
Setelah daddy Austin menceritakan semuanya, tubuh Zico pun terasa lemas seketika setelah mendengar cerita sang daddy. "Aaarggghhh!!!" teriak Zico sambil menjambak rambutnya sendiri.
Terutama saat mendengar cerita daddy bahwa Gita sempat mengalami koma setelah melahirkan anak-anaknya. Membuat rasa bersalah yang ada di dalam dirinya pun kian membesar, jantungnya terasa seperti diremas, hatinya terasa seperti tercabik-cabik, ia sangat menyesal telah menghina Gita seperti tadi, ia benar-benar merasa bodoh karena telah mengeluarkan satu kata yang pasti sangat menyakitkan bagi Gita, apalagi Gita mendengarnya sendiri kata itu keluar dari mulutnya.
"Son! Stop, Nak. Jangan menyakiti dirimu sendiri seperti ini!" mommy Celine memeluk Zico yang sedang duduk di kursi sambil memukul-mukul kepalanya sendiri sambil menangis, ia mencoba menenangkan Zico yang sedang terlihat sangat kacau saat ini.
"Maafkan Daddy, Nak," lirih daddy Austin merasa bersalah pada sang putra.
Mendengar itu Zico pun yang tadinya menunduk seketika mendongakkan wajahnya tersenyum getir.
"Cih ... percuma Daddy minta maaf sekarang, maaf Daddy nggak akan bisa merubah kenyataan kalau Gita sekarang sudah membenci Zico, Dad!"
Setelah mengatakannya Zico bangkit dari duduknya lalu mengambil lagi kunci mobil yang ada di atas meja itu lalu pergi melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh seperti orang yang sedang kehilangan akalnya.
Ya, memang bisa dibilang saat ini dia memang sedang kehilangan akal, terbukti bahwa ia pergi ke sebuah bar dan minum-minuman beralkohol sampai ia benar-benar mabuk berat. Beruntung Sean tadi mengikutinya dengan menggunakan taksi. Karena Sean tidak ingin ada yang memanfaatkan kondisi Zico yang sedang mabuk berat seperti ini.
"Lo semua ... lo semua jahat tau nggak? Lo semua udah bohongin gue! Gue bodoh! Gue bodoh!" Zico meracau dengan jari telunjuknya yang menunjuk ke segala arah dengan langkahnya yang gontai lalu memukul-mukul kepalanya lagi. Bahkan ia sempat ingin memukul kepalanya sendiri dengan botol whiskey yang sedang dipegangnya, untung saja dengan cepat Sean menangkap botol itu tepat sebelum botol itu mengenai kepala Zico.
***
Sejak pulang dari restoran itu, sepanjang sore sampai pagi hari Gita hanya menangis di kamarnya, bahkan Yolla pun menginap lagi di apartemen Gita untuk menemani Zayn dan Zefa, karena Gita hanya mengunci dirinya di dalam kamar.
Tok... Tok... Tok...
"Git! Buka dong pintunya, Git. Lo jangan begini terus, kasihan anak-anak, Git," bujuk Yolla dari balik pintu kamar Gita.
Gita yang sedang terlelap pun terbangun karena suara Yolla, ia baru terlelap jam 4 pagi di saat dirinya benar-benar sudah kelelahan karena terus menangis.
Gita pun beranjak turun dari ranjangnya dan membukakan kunci pintu kamarnya.
Saat melihat kelopak mata Gita yang benar-benar membengkak, Yolla pun menangkup wajah Gita.
"Git! Mata lo sampe kaya gini sih? Lo bener-bener nggak berhenti nangis? Dari kemaren sore lo nangis nggak berhenti-berhenti, Git?" tanya Yolla beruntun, ia sangat merasa khawatir melihat mata Gita sampai seperti itu.
__ADS_1
Gita pun hanya mengulas sedikit senyumnya, air matanya rasanya seperti sudah habis tak tersisa.
Ia pun sudah bertekad untuk melupakan Zico saja, hati nya sudah tak bisa lagi memaafkan Zico, hatinya terlalu sakit atas umpatan Zico tentangnya.
"Ya udah, kita sarapan dulu, yuk! Gue udah beli sarapan tadi pesan online, anak-anak udah nunggu kita, kasian mereka dari semalam belum makan," ajak Yolla.
"Astaga! Gue lupa! Mereka pasti ketiduran dengan perut yang kelaperan," seru Gita sambil menghampiri putra putrinya.
"Maafkan Mommy ya, Nak. Kalian pasti udah lapar sekali ya?" tanya Gita sambil duduk di kursi makan.
Di meja makan sudah terletak empat porsi nasi goreng yang di pesan oleh Yolla.
Gita pun menyiapkan air putih dan dua gelas susu untuk anak-anaknya.
