
❤️ Happy Reading ❤️
Masih di butik Kania, Kendra dan Nisa langsung di giring oleh sang owner butik untuk fitting pakaian yang rencananya akan mereka kenakan esok malam.
Hanya perayaan sederhana karena terlalu mendadak dan hanya akan di hadiri oleh keluarga saja namun Sifa tetap ingin anak dan calon menantunya itu mendapatkan yang terbaik.
Setelah masalah pertunangan usai, Sifa akan langsung di sibukkan dengan persiapan pernikahan Kendra yang akan di lakukan sebulan lagi, karena Sifa dan Kevin akan melakukan perhelatan besar-besaran untuk acara pernikahan anak mereka yang pertama dan ini yang perdana.
Walaupun acaranya juga akan di tangani oleh wedding organizer ternama yang juga saat ini menangani pertunangan Kendra, namun sang nyonya Wijaya yang akan turun tangan langsung untuk mengawasi persiapannya
''Ini pakaian yang bisa kalian coba.'' kata Kania dengan tangan menunjukkan kurang lebih lima setel pakaian yang tergantung rapi. ''Kalau di lihat-lihat sih sepertinya ukurannya pas untuk kamu sayang.'' kata Kania pada Nisa. ''Sekarang kamu coba ya...biar di bantu sama embaknya.'' kata kania lagi.
''Mari nona.'' ajak salah satu pegawai Kania.
Begitu Nisa dan pegawainya pergi, kini di sana hanya tinggal Kendra dan Kania saja duduk di sofa yang terletak di sudut ruangan.
Nisa keluar mengenakan gaun yang pertama, cantik namun Kendra memintanya untuk ganti karena di bagian dadanya terlalu rendah jadi belahan buah dada Nisa terlihat walau cuma sedikit.
Pakaian kedua pun juga telah di coba namun sekali lagi harus berganti karena bagian punggungnya terlalu terbuka.
__ADS_1
Pakaian ketiga terpaksa harus berganti lagi karena belahan di bagian bawahnya terlalu ke atas hingga menampilkan paha Nisa.
''Pilihkan yang sedikit tertutup.'' perintah Kania pada sang pegawai. ''Adakan?'' tanyanya.
''Iya nyonya ada satu.'' jawabnya.
''Ya sudah kalau gitu yang satunya jangan di coba, biar Nisa gak capek bolak-balik karena saya yakin pria dingin di sebelah saya ini bakal langsung menolaknya.'' sindir Kania.
Benar saja pakaian yang empat ini lebih tertutup dan Kendra setuju untuk Nisa mengenakannya.
''Sekarang giliran kamu coba kemeja batik yang sama dengan punya Nisa.'' perintah Kania dan Kendra pun menurutinya.
Nisa memang memakai kebaya modern dengan bawahan kain batik maka Kendra pun mengenakan pakaian batik, begitu juga para anggota keluarga yang nanti pakaiannya tinggal Kania kirim.
''Sudah.'' sahut Kendra.
''Ish padahal mami pengen lihat beberapa sudah pas apa belum.'' kesal Kania.
''Pas.'' sahut Kendra dengan cepat dan singkat.
__ADS_1
''Dasar anak ini, entah dia ini menurun dari siapa kok dingin gitu padahal mommy sama daddynya aja gak kayak gini.'' dumel Kania. ''Nisa, mami kasih tau ya...kamu harus punya stok sabar yang banyak buat ngadepin tu anak, kalau kamu sudah gak sanggup cukup bilang saja pada daddy dan mommynya.'' sarannya.
''Iya mami.'' jawab Nisa.
''Sudah ngerumpinya?'' tanya Kendra. ''Aku mau pulang.'' sambungnya lagi sambil melangkah.
''Pamit dulu mi.'' pamit Nisa dengan tangan yang sudah menenteng paper bag yang berisi kebaya miliknya sedangkan milik Kendra akan di kirim nanti bersama pakaian keluarga lainnya.
''Assalamualaikum.'' salam Nisa dan Kendra, walaupun dingin Kendra masih memiliki etika dengan mengucap salam dan menyalami dengan takzim.
''Wa'alaikumsalam.''
Lagi-lagi Nisa harus menghempaskan nafasnya secara kasar saat dirinya harus sedikit berlari untuk mengimbangi langkah Kendra yang sudah sedikit jauh berjarak darinya.
*****
Kendra kembali lagi mengendarai mobilnya menuju sebuah toko dengan brand terkenal.
''Keluarkan pakaian kamu.'' titah Kendra pada Nisa. ''Carikan haig heels yang cocok untuk pakaian itu untuk nona ini.'' perintahnya pada pegawai toko tersebut
__ADS_1
Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya mereka menemukan heels yang cocok untuk Nisa tentu saja dengan tinggi yang Nisa inginkan, karena tadinya sudah dapat namun Nisa menolaknya karena baginya terlalu tinggi.
Begitu semua urusan yang di perintahkan oleh sang mommy telah beres, Kendra langsung mengajak Nisa untuk pulang, jujur saat ini Kendra benar-benar sudah teramat capek...baginya mendingan berurusan dengan kertas-kertas dokumen setumpuk di meja dari pada melakukan semua yang dia lakukan siang ini.