
❤️ Happy Reading ❤️
📱''Sayang, nanti aku jemput terus kita langsung ke rumah utama...gak apa-apakan.'' kata Kendra memberi tahu sekaligus meminta persetujuan.
📱''Iya mas.'' jawab Nisa.
Sekolah milik keluarga Wijaya memang bertaraf internasional dan hari Sabtu tetap berangkat meskipun hanya setengah hari saja sama seperti sekolah swasta biasa.
Setelah mengatakan hal itu dan berbincang sebentar Kendra mengakhiri panggilan telepon mereka dan keduanya langsung melanjutkan pekerjaan masing-masing.
*****
Seperti kata Kendra...dia benar-benar menjemput sang istri dan tak hanya itu dirinya bahkan masuk ke sekolah tidak seperti biasanya yang menunggu di mobil.
Semua menyapa dengan hormat kepada Kendra, siapa yang tak tau bahwa laki-laki tampan yang sedang berjalan penuh dengan wibawa itu adalah sang pewaris utama kerajaan bisnis keluarga Wijaya.
Salah satu staf yang mengetahui Kendra masuk ke dalam kawasan sekolah langsung memberi tahu sang kepala sekolah sehingga membuat kepala sekolah langsung keluar secara tergopoh-gopoh dari ruangannya untuk menyambut dan menyapa Kendra.
''Selamat siang tuan.'' sapa sang kepala sekolah begitu sampai di hadapan Kendra.
''Hem.'' sahut Kendra dengan wajah datarnya.
''Saya begitu senang sekali anda datang berkunjung.'' kata sang kepala sekolah lagi berusaha berbasa-basi.
__ADS_1
Sedangkan di belakang kepala sekolah ada Lia, guru baru di sekolah tersebut.
Hatinya sudah senang bukan kepalang melihat Kendra berada di sana.
Dirinya yang merupakan anak salah satu petinggi perusahaan dan sering bertemu dengan Kendra sebelumnya, membuatnya mempunyai sedikit rasa...ralat bukan sedikit rasa melainkan sebuah obsesi untuk bersanding dengan pria gagah rupawan yang berdiri di depannya itu.
''Sayang.'' seru Kendra begitu melihat sang istri yang baru saja muncul tanpa mengindahkan perkataan sang kepala sekolah tadi.
Panggilan sayang yang di serukan Kendra membuat wanita yang ada di sana salah tingkah dan salah paham tentunya.
''Apa dia memanggilku?'' gumam Lia. ''Apa papa memberi tahu kalau aku bekerja di sini?'' gumamnya lagi dengan wajah yang bahagia karena hasil terkaannya.
Ya keluarga Lia bisa di bilang sedikit akrab dengan keluarga Wijaya dan orangtuanya juga tau kalau Lia begitu mendamba seorang Kendra Wijaya.
Namun itu hanya angan-angan saja...karena Kendra terus berjalan melewatinya sehingga membuat Lia mau tak mau ikut memutar tubuhnya untuk melihat Kendra yang sekarang sudah ada di belakangnya.
''Untukmu.'' kata Kendra sambil menyerahkan satu buket bunga mawar pada Nisa. ''Bunga cantik untuk istriku yang cantik dan terspesial.'' ujar Kendra.
''Terimakasih mas.'' ucap Nisa.
''Kembali kasih sayang.'' sahut Kendra lalu mengecup sekilas kening sang istri.
''Khem...selamat siang tuan Kendra.'' sapa Ema dan Dela yang berdiri di belakang sang istri.
__ADS_1
''Hem.'' sahut Kendra. ''Kita pulang sekarang?'' tanya Kendra yang berubah lembut kembali ketikan berinteraksi dengan istrinya.
''Iya mas.'' jawab Nisa. ''Bu' saya duluan ya...permisi...assalamualaikum.'' pamit Nisa.
''Wa'alaikumsalam.'' sahut Ema dan Dela.
Lia hanya bisa menatap kepergian sepasang suami istri itu dengan tatapan nanar berbalut kebencian serta kekecewaan.
''Gila-gila pak Kendra kalau sama istrinya lembut bangat begitu sama yang lain datar banget ekspresinya.'' seru Dela.
''Bu' Nisa itu sangat beruntung ya...punya suami tampan dan kaya lagi.'' celetuk Ema.
''Iya dan lagi kelihatan banget bagaimana cintanya pak Kendra sama bu' Nisa.'' sahut Dela.
''Maaf-maaf apa kata ibu-ibu tadi? suami?'' tanya Lia.
''Iya bu', pak Kendra itu suami dari ibu Nisa.'' jawab Ema yang membuat mata Lia langsung terbelalak karena kaget.
''Padahal pernikahan mereka besar-besaran loh bahkan bikin konferensi pers juga masa ibu gak tau.'' timpal Dela.
''Sayakan baru pulang dari luar negeri dan selama di sana saya juga sibuk jadi jarang mengikuti berita.'' kata Lia lalu melenggang pergi begitu saja.
''Lihat saja...aku pasti akan merebut Kendra darimu karena memang seharusnya dia milikku.'' geram Lia dalam hatinya.
__ADS_1