"Mommy, kapan kita mulai sekolah?" tanya Zayn.
"Nanti ya, Nak. Tunggu sekitar satu minggu lagi," jawab Gita.
"Okay, Mom."
Ting... Tong...
Ting... Tong...
"Ck ... Siapa sih pagi-pagi gini udah bertamu?" ucap Yolla berdecak sambil bangkit dari kursinya hendak membukakan pintu.
"Gue aja, La. Lo lanjutin aja sarapannya," seru Gita yang juga bangkit dari kursinya sambil berjalan ke arah pintu.
Ceklek...
"Gita, Sayang," mommy Celine seketika langsung memeluk Gita begitu erat sambil menangis, ia benar-benar sangat merindukan Gita yang sudah di anggapnya seperti putri kandungnya sendiri.
"Mom," sahut Gita membalas pelukannya dengan tersenyum tapi air matanya pun kembali mengalir.
__ADS_1
"Ayo, silahkan masuk, Mom, Dad," ucap Gita mempersilahkan mommy Celine dan daddy Austin untuk masuk ke dalam.
"Genpa? Genpaaaaa!!!" teriak Zefa sambil turun dari kursi makannya berlari ke arah sang kakek yang sedang berdiri di ruang keluarga dan memeluknya.
"Oh Zefa, cucu Genpa, Genpa rinduuu sekali pada Zefa," sahut daddy Austin berjongkok membalas pelukannya lalu menggendong cucu perempuannya itu.
"Ya ampun, ini Zefa, ya? Cantik sekali kamu, Sayang," mommy Celine membelai lembut pipi chubby Zefa dengan ibu jarinya sambil tersenyum dan menitihkan air matanya lagi. Ia tak menyangka dirinya ternyata sudah memiliki cucu yang begitu cantik dan sudah sebesar itu.
Setelah sang suami kemarin menceritakan semuanya, sebenarnya mommy Celine merasa sangat kesal pada sang suami karena tidak memberitahunya sama sekali tentang Gita. Namun, ia tak tega untuk mendiamkannya karena takut sang suami stress dan terkena serangan jantung lagi. Jadi ia memutuskan untuk memaafkannya saja.
"Genpa, ini ciapa?" tanya Zefa dengan lugunya sambil menunjuk mommy Celine.
"Ini Genma, Sayang," jawab daddy Austin.
"Genma? Jepa punya Genma juga?" tanya Zefa lagi.
"Iya, Sayang. Zefa punya Genma, ini Genmanya Zefa dan Kakak Zayn," ucap daddy Austin lagi.
"Oooh ..." jawab Zefa membulatkan mulutnya seperti mulut ikan, "Jepa punya Mommy, Bunda, Uncle Ken, Genpa, Genma, tapi kenapa Jepa nggak punya Daddy?" tanya Zefa lagi dengan polosnya. Ia tak tahu kalau pertanyaan yang keluar dari bibir mungilnya itu hanya akan membuat orang-orang yang ada di ruangan itu pun menangis di buatnya.
Benar saja, Gita, mommy Celine dan daddy Austin pun menangis dibuatnya, mereka semua menitihkan air matanya, kecuali Yolla yang memang sudah merasa tidak respek sama sekali pada Zico sejak kemarin Zico menghina Gita dengan sebutan ****** seperti itu.
"Genpa Genma kenapa menangis?" tanya nya lagi.
"Tidak apa-apa, Sayang," sahut daddy Austin tersenyum sambil mencium pipi sang cucu.
"Zayn! Sini, Nak. Ini ada Genpa. Ayo beri salam dulu sama Genpa dan Genma," titah Gita pada sang putra.
Mommy Celine pun berlutut di atas lantai menyambut Zayn dan memeluknya, lalu ia tangkup wajah cucu laki-lakinya itu.
"Ya, Tuhan. Benar kata Daddy, dia ternyata mirip sekali dengan Zico waktu kecil,' gumam mommy Celine dalam batin.
Zayn yang melihat air mata yang mengalir di pipi sang nenek pun segera menghapusnya dengan telapak tangannya yang mungil.
__ADS_1
"Genma jangan menangis, Genma lebih cantik kalau tersenyum," ucap Zayn, membuat Yolla dan Gita terbelalak, mereka heran pada sikap Zayn, Zayn yang selalu terlihat bersikap dingin pada orang-orang yang baru ditemuinya pun sangat berbeda saat bertemu dengan mommy Celine, ia bersikap manis pada mommy Celine sama seperti sikap manisnya pada Gita dan Yolla.
Kemudian Gita pun menangis terharu dibuatnya, pertemuan mommy Celine dengan cucu-cucunya begitu mengharukan baginya.