
❤️ Happy Reading ❤️
Kendra baru pulang ke apartemen saat hari sudah mulai larut.
Pandangan yang pertama dirinya lihat ketika masuk kedalam kamar adalah Nisa yang sedang tidur meringkuk dan membungkus tubuhnya dengan selimut.
Kendra yang menyadari kalau baru saja dari luar yang berarti dirinya membawa kuman, langsung bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya serta mengganti pakaiannya.
Barulah setelah itu dia ikut naik ke ranjang untuk beristirahat, karena hari ini benar-benar membuatnya sangat lelah...lelah tubuh, lelah pikiran dan juga lelah hati...paket komplit pokoknya.
Baru saja merebahkan tubuhnya, sudah di suguhkan dengan Nisa yang menggigil.
''Nis.'' panggil Kendra namun tak ada sahutan.
Kendra memegang kening Nisa dari arah belakang karena posisi tidur Nisa yang memunggungi tempat yang di pakai Kendra.
''Ya ampun kamu demam.'' kaget Kendra.
Bergegas turun untuk mencari kotak obat P3k, di ambilnya termometer untuk mengecek suhu tubuh Nisa.
Dan betapa terkejutnya Kendra, suhu tubuh Nisa mencapai 38°c.
Panik dan khawatir...tentu saja itu yang di rasakan Kendra saat ini.
Kendra berlari keluar kamar untuk mengambil baskom dan handuk kecil guna untuk mengompres Nisa.
__ADS_1
''Nis...bangun Nis.'' panggil Kendra dengan sedikit mengguncang lengan Nisa.
''Mas Kendra.'' lirih Nisa dan Kendra menganggukkan kepalanya.
''Minum obat dulu ya...kamu demam.'' kata Kendra.
Sebelum minum obat Kendra menyodorkan roti tawar yang sudah di oles selai untuk mengganjal perut Nisa.
''Makan dan minum obat.'' kata Kendra lagi sambil membantu Nisa untuk duduk.
Karena efek dari obat yang diminum,Nisa kembali terlelap tapi dapat Kendra lihat bahwa mata Nisa berbeda dari biasanya...kedua mata itu terlihat membengkak.
''Apa aku sudah keterlaluan sehingga membuatnya menangis hingga matanya membengkak seperti itu.'' gumam Kendra.
''Alhamdulillah sudah turun.'' kata Kendra setelah mengecek kembali suhu Nisa yang sudah kembali ke suhu normal.
Direbahkannya tubuh kekar itu tepat di samping Nisa, dan entah dorongan dari mana Kendra menarik tubuh Nisa kedalam dekapannya.
''Maaf...maafkan aku.'' lirih Kendra lalu ikuti terlelap.
Mereka benar-benar tidur nyenyak karena mendapatkan kenyamanan masingmasing hingga waktu subuh yang memaksa mereka harus mengakhiri kenyamanan tersebut.
Nisa begitu susah menggerakkan tubuhnya, seakan-akan saat ini ada yang sedang membelit tubuhnya.
Setelah membuka mata ternyata yang dilihatnya adalah sebuah dada bidang yang terbalut dengan kaos oblong polos, di dongakkan wajahnya dan hal itu membuatnya kaget tapi juga langsung membuat senyumnya terbit begitu saja.
__ADS_1
Wajah yang pertama kali dilihatnya saat membuka mata adalah wajah damai sang suami yang sedang terlelap.
''Mas.'' panggil Nisa setelah beberapa saat memandangi wajah Kendra. ''Mas Kendra.'' panggil Nisa lagi.
''Hem.'' gumam Kendra dengan mata yang masih tertutup rapat.
''Mas, bangun mas.'' panggil Nisa kembali.
''Lima menit lagi...biarkan seperti ini.'' kata Kendra dengan suara seraknya namun masih enggan membuka mata.
Bukannya melepaskan pelukan...nah ini Kendra malah semakin erat memeluk Nisa.
''Mas,bangun bangun dulu ini sudah subuh.'' kata Nisa, padahal sesungguhnya Nisa masih ingin menikmati moments ini tapi apa mau dikata waktu subuh sudah datang dan Nisa takut nanti mereka malah kesiangan.
Mendengar kata subuh, mau tak mau Kendra membuka mata dan juga melepaskan pelukannya.
Mereka berdua pun melakukan ibadah sholat subuh berjamaah.
''Mas.'' panggil Nisa. ''Terimakasih karena salam sudah merawat Nisa dan maaf kalau Nisa jadi merepotkan mas.'' ucap Nisa yang sebenarnya sedikit canggung karena adegan pelukan mereka tadi sewaktu tidur tapi Kendra terlihat biasa saja, seperti tak terjadi apa-apa.
''Hem.'' sahut Kendra.
''Kalau begitu Nisa ke dapur dulu mau menyiapkan sarapan.'' pamit Nisa.
''Nisa tunggu.'' cegah Kendra ketika Nisa hendak melangkah. ''Apa kamu demam gara-gara perbuatan saya kemarin?'' tanya Kendra namun Nisa hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya lalu pergi keluar kamar.
__ADS_1