Deadline Cinta

Deadline Cinta
Bab 231


__ADS_3

❤️ Happy Reading ❤️


''KB pil dan saya tidak pernah lupa atau absen meminum pil saya tepat waktu.'' jawab Nisa.


''Kalau begitu apakah anda pernah meminum obat yang mengandung seperti antibiotik?'' tanya sang dokter lagi.


''Iya pernah sewaktu saya kurang enak badan saya meminum antibiotik dan setelah itu saya selalu meminum suplemen.'' jawab Nisa lagi.


''Dan apa nyonya dan tuan tetap berhubungan saat itu?'' tanyanya lagi dengan jari telunjuk serta jari tengahnya di angkat dan seperti membentuk tanda kutip.


''Iya.'' jawab Nisa malu-malu.


Memang pada saat itu begitu Nisa meminum obat dan keadaannya membaik...Kendra meminta jatah malamnya.


''Baiklah begini tuan dan nyonya...ada beberapa antibiotik atau suplemen dapat membuat kerja pil kurang begitu efektif.'' terang sang dokter. ''Dan menurut saya inilah sebab anda bisa mengandung meskipun meminum pil kontrasepsi.'' sambungnya.

__ADS_1


Setelah selesai dengan segala urusan mereka di rumah sakit, Kendra dan Nisa memutuskan untuk langsung pulang.


Dala perjalanan Kendra hanya diam tanpa suara dan Nisa juga diam, karena Nisa mengira kalau Kendra marah padanya.


Sepanjang perjalanan Kendra mencoba untuk mengingat-ingat...dan ternyata benar selama satu bulan ini dirinya tak ada absen dan jatahnya cukup lancar tak seperti biasanya yang selalu dapat perboden kerena lahan yang akan di kunjunginya sedang dapat banjir bandang.


''Mas.'' lirih Nisa berusaha untuk membuka percakapan terlebih dahulu...karena situasi yang seperti ini benar-benar tak nyaman untuknya, bahkan untuk bernapas pun rasanya sangat sesak.


''Hem.'' sahut Kendra.


''Apa?'' tanya Kendra. ''Apa ada yang ingin kamu makan?'' tanyanya namun Nisa menggelengkan kepalanya. ''Terus apa?'' tanya Kendra lagi.


''Apa kamu marah?'' tanya Nisa. ''Aku minta maaf mas...aku juga gak tau kalau bakal seperti ini...ini di luar kuasaku mas.'' lirihnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Apa-apaan istrinya ini...apa dia pikir dirinya sedang marah saat ini.

__ADS_1


''Huft...kamu gak perlu minta maaf karena ini bukan salah kamu.'' kata Kendra. ''Ada andil aku juga dalam hal ini.'' sambungnya lagi. ''Dnan aku juga gak marah sama kamu.'' imbuhnya.


''Bohong.'' bantah Nisa. ''Kalau kamu gak marah sama aku...kamu gak akan diemin aku kayak gini mas.'' katanya. ''Kalau kamu gak suka akan kehadiran anak ini...aku akan pergi dari kehidupan kamu bersamanya.'' imbuhnya lagi dengan napas yang sudah memburu, karena kesal sekaligus sedih.


Grep


Kendra langsung menarik Nisa kedalam pelukannya.


''Aku gak marah.'' kata Kendra.


''Bohong.'' sergah Nisa lagi. ''Kalau kamu gak marah...kamu pasti kecewa...iyakan.'' cerocosnya.


''Enggak...aku cuma sedikit kaget saja dengan kabar ini.'' kata Kendra dengan lembut dan berusaha tak terpancing amarah, karena dia tau kalau ibu hamil itu emosinya tak terkontrol dan suka naik turun. ''Kamu tau sendirikan kalau kehamilan ini sama sekali tidak kita rencanakan.'' imbuhnya.


''Jadi kamu beneran gak marah dan mau menerima anak ini?'' tanya Nisa yang masih di dalam dekapan sang suami.

__ADS_1


''Tentu saja aku gak marah dan pertanyaan konyol apa yang kamu tanyakan itu.'' jawab Kendra. ''Tentu saja aku akan menerimanya...karena bagaimanapun dia adalah anakku...keturunanku dan berasal dari bibit unggulku.'' sambungnya. ''Satu lagi...akulah yang paling bekerja keras sehingga bisa menghasilkannya dan juga kedua kakaknya itu.'' sambung Kendra.


__ADS_2