumah saja kak.'' usul Kevin.


''Iya dad.'' jawab Kendra.

__ADS_1


__ADS_2