
Zico pun masuk ke rumah Gita, ia kagum dengan rumah Gita, walaupun tidak luas tapi sangat rapih dan desain interiornya sangat minimalis dan cozy.
“Silahkan duduk Zico, kamu mau minum apa?” tanya Gita.
“Air putih dingin ada?”
Gita tertawa mendengar jawaban Zico.
Zico yang melihat Gita tertawa pun penasaran kenapa Gita tertawa.
“Kamu kenapa tertawa?.”
“Nggak apa-apa.” Gita masih tertawa kecil.
Zico menatap tajam Gita, akhirnya Gita menghentikan tawanya saat ditatap seperti itu oleh Zico, bukannya takut pada Zico, dia hanya takut jatuh cinta pada Zico kalau ditatapnya seperti itu.
Lalu tiba-tiba Zico menghampiri Gita dan menggelitik perutnya sampai Gita tertawa terbahak-bahak.
“Hahaha.. stop Zico stop!!!” Gita memohon agar Zico berhenti menggelitiknya, tapi Zico masih saja terus menggelitiknya, wajah Gita sampai memerah.
“Please Zico, stop Zico please!!!” teriak Gita masih sambil tertawa.
“Katakan dulu apa yang membuat kamu tertawa, baru aku lepasin.”
“Okay okay, tapi please lepaskan dulu!” Gita mulai mengerucutkan bibirnya.
Zico pun akhirnya melepaskan tangannya. Zico menatap Gita yang sedang mengerucutkan bibirnya karena kesal Zico menggelitiknya terlalu lama.
“Ayo katakan! Atau mau aku gelitik lagi?” ancam Zico sambil tersenyum usil.
“Iya iya.. Maaf.. habisnya kamu aneh sih, tidak pernah baik bus tapi malah ikut-ikutan aku naik bus sampe kehausan kaya gitu.” Gerutu Gita.
Zico pun tersenyum melihat bibir Gita yang sedang menggerutu.
“hfffft.. Kamu tuh yang lucu, bibir manyun-manyun gitu.” Zico gantian menertawakan Gita.
Gita reflek melipat bibirnya karena di ejek Zico. Ia pun beranjak ke lemari es untuk mengambil air putih untuk Zico.
“Ini!”
“Thankyou Git.”
Glek... Glek... Glek...
Zico benar-benar kehausan, ia meminumnya sekaligus, sampai terdengar suara dari tenggorokkannya yang sedang meneguk air itu sampai tandas.
“Hfftt.. hffftt…” Gita yang mendengar itu pun menahan tawanya dengan melipat bibirnya. Ia ingin tertawa terbahak sebenarnya, tapi ia takut digelitik lagi oleh Zico.
__ADS_1
Tetapi Zico menyadari bahwa Gita menertawakannya lagi.
“Kenapa kamu tertawa lagi?”
“Siapa yang tertawa? nggak kok!” Gita mengelak.
Zico diam saja tidak bertanya lagi.
Mereka pun hanya duduk diam berdua, hening tak ada yg bersuara.
Sampai akhirnya Zico bertanya untuk memecahkan keheningan itu.
“Gita, kok rumah kamu sepi sekali? Orang tua kamu kerja?”
“Ibu aku kerja, biasanya jam 7 malam baru sampai rumah.”
“Oh.. kalau ayahmu?”
“Mmmm.. ayahku.. sudah lama meninggal.” Gita menundukkan pandangannya, wajahnya terlihat sangat sedih, air matanya pun berembun. Membuat Zico merasa bersalah karena sudah bertanya.
Zico pun bangun dari duduknya dan berlutut dihadapan Gita yang sedang duduk di sofa, sambil memegang tangannya.
“Maafkan aku ya Git sudah bertanya seperti itu, aku nggak tahu.”
Gita yang biasanya gugup saat Zico menyentuhnya, ia diam saja saat Zico memegang tangannya, entah mengapa ia malah merasa nyaman.
Zico segera mengusap air mata Gita dan memeluknya. Entah mengapa hatinya ikut sakit saat melihat Gita menangis seperti itu.
Keinginannya untuk melindungi Gita pun semakin besar.
Entah mengapa Gita tidak menolak dipeluk Zico, ia malah merasa sangat nyaman. Hingga air matanya malah semakin deras mengalir dipelukan Zico sampai sweater yang sedang digunakan Zico menjadi basah dibagian bahunya terkena air mata Gita.
“Hussstt…” Zico mencoba menenangkan Gita dengan menepuk-nepuk pelan punggungnya.
Saat sudah agak tenang Gita melepaskan dirinya dari pelukan Zico.
Zico segera menghapus air mata Gita, mengusap pipi Gita dengan sangat lembut.
“Maaf Zico, baju kamu jadi basah gara-gara aku.”
“Nggak apa-apa.” Zico tersenyum, ia melanjutkan, “Aku yang minta maaf sudah membuat air mata kamu yang berharga itu terbuang.”
Gita hanya diam saja menunduk, iya tidak tahu harus berkata apa lagi.
“Gita, aku pulang dulu ya?” Zico cemas sebenarnya meninggalkan Gita sendirian, tetapi Hp nya terus bergetar karena Sean terus menelponnya.
Ternyata Zico meminta tolong pada Sean untuk membawa mobilnya dan menjemputnya didepan apartemen tempat tinggal Gita.
__ADS_1
“Baiklah… Eh, tapi kamu pulang naik apa Zico? Kan mobil kamu ditinggal disekolah, nggak mungkin kamu naik bus lagi kan?” Gita bertanya serius. Gita kasihan melihat Zico naik bus seperti tadi, sampai kehausan dan keringatnya pun bercucuran karena berjalan dari halte ke apartemen Gita. Karena dari halte itu lumayan jauh ke apartemen Gita, sekitar 300 meter jaraknya.
“Aku dijemput Sean kok, mobilnya tadi aku suruh dia yang bawa, sekarang sepertinya dia sudah dibawah, ini dia menelpon terus soalnya.” Terang Zico.
“Oh Baiklah, kamu hati-hati ya.” Gita mengatakannya dengan tersenyum.
“Iya Gita, tapi kamu sudah nggak sedih lagi kan?” tanya Zico masih mengkhawatirkan Gita.
“Aku baik-baik saja kok.” Jawab Gita tersenyum.
“Baiklah, kalau begitu aku pulang sekarang ya.” Pamit Zico, Gita mengantarkannya sampai depan lift.
Saat Zico masuk ke dalam lift ia melambaikan tangannya pada Gita, Gita pun membalasnya sambil tersenyum sangat manis.
Saat pintu lift tertutup Gita bergegas berlari masuk ke rumahnya dan masuk ke dalam kamarnya, ia mengintip dijendela apakah benar mobil Zico ada dibawah.
Ternyata benar saja ada mobil Zico dibawah. Gita memandang terus ke bawah menunggu Zico naik ke mobilnya.
Tidak lama kemudian Zico menghampiri mobil nya, saat hendak membuka pintu mobilnya ia melirik ke arah jendela kamar Gita, ia melihat Gita sekilas, karena Gita mengumpat saat Zico melihat ke arahnya.
Zico yang melihat itu pun tertawa kecil dan segera Naik ke mobilnya sambil senyum-senyum.
Sean yang sedang duduk dikursi pengemudi pun menatap Zico.
“Bahagia sekali wajah lo, hayoo abis ngapain lo di rumah Gita?” goda Sean.
“Ck.. apa sih lo!” gerutu Zico. Sean tertawa melihat perubahan wajah Zico yang tiba-tiba dari senyum-senyum lalu berubah memasang wajah dingin seperti biasanya.
“haha.. terus gue yang nyetir nih mobilnya ?” tanya Sean.
“Iyalah!” sahut Zico singkat.
“Kemana? Langsung ke rumah lo apa ke rumah gue nih?” Tanya Sean lagi.
“Ke rumah lo aja dulu, nanti biar gue pulang sendiri!” sahut Zico.
“Okay!”
Sean mulai melajukan mobil Zico sampai ke rumahnya.
15 menit kemudian mereka sampai dirumah Sean.
Rumah Sean memang lebih dekat dengan Gita, karena rumah Sean pun hanya rumah sederhana yang letaknya tak jauh dari apartemen Gita.
Apartemen Gita pun apartemen sederhana yang hanya memiliki 4 lantai saja.
Papa Sean adalah Bayu pratama, sekertaris sekaligus sahabat dari Austin William Daddy nya Zico.
__ADS_1
Makanya mereka berdua sangat dekat layaknya saudara kandung, karena mereka sama-sama anak tunggal dan sedari kecil mereka terbiasa bermain bersama.